Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 45


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 45...


...—---- o0o —----...


Wuusshhh!


Tiba-tiba seperti ada tiupan angin melewati Bunga dengan cepat. Disusul suara menggeprak beberapa kali, laksana hantaman rotan kering pada sebuah dahan kayu.


Set! Prak! Prak!


"Ciiaakkk! Ciiaakkk! Ciiaakkk!"


Pekik itu kembali menggema hebat. Hanya saja, kali ini terdengar berbeda dari sebelumnya. 


"Hiaaattt … hih! Hih!"


Gadis itu langsung hafal, yang terakhir ini adalah suaranya Ki Sendang Waruk. Namun tidak tahu apa yang lelaki tua itu lakukan dan dengan makhluk berjenis apa. Burung? Dari pekikan nyaring tadi hampir bisa dipastikan demikian, menurut Bunga. Kondisi gelap gulita tersebut benar-benar membutakan pandangan.


Beberapa saat lamanya terjadi baku hantam di dalam ruangan itu. Seruan, kepakan sayap, bahkan diakhiri dengan raungan kesakitan yang hampir berbarengan bersama suara benturan keras di pintu.


Brak!


"Ciiaakkk! Ciiaakkk! Ciiaakkk!"


Seketika Bunga bangkit dari posisi jongkoknya. Melihat-lihat ke arah pintu depan rumah yang melompong. Sedikit terbantu dengan keremangan cahaya lampu di luar.


"Uwaakkk!" panggil gadis tersebut secara spontan. Lantas hendak menghambur ke luar rumah, tapi sebuah tarikan menahannya dengan cepat.


"Tahan dulu! Jangan keluar!" seru satu suara milik Ki Sendang Waruk mengingatkan. "Tetap di sini, Nèng!" imbuhnya kembali meminta Bunga untuk berada tepat di samping uwaknya. 


Bunga menoleh, walaupun belum sepenuhnya bisa melihat dengan jelas keadaan di sekeliling ruangan tersebut. "Uwak? Apa ini—"

__ADS_1


"Ya, ini aku! Uwakmu!" tukas Ki Sendang Waruk. "Tetap di sini! Jangan keluar! Berbahaya!"


Gadis itu menurut. Dengan gerak refleks dia meraba-raba ke samping, mencari-cari sosok uwaknya hendak berpegangan. Lantas bertanya usai berhasil merengkuh lengan lelaki tua tadi, "A-apa yang terjadi, Wak?" Suara Bunga tergagap-gagap di antara rasa kejut dan bingung, mendera perasaannya. Sementara di luar rumah masih juga terdengar pekik lirih suara tadi. "Makhluk atau wujud apakah yang ada di luar sana itu?"


Ki Sendang Waruk tidak menjawab. Dia malah melangkah perlahan-lahan ke depan, ke arah ambang pintu yang jebol tanpa daun pintu. Terpaksa, Bunga pun mengikuti, ketakutan.


Samar-samar tertampak di halaman rumah, sesosok Buweuk terkapar meronta-ronta sambil meraung-raung kesakitan dengan suara khasnya.


"Ciiaakkk! Ciiaakkk! Ciiaakkk!"


"Astaghfirullah!" seru Bunga tertahan sembari menutup mulut yang menganga lebar dengan telapak tangan. "Makhluk apakah itu sebenarnya, Wak?" Matanya sampai terbelalak kaget melihat wujud asli penampakan di depan mereka. Bentuknya memang seperti burung hantu biasa, tapi dari ukuran yang ada, hampir sebesar tubuh bayi yang baru terlahir. Bahkan ada keanehan lain, yakni pada kedua kakinya. Terlihat mirip sekali dengan kaki manusia.


"Diamlah di sini, Nèng," perintah Ki Sendang Waruk seraya melepaskan cekalan kuat jemari tangan keponakannya pada lengan. Lalu melangkah perlahan mendekati sosok makhluk tadi.


Lelaki itu berdiri hanya beberapa jengkal dari titik sasaran. Menatap dengan sorot mata tajam dibarengi bibir bergerak-gerak merapal kalimat-kalimat tertentu.


Sontak makhluk berwujud burung hantu tersebut beringsut kepayahan. Seperti dilanda ketakutan yang begitu besar sewaktu didekati sosok Ki Sendang Waruk. Tampak jelas sekali dari gerakannya, seperti tengah menahan rasa sakit akibat luka yang diderita pada bagian kaki. Berdarah-darah dan tidak mampu bangkit kembali.


"Ciiaakkk! Ciiaakkk! Ciiaakkk!"


Lagi-lagi makhluk tersebut menjerit-jerit pilu seperti meminta untuk dikasihani.


Tiba-tiba lelaki tua itu meludah ke arah makhluk tersebut dan tepat mengenai bagian tubuhnya yang dipenuhi bebuluan. Sontak, pekik nyaring seperti jerit kesakitan pun kembali menyeru membelah kegelapan malam. 


"Ciiaakkk! Ciiaakkk! Ciiaakkk!"


Asap putih seketika mengepul dari makhluk tersebut begitu terkena air ludah Ki Sendang Waruk. Mirip muntahan lahar panas gunung merapi yang menerpa serta membakar rerumputan liar. 


Sementara Bunga yang memperhatikan dari kejauhan, terpana sesaat di antara dera rasa ketakutannya sejak semula.


'Ya, Allah! Makhluk apakah itu sebenarnya yang sedang dihadapi Uwak?' Batin gadis itu pun langsung bertanya-tanya heran. 'Mustahil sekali jika itu memang benar seekor Buweuk dan rasanya tidak pernah sekalipun aku melihat ada yang sampai sebesar itu.'


