Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 68


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 68...


...—---- o0o —----...


"Adik?" tanya Bunga begitu Hanan tiba kembali di rumah pada sore hari.


Sepasang kekasih tersebut terlibat perselisihan kecil usai Bunga mendapati Hanan tengah bercakap-cakap berdua bersama Roosje.


"Nèng, tunggu!" seru dokter muda tersebut begitu Bunga berbalik arah, mengurungkan diri menemui Hanan di ruang kerjanya. "Nona Roos tunggu sebentar, ya? Aku hendak mengurus adikku terlebih dahulu," ujarnya sebelum bergegas menyusul kekasihnya.


"O, iya … silakan, Hanan," jawab gadis bule tersebut dengan tatapan heran setelah melihat sikap Bunga tadi.


Beberapa warga yang sedang menunggu antrean, sontak menoleh dan memperhatikan tingkah kedua sejoli tersebut, disusul oleh Mang Dirman di belakang Hanan.


"Nèng, tunggu dulu sebentar," pinta Hanan sambil menghalangi langkah Bunga. "Biar aku jelaskan terlebih dahulu maksud aku tadi."


Gadis itu memang menghentikan langkahnya, tapi tatapan matanya benar-benar tidak menunjukkan sebuah keramahan. Ujarnya dengan suara tercekat, "Kembalilah bekerja, Aa. Jangan pedulikan Enèng. Ada gadis cantik di dalam sana yang sedang menunggu pengobatan dari Aa."


Hanan menarik napas sesaat seraya memberi kekasihnya sebuah senyuman lembut.


"Iya, aku tahu. Tapi tolong, Enèng jangan bersikap seperti ini. Khawatirnya … nanti malah dicurigai oleh Nona Roos," ungkap lelaki muda tersebut menjelaskan.


"Khawatir?" tanya Bunga mengulang kata yang diucapkan oleh Hanan. "Khawatir kalau hubungan pertunangan kita diketahui oleh perempuan Belanda itu? Begitu maksud Aa, 'kan?" imbuhnya kembali bertanya disertai sorot mata tajam.


Hanan menggeleng seraya membalas, "Bukan karena itu, tapi …." Ucapan lelaki muda tersebut mendadak berhenti tatkala melihat ada sosok Ki Praja tengah mengawasi mereka. Tidak seberapa jauh dari keberadaan Hanan dan Bunga. "Sebaiknya … kita bicara di rumah saja nanti ya, Nèng. Aku janji, aku pasti akan menjelaskannya."


Bunga mendengkus kesal. Ada rasa cemburu yang menyelinap, ditambah sakit hati karena ucapan kekasihnya tadi yang menyebutkan kata 'Adik' di hadapan Roosje.


"Terserah Aa," ujar gadis cantik tersebut lirih. "Aku memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kecantikan Nona Roosje. Karena—"

__ADS_1


"Sssttt …." Hanan menempelkan jari telunjuk di bibir. "Jangan berkata apapun, apalagi menyebut nama dia," ucapnya berbisik. "Aku janji, setiba nanti pulang, aku akan menjelaskan maksudku tadi, Nèng. Percayalah." Dia menatap lekat sosok kekasihnya tersebut. "Enèng tahu 'kan, selama ini aku tidak pernah berbohong pada Enèng?"


Untuk beberapa saat, gadis itu terdiam seperti tengah berpikir, hingga akhirnya mengangguk perlahan.


Lanjut Hanan berkata, "Baik. Sekarang, Enèng pulang dulu diantar oleh Mang Dirman."


"Terus … Aa sendiri?" tanya Bunga seakan masih meragukan kekasihnya tersebut.


"Iya, nanti Mang Dirman kembali lagi ke sini menjelang aku pulang kerja," ungkap Hanan menjelaskan. "Aku akan langsung pulang begitu semuanya di sini selesai. Bagaimana, Nèng?"


Bunga menoleh ke arah Mang Dirman yang berdiri tidak jauh dari keberadaan mereka berdua.  Lantas memberikan bawaan rantang untuk makan Hanan ke tangan lelaki itu. "Makanlah ini, Aa. Sengaja Enèng masak sendiri untuk Aa. Terserah, mau dibuang juga, tidak apa-apa."


Hanan menerima sodoran bekal makanan dari Bunga seraya menarik napas panjang. Kemudian memanggil Mang Dirman. "Tolong antarkan Nèng Bunga ke rumah ya, Mang. Setelah itu, kalau Mamang tidak capek, Mamang jemput saya di sini menjelang waktu Dzuhur," kata anak muda itu setelah sosok tua kusir keluarganya tersebut mendekat.


"Baik, Den," jawab Mang Dirman langsung paham. "Ayo, Nèng. Saya antar pulang sekarang juga."


