Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 43


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 43...


...—---- o0o —----...


Setengah jam lebih, Koen berjaga-jaga di depan pintu ruangan kerja Tuan Guus. Lelaki muda berambut kemerahan itu —sebentar-sebentar— mondar-mandir di sana sambil sesekali melihat-lihat ke arah dimana Dasimah dan majikannya saat itu sedang berada.


Sampai suatu ketika, Koen berniat hendak mengambil minuman ke ruangan lain, tiba-tiba terdengar derit daun pintu dari arah belakang.


"Nyai …." desis laki-laki itu seraya berbalik arah, memburu sosok Dasimah yang baru keluar dari ruangan kerja Tuan Guus.


Sontak perempuan muda tersebut terkejut begitu mendapati Koen mendekatinya. Buru-buru dia menutup rapat-rapat daun pintu tadi dan berjalan menghindari arah dari mana laki-laki itu muncul.


"Nyai!" panggil Koen seraya mengejar dengan cepat. "Tunggu saya, Nyai!"


Dasimah berontak begitu tangan Koen berhasil menahan lajunya. "J-jangan, Koen! Saya mohon! Lepaskan saya!" ujar perempuan tersebut perlahan karena takut suaranya akan terdengar oleh Tuan Guus maupun penghuni rumah lainnya.


Namun Koen tidak mau melepaskan cekalannya. Dia tetap memegangi lengan Dasimah sekuat tenaga dan berusaha menenangkan. "Rustig aan, Nyai! Tenang! Kita bisa bicarakan ini dengan tenang!' seru laki-laki itu meyakinkan. Tidak sengaja dia menyentuh luka kecil bekas percikan bara rokok Tuan Guus tadi.


(Tenanglah, Nyai!)


"Aahhh, sakit … Koen!" desah Dasimah seketika seraya mengibaskan lengannya.


Koen terheran-heran dan langsung memeriksa apa yang menyebabkan perempuan itu meringis kesakitan.


"O, Heer!" seru laki-laki tersebut terkejut begitu melihat bekas luka bakar tadi. "Apa yang terjadi pada kamu orang, Nyai? Ini seperti terkena api! Siapa yang melakukan ini pada kamu orang, heh?"


(Astaga!)


Dasimah enggan untuk segera menjawab. Namun lirikan mata perempuan itu ke arah pintu ruangan kerja Tuan Guus, sudah cukup memberitahu Koen akan pertanyaannya tersebut.


"Aahhh … verdomme! Tuan Guus yang melakukan ini pada kamu orang, Nyai?" tanya kembali Koen diiringi rona wajah memerah.


(Bangsat!)


"Tidak, Koen! Saya mohon, lepaskan saya sekarang juga, sebelum Tuan Guus melihat kita berdua di sini!" pinta Dasimah seraya memberontak kembali hendak melepaskan cekalan tangan laki-laki tersebut. "Saya ingin sendiri dulu, Koen."

__ADS_1


"Kamu orang harus bicara pada saya, Nyai," seru Koen dengan suara ditahan, mendesak Dasimah untuk menceritakan apa yang telah terjadi padanya di ruangan kerja Tuan Guus tadi. "Saya tahu apa yang kalian orang berdua lakukan di dalam sana, tapi tidak dengan bekas luka bakar di tangan kamu itu, Nyai."


Kali ini Dasimah berhasil melepaskan cekalan Koen dan langsung menghambur, menjauh, keluar, dari sekitar ruangan tersebut secepat mungkin.


"Nyai! Tunggu saya, Nyai!" Koen kembali mengejar. "Kita bicara dulu, Nyai!"


Berbarengan dengan itu, tiba-tiba muncul Roosje dari arah berlawanan. Koen dan Dasimah serentak berhenti di tempat. Spontan anak gadis Tuan Guus tersebut menatap keduanya dengan lekat.


