
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 74...
...—---- o0o —----...
Hanan mendesah, miris, melihat kondisi Dasimah yang tengah tergolek lemah di atas kasur. Sebagai tenaga medis, dia ingin bertugas secara profesional, tapi berhubung ada banyak orang yang turut memperhatikan proses pemeriksaannya, hanya bagian-bagian tertentu saja yang bisa dia teliti.
'Hhmmm, kalau memperhatikan psikis Dasimah, sepertinya dia telah mendapatkan perlakuan yang bisa membuatnya merasa ketakutan dan trauma. Tapi aku tidak tahu sepenuhnya, apa yang menyebabkan dia menderita seperti ini,' membatin laki-laki tersebut seraya menatap wajah Dasimah yang pucat. 'Aku yakin, di bagian tubuh yang lebih dalam, masih ada bekas luka lebam yang jauh lebih parah daripada yang kulihat di tangannya itu.'
Lantas dokter muda itu menoleh pada Ambu Darsih. Sejenak, wanita itu pun balas menatapnya dengan sorot mata pilu. Seakan ingin berkata-kata tentang sesuatu yang menimpa Dasimah.
Kemudian menengok ke belakang. Di mana di sana ada sosok Roosje dan Koen turut melihat-melihat kondisi Dasimah dan pengecekan yang dilakukan oleh Hanan.
"Jika tidak keberatan, saya butuh sedikit privasi di sini," kata dokter muda tersebut tanpa menatap siapapun di sana, terkecuali sosok Dasimah sendiri. "Saya ingin melakukan pemeriksaan lebih mendetail terhadap Nèng Imah."
Roosje melirik pada Koen dan Ambu Darsih. Lalu berkata pada Hanan, "Kamu orang maksud, kami semua keluar dari kamar ini?"
Dokter muda tersebut mengangguk serta menjawab, "Ya, terkecuali … Ambu Darsih."
Gadis itu tertegun. Tanyanya kemudian, "Mengapa harus ada Ambu Darsih kalau kamu orang memang benar-benar butuh sedikit ruang pribadi, Hanan?"
Hanan membalik badan dan menatap mata Roosje lekat. "Karena aku dan pasien, Nèng Imah, bukan mahrom dan berbeda genital, Nona."
"Mahrom? Apa itu mahrom?" Kening gadis bermata biru itu mengerut.
Jawab Hanan, "Mahrom adalah ikatan dua manusia yang berbeda jenis kelamin dan tidak memiliki hubungan sedarah atau sesusuan."
"Aku tidak paham itu apa yang kamu orang maksud, Hanan," timpal Roosje seraya menggelengkan kepala.
Laki-laki muda itu tersenyum, lalu kembali berkata, "Intinya … aku dan Nèng Imah bukan siapa-siapa. Bukan keluarga maupun saudara. Aku lelaki dan dia perempuan. Sementara Ambu Darsih, adalah sosok yang dituakan di sini dan akan menjadi saksi hidup apa yang akan aku lakukan terhadap Nèng Imah. Sederhananya, aku tidak ingin ada fitnah jika hanya ada aku dan Nèng Imah yang berada di dalam ruangan yang sama dan serba tertutup. Nona Roos paham 'kan apa yang aku maksud?"
"Tapi aku juga—" Kembali Roosje bersikeras, tapi suaranya terhenti tiba-tiba begitu Hanan merespons.
"Kali ini Nona Roos mau 'kan mendengar permintaanku?" tanya Hanan seraya mengedipkan mata kirinya.
"Aahhh, Hanan!" seru gadis tersebut langsung tertegun dan mengurai senyum manis di pipi. "B-baik, aku dan Koen keluar dari sini," imbuhnya kembali tampak tersipu-sipu seraya mengusap dada. Kemudian langsung bergegas keluar sambil mengajak Koen berjaga-jaga di luar kamar.
Hanan mengikuti sampai ambang pintu dan berpesan, "Tunggu sampai aku kembali membuka pintu ini, ya? Dan aku juga mohon maaf, untuk sementara waktu … pintunya aku kunci."
