
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 52...
...—---- o0o —----...
"Nak Hanan! Tunggu!" teriak Ki Sendang Waruk seraya melambai-lambaikan tangan memanggil Hanan. Namun anak muda tersebut tidak menghiraukan. Dia tetap memacu langkah kudanya semakin cepat.
"Ki Èndang, bagaimana ini? Anak saya pergi, Ki!" Juragan Sumiarsih kembali berseru panik sambil memegang lengan lelaki tua tersebut dan menarik-nariknya.
Sesaat Ki Sendang Waruk mendecak kesal. "Inilah yang sebenarnya saya khawatirkan selama ini," ucapnya pada Sumiarsih. "Anak itu akan berbuat nekat. Mirip sekali kelakuannya dengan bapaknya, Juanda. Haduh! Bagaimana sekarang?" Lantas dia menoleh ke arah Mang Dirman yang turut berada di sana dan hanya bisa melongo. "Dirman! Cepat siapkan sado!"
"Aki hendak ke mana?" tanya Mang Dirman bingung.
"Kita susul Hanan, Mang!" jawab Ki Sendang Waruk kesal. "Saya tahu, ke mana anak itu akan menuju. Cepat, siapkan sado!"
"I-iya, Ki," jawab kusir sado tersebut buru-buru pergi ke belakang. "Sebentar, akan saya siapkan."
Sementara Bunga sibuk menenangkan calon ibu mertuanya yang mulai menangis tersedu sedan. "Tenang, Bu. Uwak akan segera menyusul Aa Hanan," katanya sembari mengajak perempuan tua tersebut masuk kembali ke dalam rumah. "Kita doakan saja, semoga Aa Hanan tidak pergi jauh-jauh ya, Bu."
"Ibu sedih, Nèng," timpal Juragan Sumiarsih. "Ibu khawatir akan keselamatan Hanan. Takut kehilangan kembali seperti ayahnya dulu."
"I-iya, Bu. Enèng juga paham apa yang Ibu rasakan," balas Bunga sambil menggamit bahu ibunya Hanan, berjalan menuju kamar. "Ibu istirahat saja dulu. Urusan Aa Hanan, biar Uwak Èndang yang menangani."
Pinta Juragan Sumiarsih begitu duduk di pinggir ranjang, "Temani Ibu, Nèng. Jangan tinggalkan Ibu sendiri di sini."
"I-iya, Bu. Tentu saja," ucap gadis cantik tersebut mengiakan. "Sebentar, Enèng bawakan dulu air minum buat Ibu, ya?"
"Jangan lama-lama ya, Nèng."
"Sebentar saja, Bu," imbuh kembali Bunga dengan hati yang sama-sama merasakan kesedihan atas kepergian Hanan tadi. Bagaimanapun juga, dia sadar bahwa apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu adalah sebagai bentuk kekecewaan. Baik terhadap diri sendiri maupun gadis itu pula. 'Aku tahu, suatu saat Aa Hanan pasti akan bersikap seperti itu. Dia merasa kecewa, karena tidak seorangpun yang mau membantunya. Termasuk aku … ya, Allah!' Dia menyeka air mata yang tidak terasa mengalir di pipi. 'Seandainya saja Wak Èndang mau berterus terang sejak awal, Aa Hanan pasti tidak akan sekalap tadi.'
"Nèng …." Di dapur, gadis itu dicegat oleh Ceu Odah beserta kedua teman sepekerjanya. "Juragan Perempuan bagaimana kondisinya?"
Bunga mendesah sedih, lantas menjawab lirih, "Ada di kamar, sedang ingin beristirahat. Ibu terlihat sangat sedih."
"Ya, Allah …." gumam Ceu Odah diikuti oleh Ceu Ijah dan Ceu Enok berbarengan mengucap kalimat serupa, "Gusti Nu Agung!"
Sambil menuangkan air ke dalam gelas, Bunga kembali berkata, "Saya sendiri sebenarnya bingung, Euceu-Euceu. Takutnya, Aa Hanan akan ikut marah pada saya."
"Marah karena apa, Nèng?" Ceu Enok bertanya penasaran. "Bukannya Den Hanan menyayangi Enèng? Tidak mungkin atuh Den Dokter itu sampai memukuli Nèng Bunga."
Timpal Ceu Ijah, "Ih, kalau marah sampai memukul mah, namanya mengamuk atuh, Ceu."
Ceu Odah ikut bersuara. Katanya, "Tahu nih, Ceu Enok. Masa Den Hanan yang begitu kasèp dan somèah itu sampai tega memukul Nèng Bunga yang geulis, sih? Ada-ada saja si Euceu mah."
Merasa diserang, Ceu Enok melawan. Ujarnya dengan nada berang, "Loh, pan kata saya juga … 'mungkin', bukan iya pasti begitu." Dia cemberut. "Lagipula saya juga percaya, kalau Den Dokter itu tidak mungkin melakukan kekerasan. Apanan Den Hanan mah memang lelaki baik-baik. Cermati dulu atuh kalau saya berbicara tèh. Jangan langsung main tuduh saja."