"Koen? Dasimah?" ujar Roosje seraya mengernyit keheranan. "Apa yang kalian orang berdua lakukan di sini?" tanyanya lebih lanjut. Kali ini memperhatikan kondisi pakaian yang dikenakan oleh Dasimah, semrawut. "Saya tidak peduli apa yang kalian orang berdua sudah perbuat, tapi … setidaknya—"


Tukas Koen buru-buru memotong ucapan anak majikannya, "Ah, tidak, Nona. Ini tidak seperti yang orang Nona Roos lihat sekarang. Saya dan Nyai Dasimah sama sekali tidak melakukan apa-apa. Benar bukan, Nyai?" tanyanya, setengah ketakutan, pada Dasimah.


Timpal perempuan pembantu di kediaman Tuan Guus tersebut terbata-bata, "B-benar sekali, N-nona Roos. Kami tidak melakukan apapun."


Roosje tersenyum sinis seraya menatap Koen dan Dasimah silih berganti. Ujarnya kemudian, "O, wel … terserah kalian orang berdua saja. Tapi … dari tadi saya mencari-cari kamu orang, Dasimah."


"Nona mencari saya?" Dasimah agak terkejut. Dia melirik sesaat pada Koen. Dibalas lelaki tersebut dan langsung menundukkan pandangan untuk menghindari tatapan mata Roosje.


Putri semata wayang Tuan Guus itu pura-pura tidak memahami. Dia lanjut berkata, "Iya, Dasimah. Saya ingin kamu orang meneruskan pembicaraan tadi siang. Kamu orang masih ingat itu, heh?"


Dasimah mengingat-ingat sesaat, lantas menjawab, "Pembicaraan saya tentang … Den Hanan maksud Nona Roos?"


Roosje tertawa kecil. Secara tidak sadar, dia menepuk pundak pembantunya tersebut agak keras. Sontak membuat Dasimah terdorong sedikit dan langsung meringis kesakitan. 


Jawab laki-laki itu segera untuk membela diri dan tentu saja bermaksud menyembunyikan hal yang sebenarnya pada Roosje, perihal perlakuan Tuan Guus tadi, "Ah, tentu saja tidak, Nona. Nyai Dasimah hanya … hanya …."


"S-saya yang salah, Nona," tukas Dasimah cepat-cepat membantu menjelaskan. "Hanya sebuah kecelakaan kecil saja. He-he-he. Maklum, kami ini sama-sama masih muda," imbuhnya berbohong dan rela merendahkan diri demi menutupi perilaku buruk Tuan Guus dari putrinya sendiri. Namun hati kecil perempuan tersebut justru menjerit pilu dan mengutuk habis-habisan atas apa yang telah dia alami selama ini.


Roosje mencibir. Dia paham, tapi enggan untuk menanggapi. 


"Aahhh … tadinya saya ingin sekali mendengar banyak kamu orang bercerita tentang itu Hanan, Dasimah. Tapi …." Gadis bermata biru itu melihat kedua sosok yang ada di depannya secara bergantian, "sepertinya malam sudah mulai larut dan besok hari saya berencana ikut Papa ke rumah itu orang Sumiarsih. Jadi … wel, saya ingin kamu orang, lain waktu saja meneruskan perbincangan itu, Dasimah. Kamu orang pun sepertinya butuh istirahat, heh?"


"I-iya, Nona. Terima kasih," sahut Dasimah seraya membungkukkan badan perlahan-lahan sambil menahan deraan rasa sakit yang menghujam area belakang tubuhnya.


Setelah berpamitan, Roosje pun lanjut memasuki rumah, meninggalkan Dasimah dan Koen yang masih sama-sama berdiri mematung. Menunggu hingga gadis Belanda tersebut benar-benar menjauh dari mereka.


"Nyai …." panggil Koen setelah suasana dirasa sudah kembali aman. "Kamu orang harus berterus terang pada saya, Nyai. Apa yang sebenarnya telah Tuan Guus lakukan di ruangan dia orang tadi, heh?"


Dasimah tidak serta-merta menjawab. Perempuan itu menunduk dalam-dalam dan mulai terisak perlahan. "Antar saya ke kamar saya sekarang juga, Koen," pintanya lirih. "S-saya merasa … sakit sekali … pada … aahhh!" Dia terhuyung dan langsung ditahan oleh Koen agar tidak tersungkur.

