
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 41...
...—---- o0o —----...
Mang Dirman ditemukan di area istal dalam keadaan pingsan. Lekas Hanan memeriksa begitu melihatnya tergeletak, meraba denyut nadi serta pernapasan. 'Ah, rupanya … hanya tidak sadarkan diri,' gumam anak muda tersebut. 'Tapi … apa ini akibat perkelahiannya tadi siang dengan Ki Praja? Ya, Allah! Aku harus memeriksanya dengan lebih cermat.'
Perlahan-lahan tubuh Mang Dirman dipindahkan ke tempat yang lebih bersih dan nyaman; di atas tumpukan rumput kering. Tidak seberapa jauh dari posisi kuda dan sado yang masih berdiri tegak di sana. Lantas menelentangkan badan laki-laki tua itu, tertidur lurus dan mengganjal area kaki, agar peredaran darah mengalir lancar ke arah kepala.
Hanan melihat-lihat area sekitar untuk mencari-cari bahan yang memiliki bau dan aroma kuat. Namun tidak menemukan apa-apa. Terkecuali sebotol kecil minyak angin yang tersimpan di dalam saku baju Mang Dirman sendiri.
'Aahhh, kebetulan ….' ujarnya kembali usai membaui aroma dari botol kecil tersebut. 'Mudah-mudahan dengan ini, Mang Dirman cepat tersadar.'
Kemudian anak muda itu mendekatkan mulut botol ke dekat lobang hidung Mang Dirman sambil melakukan pijatan-pijatan kecil di sekitar pelipisnya. Tidak berapa lama setelah itu, laki-laki tua tersebut mulai mengerang. Perlahan-lahan kelopak matanya terbuka dan menatap sosok Hanan dengan saksama.
"Den …." panggil Mang Dirman pelan. Hanan tersenyum kecil seraya membalas, "Ah, syukurlah … akhirnya Mamang siuman juga."
"A-apa yang terjadi dengan saya, Den?" tanya Mang Dirman kebingungan sendiri dan berniat untuk bangun, tapi ditahan oleh Hanan.
"Tetaplah berbaring untuk beberapa saat, Mang," kata anak muda itu seraya menutup mulut botol tadi dan memasukkannya kembali ke dalam saku baju Mang Dirman. "Biarkan aliran darahnya lancar terlebih dahulu. Nanti kalau sudah merasa lebih baik, Mamang boleh duduk-duduk untuk sementara waktu."
Laki-laki tua itu mendesah. Sesekali dia mengejap-ngejapkan kelopak mata untuk memperjelas penglihatannya yang masih mengabur. Lantas kembali bertanya lirih, "Apa yang terjadi dengan saya, Den? Mengapa saya—"
"Tadi saya menemukan Mamang jatuh pingsan di sini," tukas Hanan. "Sekarang, istirahatlah dulu. Nanti kita pindah ke dalam rumah, ya?" imbuhnya seraya menepuk-nepuk bahu tua Mang Dirman. "Mamang tunggu sebentar di sini, saya mau melepaskan tali-tali pengikat si Jalu dulu."
__ADS_1
"Jangan, Den!" seru Mang Dirman buru-buru bangkit dari tidurannya. "Biar saya saja yang mengerjakannya!"
"Jangan …." tolak Hanan. "Mamang tiduran saja di situ. Saya bisa kok, melakukannya."
Namun Mang Dirman tetap bersikeras. Dia berusaha bangkit terhuyung-huyung, mendekat ke arah kuda dan sado. "S-saya sudah merasa lebih baik sekarang. Uhuk! Uhuk!" katanya terbatuk-batuk dan sesaat merasakan air ludahnya pun berubah asin dan amis. Pasti bercampur dengan darah akibat luka dalam yang tengah dia derita. Akan tetapi tidak sekalipun ingin mengatakannya pada sosok muda di sana.
Hanan akhirnya membiarkan Mang Dirman membukakan tali-tali kekang yang membelit badan kuda pada kedua balok memanjang di depan sado. Walaupun dengan pijakan kaki lelaki tua tersebut yang masih agak terseok-seok.
"Hanan …." panggil satu suara mendekat secara tiba-tiba, mengejutkan mereka berdua.
Serempak Hanan dan Mang Dirman menoleh ke arah asal suara baru saja dan melihat sesosok perempuan yang sudah begitu mereka kenali.
"Ibu?" kata anak muda tersebut terheran-heran. "Mengapa Ibu menyusul ke sini, Bu?"
"Eh, Juragan …." ucap Mang Dirman seraya membungkukkan badan memberi hormat.
Mang Dirman dan Hanan saling melempar pandangan. Keduanya tidak lekas menjawab, tapi asyik masyuk melepaskan tali-tali pengikat badan si Jalu.
"Sebentar, kami membereskan dulu ini, Bu. Tidak lama, kok," kata Hanan kemudian. "Ibu tunggu saja di dalam rumah. Di sini anginnya dingin sekali, Bu."
