
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 74...
...—---- o0o —----...
"Kang Hanan, segera menjauh dari wanita tua bangka itu!" teriak sosok perempuan tersebut mengingatkan Hanan. Namun bukannya menurut, dokter muda itu malah tercekat memandangi. Gumamnya tanpa sadar, "Tèh Kedasih? Bukankah itu Tètèh?"
Nyai Kasambi tercekat. Dia menatap Hanan sesaat dengan pandangan menyipit. "Kalian berdua saling mengenal?" tanyanya terheran-heran. "Bagaimana ini bisa terjadi?"
Belum sempat dokter muda itu menjauhkan diri dari sosok Nyai Kasambi, tiba-tiba saja ujung tongkat kayu yang dipegang oleh perempuan tua tersebut terangkat dengan cepat, melayang, dan mengincar bahu laki-laki muda yang berada di dekatnya itu.
Sontak, sosok perempuan yang dipanggil Kedasih tadi pun melancarkan serangan jarak jauh. Dengan cepat, dia kembangkan kesepuluh jemari tangan di depan dada, menarik ke belakang sejenak diikuti putaran setengah badan, lantas mengayunkannya kembali ke depan disertai teriakan keras, "Hiaattt!"
Seketika ujung tongkat kayu milik Nyai Kasambi tadi itu pun membelok, terpelanting ke samping tubuh Hanan. Kemudian disusul oleh sebuah hantaman kedua, memaksa badan dukun perempuan tua tersebut terhuyung ke belakang.
Nyai Kasambi menahan limbung serangan tersebut dengan bertumpu pada jejak kedua kaki, bergerak mundur ke belakang. Menimbulkan derak kerikil yang menggerus tanah kering hingga mengepulkan debu.
"Kurang ajar!" umpat sosok tersebut marah, lantas menoleh dan berbalik menatap Kedasih yang pandangan tajam. "Kau selalu ikut campur dengan urusanku, Betina jahanam!" imbuhnya kembali menggerutu.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Hanan untuk segera menjauh. Berlari berputar, mendekati sosok Mang Dirman yang masih terduduk tidak berdaya.
"Lekas kita menjauh dari sini, Mang!" seru laki-laki muda tersebut sembari membantu Mang Dirman berdiri sempoyongan.
"Den … aahhh!" Kusir kuda itu melenguh kesakitan. Memegangi dada yang masih menyesak, lalu mengikuti tarikan Hanan agar segera menjauh dari area tersebut.
Mereka berdua berlindung di balik sebuah pohon besar, tapi sembari memperhatikan aksi kedua perempuan tadi saling berhadap-hadapan.
"Den …." panggil Mang Dirman usai kembali terduduk di atas rerumputan. Dia pandangi wajah anak majikannya tersebut dengan tatapan heran. "Siapakah perempuan itu? Sepertinya antara Aden dan dia sudah saling mengenal."
__ADS_1
Hanan menoleh sejenak, lantas berbalik memperhatikan ke depan di balik persembunyian mereka berdua.
"Entahlah, saya sendiri belum sepenuhnya mengenal siapa sosok Tèh Kedasih itu," jawab dokter muda tersebut dengan suara perlahan. "Kami pernah bertemu sebelumnya di dekat pemakaman Ayah."
"Pemakaman almarhum Juragan Juanda?" gumam Mang Dirman sembari mengingat-ingat. "Kapan itu, Den?"
Untuk kali kedua, Hanan kembali menoleh. Dia merasa lebih tertarik memperhatikan kedua sosok perempuan yang ada di depan sana, ketimbang menjawab pertanyaan-pertanyaan Mang Dirman.
"Beberapa hari yang lalu, Mang," jawab Hanan terpaksa. "Sesaat sebelumnya, sewaktu Mamang dan Ki Sendang Waruk mengikuti saya ke tempat itu."
Mang Dirman langsung mengingat-ingat kejadian ketika dia dan Ki Sendang Waruk mencari-cari Hanan hingga ke area pemakaman. Namun tentu saja, pada saat datang, dia tidak melihat anak majikannya tersebut bersama dengan orang lain.
"Tapi waktu itu—" Belum usai laki-laki tua itu berkata, Hanan segera menukasnya dengan cepat. "Sssttt … diamlah, Mang. Saya ingin mendengar apa yang sedang mereka bicarakan di sana," kata dokter muda tersebut sambil menempelkan jari telunjuk di bibir.
Mang Dirman segera menurut. Diam-diam lelaki renta tersebut mengikuti arah yang tengah diperhatikan oleh Hanan, seraya menyipitkan kelopak mata dan memasang kuping tuanya dengan saksama.
Nyai Kasambi menatap tajam sosok Kedasih. Dia menggerak-gerakkan kepala hingga gelambir di pipi bopengnya bergerak berayun-ayun disertai gemeretak gigi.
Nyai Kasambi menggeram. Napasnya kembang-kempis disertai tangan bergetar hebat.
