Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 58


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 58...


...—---- o0o —----...


Buru-buru Ki Ranah Welung menghampiri kembali Sendang Waruk untuk melakukan pertolongan pertama. Dia melakukan beberapa kali totok dan pijatan pada bagian tertentu tubuh lelaki muda itu. Pada saat yang bersamaan, kesempatan tersebut dipergunakan oleh Bajra untuk melarikan diri dari sana.


'Sialan! Dia telah kabur ….' gerutu Ki Ranah Welung begitu menyadari bahwa sosok Bajra sudah tidak tampak lagi di tempat semula. 'Culas sekali bekas muridku yang satu itu. Dia selalu mencari-cari celah agar bisa menjauh dariku. Keparat!'


Karena kondisi Sendang Waruk masih dirasa memperihatinkan, maka sosok lelaki tua berambut putih digelung di atas kepala itu memutuskan untuk membawanya dari sana. Lelaki muda tersebut dirawat di kediamannya yang terletak di pedalaman belantara. Sebuah gubuk sederhana yang dikelilingi oleh lahan kebun bukaan dan dipenuhi berbagai tanaman palawija. Keberadaannya pun sangat jauh dari perkampungan-perkampungan warga sekitar. Di sana pula sosok sahabat Juanda itu dibekali ilmu beladiri serta berbagai kemampuan kanuragan lainnya. Itu berjalan hingga bertahun-tahun kemudian.


Suatu hari Sendang Waruk menemukan sosok gurunya, Ki Ranah Welung, tergeletak tidak bernyawa di dalam gubuk. Kondisinya sungguh mengenaskan. Mulut berbusa dan wajah membiru lebam seperti tengah menderita keracunan. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan apalagi mencari tahu penyebab kematian, terkecuali secarik kain tergenggam erat di tangannya.


'Ini bukan sobekan kain dari pakaian yang dimiliki oleh Aki Guru,' gumam Sendang Waruk di antara desah sedihnya. 'Ini pasti milik seseorang yang telah berbuat dzalim terhadap Aki Guru.'


Direnggutnya sobekan kain tersebut, lantas dibaui aromanya sedemikian rupa. Seakan hendak menyimpan rasa yang ada agar teringat selalu di sepanjang hidup, hingga kelak menemukan pemilik sesungguhnya. 


Disertai derai air mata, Sendang Waruk mengurusi prosesi pemakaman gurunya. "Aku bersumpah, aku akan berusaha mencari siapa yang telah menyebabkan kematianmu, Guru!" ucap Sendang Waruk di sisi kuburan Ki Ranah Welung. Lantas mengeluarkan sobekan kain tadi dari balik balutan bajunya. "Selama manusia terkutuk itu belum kutemukan, benda keparat ini akan selalu kubawa-bawa kemanapun aku pergi." Dia menatap gundukan tanah makam dan lanjut berkata, "Aki Guru, aku muridmu meminta izin dan pamit untuk pergi dari sini. Terima kasih atas kebaikan yang telah Aki Guru berikan padaku. Aku berjanji, akan mempergunakan ilmu yang telah Aki berikan ini untuk kebaikan dan memerangi kedzaliman. Aku pamit, Aki Guru …."


Dengan langkah gontai, Sendang Waruk mulai meninggalkan tempat tersebut dengan hati pilu. Sekalian mencari sosok yang dimaksud tadi, dia pun melanjutkan perjalanan terdahulu yang sempat terhenti untuk menemukan kekasihnya, Nyai Ayu.


Di tengah pencahariannya, Sendang Waruk bertemu dengan sekelompok pejuang yang tengah kocar-kacir dikejar musuh.


"Segerombolan orang-orang pribumi bayaran telah menyerang markas persembunyian kami, Kang," ujar salah seorang dari mereka. "Mereka dibantu oleh sekelompok pasukan Belanda bersenjata lengkap."


'Kaum pengkhianat itu selalu ada dan semakin bertambah,' membatin Sendang Waruk. 'Mereka lebih rela menggadaikan harga diri untuk kebutuhan sesaat, ketimbang memilih mati, berjuang mengusir para penjajah jahanam itu!'


