Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 63


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 63...


...------- o0o -------...


Kemudian kedua tenaga medis ini pun lanjut bercakap-cakap tentang jadwal serta program kerja mereka selama bertugas di Balai Kesehatan. Dengan tekun, Hanan mengikuti arahan yang ada dan mencermati setiap penjelasan yang disampaikan oleh Pak Mantri, sosok lelaki tua yang sudah terlihat ringkih tersebut.


Semakin merangkak siang, satu per satu warga yang hendak berobat pun mulai berdatangan. Mereka tampak antusias begitu mengetahui ada sosok dokter muda yang baru dan bertugas di sana. Sehingga tidak sedikit pula mengajak berbincang tentang sosok mendiang Juragan Juanda dahulu.


"Bahkan, kami pun sama sekali tidak ada yang tahu, kalau Juragan Juanda ternyata sudah lama meninggal dunia, Nak Dokter," ungkap salah seorang warga di sela-sela pemeriksaan oleh Hanan. "Tahunya setelah lama, kok Juragan Juanda tidak pernah lagi terlihat pergi ke perkebunan. Begitu, Nak Dokter."


Hanan hanya bisa tersenyum getir, menahan rasa sedih akan perhatian dari warga sekitar yang begitu besar terhadap almarhum ayahnya.


"Tapi syukurlah, sekarang malah ada pengganti beliau. Nak Dokter sendiri, bisa kembali dekat dengan masyarakat," imbuh mereka cukup membuat hati anak muda tersebut terhibur sejenak.


Di saat itulah, tiba-tiba Mang Dirman muncul dari ambang pintu ruang pemeriksaan.


"Ada apa, Mang?" tanya Hanan sedikit heran melihat raut wajah lelaki tua tersebut. 


Ucap Mang Dirman pelan, "Ada Nona Roos datang, Den."


'Nona Roos?' membatin anak muda tersebut seraya mengernyit. 'Ada apa Nona Roos datang ke tempat ini?'


Warga yang sedang diperiksa pun buru-buru meminta Hanan untuk segera menyelesaikan tugas pemeriksaannya. "Cepatlah, Nak Dokter. Saya ingin cepat-cepat pulang," katanya bernada penuh ketakutan.


"Loh, mengapa? Ini sebentar, saya mau mempersiapkan dulu obatnya," kata Hanan keheranan.

__ADS_1


"Nanti saja, Nak Dokter. Saya ambil di rumah Nak Dokter saja," katanya kembali tergopoh-gopoh. "Ada perempuan Belanda itu datang, 'kan?" tanyanya usai mendengar ucapan Mang Dirman tadi.


"Iya. Itu Nona Roos. Mengapa harus buru-buru? Tidak usah takut."


"Saya hanya mengkhawatirkan perihal bapaknya, Nak Dokter. Bukan anaknya."


Hanan semakin keheranan dan tidak bisa menahan warga tersebut. Dia langsung bergegas keluar dari ruangan dan pergi melalui arah belakang.


'Ada apa dengan warga tadi? Apakah seseram itu Nona Roos bagi mereka?' tanya sendiri kebingungan.


Tidak berapa lama, ruangan tunggu yang sebelumnya ramai dengan suara obrolan warga, mendadak hening, disusul suara langkah sepatu terdengar menderap di setiap jejak langkah.


"Hai, selamat pagi, Dokter Hanan," ucap Roosje begitu sosoknya muncul di ambang pintu ruang pemeriksaan. 


"Ah, Nona Roos!" sapa Hanan pura-pura terkejut dan baru menyadari kedatangan gadis berkulit bule tersebut. "Sebuah kehormatan sekali, Nona bisa datang ke tempat ini."


Roosje mengumbar senyum, lantas mulai masuk begitu saja mendekati Hanan. 


Tukas Roosje dengan cepat, "Ah, tidak perlu kamu orang keluar dari ini ruangan, Dokter Hanan. Sebab, saya orang tadi sudah meminta itu Mantri tua untuk mengambil alih tugas Dokter Hanan sebentar."


Hanan tercekat sesaat. "Oh … begitu, ya?" katanya berpikir untuk beberapa jeda waktu. "Uummhhh, baiklah kalau begitu. Nona bisa duduk di kursi saya ini atau—"


Lagi-lagi anak gadis semata wayang Tuan Guus tersebut memotong ucapan Hanan. "Tidak perlu, Dokter Hanan. Biar saya orang duduk di sini saja," katanya seraya memilih kursi kayu yang sudah terlihat reot di depan meja kerja Hanan. "Kamu orang tetaplah duduk di tempat kerjamu."