"Sudah … sudah … sudah, ah!" lerai Bunga segera menengahi. "Kok, malah jadi bertengkar begitu, sih?"
__ADS_1
Kata Ceu Enok kembali, "Atuh da dikira Ceu Ijah dan Ceu Odah tadi, saya tèh disangka bicara macam-macam, Nèng."
"Iya, sudah … sudah. Saya juga paham kok, apa maksud dari Ceu Enok tadi," balas Bunga buru-buru menimpali. "Maksud saya Aa Hanan marah-marah tèh, Aa Hanan merasa tidak suka dengan sikap diam Enèng selama Aa Hanan tinggal di Jakarta lalu."
"Diam bagaimana, Nèng? Bukannya Enèng sering susuratan dengan Den Hanan selama itu?" tanya Ceu Odah kurang memahami ucapan calon suami dari anak majikan mereka bertiga.
Gadis itu menarik napas sejenak, lalu lanjut berkata kembali, "Iya, sih. Tapi Ibu suka melarang Enèng menceritakan apapun tentang kondisi di rumah dan di kampung selama Aa Hanan di Jakarta. Termasuk, waktu bertanya-tanya tentang saat-saat Almarhum Juragan Laki-laki meninggal dulu." Dia menaruh gelas yang sudah terisi penuh air di atas meja. "Saya tèh suka merasa bersalah begitu pada Aa Hanan. Di satu sisi, Enèng harus taat pada pesan Ibu, tapi di sisi lain, Enèng tèh merasa tidak ikut membantu Aa Hanan. Padahal Enèng bisa ngabantos Aa walaupun cuma sedikit yang Enèng ketahui."
Ketiga perempuan pekerja di rumah Juragan Sumiarsih tersebut mengangguk-angguk. Mereka pun merasakan hal yang sama.
"Leres, Nèng. Saya juga kadang mah suka mikir begitu," timpal Ceu Odah ikut merasa sedih. Lalu tanpa sadar dia mereguk air yang ada di dalam gelas tadi. "Tiap kali ditanya oleh Den Hanan, saya selalu menjawab 'tidak tahu'. Padahal mah saya tahu apa yang ditanyakan tèh."
"Benar, Ceu. Saya juga," balas Ceu Enok.
"Saya ogè begitu, Nèng." Ceu Ijah tidak ingin ketinggalan menyahut.
Bunga memandangi ketiga perempuan tersebut. "Nah, benar 'kan apa yang saya bicarakan tadi? Euceu-Euceu juga merasakan hal yang sama. Apalagi saya," katanya seperti mendapat dukungan penuh dan tidak merasa bersalah seorang diri. "Tapi … ya, itu tèa. Saya bingung jadinya. Ikut ke sini, calon ibu mertua. Ikut ke sana, calon suami. Sok, coba … kalau Euceu-Euceu berada di dalam posisi saya, Euceu-Euceu bisa apa?"
Ceu Odah tampak berpikir, lantas menimpali, "Kalau menurut saya mah, selama janur kuning belum melengkung, ya … ikut Juragan Perempuan atuh. Kecuali kalau Den Hanan sudah sah menjadi suami Enèng, barulah Nèng Bunga wajib taat dan mematuhi Den Hanan. Apanan itu tèh salah satu kewajiban seorang istri pada suaminya."
"Ih, Ceu Odah pintar!" puji Ceu Enok. "Tapi asa teu tisasarina bisa bicara benar seperti itu, Ceu?"
(Tidak seperti biasanya)
Lobang hidung Ceu Odah mendadak bergerak-gerak, kembang-kempis. "Iya, atuh, Euceu-Euceu. 'Kan, saya juga pernah merasakan kehidupan rumah tangga meureun. Hal-hal yang begitu mah atuh harus diketahui oleh semua umat istri." Lantas kembali meminum sisa air di dalam gelas tadi.
Sontak Bunga terkejut bukan kepalang.
"Euceu! Itu air tèh untuk Ibu Juragan!" seru gadis tersebut baru tersadar.
Ceu Ijah dan Ceu Enok yang kebetulan duduk paling dekat dengan Ceu Odah, terdiam membeku disertai bibir cemberut. Bukan apa-apa, karena muntahan air tadi mengenai langsung ke wajah keduanya.
"Tuh, 'kan … jadi bau jigong!"
...BERSAMBUNG...
Keterangan Kata :
Kasèp : Tampan.
Somèah : Baik hati.
__ADS_1
Geulis : Cantik.
Pan/apanan : 'kan.
Susuratan : Saling berkirim surat.
Ngabantos : Membantu.
Leres : Benar/betul.
Ogè : Juga.
Tèa : Itu.
Sok : Ayo.
Meureun : Mungkin.
__ADS_1