Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 6


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 6...


...------- o0o -------...


“S-saya... eh, kami ... hhmmm, tadi di jalan ....”


“Kebetulan saja dia menemukan saya di sebuah jalan, Gert. Saya terjatuh dari kuda, tidak bisa berjalan sama sekali, dan sakit pada pergelangan kaki. Dia juga, sekaligus mengantar saya pulang sampai tiba di sini. Jadi, kamu jangan coba-coba berpikir macam-macam.”


“Tentu saja tidak, Nona,” balas Gert masih lekat menatap tajam sosok Hanan. “Hanya sedikit ingin tahu dia siapa.”


Hanan tersenyum. Membungkuk sebentar seraya menyilangkan tangan di dada, lalu berkata, “O, iya ... nama saya Han--“


Tiba-tiba muncul sesosok lelaki bertubuh tinggi besar, berambut pirang keperakan, dari balik pintu gerbang. Serunya, “Roos, mijn lieve kind. Papa sangat mengkhawatirkanmu.”


“Papa!” Roosje memburu peluk lelaki itu. “Aku baik-baik saja, Papa.”


“Oh, syukurlah, Sayang. Papa hampir saja pergi untuk mencarimu,” balas sosok yang merupakan ayah Roosje tersebut sambil memeluk erat anak perempuannya.


“Maafkan aku, Papa. Tadi tidak pamit untuk mencoba menunggangi kuda, hadiah pemberian dari Papa itu. Dia masih begitu liar dan sulit dikendalikan. Aku terjatuh dan kuda itu pergi entah kemana.”


“Yang penting kamu selamat, Roos sayang. En soal kuda itu, dia sudah kembali ke kandang. Ki Praja yang menemukan dan mengantarkannya ke sini.”


“Oh, benarkah itu, Papa?” tanya Roosje seakan masih belum percaya, namun merasa senang. Jawab lelaki bernama Guus Van Der Kruk kemudian, “Iya. Kamu tidak perlu khawatir, Sayang. Hadiahmu sudah Papa amankan.”


“Oh, terima kasih, Papa.”


Guus melirik pada sosok Hanan yang masih berdiri mematung di tempatnya. Didampingi Dirman yang telah turun dari atas sado, begitu Guus muncul tadi. Perlahan dia lepaskan pelukan pada tubuh Roosje, lalu berjalan mendekati laki-laki muda tersebut. “En siapa kamu, Anak Muda?”


Hanan menundukkan kepala. Jawabnya, “Nama saya Hanan, Tuan.”


“Hhmmm, Hanan?” Guus mengusap-usap dagunya seakan-akan tengah berpikir dan mengingat-ingat. “Kamu orang barukah di kampung ini? Saya tidak pernah melihatmu sebelumnya.”

__ADS_1


Hanan berusaha tenang dan menjawab sedikit ragu. “Benar, Tuan. Saya baru saja--“


“Dia yang telah menolong Roos dan mengantarku pulang, Papa,” sela Roosje memotong ucapan Hanan yang belum usai. Ujar Guus spontan, “Oh, benarkah itu? Veel dank, Anak Muda.” Laki-laki bertubuh tinggi-besar itu tersenyum senang. “Lalu, di mana kamu tinggal? En saya sepertinya ... pernah melihat kamu orang tua itu, hhmm?” Guus beralih menatap sosok Dirman dengan saksama.


“Benar, Tuan. Saya memang penduduk asli kampung ini. Saya tinggal dengan keluarga Den Hanan ini,” jawab Dirman seraya menunjuk anak majikannya dengan jempol tangan.


Guus mengerutkan kening. “Oh, jadi ... kalian satu keluargakah?”


“Benar sekali, Tuan.” Kali ini dijawab oleh Hanan sendiri. “Beliau memang keluarga kami.”


Roosje maju mendekati Hanan. Kata gadis itu seraya menunjuk-nunjuk Hanan dan Dirman, “Loh ... bukankah tadi pernah kamu berucap, orang tua itu kawan kamu? Mana ini yang benar, Hanan?”


Dirman menyikut lengan Hanan perlahan. Meminta anak majikannya itu membantu untuk menjawab.


Hanan tersenyum. “Benar sekali, Nona. Beliau itu kawan sekaligus keluarga kami juga.”


Guus menggaruk-garuk kepala. Tanyanya kemudian, “Terserah, kamu orang menganggap dia itu kawan atau keluarga. Tapi pertanyaan saya tadi belum kamu orang jawab, di mana kalian berdua tinggal?”


Hanan menoleh sejenak ke arah Dirman. “Kami tinggal bersama ibuk saya, Tuan.”


“Ibumu? Siapa dia punya nama ibumu, Anak Muda? Bahkan Roos pun punya nama seorang ibu, bukan? He-he-he.”


