
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 16...
...------- o0o -------...
Sementara itu di lain waktu, di kediaman keluarga Sumiarsih, sepi sudah mulai menyapa hampir seluruh penghuni rumah. Tinggal Hanan dan Mang Dirman yang masih terjaga, duduk-duduk di beranda belakang sambil menikmati minuman hangat menjelang ketibaan tengah malam.
"Jangan terlalu larut tidurnya, Nak," ujar Sumiarsih pada anak lelaki semata wayangnya, sebelum beranjak ke tempat peraduan. "Usahakan cukup istirahat dan bisa terbangun sebelum waktu Subuh tiba."
"Iya, Bu. Hanan hanya ingin mengobrol dulu sebentar dengan Mang Dirman," ucap Hanan seraya melirik sosok tua yang duduk tidak jauh darinya.
"Ya, sudah. Tapi ingat, kamu masih mengerjakan qiyamullail, 'kan?" tanya ibunya sekadar memastikan. Jawab Hanan dibarengi senyumannya, "Tentu saja, Ibu sayang. Insyaa Allah, Hanan akan selalu berusaha mendawamkan itu. Sebagaimana yang sering Ayah dulu wejangkan pada Hanan sejak kecil."
Sumiarsih tersenyum senang. "Alhamdulillah, syukurlah. Ibu sangat bahagia sekali mendengarnya, Nak. Semoga kamu tetap istiqamah dalam beribadah, dan selalu memohon perlindungan hanya pada Gusti Allah."
"Tentu, Bu. Teu aya deui nu kedah dipangèranan, iwal ti Gusti Allah. Kata Ayah juga begitu," ucap Hanan langsung disambut senyum ceria Sumiarsih dan Mang Dirman.
(Tiada lagi dzat yang mesti dipertuhankan, terkecuali Tuhan Allah.)
"Kalau begitu, Ibu pergi tidur terlebih dulu, ya?" ucap perempuan tua yang berusia lebih dari 40 tahun tetapi masih terlihat muda dan cantik itu, berpamitan. Sebelumnya, dia melirik ke arah Mang Dirman, lalu lanjut berimbuh, "Beritahu Mamang tuh, merokok itu tidak baik bagi kesehatan."
Mang Dirman yang tengah asyik melinting tembakau taning1 ke dalam gulungan daun kawung2 kering, spontan menoleh.
"Ah, Juragan ini," ujarnya malu.
Hanan melirik ke arah Mang Dirman.
"Ingat loh, Mang," ucap kembali Sumiarsih, "Mamang sekarang orang terdekat Dokter kita. Jadi mau tidak mau, Mamang harus mengurangi kebiasaan merokok. Syukur-syukur malah berhenti sama sekali. He-he."
"Iya, Juragan. Saya akan berusaha berhenti," balas Mang Dirman, tapi masih berlanjut membuat bahan rokoknya tersebut.
Sumiarsih mendelik. "Tuh, begitu Mamang mah, Nak Dokter. Kalau diberitahu, jawabnya pasti seperti itu."
Hanan ikut menimpali, "Biar nanti akan menjadi tugas Hanan untuk mengingatkannya, Bu."
"Nah, Mamang dengar itu 'kan, Mang? Langsung diawasi oleh Nak Dokter, loh," ujar Sumiarsih sebenarnya bermaksud bergurau.
"Iya, Bu, iyaaa."
Hanan dan Mang Dirman tersenyum-senyum. Kemudian tidak lama, Sumiarsih pun bergegas meninggalkan mereka berdua di teras belakang rumah.
"Mamang mau saya buatkan kopi baru?" tanya Hanan begitu melihat gelas kopi di hadapan sosok tua itu sudah habis direguk sejak sebelumnya. Tentu saja tersebut dimaksudkan agar Mang Dirman tidak lekas mengantuk dan berkenan menemani pemuda itu berbincang-bincang.
