Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 17


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 17...


...—---- o0o —----...


Hanan dan Mang Dirman kembali duduk, menempati bangku besar yang terpasang di beranda belakang rumah. Menghadap area kebun yang rimbun dengan berbagai tanaman serta pepohonan. Angin malam yang dingin, sesekali menghembus, membelai keduanya dengan syahdu diiringi irama nyanyian hewan-hewan mungil di balik-balik semak.


"Aahhh, hangat sekali, Mang," ujar Hanan begitu menyeruput minuman wedang jahe yang tadi dibuat. Masih mengepul panas membangkitkan hasrat untuk berlanjut menikmatinya.


"Lebih nikmat juga kopi, Den," balas Mang Dirman tidak mau kalah. Lelaki tua itu meminum kopi dengan cara unik. Pertama-tama menuangkannya terlebih dahulu ke dalam wadah berbentuk piring kecil yang dijadikan tatakan gelas, meniup-niup sebentar, lantas menyeruputnya sedikit demi sedikit. "Aahhh … sedap sekali," desah kusir keluarga Sumiarsih tersebut.


"Tidak boleh meniup minuman dan makanan, Mang. Pamali," kata Hanan mengingatkan. "Lebih baik menunggu agak dingin atau mengipas-ngipas menggunakan hihid."


Timpal Mang Dirman, "Habis enaknya begini, Den. Seninya minum kopi, ya … begini ini. Hi-hi-hi."


Keduanya tersenyum-senyum lucu.


"Omong-omong, kapan Aden bertugas di balai pengobatan, Den?" tanya lelaki tua itu berimbuh. "Banyak warga di sini yang bertanya itu tentang Aden."


Jawab Hanan usai berpikir sejenak, "Masih menunggu keputusan dan perintah tugas dari pihak pemerintah wilayah, Mang. Mungkin sekitar satu atau beberapa bulan ke depan. Saya sendiri belum bisa memastikannya."


"Aahh, lama juga ternyata," desah Mang Dirman seraya manggut-manggut. Timpal kembali Hanan seraya memandangi lautan hitam yang terbentang di depannya, "Semuanya harus melalui proses, Mang. Untuk sementara, saya ingin mengisi kegiatan dengan mengurus perkebunan keluarga yang terbengkalai itu."


Mang Dirman menoleh. Pandangannya seperti kaget.


"M-mengurus p-perkebunan?"


"Ya," jawab anak muda tersebut begitu melirik sosok tua di sampingnya. "Ada apa?"


Mang Dirman tidak lantas menjawab. Dia meminum kembali kopi dan mulai menyulut rokok daun kawungnya yang telah selesai diracik. Kemudian asap pun mengepul dari mulut serta hidung tua itu. Menebar aroma sesak dan bau yang menyengat.


"Apa tidak ada rencana lain selain mengurus perkebunan, Den?" Terdengar ada nada khawatir yang menyertai suara Mang Dirman. "Mungkin … mulai membantu mengobati warga sekitar, agar semua penduduk di wilayah ini tahu kalau Aden ini seorang dokter."


"Loh, kata Mamang tadi banyak warga yang sudah tahu?"


"He-he, banyak tapi bukan berarti semuanya, Den," jawab Mang Dirman menjelaskan.


"Oh, iya. Paham sekali. He-he."


Imbuh sosok tua tersebut kembali, "Menurut saya, tidak perlu mengobati secara langsung. Setidaknya bisa dimulai dengan memberikan penyuluhan hidup sehat atau … bagaimanalah. Den Dokter pasti sudah paham tentang itu."


"Yang pertama itu sudah saya lakukan kok, Mang."


"Hah? Kapan?"


Hanan melirik sejenak. "Belum lama. Mungkin sekitar sepuluh menit sampai seperempat jam lalu."


