
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 8...
...—---- o0o —----...
Usai makan siang bersama, Hanan mengikuti langkah Sumiarsih menuju ruang santai keluarga. Di sana —dulu— semasa laki-laki muda itu masih kanak-kanak, selalu dijadikan tempat berkumpul bersama mendiang Ayahanda Juanda.
Sebagai putra tunggal, curahan kasih sayang dari kedua orangtuanya, tentulah sangat besar. Dibekali dengan arahan pendidikan dasar formal dan agama kuat, tidak menjadikan seorang Hanan tumbuh menjadi remaja yang sombong dan manja. Justru karena itu, dia memiliki pribadi mandiri dan penuh hormat terhadap sesama. Terutama kepada orang-orang terdekatnya sepanjang hidup.
“Alhamdulillah ya, Bu,” ujar Hanan mengawali pembicaraan dengan ibunya, “beberapa tahun Hanan pergi dari kampung ini, sudah banyak perubahan yang Hanan lihat di sini.” Sumiarsih mendengarkan dengan santai sambil menikmati secangkir teh tawar. “Banyak lahan-lahan hijau yang Hanan lihat tadi sewaktu di perjalanan, berubah menjadi kebun-kebun luas dan subur. Ada banyak warga juga yang bekerja di sana.” Anak muda itu turut menyeruput air putih yang dia bawa sebelumnya dari ruang tengah, lantas melirik wajah sosok terkasih di sampingnya yang masih terdiam membisu. “Perkebunan keluarga Ayah, masih berjalan juga ‘kan, Bu?”
Sumirasih mendeham sebentar sebelum menjawab pertanyaan anaknya. “Masih seperti dulu, Nak,” kata wanita baya tersebut seraya menghela napas panjang. “Tapi … orang-orang yang dulu bekerja pada kita, sedikit demi sedikit terus berkurang.”
Hanan menatap bola mata ibunya. Seperti hendak mencari-cari sesuatu di sana. “Mengapa, Bu? Apakah ada masalah dengan mereka?” tanya dokter muda tersebut mulai menerka-nerka.
Sumiarsih menggeleng. “Entahlah, Nak. Ibu sendiri masih bingung sampai sekarang. Padahal selama ini, Ibu selalu memperlakukan mereka dengan baik,” katanya dengan suara terdengar agak lirih. “Itu terjadi semenjak pergantian kepemimpinan wilayah ini beberapa tahun yang lalu.”
“Memangnya Tuhan Hansen sudah tidak lagi bertugas di wilayah sini, Bu?” tanya Hanan kembali. Lantas teringat pada sosok asing yang sebelumnya dia temui tadi sewaktu mengantarkan Roosje.
“Beliau sudah berpindah tugas ke luar daerah Jawa, Nak. Tepat setelah mendiang ayahmu meninggal dunia,” jawab Sumiarsih dengan tatapan kosong. Mungkin masih begitu merindukan sosok suaminya.
“O, iya … Hanan tadi sempat bertemu dengan Tuan Guus sebelum tiba di rumah …..”
“Tuan Guus Van Der Kruk?”
“Ibu mengenalnya?” tanyaku penasaran.
Sumiarsih tersenyum masam. “Tentu saja Ibu mengenal dia, Nak,” jawab sosok tua yang masih terlihat cantik tersebut, walaupun usianya sudah mulai menginjak kepala empat. “Tuan Guus-lah yang menggantikan Tuan Hansen dulu.”
“Ooohh … pantas saja, sepertinya beliau pun mengenal Ibu,” ucap Hanan kembali menerka.
“Kamu bertemu dengan Tuan Guus di mana?” tanya Sumiarsih terdengar seperti tengah menyelidik.
Hanan mengingat-ingat terlebih dahulu runtutan kejadian sebelumnya tadi siang. “Sewaktu di perjalanan dari stasiun kereta, secara tidak sengaja … Hanan bertemu dengan anaknya.”
__ADS_1
“Nona Rose?”
“Iya, Bu. Itu namanya. Rose atau Roos, kalau Hanan tidak salah ingat.”
“Hhhmmm,” deham Sumiarsih pelan.
“Dia jatuh terkilir dari kudanya dan Hanan mengantarkan Nona Roos sampai ke rumah Tuan Guus. Di sanalah kami bertemu tadi siang, Bu,” tutur Hanan menyingkat cerita. “Tapi … mengapa Hanan baru tahu sekarang, kalau Tuan Guus yang memerintah wilayah Desa Kedawung ini, Bu? Bertahun-tahun sebelumnya, Ibu dan Bunga tidak pernah bercerita apa pun tentang keadaan di sini.”
Sumiarsih tersenyum dan mengusap bahu anaknya. “Ibu hanya tidak ingin, fokus belajar anak laki-laki Ibu ini di kota, jadi terpecah, Nak. Ibu pikir, itu tidak terlalu penting untuk kamu ketahui. Ibu hanya ingin, kamu belajar dan belajar sampai selesai, hingga kamu berhasil menjadi seorang dokter seperti sekarang ini. Alhamdulillah. Impian mendiang ayahmu dulu akhirnya terkabul.”
“Alhamdulillah ….”
“Selamat ya, Nak,” imbuh kembali Sumiarsih. “Semoga kamu menjadi orang yang berguna bagi sesama dan tetap teguh menjaga nilai-nilai agama.”