Sumiarsih memperhatikan mereka berdua sejenak. Kemudian menimpali, "Ya, sudah kalau begitu. Ibu tunggu kembali di dapur ya, Nak? Jangan lupa, ajak sekalian Mang Dirman untuk makan malam."
"Iya, Bu," balas Hanan sambil melirik pada Mang Dirman. "Sebentar lagi juga ini selesai, kok."
Sumiarsih kembali meninggalkan area istal. Lantas Mang Dirman berkata perlahan pada anak majikannya tersebut, seusai memastikan ibunya Hanan tadi benar-benar sudah menghilang, "Den, apa tidak sebaiknya Aden bertanya-tanya langsung pada Juragan Perempuan, mengenai apa yang kita bicarakan tadi? Mungkin Aden bisa mendapatkan petunjuk yang lebih baik ketimbang mengandalkan cerita dari Ki Sendang Waruk itu."
Hanan mendesah. "Tadi juga, saya berencana begitu, Mang," timpalnya seraya menuntaskan pekerjaan. "Apalagi … tadi Ibu berkata, kalau Tuan Guus sempat berkunjung ke sini, sewaktu kita pergi ke rumah Nèng Bunga."
__ADS_1
"Apa?" Mang Dirman terperanjat. "Benarkah itu, Den? Mau apa dia datang ke sini? Apakah ini ada kaitannya dengan kejadian saya dan si Praja tadi siang itu?"
Jawab Hanan agak ragu-ragu, "Saya sendiri belum bisa memastikannya, Mang. Tapi kedatangan dia ditolak oleh Ibu."
"Ditolak? Maksudnya ditolak bagaimana ya, Den?" Rasa penasaran tiba-tiba menggayuti hati laki-laki tua tersebut.
"Karena saat itu, di rumah sedang tidak ada kita, saya dan Mang Dirman," jawab kembali Hanan tampak sambil berpikir keras. "Tapi … memang sebaiknya begitu. Dari dulu, Ibu tidak pernah mau menerima tamu lelaki manapun, jika di rumah tidak ada Ayah atau laki-laki dari pihak keluarga sendiri."
Mang Dirman manggut-manggut. "Aahhh, saya paham sekali itu, Den," katanya seraya membereskan pekerjaan, memisahkan si Jalu dari badan sado. "Juragan Perempuan memang benar-benar shalihah. Saya kagum sekali pada beliau."
Hanan mendesah. Sesaat dia melirik pada sosok laki-laki tua tersebut. "Mamang mau ikut makan malam bersama kami?" tanyanya kemudian.
Jawab Mang Dirman, "Tidak, Den. Terima kasih. Saya masih merasa kenyang dengan jamuan di rumahnya Nèng Bunga tadi." Dia segera mengajak Hanan untuk segera keluar dari dalam istal dan bermaksud menutup palang pintu. "Sebaiknya, Aden bergegaslah menghampiri Juragan Perempuan. Saya mau sholat Isya dan beristirahat semalaman ini. Uhuk! Uhuk!"
Mang Dirman menelan kembali sisa air ludah yang terasa asin dan amis. Dia tidak ingin kondisinya tersebut diketahui oleh anak majikannya.
Akhirnya Hanan hanya bisa pasrah seraya mengangkat bahu. "Ya, sudah kalau begitu," katanya, tapi merasa senang juga. Karena rencana dia untuk berbincang-bincang dengan ibunya bisa terlaksana tanpa kehadiran Mang Dirman nanti. "Tapi Mamang yakin, tidak ikut makan malam bersama kami?"
Jawab Mang Dirman kembali menegaskan, "Tidak, Den. Terima kasih. Pergunakan saja waktu ini untuk mencari tahu apa yang Aden inginkan selama ini. Saya belum bisa membantu banyak." Dia mengunci palang pintu kandang kuda dengan sebuah kunci besi besar. "Saya permisi ya, Den? Mau beristirahat di kamar belakang. Kalau Aden ada perlu apa-apa, Aden bangunkan saja saya."
"Iya, Mang," balas Hanan seraya melepas kepergian sosok lelaki tua tersebut menuju kamarnya di belakang. Kemudian turut bergegas kembali memasuki rumah, dimana ibunya kini sedang menunggui di meja dapur.
Tanpa mereka berdua sadari, sejak awal ketibaan Hanan dan Mang Dirman di rumah itu, seseorang mengendap-endap di balik kegelapan. Mencuri dengar pembicaraan, setelah sebelumnya melancarkan serangan tersembunyi pada sosok kusir kuda tersebut hingga menyebabkan dia —jatuh— tidak sadarkan diri.
'Hhmmm, tidak banyak yang bisa aku ketahui tentang percakapan mereka,' gumam sosok tersebut tampak kesal. 'Tapi … mencuri dengar perbincangan anak muda dengan ibunya di dalam sana, tentu akan beresiko sendiri. Apakah aku harus turut mengendap ke sana? Ah, si Tua Bangka kusir sado itu malah tidak turut bergabung bersama mereka! Sialan!'
...BERSAMBUNG...
__ADS_1