Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 35


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 35...


...—---- o0o —----...


Mang Dirman yang menyaksikan duel tersebut hanya bisa terpaku di tempatnya. Dia merasa syok berat tatkala melihat percikan darah menghambur dari mulut Juragan Juanda. Lantas tubuhnya terpental kembali ke belakang menghantam ranjang.


"Juragaaannn!" seru kusir sado tersebut dengan suara serak berusaha bangkit sambil pegangi dada. "Aahhh …." Dia terjatuh duduk kembali, bersandar pada daun pintu kamar. "K-ki … E-endang …." katanya terpatah-patah seraya menunjuk-nunjuk sosok Ki Sendang Waruk. "A-aki … t-telah … Aaahhh, dada saya sakiittt! Uhuk! Uhuk!"


Ki Sendang Waruk sendiri sempat menoleh sejenak pada Mang Dirman, kemudian beralih pada sahabatnya, Juragan Juanda.


"Astaghfirullahal'adziim …." desahnya terkejut luar biasa melihat kondisi Juragan Juanda di atas ranjang. Dia pun mencoba untuk bangkit, tapi  sebagaimana halnya seperti Mang Dirman, juga sama-sama tidak berdaya.


Mang Dirman merangkak mendekati tepian ranjang. Dengan sedikit sisa tenaga yang ada serta denyut rasa sesak menggayuti dada, dia mencoba naik ke atas tempat tidur. "J-juragaann … Juragan," panggilnya kepayahan. Namun sosok majikannya tersebut tidak menyahut maupun bergerak sama sekali. Kondisi suami Sumiarsih tampak dalam keadaan mengenaskan. Kedua kelopak matanya melotot dengan mulut terbuka lebar penuh bercak darah segar. Lantas perlahan, kusir sado itu memeriksa urat nadi di tangan. Ucapnya lirih hampir menyerupai bisikan, "Innalillaahi wainnailaihi raaji'uun …."


Ki Sendang Waruk terperanjat. "Apa? J-juanda meninggal dunia, Mang?" tanyanya kaget luar biasa. Mang Dirman bukannya menjawab, dia malah menoleh dengan tatapan dingin. "A-apa maksudmu melihat saya seperti itu?"


Tarikan napas Mang Dirman memacu. "A-aki … A-aki Endang telah membunuh Juragan Laki-laki!" tudingnya disertai sorot mata tajam. "J-juragan … sudah tiada, Ki."


"Astaghfirullaahal'adziim!" seru Ki Sendang Waruk masih terkaget-kaget. "S-saya … sama sekali tidak bermaksud seperti itu, Mang! D-dia … yang mencoba mencelakai saya!" Laki-laki itu terbatuk-batuk sesaat disertai rasa asin yang bercampur dengan air ludah. "S-saya … hanya mempertahankan diri. D-dia … juraganmu itu … t-telah dirasuki sosok—"


Tukas Mang Dirman sambil melihat-lihat perih jasad majikannya, "Apapun alasanmu, Ki, Juragan Laki-laki kini sudah meninggal dunia." Kemudian menangis tersedu-sedu di samping sosok mengenaskan tersebut. "S-saya tidak tahu harus berkata apa pada Juragan Perempuan dan Den Hanan nanti. Hiks … hiks … hiks."

__ADS_1


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Ki Sendang Waruk kembali terbatuk disertai lelehan darah akibat luka dalam. "Seseorang telah merencanakan ini semua, Mang."


"Seseorang?" Mang Dirman menoleh kaget. "Siapa maksud Aki? Apakah orang itu adalah—"


"Jangan sebut nama, Mang! Jangan dulu!" pinta Ki Sendang Waruk buru-buru menukas. "Saya sendiri masih berpikir-pikir, apakah dia masih ada hubungannya dengan masa lalu … Juanda atau t-tidak. Semuanya belum ada kepastian. T-tapi … seseorang itu … memang menghendaki kami, saya dan Juanda, bertemu dalam situasi semacam ini."


Mang Dirman diam-diam mencibir. Sepertinya masih belum bisa mempercayai ucapan uwaknya Bunga tersebut. "Aki tidak sedang membela diri, bukan? Karena yang saya lihat, Aki memang telah membunuh Juragan kami. Hiks … hiks … hiks."


Mata laki-laki berikat kepala kain batik itu membesar dan memerah. "T-terus … kamu pikir buat apa saya jauh-jauh datang ke sini, kalau memang bermaksud mencelakai sahabat saya sendiri, hah?" Dia sampai menggeser duduknya untuk mendekat, tapi sesak di dada kian menyiksa begitu bergerak sedikit saja. "Aahhh …." erangnya kesakitan seraya memegangi dada. "Uhuk! Uhuk! Kalaupun mau, sudah saya lakukan sejak dulu, sewaktu Juanda hendak menikahi Sumiarsih!"


"A-apa?" Mang Dirman tambah terkejut. Dia langsung beringsut mendekati Ki Sendang Waruk. "Apa maksud Aki? Ada masalah apa antara Aki dengan Juragan Laki-laki dulu, Ki?"


Ki Sendang Waruk tampak kikuk. Dia menutup mulut dengan telapak tangan. Menyesali ucapan yang baru saja diungkapkan secara tidak sadar. "A-aku … a-aku …."


Tiba-tiba terdengar suara gedoran di pintu kamar disusul teriakan-teriakan histeris. "Ki Endaanggg! Mang Dirmaannn! Tolooonnggg!"