"Apakah harus seper—"
__ADS_1
"Beri aku waktu lima menit saja, Nona Roos. Bersediakah?" tanya Hanan kembali, lagi-lagi sambil mengedipkan mata kirinya.
"Aahhh, b-baik, Dokter Hanan. A-aku mengerti maksud kamu orang," balas Roosje tiba-tiba gagap dan menjadi salah tingkah.
"Terima kasih," ujar Hanan sembari memberi gadis tersebut sebuah senyuman, lantas menutup rapat pintu kamar Dasimah dan menguncinya untuk sementara waktu.
Kini tinggal laki-laki muda itu dan Ambu Darsih yang berada di dalam ruangan, bersama sosok Dasimah sendiri.
Sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut, terlebih dahulu Hanan meminta izin pada Dasimah yang sudah tersadar sejak dokter muda tersebut datang sebelumnya.
"Nèng …." kata Hanan pada Dasimah. "Saya mau memohon izin dan kesediaan dari Nèng Imah dan juga … Ambu," ucapnya serta pada Ambu Darsih, "untuk melihat dan memeriksa bagian dalam badan Enèng Imah. Apakah Nèng Imah bersedia dan mengizinkan?"
Dasimah dan Ambu saling melempar pandang satu dengan lainnya untuk beberapa saat.
"Tidak apa-apa, Nèng," kata Ambu Darsih memberi saran. "Den Dokter hanya ingin memerisamu. Iya 'kan, Den?"
Hanan mengangguk sambil tersenyum.
"Saya takut, Ambu. Saya juga malu," ucap Dasimah lirih.
"Tenang saja, Nèng. Saya tidak akan melakukan apapun, hanya sekadar melihat-lihat dan … mungkin menyentuh sedikit saja. Lagipula, saya sudah terbiasa dengan tugas semacam ini. Bahkan, lebih jauh dari apa yang akan saya lakukan terhadap Nèng Imah pun, sebelumnya saya sudah terlatih."
Timpal Ambu Darsih, "Tuh, apa kata Den Dokter juga. Percaya saja, Den Dokter tidak mungkin akan memperlakukanmu seperti yang Tuan Guus … eh, maaf. Saya keceplosan!" Wanita tua itu langsung berhenti bicara dan menutup mulut dengan telapak tangannya.
Hanan menoleh, menatap sosok wanita tua tersebut dengan tajam. "Tuan Guus? Maksud Ambu—"
Hanan masih penasaran, tapi memang benar, waktu yang dia janjikan tadi hanya sekitar lima menit. Maka buru-buru anak muda tersebut mengenakan sarung tangan karet yang diambil dari dalam tas kerjanya.
Namun baru saja hendak meminta Ambu Darsih untuk membukakan kain kebaya yang membalut bagian perut Dasimah, tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu kamar.
Dor! Dor! Dor!
"Dokter Hanan, bukakan pintu!" Terdengar suara seseorang yang sudah begitu dikenal oleh mereka bertiga.
"Den, i-itu T-tuan Guus …." seru Ambu Darsih dengan suara pelan, hampir berupa bisikan.
"Iya, Ambu. Saya tahu," timpal Hanan dengan rasa kejut yang masih menyelimuti dada. Kemudian bergegas membukakan pintu kamar.
"Ada apa ini?" tanya Tuan Guus langsung menyelinap masuk ke dalam begitu pintu kamar terkuak. Disusul oleh Roosje dan Koen yang terlihat panik. "Apa yang Dokter Hanan lakukan di sini? Mengapa itu pintu harus ditutup dan dikunci, heh?"
"Papa! Dokter Hanan sedang—"
"Diam kamu orang, Roos! Papa bertanya pada itu orang Dokter Hanan. Bukan pada kamu!" tukas Tuan Guus dengan nada suara keras pada anak gadisnya, Roosje.
__ADS_1
"Tapi Papa—"
"Diam Papa perintahkan juga! Kamu orang diam saja, Roos!"
