
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 62...
...—---- o0o —----...
Sekitar pukul tujuh pagi, Hanan sudah berada di Balai Kesehatan warga setempat. Sebuah gedung sederhana dengan desain khas berdindingkan ragam bentuk batu templek berwarna kehitaman, menghiasi di sepanjang pandangan mata.
"Mamang kalau mau kembali ke rumah, pulanglah dulu," kata pemuda tersebut sebelum melangkah memasuki bangunan tadi. "Nanti siang, jemput lagi saya di sini, ya?"
Mang Dirman terpana sejenak, menatap sedemikian rupa terhadap anak dari majikannya tersebut. Lantas mengulas senyum lebar dipadu dengan bias wajah semringah.
"Subhanallah, Aden terlihat gagah dan tampan sekali dengan setelan pakaian seperti itu, Den," puji orang tua itu tidak henti-hentinya mengulas senyum. "Mirip sekali dengan mendiang Juragan Laki-laki."
"Ah, Mamang ini," kata Hanan tersipu. "Bagaimana, Mamang mau tunggu di sini atau pulang dulu?" Kembali anak muda tersebut mengulang pertanyaannya tadi.
Mang Dirman berpikir sejenak, lantas menjawab, "Saya ingin melihat Den Hanan dulu sebentar. Setelah itu kembali ke rumah Juragan Perempuan."
"Oh, baiklah," ujar Hanan akhirnya. "Tapi ingat, jangan merokok di sekitar tempat ini, ya?"
Lelaki tua itu terkekeh. "Saya sudah mulai menguranginya sejak beberapa pekan lalu, Den," balasnya seraya menepuk dada. "Sekarang sudah jauh merasa lebih sehat dan tidak pengap lagi kalau bernapas."
"Hhmmm," deham Hanan seraya menipiskan bibir. "Berhenti lebih cepat itu lebih baik, Mang."
Balas Mang Dirman, "Segala sesuatu 'kan butuh proses, Den Dokter. He-he."
Keduanya terkekeh-kekeh sesaat, hingga akhirnya Hanan mulai melangkah memasuki bangunan. Masih begitu sepi dan hanya ada beberapa pekerja yang tengah sibuk membersihkan ruangan serta pekarangan.
"Halo, assalamu'alaikum … semua. Selamat pagi," sapa anak muda tersebut pada mereka. Hanya berjumlah tiga orang dan semuanya serempak menoleh kaget.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalaam," balas mereka terheran-heran. "Bapak ini siapa, ya? Kok, pakaiannya serupa dengan Pak Mantri?" tanya salah satu dari mereka terheran-heran.
Hanan mengulas senyum. "Perkenalkan, nama saya Hanan. Mulai hari ini, saya bertugas di sini," ujarnya seraya memandangi sosok-sosok tersebut satu per satu. "Kalau tidak keberatan, Bapak-bapak ini siapa namanya, ya? Biar nanti saya lebih mudah mengenal."
Satu persatu ketiganya memperkenalkan diri.
"Saya Firman."
"Saya Galuh."
"Saya Aceng."
Hanan menyalami semuanya. Lalu kembali berkata, "Ah, senang sekali saya bisa mengenal nama-nama Bapak ini. Pak Firman, Pak Galuh, dan … Kang Aceng." Dia menunjuk pada sosok terakhir yang tampak agak lebih muda dari dirinya. "Insyaa Allah, mulai hari ini, kita semua mulai bersama-sama bekerjasama, ya?"
Ketiga sosok laki-laki tersebut malah melongo. Satu dengan lainnya saling melempar pandangan. Kemudian Galuh pun bertanya polos, "Pak Hanan ini Dokter? Menggantikan Pak Mantri, bukan?"
Hanan tersenyum, lantas kembali menjawab, "Ah, tidak. Saya memang seorang tenaga medis dan ditugaskan untuk berbakti di sini, tapi tidak berarti menggantikan Pak Mantri. Kami berdua tetap bekerja seperti biasa."
"Pasien?" tanya Hanan membenarkan istilah yang diucapkan oleh Galuh baru saja.
"Iya, itu maksud saya, Pak Dokter. Pasien. He-he," imbuh Galuh kembali tersipu malu. "Tapi … ngomong-ngomong, Pak Dokter ini orang warga sini juga? Kami kok, rasanya … kenal, tapi siapa dan di mana, ya?"
Baru saja Hanan hendak menjawab, tiba-tiba sosok Mang Dirman muncul dan membantu menjelaskan. "Pak Dokter Hanan ini … anaknya mendiang Juragan Juanda, Bapak-bapak."
