
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 11...
...------- o0o -------...
“Yaa Allah, Néng,” ujar Hanan seraya menahan gelitik tawanya. Sebagai lelaki, dia tahu bahwa Bunga mungkin sedang dilanda rasa cemburu. “Mengapa Enéng masih mempertanyakan itu?”
Bunga cemberut. “Apa salah kalau aku bertanya seperti itu, Aa?” Balik bertanya gadis itu dengan raut yang kian menggemaskan. Jawab kekasihnya tersebut lembut, “Tentu tidak, Néng. Kekasih Aa ini berhak bertanya apapun padaku. Termasuk yang itu tadi.”
“Terus mengapa tidak langsung dijawab?” Bertambah mungil wajah Bunga dengan bibir mengerucut tipis.
“Ooohh, mau langsung aku jawab? Baiklah,” ucap Hanan kemudian dan melirik ke arah Mang Dirman yang sesekali mendeham menggoda. “Bagi aku, perempuan yang tercantik itu hanya ada dua orang, Néng.”
“Tuh ‘kaaann Aa mah?” rengek Bunga bermanja-manja. “Pasti salah satunya Noni Belanda itu, ‘kan?”
“Duh, sebentar ….” tandas Hanan. “Aku belum selesai menjawab, Néng Cantik.”
“Dih, Aa.” Kulit pipi Bunga seketika berubah warna begitu mendengar ucapan kekasihnya yang terakhir itu. “Terus siapa-siapa saja?”
Hanan tersenyum manis, menambah ketampanannya sebagai seorang anak muda. “Yang pertama itu adalah ibuku sendiri,” jawabnya sengaja memperlambat bicara agar Bunga menanti-nanti.
“Terus yang kedua?” tanya gadis itu tidak sabar.
“Néng mau tahu yang kedua?” Hanan sengaja menggoda dan langsung diangguki oleh kekasihnya tersebut. “Yang kedua itu … sudah pasti … bukanlah Mang Dirman. Ha-ha!”
“Ha-ha-ha!” Sosok tua yang sedang memegang kendali sado itu turut tertawa terbahak-bahak.
“Dih, Aa mah,” rengek kembali Bunga semakin menggemaskan dan membuat Hanan kian bersemangat untuk terus mencandainya. “Yang kedua itu pasti Nona Roos, ya?”
“Tentu bukan, Geulis,” timpal Hanan. “Bagiku, Enéng lebih cantik dari perempuan manapun, terkecuali ibuku sendiri.”
“Bohong ….”
“Kalau aku berbohong, pasti surat-surat itu tidak akan aku alamatkan untuk Néng Bunga, tapi untuk anaknya Tuan Guus. He-he.”
“Ih, Aa!”
“Lagipula, mengapa Néng bertanya seperti itu?” tanya Hanan lebih lanjut. “Apa karena Néng mendengarkan obrolan aku dan Ibu tadi?”
Bunga tertunduk malu. Sisa rona di pipi gadis itu masih tampak membekas. “Aku hanya merasa penasaran saja dengan cerita kamu tadi, Aa,” jawabnya terdengar lirih.
“Oh, begitu?” Hanan manggut-manggut. “Aku tidak sengaja bertemu dengan Nona Roos di tengah jalan. Dia terjatuh dari kuda dan tidak bisa pulang. Maka dari, aku antar putri Tuan Guus itu pulang sampai ke rumahnya.” Dia melirik pada Mang Dirman. “Kalau Néng tidak percaya, Néng bisa bertanya pada Mang Dirman. Begitu bukan, Mang?”
Jawab Mang Dirman seraya menoleh sebentar, “Benar, Néng Bunga. Kami merasa kasihan saja kalau tidak sampai menolong Nona Roos pada saat itu. Masa ditinggal begitu saja, sih? He-he.”
“Nah, Néng sudah dengar ‘kan, apa yang Mang Dirman ucapkan barusan?” Hanan ingin meyakinkan hati Bunga.
Bunga mengangguk perlahan.
“Sekarang Néng mau bertanya apa lagi?”
Gadis itu menggelengkan kepala. Dia sudah mulai tersenyum kembali dengan cantiknya. “Aku hanya mengkhawatirkan tentangmu, Aa,” ucap Bunga.