Alis Guus mengangkat. “Siapa itu Juragan perempuan?”


“Ibu Sumiarsih ....”


Guus tercekat. Kali ini keningnya berkerut-kerut. “Sumiarsih? Sumiarsih, ya? Hhmmm, sepertinya saya pernah mendengar itu punya nama. Apakah itu dia ... bekas istri orang yang bernama Juanda-kah?”


Hanan dan Dirman mengangguk bersamaan. Guus semakin tercekat. Perubahan air muka papahnya, membuat Roosje turut merasa penasaran. “Papa kenal dengan orang-orang dimaksud tadi?”


Jawab Guus tergagap, “Niet ... eh, ja ... Papa hanya tahu saja. Sedikit saja. Tidak lebih. Hhmmm, siapa itu tadi ... Sumiarsih. Ja, Sumiarsih. Juanda juga. Dus niets te bespreken, toch?”


Hanan mengangkat sedikit wajahnya untuk sekadar melihat sikap Guus yang tiba-tiba seperti tengah salah tingkah di depan Roosje.


“Baiklah ....” Lanjut Guus berkata. “Veel dank, Hanan. Kamu orang sudah menolong anak kesayangan saya Roos. Zo, jika kalian hendak kembali pulang, silakan. Saya masih ada sedikit pekerjaan di dalam rumah.”

__ADS_1


“Papa ....” Roosje memperhatikan sikap ayahnya. Heran, bingung, dan timbul beberapa pertanyaan.


“Kita masuk ke rumah, Sayang,” ajak Guus seraya menarik lengan anaknya menjauh dari tempat Hanan dan Dirman berdiri. “Kita lihat-lihat kondisi hadiah kuda dari Papah itu. Ayo!”


Roosje menurut. Mengikuti ajakan Guus. Namun sebelum menghilang di balik pintu gerbang, gadis itu masih sempat menoleh dan menatap Hanan sejenak.


“Pergilah kalian berdua dari sini. Tuan Besar Guus sudah masuk kembali ke rumah.” Bert mengingatkan pada Hanan dan Dirman.


“Baik, kami berdua pamit pulang,” ujar Hanan seraya mendorong tubuh Dirman agar lekas naik ke atas sado dan cepat pergi meninggalkan tempat tersebut. “Ayo, cepatlah, Mang. Kita pulang.”


Dirman menuruti perintah anak majikannya. Naik ke bangku kusir, lalu mengentak tali kekang kuda. Sado pun melesat setengah berlari.


Beberapa saat mereka berdua tidak saling bicara, hingga kediaman Guus Van Der Kruk pun kian ditinggalkan. Mungkin karena khawatir jika perbincangan Hanan dan Mang Dirman akan ada yang memerhatikan.


“Apa sebenarnya yang terjadi, Den?” tanya Dirman begitu sudah menjauh dari pintu gerbang rumah kediaman Guus.


“Maksud Mamang?” tanya Hanan sedikit terlihat lebih santai.


“Aden tidak lihat tadi sikap Tuan Guus? Berulang kali si Meneer itu mengulang ucap nama Juragan perempuan. Apakah itu tidak terlihat aneh?”


“Tidak,” jawab Hanan singkat. Sebenarnya dia juga sedang berpikir hal sama. Akan tetapi saat itu merasa bukan masa yang tepat untuk diperbincangkan.


“Ah, yang benar saja, Den? Saya merasa--“


“Sudahlah, Mang,” sahut Hanan memotong. “Lebih baik, percepat saja laju kudanya. Saya pikir, Ibu dan Bunga sudah terlalu lama menunggu kedatangan kita.”


Dirman menepuk keningnya. “Ya, Allah! Saya sampai lupa, Den. Mengapa baru teringat sekarang, ya?”


“Itulah makanya, Mang.” Hanan tersenyum.


“Kalau saja kita tidak bertemu si Noni tadi, mungkin sudah sedari tadi kita tiba di rumah.” Mang Dirman masih menggerutu.


“Sudahlah, Mang. Hal itu tidak perlu kita bicarakan. Lagipula, siapa yang tega melihat perempuan itu meringis kesakitan sendiri di tengah jalan. Kita memang patut menolongnya, ‘kan?” Tiba-tiba saja, tatapan Roosje saat ditarik paksa Guus, kembali terngiang-ngiang di dalam benak Hanan. Laki-laki muda itu merasa, Roosje seperti hendak mengatakan sesuatu. Entah apa.


“Iya, Den. Maafkan saya, ya?”

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Mang," jawab Hanan seraya memandangi kondisi alam pedesaan yang telah lama dia tinggalkan. Hijau asri, tapi sebagian lahan telah dikuasai oleh seorang pesohor kampung tersebut, yakni Tuan Guus Van Der Kruk.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2