
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 57...
...—---- o0o —----...
Di saat keduanya terdiam, tiba-tiba Nyai Ayu menanggalkan pakaiannya satu per satu di hadapan Sendang Waruk seraya berujar manja penuh menggoda, "Kamu menginginkan aku 'kan, Kang? Silakan … kalau memang ini yang kamu mau."
Laki-laki itu terperangah. Matanya pun sontak membulat besar disertai leletan lidah menjilati tepian bibir, diikuti pergerakan jakun turun-naik mereguk air liur. "Nyai …." desah Sendang Waruk perlahan.
Dengan raut wajah sedih, Nyai Ayu berimbuh kembali, "Ini 'kan yang membuat Akang cemburu pada Juanda? Ini juga yang membuat Akang menilai saya tidak berharga? Silakan kalau Akang memang menginginkannya. Bukankah Akang juga yang telah merenggut kehormatan saya ini?" Lantas, perempuan itu pun perlahan menghampiri sosok Sendang Waruk dalam kondisi tidak berbusana sama sekali. "Lakukan sekarang, Kang."
"Nyai … apa yang kamu lakukan ini?" Tadinya lelaki tersebut memang benar-benar tergiur oleh kemolekan tubuh Nyai Ayu, tapi sekarang justru berubah menjadi rasa kasihan.
Timpal Nyai Ayu diiringi desahannya, "Akang bisa memiliki tubuh saya, tapi tidak dengan hati ini." Dia menunjuk dada sendiri. "Tahu mengapa, Kang? Karena … saya belum bisa melupakan sosok Akang Juanda. Itu juga yang menyebabkan saya belum bisa menerima pinangan dari Akang Èndang."
Derai air mata perlahan jatuh menyusuri pipi Nyai Ayu, diiringi isak sedan dan teramat memilukan.
Sendang Waruk mendekat. Memunguti lembaran pakaian perempuan terkasihnya yang teronggok di tanah. Lantas membantu menutupkan sekujur tubuh Nyai Ayu.
"Tidak, Nyai, tidak. Ini tidak benar," ujar lelaki tersebut dengan suara lemah lembut. "Cukup sekali kita berbuat khilaf dan aku berjanji, aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku. Silakan kamu menyimpan rasa cinta itu pada Juanda, tapi tolong … jangan rusak kebahagiaan mereka berdua, ya?"
Plak!
Tiba-tiba perempuan itu menampar pipi Sendang Waruk dengan keras. Sontak membuat lelaki tersebut melongo heran seraya mengusap-usap wajah.
"Apa maksudnya ini, Nyai?"
Jawab Nyai Ayu perlahan, "Itu dirimu, Kang." Dia menatap dalam-dalam mata Sendang Waruk. "Kamu lebih mengutamakan sahabatmu itu ketimbang dirimu sendiri. Itu pula yang membuatmu buta terhadap hatimu."
__ADS_1
Sejak itu, kembali hubungan keduanya menjadi renggang. Nyai Ayu tidak pernah mau menemui Sendang Waruk, sekalipun lelaki tersebut datang menemuinya. Hal terakhir yang mempertemukan mereka kembali adalah pada saat kabar mengejutkan tersebut.
"Saya mengandung benih anak dari Akang …."
Sendang Waruk pun berniat untuk segera menikahi Nyai Ayu, tapi lagi-lagi perempuan tersebut menolak. Dia tidak bisa menerima lamaran, karena merasa tidak akan pernah mampu hidup bersama laki-laki yang tidak dia cintai.
"Jangan menyiksa diri dengan perasaanmu itu, Nyai," ucap Sendang Waruk memohon pengertian. "Aku datang untuk menawarkan hatimu. Aku tidak peduli walaupun Nyai belum bisa mencintaiku. Tapi tolong, lakukan yang terbaik demi buah hati kita, anak yang sedang Nyai kandung itu. Aku ingin menikahimu …."
Tidak disangka, ternyata hari itu adalah pertemuan mereka yang terakhir. Nyai Ayu kembali sulit ditemui. Bahkan kemudian menghilang entah kemana. Kedua orangtuanya pun bingung mencari-cari, terlebih bagi Sendang Waruk sendiri.
Maka tanpa berpikir panjang, lelaki itu pun turut pergi mencari sosok Nyai Ayu. Hal tersebut dia lakukan, tepat sehari sebelum hari pernikahan Juanda dan Sumiarsih dilaksanakan.
Pengembaraan Sendang Waruk untuk menemukan jejak sang kekasih, akhirnya mempertemukan dia pada seseorang. Sosok lelaki tua yang tinggal di sebuah hutan belantara. Perjumpaan itu pun tidak secara sengaja terjadi, andai saja sebuah peristiwa nahas yang satu itu tidak menimpa lelaki muda tersebut.
Kejadian apa sebenarnya yang dimaksud?
Di tengah perjalanan Sendang Waruk mencari jejak Nyai Ayu, dia memergoki seseorang sedang berbicara dengan sekelompok prajurit Belanda.
"Heh, bagus sekali kamu orang bekerja, Bajra!" timpal salah seorang dari kelompok prajurit tadi. Sayang sekali, rupanya tidak sempat terlihat oleh Sendang Waruk karena harus buru-buru bersembunyi di balik rerumputan liar, ketakutan. "Ini … saya beri kamu orang imbalan yang pantas. En jangan lupa, kamu orang besok hari mesti ikut dengan kita untuk membantai itu para pemberontak, heh!"