"Diamlah, Kedasih!" seru perempuan tua bertongkat kayu itu parau. "Apa yang kulakukan saat ini, tidak ada hubungannya sama sekali denganmu. Tapi mengapa kau selalu ikut campur? Apakah selama ini aku merugikanmu? Tidak bukan?"
Kedasih tersenyum kembali, lantas lanjut membalas ucapan Nyai Kasambi, "Secara langsung, memang tidak, Nyai. Tapi … melihat apa yang kau lakukan terhadap anak muda itu tadi, rasanya aku tidak bisa berdiam diri. Maaf, kalau kau kira itu adalah sebuah upaya ikut campur dariku."
"Jahanam!" rutuk Nyai Kasambi kesal. "Pandai sekali kau bersilat lidah, Kedasih! Jangan-jangan kau pun sama-sama masih suka terhadap daun muda, ya? Hi-hi-hi. Belum cukupkah lelaki yang telah kurelakan untukmu dulu itu, hah? Atau jangan-jangan pula, kau tidak pernah berani mengungkapkan isi hatimu pada dia!" Sosok tua tersebut mengekeh panjang.
Kedasih turut tergelak-gelak mendengar ucapan Nyai Kasambi baru saja.
"Dulu, dia memang tidak pernah sekalipun bisa kutemui, Nyai, tapi …kami sempat sekali bertemu dan itu pun dalam situasi berbeda," balas Kedasih dingin dengan bias mata tampak risau. "Aku yakin, suatu saat nanti, kami akan kembali dipertemukan."
Nyai Kasambi kembali terbahak-bahak hingga tubuhnya berguncang hebat. Dia sampai mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah karena tidak tahan menahan gelitik syaraf tawa.
__ADS_1
"Kuakui, kau memang seorang pemimpi besar, Kedasih," ujar Nyai Kasambi usai menghentikan gelaknya. "Tapi nyatanya … lelaki yang kau harapkan itu, tidak pernah sekalipun mengingatmu." Sejenak dia mengikik sendiri, mengejek. "Bahkan … sampai-sampai kau meminta Ajian Pemurni Jiwa pada Eyang Guru, sebelum tua bangka itu mati berkalang tanah. Hi-hi-hi."
"Sayangnya … kau gagal mengikuti apa yang telah kudapatkan itu. Karena hal itu pula, kau menaruh dendam, lalu membunuh Eyang Guru. Begitu 'kan, Nyai?"
Nyai Kasambi menggeram seram.
"Tapi … aku justru sangat senang, kau telah mendapatkan balasan yang setimpal akibat perbuatanmu itu," imbuh Kedasih melanjutkan ucapan, diiringi seringai masam. "Wajah serta tubuhmu, menua lebih cepat dari yang tidak kau harapkan. Ha-ha-ha!"
Hanan dan Mang Dirman saling berpandangan mendengar percakapan kedua sosok perempuan itu.
"Apa yang sedang mereka bicarakan itu, Mang?" tanya Hanan disertai kedua alis saling bertaut.
Jawab Mang Dirman tanpa berkenan menoleh pada anak majikannya tersebut, "Entahlah, Den. Mungkin saja, mereka sedang membicarakan tentang masa lalu keduanya."
"Kalau itu sih, saya juga tahu," balas Hanan seraya mendelik. "Masalahnya … ah, sudahlah. Saya tidak ingin berpikir yang macam-macam tentang mereka."
Kali ini, Mang Dirman memutar kepalanya ke arah Hanan. "Memangnya apa yang Aden pikirkan itu?"
"Ah, tidak, Mang," jawabnya seraya buru-buru meminta sosok kusir keluarganya itu diam. "Lebih baik, kita tunggu saja sampai mereka selesai dengan urusan mereka berdua. Kalaupun harus pergi dari sini, sado kita masih berada di sana."
"Bedebah! Kurang ajar sekali kau, Kedasih!" bentak Nyai Kasambi seraya mengepalkan tangan.
"Yang kurang ajar itu kau, Nyai!" balas Kedasih tidak mau kalah. "Kau yang terlebih dahulu berbuat buruk terhadapku!" ujarnya sambil menunjuk-nunjuk. "Kau jebak lelaki itu dengan kehamilanmu, agar dia tidak pernah mengingatku lagi Lantas kau menghilang, dan meninggalkan anak kalian berdua itu begitu saja di dalam hutan. Jika saja Eyang Guru tidak menolong, bayimu itu sudah tentu akan menjadi santapan binatang buas!"
Nyai Kasambi malah tertawa-tawa. Ujarnya kemudian, "Memang itu yang aku inginkan, Kedasih. Aku tidak pernah mendapatkan lelaki yang kucintai, dan kau pun sama-sama tersiksa dengan pendaman perasaanmu terhadap laki-laki yang kau harapkan. Ha-ha-ha!"
"Aku memang mencintai Kang Waruk! Bukan seperti kau yang tega-teganya mempermainkan dia!" balas Kedasih tidak ingin mengalah, berdebat.
"Apa?" Hanan dan Mang Dirman spontan saling bertatapan dan bergumam heran. "Maksudnya … Ki Sendang Waruk-kah?"
...BERSAMBUNG...
__ADS_1