
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 20...
...—---- o0o —----...
Sementara itu di lain tempat, sesuai dengan rencana semalam, esok siangnya Hanan bersama Mang Dirman pergi berkunjung ke rumahnya Kepala Kedusunan. Di sana, anak muda putra tunggal dari almarhum Juragan Juanda tersebut diterima dengan baik.
"Alhamdulillah …." ujar Ki Panca, sesepuh sekaligus Kepala Kedusunan Sundawenang, merasa bahagia sekali begitu mendengar rencana Hanan akan tetap tinggal di kampung mereka. "Itu malah lebih baik, Nak Hanan," imbuh orang tua tersebut dengan mata berbinar-binar. "Masyarakat di sini akan sangat terbantu sekali dengan kehadiran Nak Hanan. Apalagi semenjak kepergian Juragan Juanda, rasanya belum ada lagi sosok yang begitu dekat dengan kami."
Balas Hanan usai melirik Mang Dirman di samping, "Insyaa Allah, Pak. Tinggal menunggu keputusan dari pemerintah serta surat penugasan kerja di sini. Mudah-mudahan saja, diterima dan semuanya berjalan lancar."
"Insyaa Allah, Nak Hanan. Saya hanya bisa turut mendoakan saja. Semoga semua yang dicita-citakan serta pamaksadan Nak Hanan, sing dikabulkeun ku Gusti Allah."
(Pamaksadan : Hal yang dimaksud)
(Sing dikabulkeun ku Gusti Allah : Semoga dikabulkan oleh Allah)
"Aamiin, Ki. Terima kasih atas dukungan dan doanya," balas Hanan merasa turut berbahagia. "Sebenarnya, ini juga atas permohonan Ayah sewaktu masih hidup dulu. Beliau pernah berpesan, jika sekiranya bisa, lebih baik mengabdi di sini saja, sekalian mengurus perkebunan keluarga."
Raut wajah Ki Panca sedikit berubah begitu mendengar kata terakhir Hanan baru saja; 'Perkebunan'. Namun dia tidak ingin membicarakannya lebih lanjut.
"Ah, benar sekali, Nak Hanan," tandas sesepuh kampung tersebut seraya tersenyum kambing. "Sekalian mengamalkan ilmu yang telah Nak Hanan dapatkan, juga membantu masyarakat di sini secara khususnya." Sejenak dia melirik pada Mang Dirman yang hanya terdiam mendengarkan.
"O, iya …." Tiba-tiba Hanan teringat sesuatu. "Mengenai kebiasaan masyarakat di sini, saya dengar-dengar … mereka masih ada yang memilih cara lain untuk berobat." Anak muda itu menoleh sesaat pada Mang Dirman. "Misalnya … berobat dengan menggunakan … mohon maaf ya, Ki … jasa dukun."
Ki Panca dan Mang Dirman saling berpandangan.
"Ah, itu 'kan hanya perbedaan pada masalah tanggapan atau kepercayaan masing-masing orang saja, Nak," ujar Ki Panca. "Tidak usah dipikirkan terlalu dalam. Itulah, maka dari itu … tugas kita bersama adalah memberikan pengarahan yang baik kepada masyarakat bahwa tidak semua keluhan penyakit, bisa diobati secara kebatinan. Tidak perlu melakuan ritual ini-itu yang justru bisa menjauhkan diri kita dari ajaran agama. Cukup datang ke balai pengobatan atau … datang ke rumah Nak Hanan jika dalam keadaan terdesak. He-he-he. Bukankah begitu, Mang Dirman?"
"Eh, i-iya, Ki! B-benar! Itu benar sekali!" jawab Mang Dirman terkejut, tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan dari Ki Panca. "Bahkan karena itu pula, Mantri di Balai Kesehatan sering mengeluh kekurangan pengunjung, Ki. He-he."
"Pasien maksudnya, Mang?" tanya Hanan.
"I-iya. Itu maksud saya, Den."
Imbuh Ki Panca melanjutkan ucapannya tadi, "Nah, mudah-mudahan dengan hadirnya Nak Hanan ini, masyarakat mulai percaya dan mau datang berobat ke Balai Kesehatan."
Hanan berpikir sejenak, sampai kemudian bertanya yang cukup mengejutkan Ki Panca dan Mang Dirman, "Lalu, bagaimana dengan keberadaan Nyai Kasambi bagi masyarakat sekitar kampung ini, Ki?" Dia memandang pada kedua sosok tua tersebut. "Sepertinya, pengaruh beliau pun cukup besar dan masih sangat diharapkan oleh mereka."
