Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 30


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 30...


...—---- o0o —----...


"Ya, Allah … Juanda," desah Ki Sendang Waruk lirih. "Siapa yang melakukan ini padamu, Kawan? Entah kesalahan apa yang pernah kamu perbuat, sampai ada seseorang yang tega berbuat sekeji ini padamu?"


"Aahhh … aahhh …." Juragan Juanda menggerak-gerakkan tangan, hendak menggapai lengan Ki Sendang Waruk dengan susah payah. "E-ndaanngg … e-ndaanngg …." panggilnya lirih dan terbata-bata.


Seisi kamar saling berpandangan satu dengan lainnya. Terutama Ceu Odah pada Bunga.


"Apa?" tanya Ki Sendang Waruk pilu melihat sahabatnya tersebut tampak sangat menderita. "Apa yang ingin kamu sampaikan, Juanda? Bicaralah." Dia semakin mendekat, merangkul tubuh lemah Juragan Juanda agar terduduk.


"S-saya … s-saya …." ujar suami Sumiarsih tersebut dengan napas terengah seraya menggerak-gerakkan jemari pada orang-orang yang ada di dalam ruangan. Kemudian menunjuk pada istrinya sendiri, Ki Sendang Waruk, dan Mang Dirman. "Aahhh … aahhh."


"Kamu ingin yang lainnya keluar dulu?" Laki-laki berikat kepala kain batik itu mencoba memahami apa yang dimaksud oleh Juragan Juanda. Lantas menoleh pada Ceu Odah dan Bunga. "Enèng dan … siapa itu lupa namanya."


"Odah, Ki," ucap Ceu Odah.


Ki Sendang Waruk manggut-manggut. "Kalian berdua, tolong tinggalkan kami sebentar. Mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikan Juragan Juanda kepada kami bertiga," katanya seraya melirik pada Sumiarsih dan Mang Dirman.


Bunga dan Ceu Odah mengangguk, paham. Keduanya bergegas meninggalkan kamar dengan perasaan was-was. Namun di ambang pintu, hampir saja bertabrakan dengan Ceu Ijah dan Ceu Enok yang membawakan segelas air hangat.


"Kita dipinta keluar dulu, Ceu," kata Bunga pada keduanya.


"Terus air ini?" tanya Ceu Ijah seraya menatap gelas yang dipegangnya.


"Sini berikan pada saya," ujar Ki Sendang Waruk usai menoleh.


Ceu Ijah pun buru-buru menyerahkan gelas di tangannya pada uwaknya Bunga tersebut. Kemudian bersama-sama ketiga sosok perempuan tadi, bergegas meninggalkan kamar dan menutup pintu rapat-rapat.


"Tuh, benar 'kan apa yang saya katakan tadi?" kata Ceu Odah begitu berpindah ke ruangan depan bersama Bunga, Ceu Ijah, dan Ceu Enok. Dia menengok sejenak ke arah kamar majikannya. "Kata Ki Endang tadi, sakitnya Juragan Laki-laki itu … karena perbuatan seseorang."


"Seseorang siapa maksudnya, Ceu?" tanya Ceu Ijah bingung.


"Iya, Ceu," timpal Ceu Enok ikut penasaran. "Apa Ki Endang nyebut nama Nyai—"


"Ssttt …." Buru-buru Ceu Odah menempelkan jari telunjuk di bibirnya dan spontan kedua temannya lekas menghindar. "Sudah saya bilang, jangan menyebut nama orang yang satu itu! Bahaya!"


Bunga tidak ingin ikut berbicara. Gadis itu lebih memilih untuk duduk sambil merenung. Memikirkan kondisi calon mertuanya serta teringat pada sosok Hanan yang sedang berada jauh di kota Jakarta.


"Loh, memangnya mengapa, Ceu?" tanya Ceu Ijah masih belum memahami maksud dari ucapan Ceu Odah tersebut.


"Pokoknya tidak boleh," jawab Ceu Odah menegaskan. "Kalian tahu, kalau sakitnya Juragan Laki-laki sekarang ini, hampir dipastikan terkena—"


"Kita memang tidak punya bukti kuat tentang perihal itu, Ceu," tukas Bunga tiba-tiba. Ketiganya serentak menoleh. "Semua orang di rumah ini, mungkin punya kesamaan pikiran. Tapi … tidak bisa satupun membuktikannya, bukan?"


"Tapi Ki Sendang tadi berkata—"


"Iya, saya juga dengar itu," ujar Bunga kembali menukas. "Tapi Uwak pun hanya bisa menduga-duga saja, 'kan? Sama halnya seperti kita-kita. Walaupun kecurigaan itu, sama-sama tertuju pada orang yang sama. Intinya kita tidak boleh bertindak gegabah. Apalagi sosok yang diduga itu, bukan orang biasa."


Ceu Odah dan kedua temannya manggut-manggut.


"Lantas, bagaimana dengan kejadian kebakaran saung itu, Nèng?" Kali ini yang bertanya adalah Enok. "Juragan Laki-laki jatuh sakit semenjak peristiwa itu."