Kening Mang Dirman mengerut. "Kapan, ya? Perasaan … Aden tidak kemana-mana selain dengan saya dan Ceu Odah tadi," pikirnya mencoba mengingat-ingat. " … Atau—"


"Penyuluhan tentang bahayanya rokok terhadap kesehatan paru-paru, jantung, dan juga … orang-orang sekitar," tukas Hanan sembari tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Ah, Aden ini," ujar Mang Dirman begitu memahami apa yang dimaksud oleh anak majikannya tersebut. "Saya sampai berpikir … apa ya, yang dimaksud oleh Den Dokter ini? Hi-hi." Kemudian dengan rasa malu, buru-buru lelaki tua itu mematikan sisa rokok daun kawungnya yang masih tersisa setengah batang.


"Mengapa dimatikan, Mang?" tanya Hanan berniat menguji kesadaran Mang Dirman. "Nyalakan saja lagi. Saya tidak apa-apa, kok."


"Saya jadi malu, Den," kata Mang Dirman. "Kok, saya yang memberi usul, saya juga yang kena."


Hanan tertawa sejenak. "Jadi, mulai saat ini Mamang mau berhenti merokok?" tanyanya kembali merasa lucu melihat sikap orang tua tersebut.


"Yaaa … tidak tahu juga," jawab Mang Dirman masih ragu. "Mungkin bisa dimulai dengan tidak merokok di depan Den Dokter atau orang-orang sekitar. He-he."


"He-he, syukurlah," balas Hanan senang karena usahanya sudah mulai membuahkan hasil. "Akan lebih bagus, malah berhenti sama sekali, Mang."


"I-iya, Den. Akan saya usahakan."


"Insyaa Allah …."


"Ya, Insyaa Allah, Den."


"Alhamdulillah."


Beberapa saat, mereka berdua terdiam. Menikmati hidangan minuman masing-masing seraya mendengarkan nyanyian binatang malam saling bersahutan.


"Omong-omong mengenai sosok Nyai Kasambi kemarin, Mamang belum menceritakan sepenuhnya pada saya, Mang," ucap Hanan memecah kesunyian. Raut wajah Mang Dirman langsung berubah. "Terus … masalah yang ingin saya ketahui tentang wilayah ini, sewaktu kita berbicara kemarin sore, itu juga belum Mamang jelaskan. Apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini?"


Mang Dirman mendeham beberapa kali.


"Ibu dan Nèng Bunga, selalu bercerita bahwa keadaan di kampung kita ini selama saya tinggal di Jakarta, semuanya baik-baik saja," tutur Hanan melanjutkan ucapan. "Ya, mungkin hanya sesekali saja, ada pasukan Belanda masuk ke kampung untuk mencari-cari para pejuang kita. Tidak lebih, hanya seputar itu."


"Ada banyak hal yang belum saya ketahui dan saya rasa, baik Mamang, Ibu, dan juga Nèng Bunga, seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari saya," imbuh kembali anak muda tersebut penasaran. "Besok siang, saya berencana menemui kepala kampung untuk—"


"Den …."


Hanan menoleh.


"Ada apa, Mang?"


Mang Dirman tertunduk dalam-dalam, kemudian lanjut berkata, "Sebelumnya saya mohon Aden mau memaafkan saya."


"Loh, minta maaf mengenai apa? Mamang tidak—"


"Saya hanya tidak ingin sesuatu terjadi pada Aden, seperti halnya yang pernah dialami oleh …." Sosok tua itu menoleh sejenak ke arah pintu dapur, untuk memastikan tidak ada seseorang yang turut mendengarkan obrolan mereka di sana. " … Oleh mendiang Juragan ayah Aden."


Hanan terkesiap. "Ada apa dengan Ayah? Apa yang pernah terjadi dulu dengan Ayah, Mang? Apakah ada sesuatu yang buruk pernah dialami Ayah?" cecar anak muda tersebut kian penasaran. Dia menggeser duduknya, semakin mendekat dengan sosok tua tersebut. "Sekarang saya sudah besar, Mang. Saya patut mengetahui apa yang pernah terjadi dulu pada keluarga saya."


"T-tapi … s-saya … s-saya … sudah berjanji pada Juragan Laki-laki sewaktu beliau masih ada dulu, agar masalah lalu itu … jangan sampai terulang kembali pada Aden," ungkap Mang Dirman lirih dan terbata-bata. "S-saya … harus menjaga Aden serta Juragan Perempuan."


