
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 33...
...—---- o0o —----...
"Allahuakbar!" pekik Ceu Ijah turut terbelalak besar kelopak matanya. Dilihatnya pakaian Mang Dirman sendiri dalam kondisi yang tidak jauh berbeda. Penuh dengan bercak darah segar dan menimbulkan aroma amis menyengat. "A-pa yang terjadi dengan Mang Dirman?"
"Ki Endang mana?" tanya Ceu Enok was-was masih dilanda keterkejutan yang teramat.
Perlahan laki-laki tua itu melebarkan kuakan daun pintu kamar dengan wajah pilu. Seketika itu juga, tampak dengan jelas bagaimana kondisi sesungguhnya di dalam sana. Kedua perempuan itu refleks terpekik ketakutan dengan bias pucat menghiasi muka-muka mereka. Juragan Juanda terbujur kaku di atas tempat tidur bersimbah darah. Mulutnya terbuka dengan bola mata melotot hampir menyembul keluar. Sementara Ki Sendang Waruk sendiri tengah terduduk menyender pada dinding sambil terengah-engah kepayahan.
Ceu Enok mundur perlahan dengan kaki gemetar. Bahkan hampir tersungkur, tidak kuasa menahan diri untuk menopang kaki. Segenap tenaga yang ada nyaris melemah disertai degup jantung kencang. "N-nèng B-bunga …." panggilnya pelan. "N-nèènnggg …." Ingin dia berteriak memanggil, tapi suaranya tidak bisa keluar seutuhnya.
"A-ada apa, Ceu?" tanya Bunga begitu Ceu Enok muncul kembali dengan raut memucat pasi. Sisa keterkejutannya sendiri masih melanda setelah kejadian kilatan cahaya serta suara menggelegar tadi.
Ceu Enok menunjuk-nunjuk ke arah kamar. Walaupun mulutnya terbuka, tapi kali ini tidak lagi kuasa mengeluarkan suara. Malah jatuh menggelosoh di atas lantai kayu beralaskan permadani sebelum benar-benar mendekati sosok gadis tersebut.
"Ya, Allah … Ceu Enok! A-ada apa ini sebenarnya?" tanya Bunga penuh kebingungan seraya memburu Ceu Enok. "A-apa yang terjadi?" Yang ditanya malah menggelengkan kepala. Gadis itu semakin gelisah, lantas menoleh pada Sumiarsih yang tengah terbaring tidak sadarkan diri di atas kursi panjang. Terakhir berganti menatap Ceu Odah yang sama-sama masih didera rasa kaget dan ketakutan. "E-euceu tolong jagakan Ibu, ya? S-saya mau panggilkan dulu Uwak."
"I-iya, Nèng," sahut Ceu Odah pelan. "Ya, Allah … ujian apa ini yang sedang dijalani oleh keluarga Juragan kami, Gusti." Dipandanginya sosok Sumiarsih di hadapannya dengan tatapan pilu. Tidak terasa air mata pun menganak sungai di pipi.
Tertatih-tatih, Bunga bangkit usai mengusap lengan Ceu Enok yang masih terdiam dengan tatapan hampa. Sembari memegangi pinggang, gadis itu mengayunkan langkah menuju kamar majikannya.
__ADS_1
"Mang Dir …." Kalimat dari bibir Bunga terputus, begitu melihat seisi ruangan tempat tidur yang berubah memerah. Mang Dirman sendiri masih terpaku di ambang pintu. "M-maaanngg … a-apa yang terjadi?" tanyanya tergagap lemah. Kemudian mencoba kembali melangkah ke dalam untuk menghampiri Ki Sendang Waruk. "U-uwaakkk …."
Laki-laki berikat kepala kain batik itu mengangkat kepala. Pilu menatap keponakannya yang datang menghampiri dengan langkah terseok-seok.
"Astaghfirullahal'adziim," desis Bunga tidak kuasa melihat-lihat sekeliling tempat. Dia belum memahami benar apa yang telah terjadi sebelumnya di sana. Hanya sesaat melihat ke arah sosok Juragan Juanda dengan pandangan ngeri, lantas segera beralih menuju uwaknya, Ki Sendang Waruk.
"Nèng …." Laki-laki tua tersebut mengangkat tangan, meminta Bunga untuk segera mendekat. "Juragan perempuanmu mana?" tanyanya lirih begitu gadis itu berjongkok di sampingnya.
Bunga menatapi wajah serta pakaian Ki Sendang Waruk. Penuh percikan noda merah menjijikkan. "A-ada apa ini, Wak?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan uwaknya tadi, karena disesaki antara rasa bingung, takut, serta mual menjadi satu. "Juragan—"
"Jangan dilihat, Nèng!" seru Ki Sendang Waruk dengan suara tercekat, meminta keponakannya tersebut agar tidak melihat ke arah tempat tidur. "Segeralah menjauh dari kamar ini dan tetaplah bersama Sumiarsih. Jangan biarkan dia sendirian di saat suasana seperti sekarang ini."
Timpal Bunga pelan, "T-tapi … Ibu jatuh pingsan, Wak."
Laki-laki itu menarik napas panjang. Kemudian sambil berpegangan ke dinding, dia bangkit dengan susah payah. "Mang," panggilnya pada sosok Mang Dirman yang berada di ambang pintu. "Urus segera jasad Juraganmu …."
