
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 34...
...—---- o0o —----...
Tidak banyak Ki Sendang Waruk bercerita pada pertemuan kali itu. Hanan pun agak terbatas untuk bertanya lebih lanjut, karena waktu sudah mulai melewati senja. Maka dengan sangat terpaksa, dia segera berpamitan untuk pulang.
"Hati-hati di jalan, Nak," ujar Ki Sendang Waruk begitu Hanan beranjak ke luar, diantar oleh Bunga. Jawab anak muda tersebut, "Iya, Ki. Doakan saja. Semoga semuanya baik-baik saja dan kondisi perkampungan ini, akan kembali damai seperti dulu."
"Iya, Aamiin." Uwaknya Bunga tersebut mengangguk-angguk. Lantas membiarkan kedua pasangan kekasih itu berpamitan. Namun saat Mang Dirman hendak melewatinya, Ki Sendang Waruk dengan cekatan mencekal pergelangan tangan kusir sado itu. "Kamu masih memegang teguh perintahku yang dulu itu 'kan, Mang?" tanyanya dengan suara pelan.
Mang Dirman mengangguk. "T-tentu saja, Ki," jawabnya gemetar. "Biarlah Den Hanan mengetahuinya sendiri suatu saat kelak."
"Hhmmm," deham Ki Sendang Waruk tanpa sedikitpun menatap wajah laki-laki tua tersebut. "Aku hanya tidak ingin melibatkan anak itu dalam masalah ini. Khawatir … dia akan mengambil langkahnya sendiri untuk menuntaskan permasalahan masa lalu itu."
"S-saya paham, Ki," balas Mang Dirman. "Tapi tolong … lepaskan cekalan tangan Aki. Saya ditunggu Den Hanan di depan sana."
Ki Sendang Waruk baru tersadar. Buru-buru dia melepaskan pegangannya dan membiarkan Mang Dirman berjalan menuju sado. "Kita pulang sekarang, Den?" ajaknya di antara obrolan Hanan dan Bunga.
"Iya, Mang," kata putra sulung Sumiarsih tersebut. Lantas lanjut berpamitan pada Bunga. "Aku pulang dulu ya, Nèng. Kalau memang kamu hendak tinggal sementara di sini, setidaknya ada Uwak Endang yang akan menjagamu."
"Iya, Aa. Nanti aku kabari lagi kalau hendak ke sana," balas Bunga.
Hanan pun menyusul Mang Dirman yang sudah terlebih dahulu naik ke atas sado. Diiringi lambaian tangan, laki-laki itu berpamitan kembali pada Bunga dan Ki Sendang Waruk.
Tidak terasa, perlahan air mata gadis itu pun jatuh menyusuri pipi. Ada rasa penyesalan yang dipendam di dalam hati dan belum bisa diungkapkan langsung pada sang kekasih. Kemudian buru-buru memutar badan, melangkah kembali memasuki rumah begitu dipanggil uwaknya.
"Mengapa kamu menangis, Nèng?" tanya Ki Sendang Waruk begitu memperhatikan kilatan bening di mata keponakannya. "Nèng pun tidak ingin 'kan, jika Hanan mengalami nasib seperti ayahnya dulu?"
Bunga menggeleng pelan diiringi isaknya. Lantas perlahan-lahan berkata, "Tapi Enèng merasa bersalah sekali pada Aa Hanan, Wak. Apa tidak sebaiknya, apa yang Enèng lihat dulu itu diceritakan juga?"
"Jangan! Jangan, Nèng. Itu sangat berbahaya sekali," ujar Ki Sendang Waruk buru-buru menjawab. "Kamu pasti memahami, kini Sumiarsih hanya memiliki dia seorang. Ketakutannya akan kembali kehilangan sosok yang dia cintai itu, teramat besar. Sumiarsih khawatir terjadi apa-apa pada anaknya. Makanya, dulu pernah meminta pada Uwak agar persoalan yang sebenarnya mengenai ayahnya dulu, tidak semua diungkapkan."