Galuh dan Firman sontak terbelalak kaget.
"Masyaa Allah!" seru kedua laki-laki tersebut terkejut. "Ini yang namanya Den Hanan anak Juragan Juanda dan Juragan Sumiarsih? Ya, Allah … mengapa saya baru sadar sekarang?"
Spontan Galuh dan Firman mendekat dan meraih tangan Hanan hendak disalami ulang dan dicium.
"Eh, jangan! Jangan begini, Bapak-bapak!" seru anak muda tersebut lekas menarik tangannya. "Tidak sepantasnya Bapak-bapak yang usianya lebih dari saya, mencium tangan saya. Justru sayalah yang seharusnya berbuat demikian."
__ADS_1
Hanya Aceng yang tampak masih melongo terheran-heran. Dia sama sekali belum mengenal sosok Hanan yang sesungguhnya.
"Ya, Allah … Aden," ujar Galuh lirih disertai mata berkaca-kaca. "Saya tidak menyangka kalau ternyata Aden sudah sedemikian besar begini, dewasa, jadi Dokter pula. Alhamdulillah, saya turut senang sekali, Den. Jadi teringat pada mendiang ayah Aden dulu. Masyaa Allah!"
Timpal Firman seraya berseri-seri, "Iya, tidak menyangka sekali ya, Kang. Saya juga agak bingung. Tadinya saya pikir siapa, begitu. Tahunya Aden Hanan geuning. He-he-he."
Senang sekali rasanya Hanan disambut demikian. "Insyaa Allah, Pak Galuh-Pak Firman, mulai hari ini kita akan selalu bertemu di sini, ya? Awas, jaga selalu kesehatan dan hindari merokok," ucapnya memberi sedikit wejangan. Tidak lupa juga memberi semangat pada Aceng. "Anda juga, Anak Muda, tetap rajin dan berolahraga."
Usai bercakap-cakap dengan ketiga petugas jaga dan kebersihan tersebut, Hanan melanjutkan langkah untuk melihat-lihat kondisi balai kesehatan, ditemani oleh Mang Dirman mengikuti dari belakang.
"Bangunan ini tidak banyak berubah semenjak saya masih kecil dan ditinggal ke Jakarta lalu," ujar Hanan begitu selesai berkeliling. "Tetap kokoh, tapi beberapa kusen kayu jendela dan pintu, rasanya perlu diganti karena sudah terlihat lapuk."
"Maklum, Den," timpal Mang Dirman dari arah belakang, "balai ini 'kan, dibangun waktu masih ada Tuan Hansen. Beliau sendiri yang mengawasi selama pembangunannya."
Hanan menoleh dan bertanya, "Oh, iya … sekarang bagaimana kabarnya Tuan Hansen, ya? Lama sekali saya tidak mendengar tentang beliau."
Jawab Mang Dirman kembali, "Kurang tahu, Den. Semenjak diganti oleh Tuan Guus, Tuan Hansen langsung menghilang."
Anak muda itu mendesah pelan. "Tidak disangka, ya? Walaupun Tuan Hansen orang Belanda, tapi bagi kita, beliau serasa bukan sosok penjajah," ucap Hanan lirih dan langsung diangguki oleh kusir sado tersebut.
"Iya, Den. Seandainya Tuan Hansen bertemu dengan Aden, pasti beliau akan merasa sangat senang sekali."
Waktu pun tidak terasa, terus bergulir. Pukul delapan kurang, sosok Pak Mantri datang dan langsung disambut oleh Hanan.
"Selamat datang dan selamat bertugas di Balai Kesehatan Desa Kedawung ini, Dokter Hanan," ucap lelaki tua tersebut seraya berjabat tangan. "Kemarin, saya diberitahu oleh Tuan Guus perihal Anda, Dokter Hanan. Maaf, kalau saya datang agak terlambat."
"Ah, tidak apa-apa Pak Mantri," balas Hanan diiringi senyuman. "Justru saya yang belum sempat datang ke rumah Bapak. Mohon maaf juga jika saya datang ke sini terlalu pagi. Saya ingin sekali melihat-lihat keadaan di sini sebelum melaksanakan tugas."
Pak Mantri terkekeh malu. "He-he, baik sekali Anda, Dokter Hanan. Senang sekali bisa bekerjasama dengan Dokter."
"Sama-sama, Pak Mantri."
__ADS_1
...BERSAMBUNG...