Tubuh Bunga sampai menggigil hebat disertai raut wajah memucat. Sesaat kemudian diikuti dengan pandangan menghitam pekat serta kesadaran melemah secara perlahan-lahan. Lantas ruang pendengaran pun berubah menyepi.


Bruk!

__ADS_1


Spontan Ki Sendang Waruk pun menoleh kaget mendengar suara di belakangnya. Terutama pada posisi dimana Bunga tadi berdiri.


"Nènnggg!" seru lelaki tua berikat kepala kain batik itu terperanjat. "Astaghfirullaahal'adziim!" ucapnya begitu melihat Bunga tergolek di lantai tanah.


Lekas dia pun berbalik badan untuk memburu keponakannya. Sesaat melupakan sosok makhluk jejadian yang tengah dihadapi tadi.


"Ya, Allah … Nèng!" Ki Sendang Waruk menepuk-nepuk pipi gadis tersebut. "Apa yang terjadi padamu, Nèng?" Cepat-cepat dia memeriksa denyut nadi di lengan Bunga. 'Ah, hanya jatuh pingsan rupanya,' gumam lelaki tua itu usai dihantui rasa khawatir. 'Tapii ….'


Tiba-tiba dia teringat pada sosok burung hantu besar tadi, lantas spontan menengok untuk melihat-lihat.


'Apa?!' Ki Sendang Waruk bangkit dan bergegas menuju tempat dimana makhluk tersebut berada. Nyatanya kini sudah tidak ada lagi di sana. Menghilang, entah kemana. Bahkan tidak terdengar pula suara jerit kesakitan seperti sebelumnya. 'Pergi ke mana makhluk jahanam itu, huh?' imbuhnya kembali bergumam. Untuk beberapa saat lamanya, dia mencari-cari ke empat penjuru tempat, termasuk arah rimbunan daun-daun pepohonan di sekitar sana. Tetap saja tidak tampak tanda-tanda apapun terlihat.


'Sialan! Mengapa tidak langsung kubunuh saja makhluk jadi-jadian itu tadi?' rutuk laki-laki tua tersebut menyesali. 'Kini keadaan bertambah genting di kampung ini. Sudah pasti, suatu ketika dia atau pemilik makhluk jahanam itu akan menuntut balas!'


'Aku semakin yakin kini, bahwa kematian Juanda dulu, dilakukan oleh orang yang sama sebagaimana teror dari Buweuk tadi,' pikir Ki Sendang Waruk seraya manggut-manggut dan berkacak pinggang. 'Tapi masalahnya … belum ada secuil bukti pun yang bisa kuungkapkan sejak dulu. Terkecuali hanya sebatas dugaan-dugaan ini belaka. Huh!' Dia mendengkus dan lanjut mendecak kesal. 'Apakah mungkin … dua sosok orang yang diceritakan oleh Bunga dulu itu, ada kaitannya dengan peristiwa tadi dan kematian Juanda?'


Sejenak, Ki Sendang Waruk memutar kembali gambaran di beberapa masa dahulu. Tepatnya ketika dia dan Juanda masih sama-sama berusia muda. Ada salah seorang sosok perempuan cantik yang telah lama memendam perasaan cinta pada salah satu di antara mereka berdua. Namun bukan ditujukan padanya, melainkan justru terhadap Juanda itu sendiri.


Gayung tidak bersambut. Kisah kasih tidak sampai itu pun terjadi pada sosok perempuan tersebut. Lelaki yang dia cintai dan diharapkan akan berjodoh dengannya, tiba-tiba memutuskan untuk menikah dengan Sumiarsih. Kecewa dan sakit hati tentu bukan sesuatu yang ganjil di saat menerima kenyataan tersebut. Kemudian sasaran pun beralih pilihan pada Sendang Waruk muda sebagai pelarian. Mereka berdua kian dekat dan menjalin hubungan kasih karena faktor keadaan. Terlebih untuk pihak perempuan itu sendiri.


Kemudian, sebuah peristiwa yang tidak diharapkan pun terjadi. Keduanya berpisah dan saling menjauh satu dengan lainnya. Sendang Waruk lebih memilih mengasingkan diri di sebuah tempat yang tidak pernah diketahui dan beberapa tahun kemudian, tersiar kabar dia bergabung bersama para pejuang di medan peperangan. Sementara perempuan itu tadi, tidak diketahui rimbanya begitu mereka berpisah.


Sejak pernikahan sahabatnya dengan Sumiarsih, Sendang Waruk hanya beberapa kali bertemu Juanda. Tidak pernah lebih dari hitungan jari-jari di tangan dan yang terakhir tentu saja pada saat hendak menolong pada kejadian malam nahas tersebut.


Lalu, dari semua kisah tersebut tadi, apa kaitannya dengan cerita dari Bunga sebelumnya? Di pihak lain, Sendang Waruk meragukan kebenarannya. Namun di sisi berikutnya, dia justru mengendus ada pola yang mengikat sosok-sosok tertentu di balik kematian Juanda dulu. Apakah itu?


Semakin dipikir, kian pusing benak Ki Sendang Waruk. Akhirnya hanya bisa menggaruk-garuk kepala sembari menyeringai kesal.


"Ya, Allah! Aku sampai melupakan keponakanku sendiri!" seru Ki Sendang Waruk seraya berbalik untuk membawa Bunga ke dalam rumah.


...BERSAMBUNG...


Keterangan Kata :


__ADS_1


Buweuk : burung hantu.



__ADS_2