“Aamiin, Bu,” balas Hanan seraya memeluk erat ibunya. “Terima kasih atas jasa-jasa Ibu dan Ayah selama ini. Insyaa Allah, Hanan akan selalu berusaha menerapkan apa yang pernah Ayah dan Ibu wejangkan pada Hanan sejak kecil.”
Beberapa saat kemudian, mereka saling melepaskan pelukan. Terpancar dari wajah ibu dan anak itu, bias kebahagiaan yang tiada tara serta sisa-sisa kerinduan yang masih tergenang di sanubari masing-masing.
“Terus … apa rencanamu selanjutnya, Nak? Kamu akan bergabung dengan pusat kesehatan pemerintah atau ….”
Tukas Hanan dengan cepat, “Hanan ingin mengabdikan hidup Hanan di kampung ini, Bu.” Senyum semringah seketika menyeruak dari wajah wanita terkasih tersebut. “Hanan ingin membantu warga sekitar dan ingin dekat dengan mereka, sebagaimana yang Ayah lakukan dulu di sepanjang hidup beliau.”
“Hanan tidak ingin kembali jauh dari Ibu. Hanan ingin selalu dekat dengan Ibu dan ikut mengurus perkebunan keluarga, Bu,” imbuh Hanan kembali.
“Alhamdulillah ….” desah Sumiarsih semakin merasa bahagia. “Ibu bangga sekali padamu, Nak.”
Untuk kali kedua, mereka saling berpelukan dengan erat dan hangat. Hingga bening air mata itu tidak terasa menganak sungai menyusuri pipi anak-ibu tersebut.
“Sekarang ini, Hanan hanya punya Ibu seorang,” desis anak muda itu tersedu sedan. “Hanan tidak ingin kembali kehilangan masa-masa bersama Ibu. Hanan ingin berbakti pada Ibu, Bu.”
“I-iya … i-iya, Ibu mengerti, Nak,” balas Sumiarsih terbata-bata. “Bersyukur sekali Ibu memiliki kamu, Nak. Alhamdulillah … ya, Allah.”
Lantas keduanya segera menyeka air mata usai melepas kembali pelukan, disertai senyum bahagia yang menguar dari wajah masing-masing.
“O, iya … Hanan hampir lupa,” ucap Hanan setelah sejenak terdiam. “Hanan membawakan sesuatu untuk Ibu. Oleh-oleh dari Jakarta, Bu.”
“Ah, kamu ini, Nak. Padahal Ibu tidak berharap apa-apa dari kamu.”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Bu. Hanan rasa, Ibu pasti akan menyukainya,” kata anak muda tersebut seraya bersiap-siap untuk berdiri. “Mau Hanan bawakan sekarang, Bu?”
“Terserah kamu saja, Nak.”
“Kalau begitu, tunggu sebentar ya, Bu. Hanan akan ambil di kamar.”
“Iya, Nak.”
Hanan bergegas menuju kamar. Namun baru beberapa langkah dari ruang keluarga, dia menemukan sosok Bunga tengah berdiri mematung di balik tembok pembatas ruangan.
“Eneng?” sapa Hanan tidak menyangka kalau gadis tersebut ternyata ada di sana.
“Eh, Aa,” balas Bunga tampak terkejut.
“Apa yang sedang Eneng lakukan di sini?” tanya Hanan terheran-heran. “Mengapa tidak ikut masuk saja tadi, mengobrol dengan aku dan Ibu?”
Bunga menggeleng. “Ah, tidaklah, Aa,” katanya merasa malu karena telah ketahuan ikut mendengarkan obrolan Hanan dan ibunya sejak tadi. “Aku tidak ingin mengganggu Aa dan Ibu. Makanya aku memilih untuk menunggu saja di sini sampai Aa dan Ibu selesai bicara.”
“Iya, Neng. Tapi itu ‘kan tidak sopan namanya. He-he.” Hanan bermaksud mencandai kekasihnya tersebut.
“Maafkan aku atuh kalau begitu, Aa. Aku khilaf.”
“Ya, sudah. Tidak apa-apa,” ujar Hanan akhirnya. “Kamu temani Ibu saja dulu, ya? Aku mau mengambil oleh-oleh untuk Ibu. Eh, sekaligus … oleh-oleh Eneng juga. He-he.”
“He-he. Terima kasih, Aa.”
“Sama-sama, Neng,” balas Hanan. Namun baru saja hendak melanjutkan langkah, tiba-tiba Bunga menahan lajunya. “Ada apa lagi?” tanya anak muda tersebut.
Disertai rasa malu dan ragu, akhirnya Bunga memberanikan diri juga untuk bertanya. “Apa benar, di jalan tadi Aa sempat bertemu dengan Nona Roos?”
Hanan tersenyum. Sebagai lelaki dia langsung mafhum dengan makna pertanyaan kekasihnya tersebut. Jawabnya, “Iya, Neng. Memangnya mengapa?”
“Ah, tidak apa-apa,” jawab Bunga dengan aura wajah sedikit muram.
“Eneng cemburu?” tanya Hanan kembali ingin mencandai.
“Ih, Aa!”
__ADS_1
Bunga langsung cemberut, tapi hal tersebut membuat gadis itu semakin terlihat cantik jelita di mata seorang Hanan.
...BERSAMBUNG...