
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 44...
...—---- o0o —----...
Sementara itu di kediaman Bunga dan Ki Sendang Waruk, sepeninggal Hanan dan Mang Dirman kembali pulang pada jelang di waktu akhir petang tersebut, kedua uwak dan keponakan itu bergegas masuk dan menutup pintu rumah rapat-rapat. Kemudian gadis cantik itu duduk di kursi kayu tua berbantalkan anyaman akar rotan. Sesekali terdengar dengkus napas yang menandakan bahwa dia tengah memendam rasa gundah gulana.
"Ada apalagi, Nèng?" tanya Ki Sendang Waruk begitu memperhatikan raut wajah keponakannya. "Jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. Tenangkan saja dulu hatimu itu. Yang terpenting sekarang adalah calon suami Nèng itu dalam keadaan selamat."
Bunga menoleh. Menatap lekat mata uwaknya. Lantas berujar, "Bagaimana mungkin hati Enèng bisa tenang, Wak?" Dia kembali mendengkus gusar. "Beberapa kali Enèng mendapatkan pertanyaan serupa dari Aa Hanan terkait permasalahan keluarganya dan sesering itu pula, Enèng harus terus berpura-pura buta mengenai semuanya. Padahal Enèng ingin sekali berkata dan berbuat jujur pada Aa Hanan. Dia itu bukan siapa-siapa lagi bagi Enèng, Wak. Aa Hanan itu calon suami Enèng."
Ki Sendang Waruk turut duduk di samping keponakannya. Kemudian perlahan menanggapi ucapan Bunga dengan lembut. "Lalu, apakah dengan keterusterangan Enèng nanti bisa menjamin, bahwa semua kejadian yang telah berlalu itu bisa kembali utuh?" tanyanya terdengar aneh. "Enèng bisa menjamin anak muda itu tidak akan menuntut balas dengan cara sendiri dan justru membahayakan dia juga?"
"Kalau pertanyaan Uwak seperti itu, lalu maksud kepulangan Uwak sendiri ke kampung ini buat apa?" Balik bertanya gadis tersebut seraya tidak mau lepas menatap kedua bola mata laki-laki tua itu. "Kalau hanya untuk bercerita tentang detik-detik kematian Juragan Juanda, Mang Dirman juga bisa melakukannya, bukan? Tidak perlu Uwak bersusah payah kembali dari medan perang. Bukankah begitu, Wak?"
Ki Sendang Waruk terdiam. Bola mata lelaki tua tersebut bergerak-gerak seraya melirik-lirik keponakannya itu melalui sudut mata. Kemudian berpura-pura mencomot sisa ubi kayu rebus di atas meja, lanjut menyantapnya dengan sikap seolah-olah santai.
"Jujur saja, Wak," imbuh Bunga kembali, agak kesal menunggu tanggapan uwaknya yang belum kunjung terucap. "Sebenarnya, Uwak tahu lebih banyak mengenai masa lalu Juragan Juanda, 'kan?"
"Tidak banyak," jawab Ki Sendang Waruk pendek. "Lagipula untuk apa dicari tahu? Bukankah itu hanya masa lalu dari pribadi seseorang? Untungnya apa untuk kita-kita."
Gadis itu menggeleng. "Tidak mungkin, Wak," elaknya masih belum mempercayai jawaban uwaknya baru saja. "Ini tidak hanya berbicara tentang kita, Wak. Bukan masalah untung-rugi. Tapi ini perkara Aa Hanan. Calon suami untuk anak perempuan dari adik kandung Uwak sendiri, yang kelak … Insyaa Allah, bakal menjadi keluarga kita juga. Menantu Iwak."
Ki Sendang Waruk melirik Bunga sambil asyik mengunyah. Timpalnya datar, "Uwak paham, Nèng. Tidak perlu Enèng memperjelas seperti itu."
"Tapi kesannya Uwak seperti memandang enteng masalah ini, Wak." Nada suara gadis itu tiba-tiba meninggi. Itu bermakna bahwa dia mulai kesal sendiri atas sikap sosok di sampingnya tersebut. "Tidak mungkin, sebagai seorang sahabat karib, Uwak tidak begitu banyak mengetahui kehidupan masa lalu Juragan Juanda. Sangat tidak lazim, Wak!" Kemudian Bunga menggeser duduknya, lebih merapat pada Ki Sendang Waruk, dan berbisik, " … atau jika memang Uwak bermaksud menyembunyikannya, pasti ada maksud tertentu di balik itu. Iya 'kan, Wak?"
"Enèng ini bicara apa?" ujarnya keheranan. "Kok, malah nuduh Uwak macam-macam, sih?"
__ADS_1
Jawab Bunga, "Bukan nuduh, Wak. Tapi hati kecil Enèng berkata kalau Uwak memang sedang menyembunyikan sesuatu, 'kan? Jujur saja, Wak."
Ki Sendang Waruk mendecak tidak acuh. "Ah, kalau begitu sih, bisa-bisanya Enèng saja. He-he-he. Biasalah, jiwa anak muda memang selalu dikejar-kejar rasa penasaran. Itu manusiawi, kok."
Tiba-tiba Bunga tersenyum-senyum. Bukan bermakna tengah mentertawai sebuah kelucuan, akan tetapi justru usai menyimak ucapan uwaknya yang terakhir. "Hhmmm … manusiawi, ya? Sebagaimana halnya keinginan Enèng untuk membantu Aa Hanan dengan cara Enèng sendiri," gumam gadis tersebut masih menyisakan senyum tipis.
