Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 61


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 61...


...—---- o0o —----...


"Saya tinggal di kediaman Nèng Asih pada waktu itu, berlangsung hingga beberapa pekan. Sampai luka dalam yang saya rasa, benar-benar telah pulih seperti sediakala," pungkas Ki Sendang Waruk menutup kisahnya di hadapan Hanan dan Mang Dirman. "Namun karena kondisi saat itu tengah genting, saya pun lantas memutuskan diri untuk berpindah tempat dan bergerilya kembali, bergabung bersama para pejuang lainnya."


Ki Sendang Waruk dicari-cari oleh pihak Belanda atas dasar laporan dari Ki Bajra. Kemudian terburu-buru meninggalkan kembali Asih, sendiri tinggal di gubuknya. 


"Siapa itu Asih, Ki?" tanya Hanan setelah —lama— menyimak penuturan kisah hidup Ki Sendang Waruk dan alasan lelaki tua tersebut, menghilang, usai pemakaman ayahnya dulu.


Orang tua itu menarik napas berat. Lalu menjawab risau, "Saya sendiri belum sepenuhnya mengenal siapa sebenarnya perempuan itu. Dia sudah saya anggap sebagai anak sendiri." Matanya menerawang ke atas seperti tengah membayangkan sesuatu. "Yaaa … hitung-hitung sebagai pengganti anak saya yang tidak pernah saya ketahui nasib dan keberadaannya hingga kini."


"Lalu, di mana sekarang perempuan yang bernama Asih itu, Ki?" Mang Dirman turut bertanya. "Mengapa Aki tidak mencoba untuk mencarinya kembali?"


Ki Sendang Waruk menoleh. Menatap kusir sado keluarga Juragan Sumiarsih sesaat, lalu menjawab, "Saya sudah pernah mencoba mencarinya di tempat dulu, tapi gubuk yang dia tempati itu, sepertinya sudah lama kosong atau ditinggalkan. Entahlah, sekarang ada di mana perempuan itu. Saya masih merasa punya hutang budi pada dia."


Di saat mereka tengah asyik berbincang-bincang, tiba-tiba muncul sosok Juragan Sumiarsih membawakan beberapa piring penganan dibantu oleh Bunga dan Ceu Ijah dengan minumannya.


"Sok atuh, ngawangkongna sabari nyaneut," ujar perempuan tua yang masih terlihat cantik tersebut. "Jangan terlalu serius begitu, atuh. He-he." Dia melirik sejenak ke arah Ki Sendang Waruk, lalu menawari lelaki tersebut. "Sok, Aki, dicoba caneut-nya. Mumpung masih haneut."


(Ayo, mengobrolnya sambil makan-makan. Dicoba juga makanannya, Aki. Mumpung masih hangat)


"Hatur nuhun, Juragan," ucap Ki Sendang Waruk dan langsung dibalas Juragan Sumiarsih dengan senyumannya. 


(Terima kasih)


Hanan dan Mang Dirman melirik sesaat memperhatikan sikap kedua orang tua tersebut. Namun kini mereka bisa memahami usai mendengarkan penuturan dari Ki Sendang Waruk tadi. 


Untuk beberapa waktu, mereka bertiga menghentikan obrolan. Asyik masyuk menikmati makanan yang tersaji di piring. Sementara Juragan Sumiarsih dengan perempuan lainnya kembali masuk ke dalam rumah.


"Biarkan mereka berbicara secara enam mata, Nèng," ujar Juragan Sumiarsih pada Bunga. "Biasalah, itu obrolan kaum lelaki dewasa."


"Iya, Bu," balas Bunga sembari tersenyum manis dan sempat menoleh pada uwaknya, Ki Sendang Waruk.


Lantas, semuanya menjauh dari tempat ketiga laki-laki tadi, pergi berkumpul di dapur bersama Ceu Odah dan Ceu Enok.


"Sekarang bagaimana menurutmu, Nak?" tanya Ki Sendang Waruk di tengah aktivitas makan-makan mereka, pada Hanan. "Kamu masih mau menerima tawaran Tuan Guus untuk bekerjasama?"


Sesaat, anak muda tersebut berpikir-pikir. 


"Kalau menurut cerita Aki tadi, rasanya kita belum bisa menduga apapun, perihal keterlibatan Tuan Guus pada kejadian-kejadian yang telah menimpa almarhum Ayah," jawab Hanan masih merasa ragu. "Kita belum mempunyai bukti atau setidaknya minimal seorang saksi sebagai bahan penguat. Semua hanya berupa praduga semata, bukan? Tapi …."

__ADS_1


Mang Dirman dan Ki Sendang Waruk saling berpandangan. Menunggu-nunggu jawaban dan penilaian dari anak muda tersebut, tentunya.