Kembali Mang Dirman dan Ki Panca saling adu tatap.
"Aaahhh … untuk masalah itu, sebaiknya tidak usah kita bahas dulu, Nak Hanan," ucap Ki Panca berusaha mengalihkan pembicaraan. "Untuk rencana awal Nak Hanan tadi, itu yang lebih pokok dan diutamakan. He-he. Bukankah begitu, Mang?"
__ADS_1
"Aahhh … y-ya, b-benar," jawab Mang Dirman gagap. "Biarlah untuk masalah kepercayaan masyarakat, mereka sendiri yang menentukannya. Kita tidak boleh memaksa. Hanya sekadar menganjurkan dan mengajak. Bener begitu, Ki?"
"Ya, betul sekali apa yang dikatakan oleh Mang Dirman itu, Nak Hanan. He-he-he."
Benak Hanan pun mulai bertanya-tanya, 'Sepertinya, para tetua ini sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Mereka sama sekali tidak ingin membahas perihal Nyai Kasambi. Entah karena ada perasaan takut atau memang mereka tidak ingin aku tahu tentang sosok perempuan tua yang satu itu.'
Bahkan hingga menjelang pulang pun, Ki Panca sama sekali tidak lagi menyebut-nyebut sosok Nyai Kasambi.
"Terima kasih atas kunjungan Nak Hanan ke rumah saya," ujar Ki Panca sambil berdiri hendak mengantar tamunya keluar rumah. "Saya pribadi, sangat senang sekali dengan kehadiran Nak Hanan kembali di kampung ini. Semoga semuanya baik dan lancar ya, Nak."
"Aamiin. Terima kasih, Ki," balas Hanan. "Tapi … saya juga mohon maaf, karena baru hari ini bisa berkunjung menemui Aki."
"Tidak apa-apa. Saya sangat memakluminya, kok," timpal Ki Panca. "Saya juga minta maaf, karena kedatangan Nak Hanan begitu mendadak. Jadi, saya tidak sempat menyiapkan jamuan untuk Nak Hanan dan Mang Dirman. Maklumlah, sejak hidup sendiri, saya sendiri jarang masak. He-he-he."
"Oh, tidak apa-apa, Ki. Justru saya khawatir merepotkan kalau Aki kalau mengabari terlebih dahulu."
"He-he, bisa saja Nak Hanan ini. Persis sekali seperti mendiang Juragan Juanda. Baik, ramah, dan juga suka mendadak sekali kalau hendak berkunjung."
"He-he, Insyaa Allah, Ki, saya pun ingin meneruskan jejak kebaikan almarhum Ayah."
"Aamiin. Insyaa Allah, Nak Hanan pasti mampu."
"Lain waktu, kami sekeluarga pun berharap Aki sudi berkunjung ke rumah. Insya Allah, kalau sekadar air putih, kami akan selalu jamukan khusus untuk Aki."
"He-he-he, Insyaa Allah … Insyaa Allah …."
"Kami pamit dulu, Ki. Assalamu'alaikum," ujar Hanan sebelum naik ke atas sado.
"Wa'alaikum Salaam."
"Mari, Ki. Kami berangkat pulang."
"Iya, Mang Dirman. Hati-hati di jalan."
"Iya, Ki."
Perlahan-lahan sado pun mulai meninggalkan pekarangan rumah Ki Panca, Kepala Kampung Sundawenang, diiringi lambaian tangan keduanya.
"Kita langsung pulang saja, Den?" tanya Mang Dirman begitu sudah menjauh dari kediaman Ki Panca.
"Tidak, Mang. Kita berkeliling dulu ke rumah-rumah warga. Sudah lama saya tidak pernah lagi berkunjung bersilaturahim dengan mereka," jawab Hannan sekaligus melegakan hati sosok tua tersebut.
Jujur saja, di dalam hati Mang Dirman, dia sangat mengkhawatirkan jika anak majikannya tersebut akan mengajak untuk melihat-lihat kembali area perkebunan keluarga Juragan Juanda, seperti yang telah dilakukan beberapa hari sebelumnya.
"Den Hanan anaknya Juragan Juanda?" tanya salah seorang warga perempuan begitu mereka berhenti di sebuah rumah.
__ADS_1
"Benar sekali, Mak," jawab Hanan lembut dan ramah.
"Ya, Allah … Adeennn, ternyata sudah besar begini. Subhanallah," ujar warga tadi memuji-muji. "Mirip sekali dengan Juragan Juanda semasa masih muda dulu. Gagah dan juga tampan rupawan seperti ini."