Mang Dirman tidak menjawab, tapi sorot matanya masih memperlihatkan rasa ketidaksenangannya pada sosok Ki Sendang Waruk. 


"Maaannggg! Maaannggg!" Suara-suara itu terus meraung memanggil-manggil. "Mang Dirman …."


"Astaghfirullaahal'adziim!" seru Mang Dirman lekas menarik tali kendali kuda untuk menghentikan laju roda sado. "Allahuakbar! Hampir saja!" ujarnya terkejut dan langsung membuyarkan lamunannya sejak tadi. Usai mengusap dada, laki-laki itu menoleh pada sosok Hanan. "Maaf, Den."


"Mamang mengapa?" tanya anak muda tersebut terheran-heran. "Mamang melamun?"


Mang Dirman menggeleng, tapi sebentar kemudian malah mengangguk. "Eh, maksud saya … jalanan gelap, Den. Mata saya agak kurang awas melihat jalanan," katanya beralasan. Dia melihat-lihat kedua lentera yang terpasang di sisi kiri-kanan di depan sado. 

__ADS_1


"Kalau begitu, biar saya saja yang membawa sado ini, Mang," ujar Hanan akhirnya seraya mengambil alih tali kendali kuda dari tangan laki-laki tua tersebut. "Seperti bukan hanya itu," imbuhnya kembali begitu duduk di depan bersama Mang Dirman. "Mamang sedang memikirkan hal lain, 'kan?"


"Ah, tidak, Den," jawab Mang Dirman mengelak. "S-saya hanya—"


"Kalau Mamang mau bercerita, katakan saja," tukas Hanan, lantas segera mengentak tali kekang memerintahkan kuda untuk melanjutkan perjalanan. "Saya yakin, masih ada banyak hal yang belum diceritakan oleh Ki Sendang Waruk tadi dan Mamang tahu itu."


Mang Dirman menoleh. "Sama sekali tidak, Den," ujarnya kembali berusaha mematahkan dugaan anak majikannya tersebut. "S-saya … sudah katakan semuanya pada Aden sewaktu kemarin malam itu."


Hanan tersenyum tipis. Jelas sekali kalau anak muda tersebut tidak begitu saja mempercayai ucapan orang tua tersebut. 


"Hhmmm, terserah Mamang saja. Lagipula, kalaupun Mamang memang tidak berniat memberitahu, saya akan mencari jalan sendiri untuk mencari kebenarannya. Itu sudah saya tekadkan," ungkap putra tunggal mendiang Juragan Juanda tersebut terdengar seperti tengah mengancam. 


"J-jangan, Den! Jangan lakukan itu!" pinta Mang Dirman merasa khawatir. "Lagipula, saya 'kan sudah katakan, saya harus selalu mendampingi Aden kemanapun Aden pergi."


"Untuk apa? Toh, saya bisa pergi sendiri kok, tanpa harus minta bantuan dari Mamang," ucap Hanan masih setengah mengancam. Padahal hanya bermaksud untuk menggertak sambal.


"Deennn …." rengek Mang Dirman kian merasa bersalah sekaligus bingung. "Aden jangan begitu pada saya, Den. Tolong. Saya makin sedih jadinya." Mata tuanya mulai berkaca-kaca. Ingin sekali berterus terang menyampaikan, tapi teringat pada pesan Ki Sendang Waruk dulu. "Sungguh saya tidak banyak mengetahui tentang apa yang dimaksudkan oleh Ki Sendang Waruk tadi. Saya hanya tahu sedikit, itu pun sudah saya ceritakan pada Aden, 'kan?"


Lagi-lagi Hanan tersenyum tipis tanpa berkenan menoleh ke samping, pada sosok orang tua tersebut. "Lalu apa arti dari lirikan Ki Endang pada Mamang sewaktu berbicara tadi, Mang?" tanya anak muda itu seraya mendecak. "Mamang pikir saya tidak memperhatikan gerak-gerik kalian bertiga, termasuk Bunga juga? Hhmmm."


Mang Dirman tertegun. Hendak berkata, tapi ragu. Sampai-sampai bibirnya bergetar dengan sikap serba salah. "Itu tidak berarti apa-apa kok, Den," jawabnya gemetar. "M-mungkin … m-mungkin itu hanya—"


"Terserah," ujar Hanan menukas. "Kalau begitu, mulai saat ini saya tidak ingin Mamang ikut campur apapun yang saya lakukan. Silakan Mamang bekerja seperti biasa di rumah, tapi saya tidak ingin mempekerjakan Mamang lagi!"


"Den!" seru Mang Dirman terkejut. Langsung laki-laki itu memeluk tubuh anak majikannya dari samping. "Maafkan saya, Den. Maafkan saya!" jeritnya disertai tangis pilu. "Saya mohon, Aden tidak memperlakukan saya seperti itu!"

__ADS_1


Hanan bergeming di tempatnya. Tidak memberikan respons maupun berkenan untuk berkata-kata. Dia membiarkan Mang Dirman tersedu sedan sendiri, hingga akhirnya berungkap, "Setelah kematian Ayah Aden semalam itu, esoknya Ki Sendang Waruk mewanti-wanti kepada kami, saya dan juga Ibunda Aden, secara enam mata …." Orang tua itu menarik diri dari memeluk anak majikannya tersebut. Lalu melihat-lihat sekeliling yang tampak gelap gulita. " … Bahwa mendiang Juragan Juanda, dulu pernah berseteru dengan …."


...BERSAMBUNG...


__ADS_2