“Khawatir tentang apa?” Anak muda tersebut sudah bisa memastikan apa yang akan dibahas oleh kekasihnya tersebut. Intinya, dia hanya sedang dilanda rasa cemburu belaka. “Khawatir hatiku direbut perempuan lain? Ada tuh, Néng. Aku jatuh cinta pada Ceu Odah, Ceu Enok, dan Ceu Ijah. Hi-hi-hi.”
“Ha-ha-ha!” Mang Dirman kembali tergelak-gelak di atas bangku kusir.
“Ih, Aa mah heureuy waé,” seru Bunga seraya mencubit lengan Hanan. “Sebal!”
Towet!
“Aduh, sakit sekali, Néng,” ringis Hanan pura-pura kesakitan.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”
Mang Dirman kembali terbatuk-batuk palsu. ‘Gusti Nu Agung … saya jadi ingin kembali muda,’ membatin sosok tua tersebut dan mendadak teringat pada mendiang istrinya.
“Insyaa Allah, Néng,” imbuh Hanan kembali. “Aku tidak akan mungkin berpindah hati selain hanya dengan Enéng.” Dia menatap mata Bunga dengan bias penuh cinta. “Kita sudah dijodohkan oleh kedua orangtua kita dari sejak kecil dan aku sangat mencintai Enéng dari dulu hingga sekarang. Aku tidak mungkin mengkhianati janji, karena almarhum Ayah sudah mewanti-wanti sewaktu beliau masih hidup.”
Bunga tertunduk.
“Néng percaya ‘kan pada Aa?” tanya Hanan.
Gadis itu mengangguk.
__ADS_1
Imbuh kembali Hanan menegaskan, “Insyaa Allah juga … kalau semuanya sudah siap, kita akan segera menikah, Néng. Makanya untuk sementara, kita mesti bersabar terlebih dahulu. Lagipula, aku juga ‘kan baru lulus menjalani pendidikan. Aku ingin mengamalkan ilmu yang ada ini, untuk melayani dan berbakti kepada masyarakat.”
“Aku percaya pada kamu, Aa,” ucap Bunga akhirnya.
“Makanya, Néng jangan cemburu terus.”
“Iya, Aa. Maafkan aku, ya.”
“Iya, tidak apa-apa. Kalau Néng cemburu, berarti itu tandanya kamu benar-benar cinta padaku.”
“Aa!”
Towet!
“Aaahhh … sakit sekali, Néng! Hi-hi-hi!”
Bunga mencibir dengan gaya manja. Kemudian kedua insan muda-mudi itu pun saling melempar senyum malu-malu.
Suasana pun berubah ceria dan tidak lagi kaku seperti mulanya. Hanan dan Bunga saling berbicara dipenuhi canda serta tawa. Kerinduan setelah sekian lama dipendam, terobati sepenuhnya di kala itu. Seakan mengulang kembali masa-masa dulu saat mereka masih belia.
“Mang, kita lihat-lihat kebun sebelum pulang, ya?” ujar Hanan beberapa waktu kemudian. “Saya ingin jalan-jalan sebentar di sana.”
“Iya, Den,” jawab Mang Dirman patuh.
“Dulu … Ayah sering sekali mengajak saya ke kebun,” tutur Hanan mengenang masa lalunya. “Belajar memetik dan memanen rempah-rempah yang sudah matang.”
“Tapi sekarang, saung yang ada di perkebunan sebelah wetan itu sudah tidak ada, Den,” ungkap Mang Dirman memberitahu.
“Loh, memangnya mengapa, Mang? Waktu saya belum berangkat ke Jakarta, saung itu masih ada.” Alis Hanan terangkat naik.
“Iya, tapi beberapa bulan setelah itu, saung yang di sana terbakar, Den.”
“Terbakar? Mengapa bisa begitu?”
“Saya sendiri tidak tahu, Den,” jawab Mang Dirman. “Nah, setelah kejadian itu, Juragan ayahnya Aden … jatuh sakit.”
“Iya, kalau soal itu saya tahu. Sebelum tilar dunia, Ayah memang sempat beberapa minggu menderita sakit,” ujar Hanan spontan teringat pada masa-masa itu. Dia masih harus tetap menjalani pendidikan dan tidak bisa turut serta mendampingi almarhum Juanda di saat-saat terakhir hidupnya. “Tapi mengenai saung terbakar itu, tidak ada satu pun yang bicara. Bahkan sampai saya berangkat lagi ke Jakarta. Aneh ….”
