Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 22


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 22...


...—---- o0o —----...


Pagi hari sebelum Hanan dan Mang Dirman pergi ke rumah Ki Panca, Kepala Kedusunan Desa Kedawung, pada siangnya ….


"Ceu Odah," panggil Hanan di dapur. Sontak empat orang perempuan di sana menengok serentak; Ceu Odah, Ceu Ijah, Ceu Enok, dan tidak ketinggalan pula sosok Bunga.


"Iya, Den. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ceu Odah usai mendekat, diikuti oleh Bunga turut melakukan hal sama. "Ada apa, Aa?" 


"Ah, tidak, Nèng-Ceu," jawab anak muda tersebut seraya melempar senyum pada kekasihnya. "Aku mencari-cari Mang Dirman. Enèng melihatnya?"


Bunga melirik sejenak pada Ceu Odah. "Aku lihat tadi Mang Dirman sedang di belakang, Aa. Seperti biasa, minum kopi. Iya 'kan, Ceu?"


"Benar, Den," timpal Ceu Odah. "Omong-omong ada apa, ya? Sepertinya Aden—"


"Ah, tidak ada apa-apa," tukas Hanan, tapi benaknya langsung menerka-nerka. 'Apa Mang Dirman ke depan sana, ya? Mungkin melihat-lihat ….'


"Biar aku bantu carikan Mang Dirman saja, Aa." Bunga menawarkan bantuan.


"Ah, tidak usah, Nèng. Biar aku saja yang mencari. Lagipula, sepertinya aku sudah tahu dimana Mang Dirman," timpal Hanan. "Enèng dan Ceu Odah, lanjutkan saja pekerjaannya, ya?"


"Iya, Den," sahut Ceu Odah.


Sementara Bunga sendiri masih berdiri mematung memerhatikan Hanan bergegas ke belakang.


Di atas balai dipan, tampak segelas kopi hitam yang masih tersisa setengahnya. Sementara sosok yang dicari entah kemana. Lantas mata anak muda tersebut memandang jauh ke depan, ke arah rimbunan pepohonan semalam yang sempat dicurigai ada seseorang di sana.


"Mau ke mana, Aa?" tanya Bunga tiba-tiba muncul di ambang pintu. Hanan menoleh dan menjawab, "Aku mau ke sana dulu sebentar, Nèng." Seraya menunjuk ke rimbunan pohon tadi. "Enèng tunggu saja di sini, ya?"


Gadis itu mengangguk perlahan.


"Aa …."


"Ya? Ada apalagi, Nèng?"


"Siang nanti, aku mau pulang dulu lihat-lihat rumah. Aa jadi 'kan, antar aku ke sana?"


"O, iya. Tentu saja, Nèng. Aku ingat, kok," balas Hanan. "Sekalian, aku juga mau keliling kampung dengan Mang Dirman ba'da Dzuhur nanti."


"Keliling kampung?" 


"Iya, Nèng," jawab Hanan kembali. "Disamping itu, mau silaturahim juga ke Ki Panca. Aku belum memberitahu beliau sejak kepulanganku kemarin."


"Ooohhh," sahut Bunga manggut-manggut tanda memahami ucapan kekasihnya.


"Enèng siap-siap saja dulu, nanti kita bersama-sama ke rumah, ya?"


"Iya, Aa," jawab Bunga. "Terus, Ibu di mana?"


Jawab Hanan sebelum bergegas pergi dari tempatnya, "Ada di ruang tengah. Enèng temani saja dulu Ibu di sana, ya? Aku sebentar mencari-cari dulu Mang Dirman."


"Iya, Aa."


Kemudian Hanan pun melangkahkan kaki menuju tempat yang diduga bahwa sosok Mang Dirman ada di sana. Sebab dicari-cari sebelumnya hingga ke kandang kuda, laki-laki tua tersebut tidak kunjung ditemukan.


