
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 60...
...—---- o0o —----...
"Saya belum sempat meminta maaf pada Guru," ujar Ki Bajra kemudian. Lalu menoleh ke arah Ki Sendang Waruk dengan mata menyipit. "Kira-kira, kamu tahu apa yang menyebabkan kematian Guru?"
'Pertanyaan bodoh macam apa itu?' tanya Ki Sendang Waruk. "Mungkin karena memang sudah waktunya untuk meninggal, Ki," jawabnya tanpa membeberkan perihal yang menimpa Ki Ranah Welung, sewaktu pertama kali dia temukan dalam kondisi mengenaskan. "Apa ada hal lain yang hendak Aki tanyalan kembali? Saya masih punya sedikit urusan dengan keluarga almarhum Juanda ini."
Ki Bajra tiba-tiba mengekeh. "Urusan apa, Waruk? Urusan dengan janda tua itu? He-he-he," ujarnya seraya mendekat.
Ki Sendang Waruk tidak ingin menjawab. Dia bersiap-siap hendak melangkah, meninggalkan sosok tadi.
"Permisi, saya pamit pergi, Ki, kalau memang sudah tidak ada lagi hal yang patut kita bicarakan."
"Tunggu!" seru Ki Bajra hendak menahan langkah Ki Sendang Waruk. "Saya masih belum selesai bicara denganmu, Waruk!"
"Apa lagi?" tanya Ki Sendang Waruk seraya menghentikan langkah dan menoleh.
"Urusan kita belum tuntas!"
"Urusan apa lagi? Saya dan Aki tidak pernah mempunyai masalah apa-apa. Lagipula, kita berjumpa pun dalam situasi yang kebetulan saja."
"Begitu?" Ki Bajra tertawa-tawa. "Urusan apa lagi?" Dia mengulang pertanyaan Ki Sendang Waruk tadi. "Tentu saja urusan mengenai campur tanganmu terhadap urusanku, Waruk!" Nada suaranya sudah mulai berubah meninggi. Hal tersebut membuat laki-laki tua berikat kepala kain batik itu semakin waspada.
"Urusan apa, Ki?" tanya Ki Sendang Waruk pura-pura tidak memahami. Hanya untuk mengulur waktu dan mencoba mencari kesempatan agar bisa menghindar dari sosok tersebut.
"Kamu telah membunuh anak buahku!"
Benar saja seperti apa yang diperkirakan oleh Ki Sendang Waruk. Lelaki tua itu datang hanyalah untuk membuat perhitungan atas kejadian-kejadian yang telah berlalu.
Belum sempat menimpali, tiba-tiba saja Ki Bajra melayangkan sebuah serangan kilat. Ki Sendang Waruk yang sudah bersikap waspada sejak sebelumnya, melakukan pertahanan diri. Terjadilah bentrokan adu kekuatan yang telah didasari dengan pemenuhan tenaga dalam.
Prak!
Terdengar suara tulang-tulang kering mengandung kekuatan magis beradu di udara. Disusul serangan demi serangan membahayakan yang mengarah pada titik-titik terlemah jasmani manusia.
Luka dalam bekas bertarung semalam dengan Juragan Juanda, sedikit memperlambat gerakan Ki Sendang Waruk untuk meladeni serangan dari Ki Bajra. Berulangkali, hampir saja jurus-jurus mematikan itu mengenai bagian dada serta ulu hati.
"Bagus!" sahut Ki Bajra seraya mengekeh. "Rupanya kamu sudah banyak belajar dari guru kita, Waruk. Kamu sudah berubah, tidak seperti laki-laki lemah dulu! He-he-he!"
"Hhmmm!" deham Ki Sendang Waruk diikuti seringai kecutnya.
Pertarungan pun kembali berlanjut dalam posisi seimbang. Baik Ki Sendang Waruk maupun Ki Bajra sama-sama saling menyerang dan menahan serangan dengan jurus-jurus andalan mereka. Hingga suatu ketika ….
Buk!
Sebuah pukulan telak mengenai sasaran. Salah seorang dari sosok-sosok lelaki itu terhuyung ke belakang sambil memegangi dada dengan ringis kesakitan di muka.
"Uuhhh …."
Darah segar pun memuncrat dari mulut.