Roosje memang langsung terdiam, tapi sorot matanya seperti tengah menahan amarah terhadap bapaknya sendiri. Kemudian dia melengos dan bergegas keluar dari dalam kamar tersebut. "Ik haat je, papa!" gerutunya seraya melangkahkan kaki.
(Aku benci Papa!)
"Verdomme!" umpat Tuan Guus kesal. Lantas balik menatap Dokter Hanan dengan sorot kemarahannya. "Kamu orang lihat itu, Anak Muda? Itu Roos pun, anak saya sendiri, sekarang sudah berani membantah perintah saya, heh? Kamu orang paham itu mengapa, heh?"
Balas Hanan berusaha bersikap tenang, "Mohon maaf, Tuan. Saya hanya bermaksud untuk memeriksa kondisi kesehatan Nèng Dasimah. Tadi Nona Roos sendiri yang meminta dan menjemput—"
"Siapa yang kasih kamu orang izin untuk memeriksa itu Dasimah, heh?" tanya Tuan Guus menggelegar. "Saya yang punya kuasa di sini. Kamu orang paham?"
Hanan mengangguk. "Iya, Tuan. Saya mengerti," jawabnya.
"Bagus!" timpal Tuan Guus kembali. "En kamu orang hanya punya tugas itu di Balai Kesehatan, bukan di sini! Jadi semua yang terjadi di sini, harus ada izin dari saya!"
"Iya, Tuan. Mohon maafkan saya."
"Jadi sekarang, kamu orang kembali pulang saja dan bekerja di itu tempat tugasmu! Karena perkara Dasimah atau pekerja-pekerja saya, itu menjadi kewenangan saya yang menjamin! Kamu orang paham, heh?"
"Iya, Tuan. Saya mengerti sekali."
Kemudian, Hanan pun lekas membereskan kembali peralatan medisnya ke dalam tas dan bersiap-siap untuk pergi. "Mohon maaf, Tuan. Saya permisi hendak pulang kembali," katanya usai melirik sosok Dasimah dan Ambu Darsih sejenak.
Tuan Guus membiarkan Hanan pergi begitu saja dari kamar tersebut, berjalan menuju gerbang di depan, diantar oleh Koen. Di sana, dia dicegat oleh Ki Praja yang sudah bersiap diri di atas sadonya.
"Tidak usah, Ki. Biar saya jalan sendiri," ucap Hanan menolak tawaran Ki Praja untuk mengantarnya kembali ke rumah.
Laki-laki muda itu bergegas melangkahkan kaki meninggalkan kediaman Tuan Guus seorang diri, di tengah suasana senja yang sesaat lagi akan meredup. Namun setelah agak menjauh dari tempat tadi, di sebuah persimpangan jalan tampak sosok Mang Dirman sedang menunggu dengan sadonya.
"Bagaimana, Den, sekarang?" tanya Mang Dirman dengan raut wajah resah.
Hanan menoleh sesaat ke belakang dan buru-buru mengajak lelaki tua tersebut untuk segera pergi dari sana. "Cepat, Mang, sebelum mereka menyusul ke sini!"
"B-baik, Den!" balas Mang Dirman dengan sigap dan langsung memacu kuda agar berlari secepatnya.
Sementara di tempat kediaman Tuan Guus, tampak Roosje tertawa-tawa berdua, bersama bapaknya sendiri. "Sandiwara Papa bagus sekali," puji gadis tersebut diiringi cekikiknya.
Balas Tuan Guus, "Kamu juga, Roos sayang. Ha-ha-ha!"
Lantas mereka pun saling bersulang, menikmati sebotoli minuman keras dengan riangnya, di bawah pengawasan mata seseorang di balik jendela sebelah luar bangunan. 'Bastaard! Het bleek dat de twee echt vervloekte mensen waren!' gumamnya geram.
__ADS_1
(Bedebah! Ternyata mereka berdua benar-benar manusia berhati busuk!)
...BERSAMBUNG...