Beberapa langkah sebelum tiba di antara rimbunan pepohonan yang djmaksud, tercium aroma khas tembakau. Bau itu begitu menyengat dan Hanan hapal sekali pemiliknya.


Benar saja, di bawah sebuah pohon, sosok Mang Dirman tampak tengah asyik menikmati rokok daun kawungnya. Dia menoleh dan terkejut begitu melihat kemunculan Hanan yang tidak disangka-sangka. Lantas buru-buru membuang sisa rokok yang masih menyala ke atas rerumputan.


"Ah, Aden …." katanya terperanjat.

__ADS_1


Hanan malah tersenyum geli. "Mengapa dibuang, Mang? 'Kan, sayang tuh, masih panjang rokoknya."


"T-tidak, Den. S-saya …." Mang Dirman terlihat salah tingkah. "Maaf, Den. Saya hanya … hanya ingin memeriksa keadaan di sini," katanya lekas mengalihkan pembicaraan. "I-ini … berkenaan dengan suara-suara mencurigakan semalam."


"Terus hasilnya?" tanya Hanan merasa penasaran,  ingin mengetahui apa saja yang telah dilakukan sosok tersebut di tempat itu.


Mang Dirman mendengkus sejenak, lantas lanjut menjawab, "Saya tidak menemukan apa-apa, Den. Terkecuali …." Mata tuanya memerhatikan sesuatu.


"Terkecuali apa, Mang?" tanya Hanan seraya mengikuti arah penglihatan Mang Dirman. Namun belum mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud sosok tua itu. "Mamang menemukan sesuatu? Sebuah petunjuk, mungkin?"


Mang Dirman melangkah. Mendekati sebuah pohon kecil. "Ranting ini patah dan dalam keadaan setengah layu," pungkasnya sambil mengambil patahan cabang kecil dari sebuah pohon. "Agaknya belum begitu lama terjatuh dan teronggok di sini. Masih bisa bertahan segar diterpa tetesan embun pagi dan kondisi alam yang dingin semalaman."


Hanan mengambil ranting yang dimaksud dari tangan Mang Dirman, serta turut menelitinya beberapa saat. "Masuk akal juga," gumamnya seraya menipiskan bibir.


Kemudian Mang Dirman melangkah berputar-putar. "Rumput-rumput ini …." katanya sembari berpikir keras. "Seperti bekas pijakan kaki." Dia berjongkok, diikuti oleh Hanan. "Mengenakan … ah, seperti pijakan alas kaki. Tapi sepertinya bukan sejenis sepatu lars."


"Ini seperti bekas sandal, Mang," gumam Hanan turut mengira-ngira. "Ya, sepertinya begitu, Den," sahut Mang Dirman menyepakati pemikiran anak majikannya. 


Lantas anak muda tersebut lanjut berkata, 'Sandal? Hhmmm … hanya kalangan orang-orang tertentu yang mengenakan jenis alas kaki semacam itu.' Dia mengetuk-ngetuk kepala dengan jari telunjuk. 'Masyarakat biasa, lebih sering bertelanjang kaki. Sementara kalangan pasukan bersenjata, biasanya mengenakan sepatu jenis lars atau bot. Apakah ada kaum pejuang ke sini semalam? Buat apa? Lagipula, kampung ini bukan daerah konflik peperangan.'


"Den …."


"Hhmmm?"


Mang Dirman berdiri perlahan-lahan. Dia ingin berkata, tapi tampak masih ragu.


"Ada apa, Mang?" tanya Hanan seraya memandangi wajah tua laki-laki tersebut. 


'Ah, mengapa kepala ini berpikir tentang orang yang satu itu, ya?' Bertanya-tanya Mang Dirman seorang diri. Dia belum berani mengambil sebuah kesimpulan. Makanya memilih terdiam untuk sementara waktu. 'Seingatku, hanya dia yang sering mengenakan alas kaki semacam sandal itu. Entahlah dengan warga lainnya ….'