__ADS_1


"Astaga, Nyai!" seru Koen spontan merasakan iba melihat Dasimah terus menerus meringis-ringis. Lantas bermaksud membopongnya tubuh perempuan itu, tapi tiba-tiba terdengar jerit pilu dari sosok tersebut.


"Jangan menekan bokong saya, Koen! Sakiittt!" seru Dasimah diiringi tangisan kecilnya, seraya mengalungkan lengan ke leher laki-laki tersebut untuk bertahan.


Kening Koen mengerut hebat. Dia mulai menduga-duga sesuatu yang membuatnya turut prihatin atas penderitaan Dasimah. 


"Goed verdriet! Saya benar-benar tidak mengerti, apa sebenarnya yang telah terjadi pada kamu orang, Nyai?" Terpaksa Koen menggendong tubuh perempuan itu dengan cara menekuk kedua kaki dan menahan bagian punggungnya. Lantas buru-buru membawanya ke sebuah kamar terpisah, di belakang area rumah Tuan Guus.


(Astaga!)


"Koen …." ucap Dasimah begitu dibaringkan di atas ranjang berkasur keras dan Kumal di kamar. "Tolong jangan ceritakan apapun mengenai saya pada orang-orang ya, Koen? Cukuplah kamu seorang yang mengetahui tentang kondisi saya di sini. Saya malu, Koen."


Laki-laki berambut kemerahan itu membelai rambut Dasimah dengan lembut. 


"Nyai … apakah Tuan Guus telah—"


"Dia benar-benar binatang, Koen!" ucap perempuan itu lirih dan langsung memeluk erat Koen.


"Ya, Tuhan!"


"Dia telah memperlakukan saya seperti halnya binatang tidak berharga! Dia telah merusak saya! Menghancurkan saya! Bahkan …."


"Ssttt …." Koen lekas mengingatkan agar Dasimah tidak meneruskan ucapannya. "Nanti kita orang berdua bicarakan di tempat yang lebih aman, Nyai," bisiknya berhati-hati. "Di sini … semuanya sangat berbahaya. Apalagi berkaitan dengan Tuan Guus. Kamu orang paham 'kan dengan maksud saya?"


Dasimah mengangguk di antara isak tangisnya. "Bawalah saya pergi menjauh dari sini, Koen. Saya merasa sudah sangat tidak berarti hidup di sini," pintanya memelas.


Koen menarik tubuh perempuan tersebut untuk melepaskan pelukannya. Kemudian menatap penuh saksama. "Saya berjanji, suatu saat saya akan membawamu pergi dari sini, Nyai. Menjauh dari Tuan Guus keparat itu!" katanya seraya menunjuk-nunjuk ke arah kediaman Tuan Guus Van Der Kruk dengan sikap berapi-api. "Sekarang … kamu orang beristirahatlah. Besok, sekalian ke luar, kita berobat ke balai pengobatan kampung."


Dasimah mengangguk pelan sambil mengusap linangan air mata. 


Sesaat ketika laki-laki itu hendak beranjak, perempuan tersebut memanggil, "Koen …."


"Ada apalagi, Nyai? Ada sesuatu yang bisa saya lakukan untukmu?" tanya laki-laki berambut kemerahan itu sembari kembali mendekat.


Dengan raut pilu, Dasimah meminta, "Tidak bisakah kamu menemani saya untuk semalam ini, Koen?"


Koen mendesah bingung. "Tapi kalau saya di sini, nanti Gert akan mencari-cari. Kita tidak ingin 'kan, semuanya akan menjadi kacau," ucapnya menenangkan. "Kamu orang tenanglah, Nyai, saya akan berjaga-jaga selalu di sekitar sini. Bagaimana, heh?"


Walau masih merasa berat ditinggalkan, terpaksa Dasimah mengangguk juga. Akhirnya melepas kepergian lelaki tersebut, keluar dari kamarnya. Selepas itu, tersungging senyum tipis di bibir Koen sambil mengangguk-angguk penuh makna.

__ADS_1


"He-he-he …."


...BERSAMBUNG...


__ADS_2