
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 42...
...—---- o0o —----...
Sementara itu di kediaman Tuan Guus Van Der Kruk ....
"Waar ben je geweest, Papa?" tanya Roosje begitu ayahnya, Tuan Guus, tiba kembali di rumah bersama Ki Praja. "Aku mencari-cari Papa dari tadi."
(Dari mana saja, Papa?)
Lelaki bertubuh tinggi besar itu baru saja menuruni sado dan langsung disambut anak gadisnya. Dia melirik sejenak pada Ki Praja, seperti meminta agar kusir tua tersebut tidak ikut berkata-kata. Lantas dia menjawab dengan suara datar, "Papa ada sedikit ini urusan dengan salah seorang itu warga kampung, Roos."
"Warga kampung?" Roosje mengernyit. Dia menoleh pada Dasimah yang berdiri persis di belakangnya. "Bukankah dari rumahnya Hanan, Papa?"
Tuan Guus tampak terperanjat. Setelah melirik Ki Praja, kini berganti menatap Dasimah untuk beberapa saat. Ujarnya di dalam hati, 'Ah, itu perempuan pasti yang telah memberitahukan Roos tentang kepergianku tadi. Verdomme! Aku lupa meminta dia orang untuk diam, tidak kasih Roos tahu!'
Dasimah sendiri langsung tertunduk dalam-dalam sewaktu Tuan Guus menatapinya sedemikian rupa. Sepertinya dia pun menyadari apa makna dari tatapan majikannya tersebut.
"Aahhh, ja … Papa memang dari rumahnya itu anak muda bernama Hanan. Ada sedikit urusan yang harus Papa selesaikan dengan itu orang … pekerjanya Sumiarsih, Roos," jawab Tuan Guus akhirnya. Kembali dia melirik pada Ki Praja.
"Sumiarsih? Mamanya Hanan?" Lagi-lagi Roosje bertanya. Gadis ini teringat pada percakapan ayahnya bersama Hanan dan Mang Dirman beberapa hari sebelumnya, sewaktu mereka pertama kali saling bertemu. (Baca bab 6).
"Ja, benar sekali, Roos," jawab Tuan Guus sembari mengangguk-angguk. "Ini urusan antara itu orang pekerjanya Sumiarsih dengan ini orang Ki Praja. Benar bukan begitu, heh?" tanyanya seraya menoleh pada Ki Praja.
"I-iya, benar sekali, Tuan," jawab Ki Praja buru-buru menanggapi pertanyaan Tuan Guus.
"Hhmmm," deham Roosje sembari menipiskan bibir. "Kalau begitu, mengapa Papa tidak ajak serta Roos ke sana? Aku juga ingin ikut dan menemui itu Hanan, Papa."
Tuan Guus mendecak. 'Ah, sudah kuduga. Itu anakku pasti akan turut serta mengikutiku kalau dia tahu,' gumamnya di dalam hati. 'Ini urusan pasti berkenaan dengan dia dan itu anak muda bernama Hanan.'
Sebelum menimpali, terlebih dahulu Tuan Guus melirik untuk yang kesekian kali pada sosok Ki Praja. Bingung harus berkata-kata, sampai kemudian dia pun lantas menjawab sendiri, "Besok saja kita ke sana kembali, Roos. Kebetulan, Papa sendiri tadi tidak sempat bertemu dengan itu orang-orang lelaki."
"O, iya? Papa tidak bertemu Hanan-kah?" Ada bias semringah yang terpancar dari wajah Roosje, begitu ayahnya tersebut akan mengulang berkunjung ke kediaman Sumiarsih di keesokan hari. "Ke mana itu orang berdua, Papa?"
"Papa tidak tahu, Sayang," jawab Tuan Guus seraya menggelengkan kepala. "Tadi hanya berjumpa dengan itu orang perempuan, Sumiarsih, dan Papa belum diizinkan untuk masuk bertamu."
"Het is goed, Papa," kata Roosje sedikit merasa lega. Karena dia pikir, pertemuan ayahnya tadi dengan ibunya Hanan, tentu belum menghasilkan percakapan berarti. Masih terdapat celah dan kesempatan besar bagi gadis tersebut untuk bertemu serta berbincang-bincang banyak bersama laki-laki yang mulai dia sukai itu.