"Apa yang sedang Mamang pikirkan?" tanya Hanan penasaran. "Mamang mencurigai seseorang? Atau mungkin … ada orang yang Mamang tahu siapa pemilik jejak alas kaki seperti ini?"


Mang Dirman menggeleng. "Uummhhh, tidak, Den. Tidak ada," jawabnya memilih untuk tidak terlalu dini menyimpulkan. "Bisa saja orang lain yang tersesat melewati kebun ini semalam, Den."


Mang Dirman terdiam. Dia tidak ingin menduga-duga lebih jauh. "Bisa saja memang ini jejak binatang, Den. He-he," kata laki-laki tua tersebut bercanda. 


"Ya, maksudnya … makhluk berkaki dan bertangan dua," timpal Hanan menyeimbangi. Namun bukan berarti tidak serius dengan pembicaraan mereka.


Akhirnya Hanan dan Mang Dirman bergegas kembali ke rumah, begitu diteriaki Bunga dari kejauhan. "Kita makan dulu, Aa-Mamang!"


"Juragan Putri memanggil kita, Den," ujar Mang Dirman. 


"O, iya … nanti sebelum kita ke rumah Kepala Kampung, kita antarkan terlebih dahulu Nèng Bunga ke rumahnya, Mang."


"Ke rumahnya? Nèng Bunga mau tinggal lagi di sana?"


"Ah, tidak. Dia hanya ingin melihat-lihat rumahnya saja, Mang. Nanti sepulang berkeliling kampung, kita kembali menjemput."


"Baik, Den."


Lantas keduanya pun segera berkumpul bersama keluarga Sumiarsih, menikmati makan pagi, lantas bersiap-siap mengantarkan Bunga ke rumahnya.


"Ajaklah serta Ijah, Nèng. Biar di sana ada teman untuk membantu-bantu," kata Sumiarsih merasa khawatir jika Bunga harus ditinggal sendiri di sana. 


"Tidak usah, Bu. Biar Enèng sendiri saja," balas Bunga. "Lagipula, Uwak Bunga akan datang hari ini, kok."


(Uwak : kakak kandung dari orangtua kandung)


"Ki Sendang Waruk?" tanya Sumiarsih agak terkejut.


"Wak Èndang datang, Nèng?" Hanan turut bertanya kaget.


Hanan pun merasakan hal yang sama. Mereka bertiga saling melempar pandangan satu dengan lainnya.


"Iya, Ibu-Aa," jawab Bunga perlahan.

__ADS_1


"Loh, kok Ibu dan Hanan tidak dikasih kabar, Nèng?" Sumiarsih kembali bertanya. "Sudah lama sekali Uwak-mu itu tidak lagi berkunjung ke sini, sejak almarhum ayahnya Hanan meninggal dunia dulu."


"Entahlah, Bu. Mungkin ikut bersama-sama para pejuang. Enèng sendiri belum tahu benar."


"Wak Èndang ikut berjuang juga, Nèng?" Kembali Hanan bertanya.


"Iya, Aa. T-tapi … j-jangan sampai terdengar oleh Tuan Guus," bisik Bunga.


"Oh, tentu-tentu."


Sumiarsih menarik napas panjang. "Ya, sudah. Titip salam untuk Uwak-mu itu. Sampaikan juga, sekali-sekali … mampirlah ke sini. Jangan sampai pareumeun obor."


(Pareumeun obor : hilang kontak)


"Insyaa Allah, Bu. Nanti Enèng sampaikan kalau Uwak jadi datang."


Usai bersalaman dan peluk cium dengan Sumiarsih, Bunga pun segera pergi diantar oleh Hanan. Bersama Mang Dirman yang sudah terlebih dahulu menunggu-nunggu di depan rumah di atas sadonya.


