
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian : 9...
...—---- o0o —----...
Tuan Guus memerhatikan anak gadisnya —Roosje— yang masih menikmati santapan siang. Sesekali lelaki tersebut tersenyum-senyum sendiri, lantas manggut-manggut.
“Wat is er aan de hand, Papa? Waarom kijkt Papa me zo aan?” tanya Roosje begitu melirik wajah Tuan Guus.
(Ada apa, Papa? Mengapa Papa menatapku seperti itu?)
Jawab lelaki tua berparas tampan itu sambil mengisap nikmat rokok cerutunya, “Nee, mijn lieve zoon.” Dia kembali tersenyum manis. “Papa hanya teringat pada Mama kamu punya, Roos. Melihatmu, Papa merasa dia masih berada hidup bersama-sama kita.”
(Tidak ada apa-apa, Sayang)
Roosje menoleh ke arah sebuah foto berukuran besar yang terpajang di dinding ruang makan. Seorang wanita cantik bergaun ala Eropa sedang berpose tersenyum dengan penuh keanggunan. Sekilas, parasnya begitu mirip dengan sosok Roosje.
“Mama is zo mooi, Papa?” puji gadis tersebut seraya tersenyum kagum.
(Mama sangat cantik ya, Papa?)
“Ja, zo mooi als jij, Roos,” jawab Tuan Guus turut menatap foto mendiang istrinya, kemudian berganti memandangi putri semata wayangnya.
(Tentu saja. Sama-sama cantik sepertimu, Roos)
“Pasti waktu Mama masih muda, banyak yang ingin mendekati Mama. Termasuk Papa tentunya,” tebak Roosje disertai senyum dikulum menggodai Tuan Guus. “En Roos tidak tahu, apa sebab Mama sampai jatuh cinta pada Papa. Ketampanan? Ah, pasti bukan sembarang laki-laki yang berusaha membuat Mama supaya tertarik pada mereka, bukan?”
Tuan Guus tertawa.
“Tentu saja, Roos,” jawab lelaki berkulit kemerahan tersebut usai menuntaskan gelaknya. “Masa itu, Papa hanya seorang pelajar biasa. Masuk pendidikan militer saja, cuma bermodalkan keberuntungan. Papa tahu, Eline banyak disukai pemuda-pemuda lain seperti halnya seorang Papa. Tapi … Papa tidak ingin menyerah, karena Papa juga tahu, Eline mempunyai perasaan yang sama seperti Papa yang miliki.”
“Hoe kan papa weten of mama allebei van papa houdt?” tanya Roosje penasaran. “Roos rasa, ini terlalu mudah untuk seorang perempuan bisa jatuh hati tanpa mengenal terlebih dahulu siapa itu Papa. Sedangkan Papa sendiri, mungkin tidak banyak bisa bertemu dengan orang-orang banyak sewaktu-waktu.”
(Bagaimana Papa bisa yakin kalau Mama mempunyai perasaan yang sama seperti halnya Papa?)
__ADS_1
Tuan Guus kembali tersenyum. Lantas menjawab rasa keingintahuan anaknya perihal sejarah pertemuannya dengan Eline dulu. “Ya, benar. Papa sendiri waktu itu merasa bingung, Mengapa Mamamu bisa tertarik pada Papa. Lalu apa jawaban Mamamu kala itu? Papa satu-satunya laki-laki terlembut yang pernah Mamamu temui.”
“Oh, benarkah itu? Papaku seorang romantis pulakah?”
“Nee, mungkin bukan karena itu saja. Tapi Papa akui, memang sudah lama Papa menaruh perhatian pada Mamamu,” jawab Tuan Guus. Kemudian berlanjut menuturkan kisahnya tersebut usai menyulut cerutunya yang padam, “Eline tinggal tidak seberapa jauh dari asrama. Hampir setiap hari Papa selalu melihat dia. Sampai suatu ketika, Papa menemukannya sedang merintih kesakitan.”
“Mengapa? Ada apa dengan Mama, Pa?” tanya Roosje semakin penasaran mendengarkan kisah awal pertemuan Tuan Guus dengan Eline tersebut. “Apakah ada seseorang yang menyakiti Mama?”
“TIdak, bukan itu,” jawab Tuan Guus disertai senyuman dan benak yang kembali membayangkan peristiwa puluhan tahun silam. “Eline terjatuh saat sedang memetik bunga Tulip. Kakinya terkilir dan tidak bisa berjalan. Lalu Papa mendekati, membantu berdiri, dan mengantar pulang Eline hingga ke rumahnya.”
“Hanya itu?” Roosje masih kurang memercayai kebenaran cerita papanya.