Dengan kemampuan yang telah dimiliki, kekuatan pasukan pejuang kini dirasa bertambah usai Sendang Waruk bergabung dengan mereka. Kelompoknya kerap menjadi momok menakutkan bagi pihak prajurit Belanda. Sehingga keberadaannya sering dicari-cari. Dengan begitu, lokasi markas persembunyian pun berpindah-pindah.


Saking sibuknya Sendang Waruk berjuang, rencana semula untuk mencari keberadaan Nyai Ayu pun perlahan-lahan terlupakan. Bahkan sekadar menjenguk keadaan sahabatnya sendiri, Juanda, hanya bisa dilakukan beberapa kali. Tidak lebih dari hitungan jemari tangan selama pergi meninggalkan kampung halaman dulu.

__ADS_1


Sampai kemudian, seseorang mengabarkan bahwa Juanda jatuh sakit yang cukup parah.


"Pergilah, kalau memang Aki hendak menengok keadaan sahabat Aki itu," ujar salah seorang teman perjuangannya. "Kami akan berusaha menjaga diri selama Aki tinggalkan."


Sendang Waruk mendengkus, bimbang. Bingung antara hendak memenuhi panggilan atau tetap bertahan bersama kelompok pejuang. Bayangan akan sosok Sumiarsih kerap menghantui setiap kali usai berjumpa dengan pasangan suami-istri tersebut. Walau bagaimanapun juga, hati kecilnya senantiasa berbisik bahwa rasa cinta pada istri sahabatnya itu masih juga tersisa hingga kini.


"Walaupun kita tidak jadi berjodoh, setidaknya hubungan silaturahim kita jangan sampai terputus, Kang," ujar Sumiarsih di sela-sela kunjungan Sendang Waruk beberapa waktu sebelumnya. "Akang 'kan punya keponakan perempuan. Namanya Bunga kalau tidak salah. Bagaimana kalau kita jodohkan saja dengan anakku Hanan, Kang?"


"Hanan?" Tiba-tiba Sendang Waruk teringat pada anak semata wayang mantan kekasihnya tersebut. "O, iya … sudah dewasa rupanya anak laki-lakimu itu, Sum."


Sumiarsih tersenyum. "Sebentar lagi, Hanan akan melanjutkan pendidikannya ke kota, Kang."


"Ke mana?" tanya Sendang Waruk disertai alis saling bertaut.


Seraya menatap langit biru dari beranda rumah, Sumiarsih bertutur, "Ayahnya menginginkan Hanan untuk menjadi seorang dokter. Supaya nanti bisa berbakti di kampung kelahirannya ini dan tidak akan jauh-jauh dari kami." Lantas perempuan itu berbalik badan, menatap lelaki tersebut. "Untuk beberapa tahun ke depan, selama mengenyam pendidikan, Hanan akan tinggal di Jakarta, Kang."


Sendang Waruk mengangguk-angguk. 


"Dan selagi Akang di sini, aku dan Kang Juanda … akan meminta izin pada Akang Èndang, agar Bunga bisa tinggal bersama kami di sini," imbuhnya penuh harap. "Kasihan sekali. Anak itu tinggal sendiri di rumah sana, semenjak ditinggal meninggal oleh kedua orangtuanya." Sumiarsih melangkah, mendekat. "Akang tidak keberatan 'kan, kalau Bunga turut tinggal bersama kami?"


Perubahan fisik serta warna rambut tidak bisa dipungkiri, mantan sepasang kekasih tersebut kini bertemu kembali di dalam kondisi mereka yang sudah tidak lagi muda.


"Boleh aku bertanya pada Akang tentang hal yang bersifat pribadi, Kang?" tanya Sumiarsih tiba-tiba di antara jeda percakapan. 


Sendang Waruk mengangguk. "Tanyakanlah, Sum. Dari dulu pun, aku selalu berungkap jujur 'kan padamu?"


Sumiarsih tersenyum manis. Tampak sekali kecantikan wajah perempuan itu, belum sepenuhnya memudar. Masih terlihat sedap dipandang mata bagi kaum lelaki seusia sosok di hadapannya tersebut.