Tidak henti-hentinya Roosje menatap wajah serta penampilan Hanan yang tampak rapi dan menawan. Sorot mata gadis itu seperti tengah mengagumi sosok lelaki yang beberapa waktu sebelumnya, telah berhasil mencuri perhatian dia.


"Uummhhh, apa yang bisa saya bantu untuk Anda, Nona Roos?" tanya Hanan merasa agak risi dipandangi oleh Roosje sedari awal tadi. "Mohon maaf, jika kondisi ruangan ini begitu sederhana dan saya belum mempersiapkannya untuk menyambut Anda."


Sekali lagi gadis itu hanya mengulas senyum simpul. Balasnya kemudian usai melihat-lihat ke sekeliling ruangan tersebut, "Tidak apa-apa, Hanan. Justru, saya ingin mendengar dari kamu orang, mungkin agar ruangan … atau bila perlu bangunan ini diperbaiki agar bisa terlihat lebih nyaman. Supaya kamu orang bisa bekerja dengan lebih baik."

__ADS_1


"Ah, tidak perlu, Nona. Dengan begini saja, kami sudah sangat bersyukur," ujar Hanan. "Hanya saja, mungkin kayu-kayu jendela dan pintu itu perlu diganti saja. Soalnya saya lihat tadi, ada banyak yang sudah lapuk."


"Oh, soal itu? Baik, saya akan secepatnya sampaikan itu ke Papa," timpal Roosje tampak bersemangat. 


Sebenarnya Hanan merasa agak tidak enak hati, karena masih banyak warga yang menunggu di luar, mengantre untuk dilayani. Namun meminta Roosje untuk keluar, tentu saja bukan perkara mudah. Hal yang paling dinantikan, tidak lain berharap kesadaran diri dari pihak perempuan tersebut. Entah sampai kapan, karena dia malah mengajak lelaki tersebut berbincang-bincang.


Sampai akhirnya Hanan berinisiatif untuk menjeda pertemuan mereka berdua. " … Bagaimana kalau setelah jam kerja nanti siang selesai, kita lanjutkan kembali percakapan ini, Nona?" tawar lelaki tersebut tanpa sadar telah memberikan sebuah janji.


"Oh, kamu orang mengajak saya makan siang bersamakah, Hanan?" Raut wajah Roosje mendadak ceria. 


"Uummhhh, i-iya … mungkin seperti itu. Eh? Duh, bagaimana ini?" ujar Hanan serba salah.


"Aahhh, tentu saja. Saya sangat senang sekali menerima ajakanmu itu, Hanan," kata Roosje akhirnya. "Baik, kalau begitu … itu orang Ki Praja akan menjemputmu orang nanti. Sekalian kita makan siang di rumah. Papa pasti akan senang sekali dengan kedatanganmu orang, Hanan."


"Eh, Nona Roos, maksud saya …."


"Sampai jumpa lagi, Hanan," ujar Roosje buru-buru beranjak dari duduknya dan bersiap-siap untuk pergi. "Saya tunggu kamu orang di rumah, heh."


"Nona Roos!" panggil Hanan hendak menjelaskan maksud ucapannya tadi. Namun Roosje mengindahkannya seraya berlalu dari dalam ruangan pemeriksaan tersebut.


'Aahh … ya, Allah … mengapa jadi seperti ini? Maksudku tadi itu … ah, sudahlah! Lebih baik aku kembali kerja saja," ucap anak muda itu seraya kembali duduk di kursi kerja dan melanjutkan tugasnya tadi.


Tidak berapa lama setelah Roosje pulang, Mang Dirman kembali masuk menemui Hanan, hendak berpamitan.


"Nanti siang, Mamang tidak usah jemput saya," kata Hanan pada lelaki tua tersebut. "Saya ada sedikit urusan dulu."


"Lah, terus Aden pulang dengan siapa?" tanya Mang Dirman terheran-heran.


"Urusan itu biar nanti saya pikirkan," jawab Hanan bimbang. "Sekarang, Mamang pulang saja dulu. Siapa tahu, orang rumah sedang membutuhkan bantuan Mamang."

__ADS_1


Dengan hati berat dan pikiran bertanya-tanya, akhirnya Mang Dirman menurut. Pulang sendiri meninggalkan anak majikannya bertugas di hari pertama kerja di Balai Kesehatan itu. 


...BERSAMBUNG...


__ADS_2