__ADS_1
(Tidak masalah, Papa)
Setelah itu, Roosje pun kembali masuk ke dalam rumah dengan riang. Namun sebelum Dasimah mengikuti, terlebih dahulu Tuan Guus mengedipkan mata kiri pada perempuan itu. Memberi bahasa isyarat tertentu. Dengan sikap agak ragu-ragu, pembantu itu membungkukkan badan dan buru-buru menghindar dari tempatnya berdiri.
"Hhmmm, verdomme!" rutuknya sembari berkacak pinggang. "Itu orang perempuan harus saya beri sedikit pelajaran!"
Timpal Ki Praja begitu mendekat, "Perlu saya panggilkan Nyi Dasimah, Tuan?" Dia menawarkan bantuan dan paham sekali apa yang akan diperbuat oleh majikannya tersebut.
"Tidak perlu!" balas Tuan Guus disertai delik matanya. "Dia sudah paham apa yang mesti dia lakukan sesaat lagi." Lantas terkekeh sendiri. "En kamu orang, bawa dan urus ini kuda. Lalu suruh itu Gert untuk berjaga-jaga di depan ruangan kerja saya, segera!"
Ki Praja membungkukkan badan. "Siap, Tuan! Perintah Tuan akan segera saya laksanakan!"
"Goed … goed … he-he-he!" Kembali Tuan Guus terkekeh-kekeh. Lantas segera meninggalkan tempat tersebut untuk bergegas menuju ruangan kerjanya.
Sementara Ki Praja sendiri buru-buru menempatkan kuda serta sadonya di kandang, kemudian berbalik arah mencari-cari Gert yang sedang berjaga-jaga di depan gerbang rumah bersama Koen.
"Tuan Guus meminta Tuan Gert mengawasi ruangan kerja beliau," jawab Ki Praja begitu Gert bertanya-tanya maksud kedatangannya.
Koen terperanjat. Dengan cepat dia menukas. "Ah, biar saya saja yang bertugas di dalam, Gert," katanya sebelum Gert sempat berucap. "Kamu orang seharusnya beristirahat di sini, bukan? Kamu orang sudah bertugas mengawal Tuan Guus seharian ini. Bagaimana, Gert?"
Gert mengangkat bahu. "Het is aan jou, Koen," ujarnya menyanggupi. "Tolong nanti bawakan juga saya sebotol minuman. Di sini sangat dingin sekali."
(Terserah kamu saja, Koen)
Ki Praja bingung. Sementara yang dipinta tadi adalah Gert untuk berjaga-jaga di depan ruangan kerja Tuan Guus, tapi kini malah Koen yang maju.
"Mengapa?" tanya Koen disertai belalak besar matanya usai menjauh dari pos penjagaan. "Gert atau saya sekalipun, sama saja, bukan? Ada masalah apa denganmu, Ki Praja?"
Laki-laki tua itu ketakutan. "T-tapi … Tuan Guus memintanya Tuan Gert yang ke sana, Meneer," ujar Ki Praja dengan suara tercekat.
"Diam!" sentak Koen menggetarkan detak jantung. "Ikuti saja perintah saya atau kamu orang akan dibuat menyesal nanti, heh!"
"B-baik, T-tuan," timpal Ki Praja semakin menciut nyalinya. "N-nanti kalau Tuan Guus bertanya, tolong jangan bawa sertakan saya ya, Tuan Koen," katanya mengibakan.
"Ik geef niet om jou. Het zal je eigen zaak zijn, Ki Praja!" ujar Koen diiringi kekehannya dan mendorong-dorong tubuh orang tua tersebut agar lekas menyingkir dari hadapannya.
(Saya tidak peduli. Itu urusanmu sendiri, Ki Praja!)
Sementara itu Dasimah, kini sudah berada kembali di ruangan kerja Tuan Guus. Tidak berapa lama setelah lelaki bertubuh tinggi besar tersebut masuk ke sana.
Perempuan itu berdiri mematung di depan meja sambil menunduk dalam-dalam dan menantikan hal apa yang akan dia terima selanjutnya dari sosok majikannya tersebut.
__ADS_1
"Mohon maaf," ujar Dasimah lirih setengah ketakutan. "Tuan meminta saya datang ke sini, bukan?" tanyanya dengan suara bergetar.