"Aku selalu percaya itu dari dulu, Kang," balas Sumiarsih yakin. Seraya menundukkan kepala, lanjut perempuan tersebut bertanya, "Mengapa Akang Èndang belum juga menikah hingga sekarang, Kang?"


Lelaki itu tertegun beberapa saat. Tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari mantan kekasih hatinya. Diawali tarikan napas berat, Sendang Waruk pun menjawab bijak, "Mungkin karena Tuhan belum mempertemukan dengan jodohku, Sum."


Sumiarsih tersenyum. Dia sudah menduga jika kalimat itulah yang akan terucap untuk sebuah jawaban atas pertanyaan demikian.

__ADS_1


"Bukan karena kamu merasa kecewa padaku 'kan, Kang?" 


Jawab kembali Sendang Waruk disertai bias kejut, "Ah, tentu saja tidak, Sumi. Aku sama sekali tidak pernah merasa kecewa padamu. Bahkan aku teramat bangga, kamu bisa bersanding dengan lelaki yang sepadan dan cocok denganmu. Juanda … ya, dia lelaki yang paling beruntung menurutku."


"Bukan pula karena kamu telah dikecewakan oleh perempuan lain?"


Kali ini pertanyaan Sumiarsih cukup mengejutkan. 


"Apa maksudmu, Sum?" tanya lelaki itu pura-pura tidak paham. Namun yakin sekali, jika kabar kedekatannya dengan Nyai Ayu, sedikit banyaknya pasti akan sampai juga ke ruang dengar perempuan ini.


Ungkap Sumiarsih kemudian, "Semenjak menikah dengan Kang Juanda, aku memang ingin lebih memfokuskan pikiran ini padanya. Aku sangat bersyukur sekali dan mulai bisa mencintai suamiku itu." Mata perempuan tersebut menerawang ke atas langit biru. "Tapi kabar tentangmu, senantiasa menepi ke dermaga ruang telingaku, Kang."


"Aku belum paham maksudmu, Sum. Kamu ini bicara apa sebenarnya?"


Lanjut Sumiarsih berkata, "Aku tidak pernah mengenal perempuan itu, Kang. Aku tidak tahu siapa dia. Tapi … aku turut prihatin atas kejadian yang telah menimpa kalian berdua."


Sendang Waruk menautkan kedua alisnya. Heran bercampur bingung.


"Nyai Ayu …." ucap Sumiarsih menyebut nama itu dengan fasih. "Dia 'kan sosok perempuan yang telah mencuri hatimu itu, Kang?"


Lelaki itu serta merta gelagapan sendiri. Dia tidak menyangka jika mantan kekasihnya tersebut sampai mengetahui nama perempuan yang tengah dicari-cari hingga saat ini.


"Akang Èndang tidak usah menjawab, tapi aku sudah tahu beberapa hal tentang kalian berdua," kata Sumiarsih kembali. "Apapun yang telah terjadi, aku hanya bisa berharap … benar-benar berharap, Akang dan Nyai Ayu akan kembali bersama-sama lagi seperti dulu."


"Ah, terima kasih sekali atas doamu, Sum," timpal Sendang Waruk sedikit merasa lega kini. "Tapi itu sudah menjadi bagian dari masa lalu aku, Sum. Sekarang, aku sudah menua. Rasanya pengharapanku kini, tidak sebesar ketika aku masih muda dulu."


Terdengar dengkus napas dari lobang pernapasan sosok di sampingnya. Sampai kemudian berungkap cukup mengejutkan. "Tapi satu hal yang membuatku bersyukur atas kebaikan hatimu dulu, Kang," ungkapnya kemudian, "aku bisa menerima nasihat dari Akang untuk menerima perjodohanku dengan Kang Juanda. Karena apa? Disamping aku, ternyata diam-diam Akang pun menaruh harapan yang sama pada Nyai Ayu. Benar begitu, Kang?"


"Apa?" Sendang Waruk terkejut. "D-dari mana kamu tahu, Sum?"


Dengan santai dan diiringi senyum tipis, istri dari sahabatnya tersebut menjawab, "Dia sendiri yang bicara padaku, Kang. Nyai Ayu menemuiku …."


"A-apa?!"

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2