Tidak sampai memakan waktu lama, mereka bertiga sudah tiba di tempat tujuan dengan selamat. Langsung disambut oleh sesosok lelaki tua berpakaian serba hitam dengan ikat kepala berwarna senada di teras rumah Bunga.


"Uwaakkk!"


"Nèng Bungaaa anakku!"


Bunga bergegas turun dari sado dan langsung memburu sosok yang merupakan kakak kandung dari pihak ayahnya tersebut. Keduanya berpelukan dengan erat dengan penuh rasa kerinduan.


"Assalamu'alaikum, Wak," sapa Bunga sambil menciumi tangan Sendang Waruk. "Uwak ke mana saja selama ini? Enèng kangen sekali pada Uwak."


"Wa'alaikumussalaam, Nèng," balas laki-laki berpangsi serba hitam tersebut. "Maafkan Uwak, Nak. Uwak baru bisa menengokmu lagi sekarang. Bagaimana kabarmu, Sayang?"


"Alhamdulillah, Wak. Enèng sehat wal'afiat," jawab Bunga, kemudian menunjuk pada Hanan yang hanya bisa berdiri terpaku. "Ini Aa Hanan, Wak. Baru beberapa hari lalu pulang dari Jakarta."


"Iya, Nèng, Uwak sudah tahu, kok."


"Assalamu'alaikum, Wak Èndang," ucap Hanan seraya menyalami takzim orang tua itu.


"Wa'alaikumussalaam, Nak Hanan," timpal Sendang Waruk sambil menepuk-nepuk pundak anak muda tersebut. "Sudah besar rupanya sekarang, Nak. Tampaknya, kamu juga sudah berhasil jadi orang, gagah, dan tampan rupawan. Bagaimana kabarmu?"


"Alhamdulillah, Wak. Hanan sudah menamatkan pendidikan Hanan juga."


"Alhamdulillah. Uwak turut senang sekali mendengarnya, Nak," ujar Sendang Waruk, kali ini memeluk Hanan dengan erat. "Mirip sekali dengan mendiang ayahmu dulu."


Hanan tersenyum simpul.


"Kapan tiba, Wak? Mengapa tidak beri kabar sebelumnya? Ibu juga menanyakan Uwak."


Timpal Bunga, "Iya, Wak. Ibunya Hanan titip salam untuk Uwak."


"Wa'alaikumussalaam," balas Sendang Waruk tersenyum-senyum. "Uwak baru saja tiba di sini. Makanya hari ini meminta Nèng Bunga untuk pulang sementara waktu." Kemudian laki-laki itu berganti menatap sosok lain yang berdiri persis di samping sado. "Mang Dirman … apa kabar, Mang?"


"Alhamdulillah, Ki. Kabar baik," jawab Mang Dirman seraya menyalami. "Mendadak sekali Aki datang ke kampung ini."


"Iya. Itu juga karena mendengar kabar Nak Hanan sudah kembali pulang ke kampung, makanya … saya pun berencana kembali dulu ke sini," kata Sendang Waruk sembari melirik putra tunggal mendiang Juragan Juanda tersebut. "Senang sekali melihat kalian semua dalam keadaan sehat wal'afiat. Alhamdulillah."


"Datanglah ke rumah, Wak," ucap Hanan. "Terakhir kali Uwak datang pun saat Ayah meninggal dunia, 'kan? Waktu itu, Hanan sendiri belum sempat datang dan Uwak keburu tidak ada."


Sendang Waruk mengangguk-angguk. "Iya, Nak. Uwak juga … sebenarnya … berencana mengunjungi ibumu. Ada beberapa hal yang harus Uwak bicarakan dengan Sumiarsih."


"Tentang apa, Wak?" tanya Hanan penasaran.


Beberapa saat, Sendang Waruk memandangi anak muda itu, lalu berkata perlahan, "Tentunya … mengenaimu juga, Nak."


Hanan melirik pada Mang Dirman.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2