"Jangan, Den. Biar saya buat sendiri," jawab Mang Dirman buru-buru mengambil gelas bekas air kopinya tadi. "Atau Den Hanan yang mau saya seduhkan minuman hangat wedang jahe, Den?"
"Jangan, Mang. Biar saya sendiri saja."
"Tidak usah, Den. Sini saya buatkan, ya?"
"Jangan! Sini, saya saja!"
"Jangan juga, ah! Saya saja!"
Akhirnya tanpa ada yang mau mengalah, kedua laki-laki berbeda usia tersebut sama-sama bergegas ke dapur, membuat minumannya masing-masing.
"Astaghfirullah … Den Hanan! Mang Dirman!
Mang Dirman dan Hanan serempak menoleh.
"Ceu Odah?"
"Ya, Allah … meuni reuwas saya, Ceu," seru Hanan hampir saja menjatuhkan pegangan gelasnya. "Astaghfirullahal'adziim …."
(Kaget sekali)
Mang Dirman mendelik. "Atuh lain kali kalau mau mau muncul itu, ketuk dulu pintu atau uluk salam, Ceu," gerutunya kesal. "Jangan ujug-ujug datang begitu saja. Apanan jadi dikira tèh ada penampakan jurig, Ceu."
Hanan terkikik geli.
"Ih, Mamang mah suka begitu bicara tèh," omel Ceu Odah sembari memasang muka cemberut. "Masa ada hantu geulis begini? Iya tidak, Den Hanan?"
Jawab Hanan disertai mesam-mesem, "Muhun, Ceu. Leres pisan."
Seru Mang Dirman kemudian, "Eh, Ceu Odah. Sekarang mah manggil Den Hanan tèh diganti jadi Den Dokter."
"Ah, yang benar, Mang?" tanya Ceu Odah semringah.
"Iyalah," jawab kembali Mang Dirman. "Tadi saja, Juragan Perempuan, menyebut Den Hanan jadi 'Nak Dokter', loh. Iya 'kan, Den?"
__ADS_1
"Ah, Mamang bisa saja," kilah Hanan. "Tidak perlu seperti itu. Sapaan biasa saja sebagaimana yang sudah-sudah, Mang. Itu jauh lebih akrab. He-he."
Mang Dirman mencibir. "Biasalah … merendah," ujarnya sembari menunjuk sosok Hanan menggunakan ujung bibir dan sudut mata.
Ceu Odah terkikik lucu melihat sikap laki-laki tua tersebut.
"Terus Ceu Odah sendiri, sekarang, mau apa ke dapur?" Mang Dirman bertanya.
Masih menyisakan tawa, Ceu Odah menjawab, "Tidak, Mang. Saya tèh dengar ada suara ting kolotrak di dapur. Saya kira ada ucing, tahunya Mamang dengan Den Hanan … eh, Den Dokter."
Mang Dirman mengacungkan dua jempol untuk Ceu Odah yang sudah berkenan mengubah sapaan pada anak majikan mereka itu.
Hanan hanya bisa menggeleng-geleng disertai senyum lucu memerhatikan keduanya.
"Mau saya bantu buatkan, Den-Mang?" Ceu Odah menawarkan bantuan.
Jawab Hanan, "Tidak usah. Euceu kembali saja istirahat di kamar. Biar ini, sekarang jadi urusan laki-laki. He-he."
"Tapi—"
"Eh, Nèng Bunga sudah tidur, 'kan?" imbuh Hanan bertanya.
"Belum, Den. Mau saya bantu panggilkan Nèng Bunga juga?"
"Eh, jangan. Biarkan saja Nèng Bunga di kamar. Kalau bisa sih, lekas tidur," kata Hanan. "Kasihan dia, sejak kejadian bertemu dengan Nyai Kasambi itu, si Enèng jadi agak sedikit trauma."
Ceu Odah dan Mang Dirman spontan terdiam. Mereka pun merasakan hal yang sama, setelah Hanan bercerita ulang tentang peristiwa tersebut pada malam harinya.