"Kalau untuk masalah pekerjaan yang sesuai dengan dasar keilmuan saya, rasanya tidak perlu dikait-kaitkan dengan hal apapun," imbuh Hanan kembali melanjutkan penjelasannya. "Saya akan tetap menerima tawaran dari Tuan Guus untuk bertugas di Balai Pengobatan kampung ini, mulai besok."


"Hhmmm … ya, saya paham kalau masalah itu," balas Ki Sendang Waruk. "Memang ada baiknya, karena itu sudah menjadi tanggung jawab kamu sebagai seorang tenaga medis, Nak."


"Jadi besok Aden sudah mulai bertugas, Den?" tanya Mang Dirman ikut bersuara.


Jawab Hanan yakin, "Insyaa Allah, Mang. Mudah-mudahan saja semuanya diberikan kelancaran."


"Aamiin …." balas kedua laki-laki tua tersebut secara bersamaan.


Hanan membantu menuangkan air ke dalam gelas, sekalian untuk Ki Sendang Waruk serta Mang Dirman. "Jikalau merunut pada cerita Aki Èndang dan Mang Dirman, rasanya sesuatu yang mengganggu usaha perkebunan Ayah dulu, tidak semata-mata dilakukan oleh satu orang yang bersangkutan," ujar anak muda itu kembali melanjutkan obrolan. 


"Maksud Den Hanan, orang yang bersangkutan itu … Tuan Guus?" tanyanya penasaran.


Hanan menempelkan jari telunjuk di bibir. "Sssttt … usahakan untuk tidak menyebut nama seseorang, apalagi … orang yang Mamang sebutkan baru saja itu," katanya mengingatkan. "Kita bertiga pasti paham, 'kan?"


Mang Dirman mengangguk-angguk.


"Maksud saya tadi," imbuh kembali Hanan setelah mendekatkan masing-masing segelas air pada kedua orang tua di hadapannya, "apa Aki dan Mamang tidak curiga, jika dia melakukannya dengan meminta bantuan pihak ketiga?"


"Kekuatan mistik maksudmu?" Ki Sendang Waruk bertanya sekadar untuk menyamakan pikiran dengan anak muda tersebut. 


"Iya, benar sekali, Den," timpal Mang Dirman membenarkan.


"Nah, secara logika … hama apa yang bisa memilih dan memilah, bahan-bahan perkebunan milik siapa saja yang hendak diganggu? Benar, bukan?" Hanan menatap kedua orang tua tersebut secara bergantian. "Nyatanya, hanya perkebunan milik Ayah seorang yang diserang hama, gagal panen, lantas para pekerja memutuskan hubungan kerja begitu saja tanpa sebuah alasan yang masuk akal. Rentetan kejadian-kejadian itu, rasanya sangat tidak mungkin jika tanpa ada unsur bantuan dari pihak-pihak tertentu."


"Dukun maksud Aden?" kembali Mang Dirman bertanya.


Hanan tersenyum tipis. "Saya tidak ingin menyebut istilah itu, tapi kaitannya sangat erat sekali dengan praktik-praktik keilmuan yang sering dilakukan oleh kalangan tersebut," jawabnya lugas.


Ki Sendang Waruk manggut-manggut. Dia sangat memahami cara berpikir anak muda tersebut. Hanya berusaha untuk berhati-hati serta waspada, terutama dalam berucap. Makanya, secara bahasa, Hanan tidak ingin mengungkapkannya secara gamblang.


"Masalahnya, kalaupun benar begitu, siapa yang membantu Tuan Guus dalam melakukan kezaliman-kezalimannya itu," kata Ki Sendang Waruk turut berpikir keras. "Apa mungkin si Bajra? Ah, mengapa benak saya selalu mengarah pada lelaki keparat itu? Sudah lama dicari-cari, belum sekalipun saya mengetahui keberadaan sosok jahanam itu!"


"Mengapa Ki Bajra, Ki?" Kembali Mang Dirman bertanya.


Ki Sendang Waruk menggaruk kepala sebentar, lantas menjawab, "Saya pernah beberapa kali menangani kejadian mirip dengan yang pernah dialami oleh ayah Nak Hanan sebelum meninggal dunia dulu. Orang-orang kerap mengait-ngaitkannya dengan sosok Ki Bajra. Selalu dia, dia, dan dia. Tidak ada yang lain. Makanya, saya pun hafal sekali dengan praktik-praktik kezalimannya."


"Begitukah, Ki?" tanya Hanan terperanjat.


"Ya, Nak. Sayangnya, saya belum juga menemukan tempat persembunyian dia setelah terakhir bertarung dulu di tempat pemakaman kampung itu," ujar Ki Sendang Waruk.