'Jasad?' Bunga bertanya-tanya. 'Juragan Juanda meninggal dunia? Ya, Allah! Bagaimana mungkin? Apa yang terjadi ini?"
" … Dan segera minta bersihkan ruangan ini secepatnya," pinta Ki Sendang Waruk, lantas melangkah tertatih-tatih sambil menarik lengan Bunga. "Ingat pesanku, apapun yang kamu saksikan tadi di sini, biar saya yang akan menjelaskannya pada keluarga Juanda nanti."
Mang Dirman mengangguk pelan tanpa berkenan mengangkat wajah, menatap mata Ki Sendang Waruk. "B-baik, Ki," jawabnya tercekat.
Sebelum benar-benar meninggalkan kamar, laki-laki tua berambut putih sebahu itu mencekal lengan Mang Dirman dengan keras. "Saya akan selalu memastikanmu untuk tetap menjaga lisanmu itu, Mang," ujarnya seperti menekan.
"T-tentu s-saja, Ki," jawab Mang Dirman tampak ketakutan. Lantas buru-buru menjalankan perintah begitu cekalan di lengannya dilepas Ki Sendang Waruk.
__ADS_1
Bunga yang mendengar percakapan mereka, mengerutkan kening. Dia jadi bertanya-tanya sendiri, tapi karena suasananya tidak memungkin, gadis itu lebih memilih diam untuk sementara waktu.
...—---- o0o —----...
Hanan terpaku mendengarkan penuturan Ki Sendang Waruk.
" … Uwak terlambat memberikan pertolongan. Sakitnya sudah terlalu parah dan … serangan guna-guna pada malam kejadian itu, begitu membabi buta. Uwak tidak sanggup lagi menyelamatkan ayahmu. Dia meninggal dunia seketika dan keesokan harinya, ayahmu baru bisa dikuburkan, Nak," pungkas uwak kekasihnya tersebut mengakhiri kisah. "Tapi … untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Uwak meminta agar … tidak banyak orang yang mengurusi jenazah ayahmu sampai dimakamkan."
Sesaat Ki Sendang Waruk melirik ke arah Mang Dirman. Lelaki tua yang bekerja sebagai kusir sado dan mengurus kuda keluarga Hanan itu langsung tertunduk. Dia menarik napas dalam-dalam dan tampak risau setelah uwaknya Bunga tersebut tuntas bercerita.
Hanan manggut-manggut. Dia tampak bersedih mendengar penyebab kematian ayahnya. Namun sejak tadi, timbul pertanyaan demi pertanyaan yang menghinggapi benak. "Lantas, atas dasar apa Ayah saya sampai digunai-gunai seperti itu, Ki? Siapa yang melakukannya? Padahal, selama hidup beliau, Ayah tidak pernah memiliki masalah pelik dengan orang-orang sekitar. Bahkan kerapkali membantu. Apakah karena kedekatan Ayah dengan Tuan Hansen?"
Ki Sendang Waruk menipiskan bibir. Dia bingung untuk menjawab. Di saat-saat dirinya berpikir, sekilas mata tua itu melirik-lirik pada Mang Dirman serta Bunga. Refleks kedua orang itu pun tidak ingin ikut berkata-kata.
"Saya tidak berhak menuduh seseorang tanpa sebuah bukti yang jelas, Nak. Maafkan saya," jawab Ki Sendang Waruk tercekat. "Bukan perkara mudah memang, mencari titik penyebab atas sebuah kejadian yang diakibatkan oleh sesuatu yang tidak kasatmata. Ilmu setan itu memang ada, tapi hitam atau putihnya sebuah ilmu, tergantung dari siapa yang menggunakannya dan saya belum bisa membuktikannya dengan benar."
"Ya, Hanan bisa memahami itu," timpal anak muda tersebut masih belum puas dengan penuturan Ki Sendang Waruk sejak tadi. "Tapi … sebagai seorang yang pernah akrab dengan mendiang Ayah semasa hidup, apakah tidak pernah sekalipun Ayah bercerita pada Aki? Seorang sahabat, pasti pernah atau bahkan sering menuturkan … sekecil apapun permasalahan hidupnya. Termasuk yang bersifat pribadi sekalipun. Itupun tidak Aki ketahui?"
Ki Sendang Waruk terperangah. Sesaat dia berpikir kembali, pertanyaan ataukah sindiran atas ucapan dari kekasih keponakannya tersebut?
Mang Dirman mengangkat kepala sedikit dan mengintip lirik pada Ki Sendang Waruk. Begitupun dengan yang bersangkutan. Tampaknya ingin sekali kusir sado itu ikut angkat bicara, tapi sorot mata lelaki tua berambut putih hingga sebahu tersebut memberi isyarat untuk tetap diam. Bahkan saat Bunga baru hendak membuka mulut, usapan tangan uwaknya memberi titah untuk menangguhkan.
"Saya pergi bersama para pejuang setelah ayahmu menikah dengan ibumu, Nak," kata Ki Sendang Waruk dan langsung direspons dengan dengkusan napas pendek oleh Mang Dirman. Hal tersebut tentu saja tidak luput dari pengamatan Ki Sendang Waruk sendiri. Dia pun mendeham beberapa kali.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1