Tuan Guus menanggapinya dengan santai. Dia menyulut sebatang cerutu hitam dan mengembuskan asap ke wajah Dasimah berkali-kali. Sontak bau aroma rokok itu membuat perempuan tersebut terbatuk-batuk.
"Kamu orang tentu sudah tahu 'kan, apa kesalahan yang telah kamu orang perbuat, heh?" tanya Tuan Guus mendebarkan dada.
Bola mata Dasimah bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan, seperti tengah mengingat-ingat. Kemudian menjawab penuh ketakutan, "S-saya … s-saya … saya telah memberitahukan kepergian Tuan ke kediamannya Juragan Sumiarsih pada Nona Roos. Itu yang Tuan maksudkan, bukan?"
Lelaki itu tertawa mengejek. Dia mengisap dalam-dalam batang cerutunya, lalu kembali meniupkan tepat ke arah wajah sosok yang berdiri di depannya tersebut.
"Uhuk! Uhuk! Uhuukkk!" Dasimah kembali mengalami batuk hebat. "Maafkan saya, Tuan. Maafkan saya. Uhuk! Uhuk!"
Sret!
Tiba-tiba Tuan Guus mengentakkan batang cerutunya ke arah Dasimah. Tepat mengenai lengan perempuan tersebut hingga mengaduh kepanasan. "A-ampun, Tuan. Maafkan saya …." pintanya lirih semakin ketakutan. Sesaat bara di ujung rokok itu memercik kuat, membakar kulit serta kain kebaya tipis yang dia kenakan. "Ya, Tuhan … panas sekali, Tuan. Sakiitt."
Melihat Dasimah meringis kesakitan, Tuan Guus malah bergegas bangkit menghampiri. Dia berjalan ke arah belakang perempuan tersebut perlahan-lahan disertai napas memburu.
"Kamu orang semestinya tahu, Dasimah," bisik Tuan Guus seraya membelitkan lengan ke arah perut sosok di depannya, "saya orang paling tidak suka dengan kamu orang perempuan yang bermulut lebar."
Napas Dasimah mulai kembang-kempis menahan dera ketakutan yang menggayuti perasaan. Diikuti tubuh gemetar hebat dan hampir saja ambruk jika tidak ditahan oleh lilitan kekar kedua lengan lelaki bertubuh tinggi tegap tersebut.
"M-maafkan saya, Tuan, s-saya sama sekali tidak tahu … k-kalau akhirnya pertanyaan Nona Roos itu akan membuat Tuan marah besar," ujar Dasimah dengan raut wajah memucat. "S-saya hanya menjawab, a-apa yang s-saya ketahui—"
"Huh!" sentak Tuan Guus sembari mendorong kasar tubuh Dasimah, hingga terhuyung dan menabrak meja kerja.
"Aahh!" jerit perempuan itu dalam posisi setengah badan tertelungkup mencium altar meja. Sementara kedua kaki masih menjejak lantai. "A-apa yang akan Tuan lakukan? J-jangan, Tuan!" desis Dasimah semakin ketakutan, tapi tidak berani mengangkat badan walaupun sekadar menoleh sekalipun.
"Banyak bicara sekali kamu orang perempuan!" rutuk Tuan Guus kembali, semakin memperdengarkan suaranya yang mengandung amarah besar.
Sreett!
Kali ini lilitan kain poleng di tubuh Dasimah yang menjadi sasaran. Ditarik sedemikian rupa dari arah betis hingga ke atas dengan cepat dan kasar.
"J-jangan, Tuan! J-jangan lakukan itu lagi!" pinta Dasimah memelas dan mulai membayangkan apa selanjutnya yang akan diperbuat laki-laki tersebut pada dirinya. "Bukannya tadi siang sudah Tuan dapatkan dari saya, Tuan?" katanya sembari meringis kesakitan ketika bagian tubuhnya yang masih perih itu, kembali mendapat perlakuan kasar.
Tuan Guus tidak menggubris lenguhan perempuan tersebut, memohon-mohon dengan suara lirih bercampur isak tangis.
Ceklek!
Terdengar seperti bunyi gesper dibuka paksa dari arah belakang Dasimah.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...