Tiba-tiba muncul sosok Bunga di tengah-tengah obrolan ketiga laki-laki tersebut. Ujarnya tanpa diduga-duga, "Bagaimana dengan Nyai Kasambi, Wak? Maaf, Nèng ikut mendengar dari tadi, belum ada satupun yang menyebut dan menaruh kecurigaan pada perempuan tua itu."

__ADS_1


"Nèng!" seru Ki Sendang Waruk terperanjat. 


Gadis itu menatap wajah uwaknya dalam-dalam, lantas lanjut berkata, "Rasanya … kita tidak harus selalu menutup-nutupi kecurigaan kita terhadap sosok dukun perempuan yang satu itu, Wak."


Hanan dan Mang Dirman serentak memandangi keduanya, Bunga dan Ki Sendang Waruk.


"Apa maksudnya menutup-nutupi?" tanya Hanan bertambah penasaran. "Jadi … Nèng dan Aki selama ini selalu menyembunyikan perihal keterlibatan Nyai Kasambi juga?"


Buru-buru Ki Sendang Waruk menjelaskan. "Maksudnya bukan seperti itu, Nak. Kami pun sebenarnya sudah lama curiga terhadap keberadaan Nyai Kasambi, tapi sejauh ini kami belum mempunyai bukti apapun terkait keterlibatan perempuan itu pada kejadian-kejadian yang telah berlalu itu."


Bunga pun menceritakan peristiwa sewaktu serangan yang diterima oleh Juragan Juanda pada kejadian malam dulu, sambil melirik-lirik uwaknya yang menatapi lekat.


Timpal Ki Sendang Waruk menengahi, "Tapi waktu itu sudah tengah malam. Sosok yang dilihat Nèng Bunga pun tidak begitu jelas. Apakah benar itu adalah Nyai Kasambi atau bukan? Iya 'kan, Nèng?" tanyanya dengan raut was-was terhadap keponakannya tersebut.


Gadis itu mengingat-ingat sejenak. "Yaaa … memang tidak begitu jelas, tapi dari postur tubuh dan pakaiannya, Nèng pikir bisa saja itu adalah—"


"Ah, sudahlah," tukas Ki Sendang Waruk memotong ucapan Bunga. "Kita simpan dulu pertanyaan itu. Untuk sementara, kita fokuskan dulu terhadap tawaran dari Tuan Guus tadi. Bagaimana, Nak?" tanyanya pada Hanan, sekadar ingin mengalihkan pembicaraan.


Anak muda itu sempat bingung untuk menjawab, antara rasa penasaran dengan ucapan kekasihnya tadi dan rencana kerjasama yang ditawarkan oleh Tuan Guus tersebut.


"Saya akan berpikir-pikir dulu, Ki. Ada baiknya memang kita perlu mewaspadai terhadap segala kemungkinan," jawabnya kemudian. "Lagipula, saya sendiri sudah memiliki rencana lain."


"Rencana apa itu?" tanya Ki Sendang Waruk dan Mang Dirman hampir bersamaan.


"Saya ingin membuka kembali lahan perkebunan yang terbengkalai itu," ujarnya. "Sudah ada seseorang yang mau membantu sebagai langkah awal."


"Siapa?" tanya Ki Sendang Waruk penasaran.


"Kang Juna," jawab Hanan.


"Juna? Siapa dia?" Lagi-lagi uwaknya Bunga itu bertanya-tanya.


"Dia adalah orang yang dulu pernah bekerja pada Ayah," kata Hanan kembali menjelaskan (mengenai sosok Juna, baca di bagian 39). "Dia sudah menyatakan siap membantu, membuka kembali lahan perkebunan itu, dibantu oleh bekas para pekerja dari perkebunan Tuan Guus dulu."


"Oh, iya?" Alis Ki Sendang Waruk terangkat naik. 


"Iya, Ki. Sebenarnya mereka semua adalah orang-orang yang dulu pernah bekerja di perkebunan milik Ayah, tapi karena suatu sebab, mereka berpindah ke perkebunan milik Tuan Guus. Sampai akhirnya, orang-orang tadi satu per satu keluar dari sana dan sekarang … mereka sudah menyatakan siap untuk kembali bersama-sama kita," ungkap Hanan dan langsung disambut senyuman semringah dari kedua lelaki tua di hadapannya serta Bunga sendiri.


"Alhamdulillah …." balas Mang Dirman tampak ceria.


"Hanya saja, mungkin tidak dalam waktu dekat ini," imbuh Hanan kembali, "karena saya harus menyiapkan diri untuk bertugas di Balai Pengobatan terlebih dahulu. Besok sudah mulai. Insyaa Allah."


Ki Sendang Waruk dan Mang Dirman serempak mengucapkan kata 'Aamiin'.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2