
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 71...
...—---- o0o —----...
Tuan Guus mencampakkan tubuh Dasimah, tergolek tidak berdaya di atas tempat tidur. Setelah puas memenuhi hasrat pribadinya, lantas laki-laki bertubuh tinggi besar itu menaikkan kembali celananya yang dibiarkan melorot hingga betis. Disusul dengan melingkarkan sabuk berbahan simpulan benang keras merekat di pinggang.
"Itu sebagai bahan perhatian, agar kamu orang tidak sembarang bercerita, terutama pada anak muda yang bernama Hanan itu, heh!" ujar Tuan Guus seraya terkekeh-kekeh sendiri.
Sementara Dasimah sendiri tertelungkup rata dengan permukaan kasur dengan kondisi area pinggang ke bawah tersingkap bebas. Dia tidak menangis, tidak pula bersuara. Namun dari helaan nafas yang terengah-engah, menandakan bahwa perempuan tersebut masih dalam keadaan hidup. Bekas lelehan air matanya pun membekas kering, menggurat di sepanjang kelopak mata hingga tepian dagu.
Usai menuntaskan hajatnya, Tuan Guus bergegas keluar dari kamar. Meninggalkan Dasimah yang masih tidak bergerak dalam kondisi setengah tidak berbusana.
Tidak berapa lama, muncul Koen dan masuk ke dalam kamar.
"Dasimah! Dasimah! O, Heer!" seru lelaki itu panik begitu mendapati sosok mengenaskan di atas ranjang. "Wat is er met je gebeurd, Dasimah?"
(Astaga! Apa yang terjadi denganmu, Dasimah?)
Spontan Koen menghampiri dan memeriksa keadaan Dasimah. 'Ah, Godzijdank. Het blijkt dat je nog leeft, Dasimah,' gumamnya usai menekan nadi di lengan perempuan tersebut.
(Ah, syukurlah. Ternyata kamu masih hidup, Dasimah.)
"Dasimah … bangunlah, Dasimah!" ujar Koen kembali sambil menepuk-nepuk pipi Dasimah. Namun perempuan itu tidak kunjung sadar. Bernapas terengah-engah dengan kelopak mata terpejam erat. "Apa yang terjadi dengan kamu orang?" Lalu dia mengangkat sosok tersebut, menahan, serta menyandarkan kepalanya di dada. Terlihat ada banyak bekas lebam tergurat merah kebiruan di hampir sekujur pinggang, bokong, hingga paha Dasimah.. "A-apa yang sudah Tuan Guus lakukan padamu orang, Dasimah? A-apa dia telah—"
"Dasimah! Ya, Allah … Gusti Nu Agung!" seru sesosok tua tiba-tiba ikut muncul di ambang pintu.
Koen menoleh kaget, melihat Ambu Darsih tergopoh-gopoh menghampiri keduanya.
__ADS_1
"Apa yang sudah Tuan Koen lakukan terhadap anak saya?" tanya wanita tua itu dengan sorot mata tajam.
"Apa?" Koen terbelalak, kian terkejut. "Saya tidak melakukan apapun pada Dasimah, Ambu. D-dia … d-dia saya temukan sudah dalam keadaan seperti ini."
"Lepaskan anak saya! Jangan sentuh dia!" sentak Ambu Darsih seraya merebut tubuh Dasimah dari pangkuan Koen, serta buru-buru menutupi bagian aurat intinya yang masih terbuka. "Tega sekali Tuan berbuat ini pada Dasimah anak saya. Apa salah kami selama ini, Tuan?"
Koen membantu menyerahkan tubuh Dasimah ke dalam pangkuan Ambu Darsih yang mulai terisak-isak pilu.
"Saya benar tidak melakukan apapun pada Dasimah orang, Ambu," ujar lelaki tersebut kembali. "Saya masuk dan menemukan Dasimah orang sudah dalam keadaan seperti ini. Apakah mungkin karena …." Koen menoleh ke arah pintu kamar.
"Siapa maksud Tuan Koen?" tanya Ambu Darsih ikut memutar kepala ke arah yang dipandang oleh lelaki di sampingnya. "Jangan mengalihkan pembicaraan dengan menuduh orang—"
"Sssttt … diamlah, Ambu!" seru Koen dengan suara berbisik seraya menatap taj wanita tua tersebut. "Kamu orang tidak tahu, kalau saya tadi sempat melihat …." Dia kembali menghentikan ucapan dan melihat-lihat ke arah ambang pintu. " … Tuan Guus keluar dari kamar ini."
"Tuan Guus?" Ambu Darsih mendadak teringat pada keluh kesah yang pernah diungkapkan oleh Dasimah kemarin siang di dapur. "B-benar … pasti Tuan Guus yang melakukan ini pada anak saya."