Bunga menggeleng dan menjawab, "Saya tidak tahu, Ceu. Apakah itu ada hubungannya atau tidak." Kemudian dia teringat kembali pada sosok kekasihnya, Hanan. "Satu hal yang diingatkan oleh kedua Juragan, jangan sampai kita menceritakan apapun pada Aa Hanan. Pesan beliau-beliau hanya itu. Padahal, saya sendiri merasa bersalah karena terpaksa harus menutup-nutupi kejadian di sini." Bunga pun mulai terisak.

__ADS_1


"Ya, Allah … Nèng Bunga," desah Ceu Ijah seraya mendekat, diikuti oleh kedua temannya. "Sabar ya, Nèng. Kita doakan saja semuanya akan kembali baik-baik saja seperti dulu."


Timpal Ceu Odah, "Iya, Nèng. Kita punya Gusti Allah. Sumber kekuatan kita dalam menghadapi ujian musibah ini."


"Lebih baik kita ngaji aja, yuk," ajak Ceu Enok memberi saran. "Kita ngalap berkah, semoga kita semua dilindungi oleh Gusti Allah Subhanahu Wata'ala."


Bunga mengangguk. Ujarnya kemudian, "Benar, Ceu Enok." Dia menyeka lelehan air matanya. "Seperti sebelumnya, kita ngaji Al Qur'an bareng-bareng dan Juragan mulai berangsur-angsur membaik. Tapi mungkin karena kita lengah, seseorang menggunakan kesempatan itu untuk membuat beliau kembali makin parna."


"Ya, sudah atuh … ayo, kita ambil dulu air wudhu bareng-bareng," ajak Ceu Ijah. "Saya takut ke belakangnya. Hiiyyy!"


"Hayu atuh … kita babarengan!"


"Ayo!"


Maka Bunga beserta ketiga pekerja perempuan keluarga Juragan Juanda tersebut, berjalan beriringan menuju air pancuran yang terletak di belakang luar rumah. Sekalian mengganti pakaian karena tadi sempat terkena percikan muntahan darah dari ayahnya Hanan.


Sementara di dalam kamar, Ki Sendang Waruk sedang berusaha mengobati penyebab sakitnya Juragan Juanda. Berbekal ilmu kebatinan yang dimiliki, dia merasa bahwa di tubuh sahabatnya tersebut terdapat tanda-tanda yang tidak lazim.


"Aahhh …." Juragan Juanda berkali-kali mengerang kesakitan pada bagian dada. Lantas memuntahkan darah segar seperti sebelumnya.


"Hups!" Jemari Ki Sendang Waruk menyentuh tepat di dada Juragan Juanda. Menggerakkan jemari membentuk kerucut, menjumput seperti hendak mengambil sesuatu disertai getaran hebat di sekujur tubuhnya. "Aarrgghhh! Uuuhhh!" Dia menggeram seram. Membuat Sumiarsih dan Mang Dirman tersurut kaget.


Asap putih mengepul dari sela-sela jemari Ki Sendang Waruk yang menjumput di dada Juragan Juanda tadi. Lalu melakukan gerakan memilin dan memutar, disertai gaya mendorong ke atas tenggorokan, laksana sedang berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuh sahabatnya melalui rongga kerongkongan.


"Aaahhh … ooeekkk!"


Juragan Juanda kembali memuntahkan darah kental. Kali ini berwarna agak kehitaman, menggelegak memenuhi wadah dan anehnya terakhir kali itu disertai sesuatu benda asing termuntahkan.


"Ya, Allahurabbi!" pekik Mang Dirman tertahan.


Sementara Sumiarsih sendiri tidak henti-hentinya membacakan kalimat-kalimat suci; "Laa hawla walaa quwwata Illaa billahil'aliyyil'adziim."


"Hups!"


Ki Sendang Waruk melakukan gerakan penotokan di dua titik kanan dan kiri dada Juragan Juanda.


"Air! Mana air tadi?" seru laki-laki berambut hingga melewati bahu tersebut. Buru-buru Mang Dirman mengambilkan dan memberikannya pada Ki Sendang Waruk. Sesaat kemudian, dia merapal beberapa kalimat pada gelas, lantas meniupnya hingga tiga kali. "Cepat minum ini, Juanda!" ujarnya seraya membantu mendekatkan minuman pada bibir suami dari Sumiarsih itu.


Glek! Glek! Glek!


Tiga kali tegukan diminum dan terakhir diusapkan pada wajah serta dada Juragan Juanda oleh Ki Sendang Waruk. Seketika, tempat tidur pun menjadi basah. Bercampur antara air dengan darah.


"Tetaplah duduk menyandar dan ucapkan istighfar sebanyak mungkin, Juanda," ucap Ki Sendang Waruk seraya membantu sahabatnya menggeser ke belakang. "Ingatlah, tiada kekuatan yang Mahabesar kecuali hanya milik Allah semata."


Juragan Juanda menoleh perlahan. Ucapnya lirih, "T-terima k-kasih, E-endang."