"Ah, Emak ini bisa saja," balas Hanan sekaligus memberi kabar lanjutan. "Saya sekarang tinggal di kampung ini lagi, Mak."
"Oh, ya? Syukur atuh. Alhamdulillah. Emak senang sekali mendengarnya, Den."
"Iya, Mak. Insyaa Allah, saya juga ingin bertugas di kampung ini."
"Bertugas apa, Den? Jadi kompeninya Tuan Guus?" Raut perempuan tua itu mendadak muram.
Jawab Hanan segera, "Bukan, Mak. Saya bertugas di Balai Kesehatan di kampung ini. Jadi dokter."
"Bukan Mantri?"
"Bukan, Mak. Tapi dokter."
"Berarti lebih pintar dari Mantri tukang suntik itu?"
"Aaahhh, kira-kira seperti itulah, Mak," jawab Hanan hampir saja tergelak. "Nanti kalau Emak sakit, Emak datang saja ke Balai Kesehatan. Insyaa Allah, akan saya bantu obati. Begitu juga dengan suami Emak, anak Emak, cucu Emak, atau bahkan tetangga Emak. Semuanya boleh datang ke sana. Ya, Mak? Bagaimana?"
Raut wajah perempuan tua itu masih muram. "Ah, selama ini … Emak dan warga kampung di sini, lebih suka minta berobat pada Nyai Kasambi, Den. Lebih cepat sembuh dan juga … Nyai Kasambi itu sakti, Den. Segala macam penyakit, selalu bisa dia obati. Terutama sakit yang disebabkan oleh gangguan setan."
Hanan tersenyum. "Iya, saya percaya," katanya lembut sekadar ingin menghargai dan enggan melawan anggapan yang sudah terpatri tersebut di mata warga. "Tapi kalau sakitnya bukan karena gangguan setan atau jin, Emak bisa datang ke Balai Kesehatan atau langsung ke rumah saya juga boleh. Tidak usah ke …."
Mang Dirman membantu meneruskan kalimat Hanan yang sengaja diputus, "Tidak perlu capek-capek mendatangi gubuk Nyai Kasambi di lereng perbukitan di atas sana, Mak. Cukup datang ke Balai, diobati, selesai. Mudah, bukan?"
"Tapi bagaimana jika nanti Nyai Kasambi marah? Saya takut."
Timpal Hanan kembali, "Emak tidak perlu takut. Serahkan semuanya hanya kepada Gusti Allah. Insyaa Allah, Emak akan senantiasa dilindungi oleh Allah Subhanahu Wata'ala. Emak percaya itu?"
Sosok perempuan tua itu menunduk. "Saya percaya, tapi juga yakin dengan kesaktian Nyai Kasambi," jawabnya membuat Hanan dan Mang Dirman menggelengkan kepala. "Seandainya saja waktu itu, Juragan Juanda mau diobati oleh Nyai Kasambi, mungkin Juragan masih hidup."
"Mak!" seru Mang Dirman mengagetkan, setelah dikejutkan oleh ucapan warga tersebut.
"Ada apa, Mang?" tanya Hanan terheran-heran dengan sikap Mang Dirman.
"Ah, tidak, Den. Tidak apa-apa," jawab laki-laki tua tersebut berpura-pura mengalihkan pandangannya dari Hanan. Namun begitu anak majikannya itu lengah, dia kembali menatap tajam seperti sebelumnya pada perempuan tua tersebut.
"Maaf, Den. Saya permisi masuk dulu ke rumah. Saya lupa sedang masak."
"Mak! Tunggu, Mak!" seru Hanan memanggil. Namun perempuan tua itu tidak mempedulikan. Dia tetap bergegas masuk ke dalam rumah dan segera menutup pintu rapat-rapat.
Mang Dirman lekas menjauh dari sana. Naik ke atas sado dan terdiam. Dia tahu, perempuan tua itu tidak ingin berkata lebih lanjut usai dipelototinya.
__ADS_1
"Sebenarnya ini ada apa, Mang?" tanya Hanan kian penasaran dengan berbagai sikap yang telah ditunjukkan oleh Mang Dirman selama dia pulang. Khususnya jika pembahasan yang sudah mengarah perihal ayahnya, Juragan Juanda. "Saya makin yakin, Mamang banyak menyembunyikan sesuatu dari saya. Mengapa? Apa alasannya, Mang?"
...BERSAMBUNG...