Di luar area Balai Kesehatan, dia sengaja tidak beradu tatap dengan sosok Ki Praja yang memperhatikannya dengan saksama.


"Ada apa, Hanan? Sepertinya ada masalah dengan adikmu orang itu?" tanya gadis berkulit putih tersebut penasaran.


Jawab Hanan, "Ah, tidak ada apa-apa. Hanya persoalan keluarga saja. Tapi semuanya sudah diselesaikan dengan baik kok, Roos."


Roosje memperhatikan rantang kecil yang disimpan Hanan di bawah meja tugasnya. "Sepertinya kamu orang tidak akan bisa makan siang kembali dengan aku hari ini ya, Hanan?"


Hanan tersenyum dan langsung menyadari kalau pertanyaan Roosje tersebut berkenaan dengan bekal makanan yang dibawa oleh Bunga tadi.


"Mohon maaf, Roos," ujar Hanan. "Aku belum bisa memenuhinya dalam waktu dekat ini. Sebab, masih ada banyak pekerjaan yang belum aku tuntaskan di rumah."


"Kalau begitu, aku saja yang datang ke rumahmu orang. Bagaimana, hhmm?"


Lelaki muda itu tertegun. Dia bingung untik menjawab. Ditolak, tentu saja tidak sopan. Diterima pun jelas akan membawa masalah baru baginya, terutama sikap dari Bunga dan ibunya sendiri, Juragan Sumiarsih. Walau bagaimanapun juga, dia masih membutuhkan pengaruh dari Tuan Guus sampai surat penugasan itu diterima.


"He-he, silakan saja, Roos. Tapi mohon maaf, jika sampai aku nanti tidak bisa selalu menyambutmu. Kemungkinan besar, aku pasti akan sibuk dalam waktu-waktu dekat ini," ungkap Hanan beralasan.

__ADS_1


Balas kembali Roosje, "Tidak apa-apa. Aku akan dengan senang hati membantumu kalau kamu orang membutuhkan bantuan dariku, Hanan." Gadis itu bersikeras dan langsung direspons Hanan dengan seulas senyuman tipis.


"Mohon maaf, Roos. Masih banyak warga yang datang dan harus kulayani sekarang. Kalau kamu tidak keberatan—"


"Baik, aku pergi pulang sekarang," tukas Roosje dengan berat hati. "Tapi …. besok hari, aku akan datang kembali ke sini."


"B-buat apa? Mau berobat?" tanya Hanan keheranan.


Jawab Roosje sembari mengulas senyum penuh arti, "Aku ingin membantumu di sini, Hanan. Daripada di rumah terus, aku bosan."


Lagi-lagi Hanan tidak bisa menolak secara langsung. Terpaksa dia hanya menjawab dengan senyuman, hingga gadis itu pun pergi bersama Dasimah.


'Ah, apalagi yang harus kulakukan? Kalau Roos selalu datang ke sini, sudah tentu akan menjadi masalah besar pada Bunga nanti,' pikirnya bingung. 'Tapi di sisi lain, aku juga tidak bisa melarang dia untuk datang.'


"Kita pulang sekarang," kata Roosje mengajak Dasimah pergi dari sana.


Sejenak, Dasimah melirik pada Hanan, seperti tengah memberinya bahasa isyarat tertentu dan diangguki oleh lelaki tersebut dengan gerakan perlahan.


'Sepertinya … Nèng Imah memang sedang menyembunyikan sesuatu dariku,' pikirnya kembali secara diam-diam. 'Tampak sekali, dia ingin menyampaikan sesuatu padaku, tapi takut didengar oleh Roos. Hhmmm, entah apa yang hendak dia sampaikan itu?'


Pertanyaan demi pertanyaan senantiasa timbul tenggelam semenjak pemeriksaan terhadap kondisi fisik Dasimah, hingga terbawa-bawa setibanya dia pulang ke rumah. Di sana pun langsung dihadang dengan pengajuan pertanyaan serupa dari sosok Bunga.


"Aku ingin menagih janji Aa terkait percakapan kita di Balai Kesehatan tadi," ujar gadis tersebut sebelum didahului penyambutan oleh Juragan Sumiarsih.


"Iya, sabar dulu, Nèng. Aku saja belum sempat sholat Dzuhur," balas Hanan tampak kelelahan. "Nanti, setelah makan siang, kita berbicara di belakang, ya?"


Bunga mengangguk pelan. Namun raut di wajah gadis itu masih menampakkan sisa perasaannya atas kejadian tadi di Balai Kesehatan.


"Ada masalah apa kamu dengan Bunga, Nak?" tanya Juragan Sumiarsih begitu muncul dan melihat sikap calon menantunya tersebut terlihat murung. "Kamu berselisih dengan Bunga?"


Hanan menarik napas berat seraya mengelus dada dan berucap di dalam hati, 'Astaghfirullahal'adziim ….'


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2