__ADS_1
"Huuppp!" Ki Sendang Waruk menarik napas dalam-dalam sembari mengumpulkan sepertiga kekuatannya untuk menahan deraan rasa sakit di beberapa bagian tubuh. "Maafkan saya, Ki. Saya hanya berusaha mempertahankan diri," ujarnya seraya menatap Ki Bajra yang terbatuk-batuk ringkih.
"Kurang ajar kamu, Waruk!" rutuk Ki Bajra dengan sorot mata penuh kebencian. "Jurus apa yang kamu gunakan itu? Ki Ranah Welung tidak pernah mengajari jurus semacam itu pada saya." Dia menyeka lelehan darah yang menepi di bibir serta dagunya.
Ki Sendang Waruk tersenyum tipis, lantas menjawab perlahan, "Tentu saja Aki Guru tidak akan sepenuhnya menurunkan ilmu beliau untuk murid pengkhianat sepertimu, Ki Bajra. Sedikit banyaknya, saya sudah tahu titik-titik kelemahanmu."
"Jahanam …." desah Ki Bajra lirih, kembali terbatuk-batuk memuntahkan darah segar. "Uhuk … uhuk … uhuk!" Dia mundur beberapa langkah. "Tapi jangan dulu bersenang hati kamu, Waruk! Suatu saat, saya akan kembali menuntut balas atas kematian orang-orang saya itu!"
Setelah berkata-kata, Ki Bajra pun bergegas meninggalkan tempat tersebut dengan cepat.
"Hei, tunggu, Ki!" seru Ki Sendang Waruk bermaksud mengejar, tapi langkahnya terhenti oleh deraan rasa sakit yang menghujam dadanya. "Uhuk … uhuk!" Dia pun terbatuk hebat dan ketika meludah, ada noda darah pula bercampur dengan air liur. "Aahhhh … sialan!"
Saat meraba dada, secara tidak sengaja dia merogoh secarik sobekan kain yang selalu terselip di dalamnya. Sesaat diperhatikan, lantas bergumam, 'Sepertinya aku mengenali, siapa pemilik sobekan kain ini ….' Lantas melihat-lihat ke arah Ki Bajra tadi menghilang. 'Laki-laki pengkhianat itu? Dia menggunakan pakaian dengan warna dan corak yang sama persis dengan sobekan kain ini. Tapi … benarkah apa yang kulihat tadi?'
"Bajra …." ucap Ki Sendang Waruk lirih, diikuti batuk hebat dan akhirnya tergeletak dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Laki-laki tua itu tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Sampai kemudian saat tersadar, dia berada di sebuah ruangan sempit dan pengap. Tergolek di atas sebuah dipan beralaskan samak dan bantal keras berisi jerami kering.
"Uuhhh …" keluh orang tua tersebut kala mencoba bangkit seraya memegangi dada. 'Ah, sakit sekali tulang rusukku ini. Tapi ….' Dia melihat-lihat kondisi tubuhnya yang bertelanjang dada dan hanya berbalutkan celana pangsi menutupi separuh bagian perut hingga betis. 'Di mana aku?' tanyanya seraya memutar kepala memeriksa keadaan sekitar ruangan.
Sebuah kamar yang berdindingkan bilik. Hanya cukup untuk ditempati sendiri dengan ruang sempit, menyisakan sedikit celah untuk keluar secara menyamping.
"Uhuk! Uhuk!" Ki Sendang Waruk terbatuk rekan, tapi tetap berusaha bangun dan menuruni dipan. Lantas sambil berpegangan pada tiang dinding bambu, dia melangkah tersaruk-saruk keluar dari kamar tersebut.
Bau asap perapian segera menguar begitu memasuki ruangan lain dan tampak kepulan dari arah belakangnya. Mungkin dapur, pikir orang tua itu. Kemudian dengan susah payah, dia pun melanjutkan langkah ke sana sambil berpegangan kuat ke batang galar di sepanjang dinding.
Samar-samar tampak sesosok perempuan tengah duduk menghadap hawu di antara kepulan asap yang membubung dari ekor perapian. Sibuk mengasur-asur bilah kayu bakar ke dalam tungku.
"Ehem!" deham Ki Sendang Waruk untuk memancing agar sosok tadi menoleh.
Lelaki tua itu memandangi sejenak pada paras sosok perempuan tersebut sebelum menuruti perintah. "Di mana saya ini, Nèng?" tanyanya begitu duduk di atas balai-balai lain di ruangan dapur itu.