“Papa menggendong Eline seorang sampai masuk ke dalam rumah,” imbuh Tuan Guus kembali. “Papa dan Mamahmu sempat berbicara sebentar dan sejak itulah, kami mulai saling mengenal, jatuh cinta.”
“Secepat itukah, Papa?”
Tuan Guus menyulut kembali cerutunya yang padam. Lantas usai mengisap sejenak, dia menjawab pertanyaan putrinya tersebut. “Ya, kami saling jatuh cinta, Roos. Tapi beberapa lama sempat berpisah, karena Papa dikirim, harus bertugas di sini oleh pihak kerajaan ke tanah Java.”
Roosje manggut-manggut. Kisah awal pertemuan kedua orangtuanya, hampir mirip dengan yang terjadi beberapa waktu berlalu antara dia dan Hanan. Sejujurnya, gadis itu pun merasa senang atas pertolongan yang dilakukan oleh laki-laki muda tersebut. Namun entah mengapa, benaknya kerap dipenuhi bayang-bayang sosok yang satu itu.
‘Hanan … siapakah laki-laki itu sebenarnya?’ bisik gadis cantik tersebut membayang-bayangi. ‘Tutur bahasanya begitu sopan, sikapnya baik, dan … ah, aku ceroboh sekali. Seharusnya aku tidak berkata apa-apa tentang Hanan tadi. Tampak sekali kalau dia itu orang terpelajar dan … bisa memahami bahasaku pula. Uh, malu sekali aku.’
“Eh, iya Papa,” seru Roosje tersentak dari lamunannya. “Ada apa, Papa?”
“Kamu termenung, Roos?” tanya Tuan Guus seraya menatap mata putrinya dengan saksama.
“Ouh … nee, eh … ja. Umm … maksud Roos, sedang membayangkan kisah Mama dan Papa tadi bertemu. Dulu … ja, dulu tentunya,” jawab Roosje terbata-bata.
“Hhmmm,” deham Tuah Guus. “Kamu juga membayangkan Kervyn, bukan?”
“Kervyn?” Roosje makin kaget. “Ouh … ja, Kervyn juga, Papa. Eh, mengapa Papa bertanya tentang Kervyn?”
Tuan Guus mengekeh. “Pasti kamu juga sedang merindukan calon suamimu itu, bukan?”
“Ah, Papa,” rengek Roosje malu-malu. “Baru beberapa hari lalu Kervyn berkirim surat untuk Roos.”
“O, iya? Bahkan untuk itu juga Papa tidak tahu. Ah, ini Papa seperti apa aku?”
__ADS_1
“Nee, Papa. Kervyn hanya mengabarkan bahwa pendidikannya di sana sebentar lagi selesai.”
“Oh, itu berita sangat bagus tentunya, Roos,” seru Tuan Guus semringah. “Kalau begitu, Papa bisa minta itu Kervyn dikirim bertugas ke sini untuk membantu-bantu Papa.”
“Benarkah, Papa?”
“Ja, natuurlijk, Schat,” jawab lelaki tua gagah rupawan tersebut. “Dia akan bertugas di balai pengobatan untuk melayani itu penduduk kampung dan prajurit yang terluka. Nanti akan Papa kirim surat permohonan ke sana.”
(Ya, tentu saja)
“Oh, senang sekali Roos mendengarnya, Papa,” timpal Roosje penuh kebahagiaan. “Dengan begitu, Roos en Kervyn tidak saling jauh-jauh berhubungan. Terima kasih, Papa.”
“Ya. berdoa saja. Semoga pihak pemerintah memenuhi permohonan Papa nanti, Roos.”
“Moge de Here Jezus het toestaan, Pa.”
(Semoga Tuhan Yesus mengabulkan permohonan Papa itu)
“Amen.”
kemudian Roosje bangkit dari tempat duduknya dan memohon izin untuk masuk ke dalam kamar. “Roos mau mengabarkan ini pada Kervyn, Pa. Dia pasti senang sekali dengan rencana Papa tadi,” kata gadis cantik tersebut dengan mata berbinar-binar.
“Ya, Papa juga berharap seperti itu.”
“Terima kasih, Papa.” Roosje menghadiahi papanya sebuah kecupan sayang di pipi. “Papa jangan terlalu banyak merokok. Itu tidak baik untuk kesehatan jantung dan paru-paruPapa.”
Tuan Guus mengekeh.
“Sampaikan salam Papa untuk Kervyn, Roos. Kamu jangan lupa itu.”
“Permohonan Papa itu akan segera Roos penuhi,” balas Roosje seraya melangkah menuju kamarnya. “Ik hou echt van papa.”
(Roos sayang sekali pada Papa)
“Ik ook, Roos mijn zoon.”
(Papa juga menyayangimu, Roos)
__ADS_1
...BERSAMBUNG...