Bunga mengangkat wajah, menatapi bola mata uwaknya. "Setidaknya Aa Hanan pun harus tahu, siapa yang menyebabkan Juragan Juanda tilar dunia, Wak. Soalnya Enèng sempat melihat sekilas, sewaktu banaspati itu datang, di luar Enèng melihat seperti ada dua sosok yang—"
Ki Sendang Waruk menempelkan jari telunjuknya ke bibir gadis tersebut. "Sssttt … jangan sebut nama siapapun, Nèng. Bahaya. Dalam situasi seperti sekarang ini, musuh Uwak akan selalu berusaha memata-matai kita," kata laki-laki tua itu sambil melihat-lihat ke sekeliling, terutama ke atas pepohonan di depan rumah. Matanya tiba-tiba tertuju pada seekor Buweuk yang bertengger pada sebuah cabang pohon. "Ayo, cepat masuk ke dalam."
Kemudian mereka pun masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa dan menutup pintu rapat-rapat.
__ADS_1
Lain halnya dengan Hanan dan Mang Dirman, kedua laki-laki tersebut tampak terdiam di sepanjang perjalanan pulang. Mereka sibuk dengan isi kepalanya masing-masing.
'Aku masih bertanya-tanya, apakah benar Ki Endang sama sekali tidak mengetahui tentang masa lalu Ayah?' pikir Hanan seraya melihat-lihat alam sekeliling yang sudah menghitam. 'Bukankah dia bersahabat baik dengan Ayah sejak masih muda dulu? Pasti ada sesuatu atau juga seseorang yang pernah berurusan dengan Ayah, hingga menyebabkan Ayah meninggal secara mengenaskan. Kalaupun memang itu benar adanya, mengapa harus terjadi setelah masa telah berlalu begitu lama?'
Kening anak muda itu berkali-kali mengerut tanda tengah berpikir keras. Dia mencoba menghubung-hubungkan rangkaian peristiwa yang telah didengar dari berbagai pihak; Sumiarsih ibunya, Mang Dirman, Bunga, atau juga Ki Sendang Waruk sendiri tadi. Belum juga menemukan titik terang yang mengarah pada satu sosok dan/atau dasar apapun sama sekali. Hanya berkisar pada saat-saat sakit dan kematian ayahnya, kondisi usaha keluarga yang mengalami kemunduran, serta misteri kemunculan Nyai Kasambi. Seorang perempuan tua bongkok berwajah menyeramkan, juga terkenal sebagai dukun dan/tabib di wilayah setempat.
Sementara itu di dalam benak Mang Dirman sendiri, bayangan akan kejadian detik-detik kematian Juragan Juanda dulu masih tampak jelas tersimpan.
Usai terhempas dengan keras akibat dibanting majikannya pada waktu itu, laki-laki tua tersebut hanya bisa mengerang kesakitan. Terkapar seraya memperhatikan sikap Juragan Juanda yang mendadak berubah.
"He-he-he," seringai Juragan Juanda berbalik menatap Ki Sendang Waruk yang juga tengah bangkit tertatih-tatih. "Kamu ingin melawan saya, Waruk? He-he. Tidak semudah itu."
"Siapa kamu? Sepertinya kamu sangat mengenali saya?" tanya Ki Sendang Waruk terheran-heran seraya bersiap-siap dengan kuda-kudanya. "Lekas, tinggalkan tubuh sahabat saya yang tidak bersalah itu! Dia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahanmu, 'kan?"
Juragan Juanda mengekeh kembali. Dia bangkit seperti biasa. Seakan-akan tidak sedang mengalami sakit sebagaimana sebelumnya.
"Tentu saja dulu saya memiliki hubungan khusus dengan orang ini, Waruk!" ujarnya dengan suara serak tercekat.
"Dulu?" Ki Sendang Waruk mengulang satu kalimat yang diucapkan oleh Juragan Juanda. "Siapa di balik semua ini? Mengapa kamu seperti menyimpan dendam pribadi dengan sahabat saya Juanda? Kalau kamu memang bernyali, hadapi saya sekarang juga! Jangan bersembunyi menggunakan tameng tubuh sahabat saya yang sedang tidak berdaya itu!"