Ki Sendang Waruk menoleh. Kunyahannya turut terhenti seketika.
"Maksud Enèng apa?" tanya laki-laki tua berambut putih gondrong hingga sebahu tersebut.
Bunga menggerak-gerakkan bibirnya sedemikian rupa. Lantas berkata, "Apa Uwak lupa? Dulu Enèng pernah bercerita pada Uwak." Dia melirik sejenak untuk melihat reaksi uwaknya. Ki Sendang Waruk mengerutkan kening. "Dulu … sewaktu malam kejadian Juragan Juanda meninggal, tepat ketika Enèng memeriksa percikan cahaya di luar jendela itu, samar-samar … Enèng melihat seperti ada dua sosok orang berdiri di tengah kegelapan. Enèng pikir mereka itu adalah—"
"Cukup, Nèng, cukup! Jangan diteruskan!" tukas Ki Sendang Waruk buru-buru menghentikan ucapan keponakannya. "Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas perkara yang satu itu."
"Tapi Aa Hanan juga harus tahu, Wak," timpal Bunga bersikukuh. "Enèng merasa terus-terusan bersalah pada keluarga Juragan Perempuan dan Aa Hanan. Bertahun-tahun Enèng memendam pemikiran ini dari mereka. Terus, mau sampai kapan lagi hal itu harus kita sembunyikan, Wak?"
"Ssttt …." Ki Sendang Waruk menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Sebentar-sebentar dia menoleh ke empat arah penjuru ruangan dengan raut wajah khawatir. Lalu berbisik penuh kehati-hatian, "Keadaan sekarang sudah sangat berbahaya, Nèng. Kita tidak mungkin membahas perkara yang satu itu secara serampangan."
"Ssttt! Merunduk, Nèng!" seru Ki Sendang Waruk seraya menarik tengkuk Bunga ke bawah.
Spontan mereka berdua bersamaan membungkuk, berlindung di balik sandaran kursi tua tempat duduk tadi. Kemudian dengan cepat, Ki Sendang Waruk melakukan gerakan seperti mengipaskan kelima jemari tangan ke arah nyala lampu di ruangan tersebut.
Seettt!
Wuusss!
Clep!
Seketika titik api pada lampu pun padam, laksana tertiup angin kencang dengan cepat. Ruangan di dalam rumah pun mendadak berubah gelap gulita.
"Tetap merunduk di sini ya, Nèng," bisik Ki Sendang Waruk seraya menepuk pundak gadis itu. Kemudian lelaki tua itu pun bergegas menjauh. Bergerak lincah di dalam gayutan pekat menghitam.
__ADS_1
Bunga tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun mendadak nyalinya menciut dan terdiam membeku di tempat semula. Tidak berani bergerak maupun berpindah perlindungan, terkecuali terpejam rapat-rapat.
"Ciaakkk! Ciaakkk!"
Terdengar pekikan seperti suara burung di dalam ruangan tersebut, disertai gema kepak sayap membahana memenuhi ruang dengar.
Bunga menutup kedua lobang telinganya dengan telapak tangan. 'Ya, Allah … burung atau makhluk apakah itu? Suaranya sangat memekakkan begitu,' kata gadis itu dilanda ketakutan. 'Terus … ke mana Uwak?' Sekujur tubuhnya sampai menggigil hebat bercampur dengan kucuran peluh dingin.
Kemudian dia mencoba merangsek maju, hendak mencari-cari pinggiran dinding ruangan. Mungkin di sana akan lebih aman, pikir Bunga.
Lantas secara perlahan-lahan, masih tetap dalam posisi semula, gadis tersebut bergerak. Napasnya memburu, menciumi dan meniupi permukaan lantai tanah yang kering berdebu. Sampai beberapa kali hampir tersedak dan terbatuk-batuk menghirup butiran kecil kerikil.
"Wak?" panggil Bunga setengah berbisik. Gerakannya terhenti seketika. Bukan tanpa alasan. Karena tiba-tiba saja ujung jemarinya seperti menyentuh sesuatu yang dingin. Mirip jari-jari kaki. "Wak? Ini Uwak, bukan?" tanya kembali gadis itu diiringi jantung berdebar-debar hebat.
Tidak ada sahutan apa pun. Tetap hening.
Walaupun dilanda ketakutan, tapi entakkan rasa penasaran Bunga seakan mengenyampingkan sisi kewarasan benaknya. Perlahan-lahan dia meraba-raba di dalam kegelapan untuk memastikan benda apakah yang tersentuh tadi.
Benar, seperti kaki seseorang, pikir Bunga menerka-nerka. Dingin, tapi ujungnya laksana ditumbuhi bebuluan lebat serta kuku-kuku runcing memanjang.
"Ya, Allah!" pekik Bunga tanpa sadar dan spontan tersurut mundur dengan rasa kejut yang luar biasa.
Belum selesai berpikir lebih jauh, suara pekik tadi kembali bergema begitu dekat di atasnya.
"Ciiaakkk! Ciiaakkk!"
"Astaghfirullah!" jerit Bunga langsung ketakutan. "Uwaakkk!"
"Ciiaakkk! Ciiaakkk!"
"Aahhh!"
__ADS_1
...BERSAMBUNG...