"Mang …." ucap Hanan seraya menyentuh bahu orang tua itu. "Tatap saya, Mang."


Dengan perasaan ragu, Mang Dirman mengangkat kepala, lantas menatap bola mata anak majikannya. "Ya, Allah …." desahnya kemudian bertambah lirih.


"Apa yang Mamang lihat dari saya?"


Jawab Mang Dirman pilu, "S-saya … seperti sedang berhadapan dengan almarhum Juragan Laki-laki, Den. Masyaa Allah. S-saya … sangat merindukan sosok beliau."

__ADS_1


Bola mata Hanan mulai berkaca-kaca. Dia merasa teramat bangga akan sosok ayahnya, karena ada begitu banyak orang yang merindukan serta bahagia telah mengenal keluarganya dengan baik.


"Mang … saya pun merasakan hal yang sama. Tidak hanya Mamang, Ibu, atau juga yang lainnya," ucap Hanan pilu. "Anggap saja, beliau sekarang telah hadir kembali dalam wujud lain. Karena saya adalah putra beliau. Anak laki-laki beliau satu-satunya yang Mamang khawatirkan itu."


"Memang … memang … begitu mirip sekali Den Hanan dengan almarhum Juragan Laki-laki, Den," ucap Mang Dirman bersimbah air mata. "Raut wajah, suara, juga perilaku Aden. Subhanallah … s-saya seperti tengah berhadapan dengan beliau."


Hanan merengkuh tubuh tua itu ke dalam pelukannya. Terisak dalam dekapan kerinduan seorang anak terhadap ayahnya.


"Terima kasih, Mang," bisik anak muda tersebut lirih. "Saya menghaturkan banyak terima kasih, karena Mamang sudah turut menjaga keluarga saya sepenuh hati selagi saya tinggalkan."


"Itu memang sudah tekad saya, Den," balas Mang Dirman. "Saya ingin mengabdikan sisa hidup ini untuk keluarga Juragan."


"Masyaa Allah … terima kasih, Mang. Terima kasih. Sungguh saya banyak berutang budi pada Mamang."


"J-jangan berkata seperti itu, Den. Justru keluarga Aden-lah yang banyak berjasa bagi hidup saya."


Keduanya terlelap dalam pelukan. Saling memuji dan menghargai apa yang telah mereka dapatkan dan perbuat. Hingga kemudian, melepas diri dan larut dalam kebisuan sesaat.


"Sebelum Juragan Laki-laki meninggal dunia, beliau jatuh sakit, Den," ungkap Mang Dirman tiba-tiba memecah kesunyian. Balas Hanan, "Iya, saya tahu itu. Memang sudah lama Ayah menderita sakit jantung. Tapi mengenai kematian Ayah yang mendadak itu, saya sendiri tidak sempat mengantar jenazah beliau. Karena kabar dari Ibu saja, selang beberapa hari sesudah Ayah dimakamkan."


Mang Dirman melirik anak majikannya. Lantas lanjut berungkap, "Kematian Juragan Laki-laki hanya berselang dua hari setelah beliau jatuh sakit, Den."


"Iya, itu pun saya tahu."


"Selama dua hari itu pula, beliau sering muntah darah."


Kali ini Hanan spontan menatap wajah Mang Dirman. "Apa? Muntah darah?" tanyanya kaget. "Mengenai itu, Ibu tidak pernah cerita apapun."


Krosak!


Tiba-tiba terdengar suara-suara aneh di balik rerimbunan pohon-pohon di depan beranda belakang rumah.


"Hei, siapa di sana?" teriak Mang Dirman. Lantas dengan sigap bangkit dari duduk, berdiri melihat-lihat suasana sekitar.


...BERSAMBUNG...


Keterangan Kata :




Pamali : sesuatu yang tidak boleh dilakukan (adat/budaya).




Hihid : kipas yang terbuat dari bilah bambu dan biasanya digunakan saat hendak menyajikan nasi.



__ADS_1


__ADS_2