"Hi-hi-hi … kamu sudah lupa juga dengan saya, Waruk? Hi-hi. Dasar kalian berdua laki-laki pengecut!" sentak Juragan Juanda dengan nada marah. "Kamu juga pasti telah melupakan apa yang pernah kamu lakukan dulu pada saya!"
Raut wajah Ki Sendang Waruk mendadak berubah. Bias pucat menghiasi sorot matanya yang sudah menua. Dia seperti teringat pada seseorang, tapi belum jelas kepastiannya.
Ki Sendang Waruk menggeser kaki sedikit ke samping, lantas menepis kuat lengan Juragan Juanda.
Trak!
Peraduan dua batang lengan itu menimbulkan rasa ngilu, seperti suara patahan tulang yang retak.
"Hih!" Secepat kilat telapak tangan Ki Sendang Waruk bergerak ke depan, menghantam bagian perut tubuh sahabatnya dengan keras.
"Aauuhhh!" Juragan Juanda melenguh, terhuyung ke belakang disertai muntahan darah segar memuncrat dari mulutnya.
"Tolong … tinggalkan tubuh itu … hei, siapapun yang sedang menguasai jasad sahabat saya Juanda!" pinta uwaknya Bunga tersebut sepenuh hati. "Hadapi saya secara langsung sampai salah satu di antara kita mati berkalang tanah!"
Bukannya menurut, Juragan Juanda malah terkekeh mengejek. "Belum saatnya, Waruk. Saya memang sengaja menunggu kedatanganmu. Dengan menggunakan badan si Juanda ini, di mata laki-laki tua tidak berguna itu ….'' Dia melirik pada sosok Mang Dirman yang sedang terengah-engah kesakitan bersandar di pintu kamar. "Kamu akan terlihat seperti akan menghabisi sahabatmu sendiri, Waruk. Hi-hi-hi."
"Jahanam pengecut!" rutuk Ki Sendang Waruk mulai tersulut emosinya. "Kamu memang sengaja hendak mengadu domba kami, 'kan?"
Herannya, walaupun kedua laki-laki itu bercakap-cakap, Mang Dirman sama sekali tidak mendengar obrolan mereka. Karena suara-suara yang ada, tidaklah keluar melalui mulut. Melainkan batin yang saling bertaut.
__ADS_1
"Hi-hi-hi … hadapi saja saya, Waruk. Kalau tidak, kamulah yang akan mati malam ini. Hi-hi!" ujar Juragan Juanda, kemudian mengentak lantai dengan keras, dipadu dengan gerakan tangan memutar membentuk bulatan dengan cepat.
Ki Sendang Waruk kembali bersiap-siap. Dia tidak ingin mati sia-sia tanpa sebuah perlawanan. Mau tidak mau, harus mengadu ilmu kanuragan untuk mengeluarkan sosok di dalam tubuh sahabatnya, Juanda.
Wus!
Seberkas sinar menyilaukan menerjang tiba-tiba dan seketika Ki Sendang Waruk pun melakukan gerakan menahan dengan kedua telapak tangan. Terjulur ke depan disertai pemusatan hampir sepenuhnya kekuatan tenaga dalam, hingga ….
Dar!
Sebuah suara mirip ledakan menggema memenuhi ruangan kamar. Keduanya sama-sama terpental bagai terkena sengatan arus petir yang besar.
"Auuhhh!" Ki Sendang Waruk terpelanting dan beberapa kali berputar-putar di udara hingga akhirnya tersungkur mencium lantai kayu.
Bruk!
"A-aahhh!" Erang laki-laki itu kesakitan menahan sesak di dada dan sesaat merasakan kesulitan untuk bernapas.
...BERSAMBUNG...
Keterangan Kata :
Tilar Dunia : Meninggal dunia
Banaspati : Wujud makhluk tidak kasat mata yang menyerupai bola api terbang.
Buweuk : Burung hantu.
__ADS_1