"Istirahatlah dulu, Ki," ujar perempuan tadi seraya membantu Ki Sendang Waruk mengenyakkan bokong di atas balai-balai. "Sebentar, ya? Saya akan menyiapkan minuman untuk Aki," imbuhnya kembali. Lantas bergegas mengambilkan gelas bambu dan air panas dari dalam kuali di atas tungku.
Ki Sendang Waruk memperhatikan setiap gerak-gerik sosok tersebut. Tampak masih muda dan mungkin usianya sekitar 20'an tahun. Dengan cekatan, dia menyiapkan minuman dan tidak berapa lama kembali mendekat.
"Minumlah dulu, Ki. Rasanya memang agak pahit. Tapi ini bagus untuk kesehatan Aki dan bisa membantu Aki agar bisa lekas pulih," kata perempuan yang belum diketahui namanya tersebut sambil menyodorkan minuman di dalam gelas bambu tadi.
Tanpa merasa khawatir maupun curiga, Ki Sendang Waruk menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. Meniup-niup sebentar agar mengurangi panas, lalu meminumnya perlahan-lahan.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
"Pelan-pelan saja, Ki," ucap perempuan itu dibarengi seulas senyum sambil membantu memegangi gelas. "Maaf jika saya keadaan di gubuk saya ini, agak kurang nyaman untuk Aki."
"Siapa Nèng ini? Ada di mana saya saat ini?" tanya Ki Sendang Waruk tidak sabar untuk mengetahui sosok perempuan tersebut.
"Habiskan dulu minuman ini, Ki. Kalau keburu dingin, nanti rasanya akan jauh lebih pahit dan membekas di kerongkongan."
Orang tua itu menurut. Sedikit demi sedikit dia habiskan isi di dalam gelas bambu hingga ampasnya pun masuk ke dalam mulut.
"Sebentar ya, saya mau mengangkat dulu seupan singkong dulu. Rasanya sekarang sudah mulai matang."
Sekali lagi, perempuan itu bergegas kembali mendekati tungku dan mengambilkan kukus ubi batang ke dalam sebuah piring tanah liat.
"Lumayan untuk mengganjal perut kita hari ini, Ki," katanya begitu meletakkan piring tadi ke hadapan Ki Sendang Waruk. "Bahan makanan masih sulit dicari, sejak pihak Belanda menetapkan pajak tinggi kepada para petani. Syukur-syukur kita masih bisa makan, walaupun dengan kondisi seadanya."
__ADS_1
Ki Sendang Waruk mencomot sepotong kukus ubi batang tadi, dengan mata masih menatap lekat pada sosok perempuan tersebut. "Dari tadi Nèng belum menjawab pertanyaan saya," ucapnya mencoba mengingatkan.
Tanpa menoleh, perempuan itu akhirnya menjawab juga. "Oh, iya … tadi siang, saya menemukan Aki tergeletak di area pemakaman kampung. Terus saya coba membangunkan, tapi sepertinya Aki sedang tidak sadarkan diri. Lalu saya bawa ke sini dan mengobati."
"Membawa?" Kedua alis orang tua itu saling bertaut. "Maksudmu—"
"Dibantu bujang sulung saya, tentunya."
"Oohhh." Mulut Ki Sendang Waruk membulat. "Siapa gerangan namamu, Nèng? Dari rautmu, Nèng ini terlihat masih muda sekali. Tapi baru saja, Nèng bilang … bujang sulung. Apa Nèng sudah menikah?"
Perempuan itu tersenyum. "Nama saya … Asih, Ki. Panggil saja begitu," ucapnya memperkenalkan diri.
"Asih? Hhmmm …." Orang tua itu mendeham. Lantas tiba-tiba saja teringat pada sosok Nyai Ayu yang dulu menghilang di saat tengah berbadan dua. 'Kalau saja anakku itu lahir, mungkin usianya tidak akan jauh dengan perempuan Asih ini. Entah sekarang ada di mana mereka berdua ….'
...BERSAMBUNG...
Keterangan Kata :
Bilik : Anyaman bambu untuk dinding rumah atau alas.
Samak : Tikar yang terbuat dari bahan daun pandan.
Hawu : Tungku tradisional.
Galar : Batang penguat untuk menempatkan bilik.
Mengasur-asur : Membenahi kayu bakar agar nyala api di dalam tungku tetap terjaga.
Seupan : Kukus.
__ADS_1