Ki Sendang Waruk hanya tersenyum tipis. "Jangan dulu banyak bicara. Tetaplah beristighfar," ujarnya mengingatkan kembali. "Saya akan mengurus benda jahanam ini!" Dia mengambil sesuatu dari dalam wadah muntahan tadi. Berbentuk lonjong dan diikat sedikian rupa menggunakan seutas tali tipis seperti helai rambut hitam panjang. Begitu dikucuri air dari sisa minum tadi, tampak jelas bahwa gulungan itu berupa ikatan ijuk kasar yang dibalut dengan kain putih. Di bagian atasnya disisakan sedikit mirip wajah manusia dan jika diamati sepintas laksana wujud sosok pocong.


"Allahuakbar!" seru Mang Dirman terkaget-kaget.


Begitu pula dengan Sumiarsih. Spontan dia pun mengucap beberapa penggal kalimat; "Astaghfirullahal'adziim. Laa hawla walaa quwwata Illaa billahil'aliyyil'adziim. A'uudzubillaahiminassyaithaanirrajiim!"


Kedua orang ini ingin bertanya, tapi melihat Ki Sendang Waruk tengah konsentrasi merapal kalimat lain, untuk sementara mereka menangguhkannya.


"Jahat sekali orang itu," bisik Mang Dirman.


Sumiarsih menoleh.


"Ssttt … tetaplah membacakan ayat-ayat suci, Mang. Kita tunggu, hal apalagi yang akan dilakukan oleh Ki Endang," ucap perempuan tersebut dengan nada suara sama.

__ADS_1


Beberapa waktu berlalu, Ki Sendang Waruk meminta Mang Dirman untuk membuat perapian di luar. Tepatnya di area belakang luar dapur.


"Baik, Ki," sahut Mang Dirman cekatan. Buru-buru keluar dari kamar.


"Terus sekarang, apa yang bisa saya lakukan, Ki?" tanya Sumiarsih bingung.


Jawab Ki Sendang Waruk seraya menoleh pada kondisi sahabatnya, Juragan Juanda, serta tempat ranjang yang sudah basah dan kotor dengan bercak darah, "Ganti saja seprai tempat tidur dan biarkan Juanda beristirahat sejenak."


"Baik, Ki. Sebentar …." Sumiarsih bergegas keluar kamar dan menghampiri ketiga pekerjanya yang sedang berkumpul mengaji bersama Bunga.


"Shadaqallahul'adziim."


Serentak keempatnya berhenti mengaji dan sama-sama menoleh ke arah Sumiarsih.


"Ada apa, Juragan?" tanya Ceu Ijah mewakili kedua temannya.


Jawab perempuan tua yang masih terlihat cantik dan mulus tersebut, "Maaf ya mengganggu sebentar, Ceu Ijah. Bisa tolong menggantikan seprai di kamar saya?"


"Baik, Juragan," sahut Ceu Ijah langsung bangkit dari duduk emok-nya.


"Saya bantu deh, Juragan." Ceu Odah ikut bangkit dan diikuti pula oleh Ceu Enok.


Bunga meletakkan kitab suci Al Qur'an di atas meja dengan penuh kehati-hatian, kemudian menghampiri calon mertuanya yang tampak terlihat gusar. "Bagaimana keadaan Bapak sekarang, Bu?" tanya gadis tersebut.


Sumiarsih menoleh pilu, lantas menjawab, "Alhamdulillah, sudah agak baikan, Nèng. T-tapi …."


"Tapi mengapa, Bu?" Bunga tiba-tiba merasa penasaran.


"Sepertinya … sakitnya suami Ibu itu, bukan karena sakit biasa, Nèng."


"Maksud Ibu?" tanya kembali gadis itu kian penasaran, walaupun sebenarnya dia sudah bisa menebak apa yang dimaksud oleh ibunya Hanan tersebut.


Sumiarsih menatap mata calon menantunya. Dengan suara lirih, dia melanjutkan ungkapannya, "Benar apa yang selama ini kita sangkakan, Nèng. Ada seseorang yang berusaha mendzalimi suami Ibu."


"Astaghfirullah, m-maksud Ibu … guna-guna?"


Sumiarsih mengangguk pelan.


"Astaghfirullahal'adziim …."


Mulut gadis itu sampai ternganga-nganga, kaget bukan kepalang. Pikirannya langsung terbayang pada seseorang yang selama ini dicurigai. Bukan siapa-siapa, tapi apa yang melandasi hal tersebut sampai terjadi pada Juragan Juanda. Tidak mungkin jika tanpa dasar. Pasti ada sosok lain di belakang kejadian demi kejadian yang kerap dialami oleh keluarga calon suaminya itu.


'Apakah ini ada hubungannya dengan lelaki yang satu itu?' Bertanya-tanya Bunga di dalam hati. 'Dia adalah ….'


...BERSAMBUNG...


Keterangan Kata :



Ngalap : mencari


Parna : parah


Hayu atuh : ayolah.


Babarengan : bersama-sama.


Emok : cara duduk perempuan di lantai dengan melipat kedua kaki pada satu sisi secara berbarengan.

__ADS_1



__ADS_2