"Sssttt … jangan bicara keras-keras!" Koen menempelkan jari telunjuk di bibirnya. "Kamu orang tahu, ada Nona Roos bersama Ki Praja di belakang sana!"
"Ya, Allah … Nèng," keluh Ambu Darsih merasa perih melihat kondisi perempuan muda tersebut. "Malang benar nasibmu, Nak. Ambu tidak bisa sepenuhnya menjagamu. Ambu sedih sekali. Bangunlah, Sayang. Bangun. Ayo, cepat sadar, Nak."
Terdengar lenguh pelan dari mulut Dasimah. Perlahan matanya terbuka dan langsung menatap wajah tua Ambu Darsih.
"Ambu …." panggilnya lirih dan terdengar lemah. "Sakit sekali, Ambu."
"Alhamdulillah … akhirnya kamu sadar juga, Nak," ujar Ambu Darsih sambil membelai rambut Dasimah dengan lembut. "Kamu mau minum, Nak?"
Perempuan muda itu menggeleng, kemudian mulai menangis lirih. Tampak sekali dari seringai yang membias di raut wajahnya, dia tengah menahan deraan rasa sakit yang menghujam sekujur badan. "Sakit sekali, Ambu. Imah sakiitt …." lenguhnya menyayat hati.
Ambu Darsih segera memeluk Dasimah lebih erat dan menangisi sejadi-jadinya. Dia bingung harus berbuat apa, terkecuali turut memperkirakan kepedihan hati sosok perempuan yang sudah dia anggap layaknya anak sendiri tersebut.
Sementara Koen membantu mengambilkan air di dapur dan sesaat kemudian kembali dengan gelas di tangan.
__ADS_1
"Berilah dia orang minum, Ambu," ujar Koen seraya menyodorkan gelas ke tangan Ambu Darsih. "Biarkan Dasimah orang istirahat sampai pulih kembali nanti."
Setelah membantu Dasimah minum dan membaringkannya di atas tempat tidur, Koen pamit hendak kembali ke pos penjagaan.
"Tuan Koen …." panggil Ambu Darsih.
Lelaki itu menghentikan langkah tepat di ambang pintu kamar dan membalik badan. "Ada apalagi, Ambu?" tanyanya.
Ambu Darsih menyeka terlebih dahulu lelehan air matanya, lantas lanjut berkata, "Maafkan saya, Tuan. Tadi … saya telah menuduh Tuan Koen yang bukan-bukan."
Lelaki itu tersenyum. Kemudian tanpa membalas ucapan Ambu Darsih, dia lanjut keluar dari kamar dengan raut wajah kecut.
Tidak berapa lama setelah itu, muncul Gert tergopoh-gopoh memasuki kamar Dasimah. "O, Heer … apa yang terjadi pada Dasimah, Ambu?" tanyanya seraya mendekati pinggiran ranjang, dimana Dasimah sudah terbaring ditutupi selimut sekujur badan. "Baru saja, Koen memberitahu saya tentang ini Dasimah orang, heh."
Ambu Darsih melirik pada Gert, lalu mengalihkan pandangannya, menatap sosok Dasimah yang sedang terlelap pucat pasi.
Jawab sosok wanita tua tersebut pelan-pelan, "Nèng Imah sakit, Tuan. Dia butuh istirahat banyak dan ketenangan. Sebaiknya, biarkan saja dulu dia tidur. Jangan dibangunkan."
Untung saja, Gert mau mendengar dan menuruti. Hanya sebentar saja lelaki tersebut melihat kondisi Dasimah, lantas memberitahu Roosje yang masih berada di tempat Ki Praja, di belakang, di dekat istal.
"Kalau begitu, kita panggilkan Dokter Hanan agar datang ke sini, Gert," usul Roosje setelah ikut menyusul melihat-lihat kondisi pekerja perempuannya tersebut.
"Nona memberi saya perintah untuk menjemput itu orang Dokter Hanan, Nona?" tanya Gert memastikan.
Gadis bermata biru itu menatap Ambu Darsih dan Dasimah bergantian. Kemudian memutuskan sendiri, "Biar saya saja yang datang menjemput ke sana, Gert. Tolong, katakan pada Ki Praja untuk bersiap-siap berangkat sekarang juga dan kamu orang ikut saya."
"Baik, Nona! Siap!" balas Gert tegap. "Perintah Nona Roos segera saya laksanakan!" imbuhnya seraya bergegas
"Terima kasih, Gert!" ucap Roosje di dalam bahasa Belanda. 'Baguslah, aku jadi ada alasan untuk kembali bertemu dengan itu orang, Hanan. Hhmmm … Hi-hi-hi!'
...BERSAMBUNG...
__ADS_1