Terdengar kekehan kecil dari sosok yang dipanggil Bajra tadi. "He-he-he … itu soal kecil, Tuan," ujarnya semringah usai menerima sekantung uang dari salah seorang prajurit Belanda tadi. "Bagi saya, yang terpenting adalah … Tuan mau membayar mahal upah saya. He-he."
'Jahanam!' rutuk Sendang Waruk di balik persembunyiannya. 'Orang itu telah mengkhianati saudaranya sendiri. Dia menjual rahasia dan menjadi mata-mata pihak Belanda. Dasar pecundang!'
Setelah suasana sepi dan dirasa aman, lelaki muda itu pun segera keluar dari balik semak-semak dengan penuh kehati-hatian. 'Sepertinya orang-orang Belanda itu telah pergi,' ucapnya di dalam hati. 'Sebaiknya aku bergegas pergi dari tempat ini dan melanjutkan perjalanan untuk mencari Nyai Ayu.'
Baru saja beberapa langkah keluar dari sana, tiba-tiba seseorang menyentak keras. "Hei, siapa kamu?"
Sendang Waruk menoleh dan mendapati sesosok lelaki yang diyakini adalah orang yang tadi bertemu dengan prajurit Belanda.
Dengan wajah ketakutan, Sendang Waruk menjawab tergagap-gagap, "M-maafkan saya, Kang. S-saya hanya kebetulan lewat di tempat ini."
__ADS_1
Sosok lelaki tadi segera mendekat. Sorot matanya menggidikkan. Seperti tengah menyelidik. Ucapnya kembali dengan nada mengentak, "Kamu pasti telah mematai-matai saya, 'kan? Sejak kapan kamu bersembunyi, hah?"
Jawab kembali Sendang Waruk kian ketakutan, "Tidak, Kang. Saya benar-benar tidak tahu apa yang Akang maksudkan itu. S-saya hanya hendak lewat di jalan ini dan melihat segerombolan prajurit Belanda. Lalu … saya pun bersembunyi sebentar."
"Kurang ajar!" gertak lelaki tadi murka. "Pasti kamu juga turut mendengarkan percakapan saya dengan Tuan Guus tadi, 'kan? Kalau saya biarkan kamu tetap hidup, itu akan membahayakan saya sendiri."
Sendang Waruk mundur tersurut begitu didekati. "Eh, apa yang akan Akang lakukan pada saya?" tanyanya ketakutan. "J-jangan, Kang! Saya tidak akan memberitahu siapapun mengenai …."
Belum selesai dia bicara, tiba-tiba lelaki tadi melancarkan serangan secara membabi buta. Sendang Waruk tidak bisa mengelak, dia menjadi bulan-bulanan dan hampir saja menemui ajal di tempat saat itu juga.
Di kala keadaan sudah semakin genting, pertolongan pun datang. Entah dari mana datangnya, sekelebat bayangan melesat cepat bagaikan kilat. Menghantam sosok lelaki yang menyerang tadi dan bentrokan pun tidak dapat dihindari.
"Cukup, Bajra!" bentak sosok lain yang baru datang tersebut seraya menunjuk lelaki tadi. "Tidak sepantasnya kamu membunuh orang yang sudah tidak berdaya ini!"
"Ki Ranah Welung …." gumam lelaki bernama Bajra tadi seraya mengusap lelehan darah yang mengucur dari luka sobek di bibirnya. "Selalu saja Aki mencampuri urusan saya!"
Sosok bernama Ki Ranah Welung tersenyum masam. Dia memperhatikan sejenak kondisi Sendang Waruk yang tergeletak bersimbah darah. Buru-buru dia menghampiri dan melakukan beberapa gerakan menotok di bagian-bagian tertentu di tubuh lelaki muda tersebut. Lantas beralih kembali menatap Bajra.
"Urusanmu akan selalu menjadi urusanku, selama perilaku burukmu itu belum juga berubah, Bajra! Ingat itu!" ucap Ki Ranah Welung mengingatkan. "Sekarang … hal apalagi yang telah kamu lakukan, hingga harus memperdaya dia?" tanyanya seraya menunjuk Sendang Waruk. "Kamu mau membunuhnya, 'kan?"
Bajra malah tertawa-tawa pongah.
"Tua bangka keparat! Untuk apa kamu mempertanyakan itu, hah?" tanya Bajra terlihat semakin angkuh. "Apa sudah tidak ada lagi pekerjaan layak yang bisa kamu lakukan saat ini, Ki, kecuali campur tangan urusanku? Ha-ha-ha!"
"Kurang ajar!" geram Ki Ranah Welung disertai gemeretak gigi. "Ditanya baik-baik, jawabmu malah mengacau! Ada baiknya saya beri kamu—"
Tiba-tiba terdengar lenguh kesakitan dari Sendang Waruk. Dia menyeringai menahan rasa sakit, lalu diikuti muntah darah kental.
'Astaga! Anak muda itu!' gumam Ki Ranah Welung. 'Dia harus segera ditolong. Kalau tidak ….'
"Ooeekkk!" Kembali Sendang Waruk memuntahkan darah hebat.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...