"Ya, sudah atuh kalau begitu mah, Den," ujar Ceu Odah berungkap. "Nèng Bunga suruh pindah saja tinggal di sini. Daripada di rumahnya sendirian terus. 'Kan, bisa sekamar dengan saya."
Mang Dirman tiba-tiba melotot pada perempuan itu. Dia memberikan kode dengan cara memeragakan diri. Menunjuk sosok Hanan dan Bunga, lalu mengangkat lebar telapak tangan yang disertai gerakan ke kiri-kanan, terus lanjut saling mengaitkan kedua jari telunjuk. Ceu Odah langsung paham.
"Atuh sekalian dipercepat rencana pernikahannya, Den," imbuh kembali Ceu Odah. "Biar jadi halal dan sekamar. Hi-hi."
Plak!
Mang Dirman menepuk kening dengan keras. "Aduh!" serunya kaget sendiri.
Sejenak Hanan yang sedang sibuk menyeduh wedang jahe, menoleh pada Mang Dirman, lalu berganti ke arah Ceu Odah. "Insyaa Allah. Bantu doakan saja, Mang-Ceu. He-he," timpal anak muda tersebut tersipu-sipu. "Mudah-mudahan Gusti Allah marengkeun harapan kita semua."
"Aamiin …." ucap Ceu Odah dan Mang Dirman hampir bersamaan.
Hanan hanya tersenyum merespons ucapan salah seorang pekerja di dalam keluarga ibunya tersebut.
"Kasihan loh, Den," kata Ceu Odah belum selesai berungkap. "Nèng Bunga itu yatim piatu. Tinggal sendiri di rumah peninggalan mendiang orangtuanya. Bahkan waktu Den Hanan di Jakarta, Nèng Bunga sering menginap di sini."
Jawab Hanan, "Iya. Saya tahu itu. Ibu saya sendiri yang meminta, kok."
"Oh, iya ya? He-he. Lupa saya."
Mang Dirman mencibiri Ceu Odah.
"Ada apa, Mang?" tanya Hanan usai menyiapkan minumannya. "Dari tadi Mamang main kode-kodean terus dengan Ceu Odah. Mamang naksir?"
"Idiiiihhh …." Kini giliran Ceu Odah yang mencibir geli.
Laki-laki tua itu melongo. "Bagaimana Aden bisa tahu?" tanyanya terheran-heran.
"Saya tahu dari ini, Mang," jawab Hanan seraya menunjuk pada barisan sendok bening berwarna kekuningan yang tersusun rapi di atas meja.
"Haaahhh!" Mang Dirman terkejut dan baru menyadarinya kini. Perihal rasa malu, tidak perlu lagi ditanya. Maka dia pun cepat-cepat mengajak Hanan kembali ke teras belakang. Meninggalkan sosok Ceu Odah yang tidak berhenti cekikikan.
"Lumayan, Mang," kata Hanan berkelakar. "Daripada Mamang betah menduda terus. He-he."
"Ih, tidaklah, Den. Nanti tiap kali ngobrol, saya disemprot terus," timpal Mang Dirman. "Soalnya, Ceu Odah itu kalau bicara, jigongnya muncrat terus, Den."
"Huusss! Tidak boleh begitu, ah!"
"Hi-hi-hi!"
"He-he-he!"
...BERSAMBUNG...
Keterangan :
Tembakau taning adalah sejenis daun tembakau asli, masih basah, dan belum dicampurkan dengan bahan rokok lainnya.
__ADS_1
Daun kawung adalah daun aren kering yang dijadikan bahan membungkus tembakau untuk merokok.
Atuh : Makanya.
Ujug-ujug : Tiba-tiba.
Apanan : Maka dari itu.
Tèh : ~nya (imbuhan).
Mah : Ini/itu (imbuhan).
Geulis : Cantik.
Jurig : Hantu
Muhun : Iya.
Leres pisan : Benar sekali.
Ting kolotrak : Suara-suara gaduh.
Ucing : Kucing
Marengkeun : Mengabulkan.
__ADS_1