“Tidak tahu, Den,” timpal Mang Dirman. “Pokoknya setelah kejadian itu, di kampung ini banyak sekali kejadian-kejadian yang serba mendadak.”
“Tidak ada apa-apa,” jawab gadis tersebut seraya menggeleng-geleng. “Apa tidak sebaiknya kita tunda saja perjalanan ke kebun milik keluarga kamu ini, Aa? Setidaknya jangan menjelang sore seperti sekarang. Mungkin besok pagi atau siangnya.”
“Loh, memangnya mengapa? Hari ini belum begitu petang, kok,” ujar Hanan langsung benaknya bertanya-tanya. “Terus mengenai kejadian yang serba mendadak menurut Mang Dirman tadi, maksudnya apa ya, Mang?”
“Soal itu, nanti saja kita bicarakan di rumah, Den,” jawab Mang Dirman seraya melihat-lihat keadaan di sekeliling tempat tersebut. “Tapi menurut saya, ada betulnya apa yang diucapkan oleh Néng Bunga tadi. Sebaiknya kita kembali pulang saja, Den. Khawatirnya, kita pulang mendekati waktu petang.”
“Hanya sebentar saja, Mang. Saya hanya ingin melihat-lihat sejenak.”
“Baik, Den.”
Kemudian sado pun melaju agak cepat menuju jalan yang mengarah ke area perkebunan milik almarhum Juragan Juanda. Begitu tiba di sana, Hanan langsung turun dan menatap ke sekeliling luasnya tanah tersebut. Tampak sekali berbeda. Seperti kurang terurus dan banyak ditumbuhi rumput-rumput tinggi.
“Ya, Allah!” seru anak muda tersebut terheran-heran. “Bagaimana ini bisa terjadi? Dulu perkebunan ini begitu asri tertata dengan rapi. Jarang sekali Ayah membiarkan ilalang tumbuh liar memenuhi tanah ini.”
“Memang keadaannya sekarang seperti ini, Den,” timpal Mang Dirman begitu turun bersama Bunga dari atas sado.
“Terus … para pekerja di perkebunan ini sekarang ke mana, Mang? Apakah mereka sudah tidak lagi bekerja di sini atau―”
“Mereka berpindah bekerja di perkebunannya Tuan Guus, Den,” jawab Mang Dirman agak tercekat.
“Apa? Sejak kapan?” Hanan terkejut.
Sebelum menjawab, Mang Dirman melirik terlebih dahulu ke arah Bunga. “Sejak perkebunan ini terbengkalai dan tidak lagi bisa menghasilkan, Den.”
Kening Hanan berkerut hebat mendengar penuturan sosok tua tersebut. “Mengapa bisa begitu? Saya tidak mengerti sama sekali dan ini baru saya dengar sejak meninggalkan kampung ini dulu,” katanya seraya menggeleng-geleng tidak percaya. “Ibu sendiri tidak pernah bercerita apapun mengenai ini. Saya pikir, semuanya baik-baik saja setelah ditinggal Ayah dulu.”
Hanan kembali memerhatikan area perkebunannya.
“Sebaiknya kita pulang―”
Tukas Hanan dengan cepat sebelum Mang Dirman selesai berbicara, “Sebentar, Mang. Saya melihat seperti ada orang di sana.”
“Di mana, Den?” tanya Mang Dirman langsung merasa was-was. Begitupun dengan Bunga.
“Itu! Di sana! Di dekat pohon nangka itu!”
“Mungkin babi hutan, Den. Sebaiknya kita―”
__ADS_1
“Tidak! Saya harus memastikan dulu, apakah itu binatang hutan atau manusia.”
“Jangan, Den! Berbahaya!”
“Aa, jangan!”
Percuma saja, usai menitipkan Bunga pada Mang Dirman, pemuda itu segera bergegas mendekati tempat yang ditunjuk tadi. Dia mengendap-endap sendiri di antara rimbunan rumput ilalang tinggi.
“Yaa Allah, Mamang! Bagaimana ini?” ucap Bunga merasa khawatir.
“Sebaiknya Néng Bunga cepat-cepat naik ke atas sado sekarang juga,” titah Mang Dirman buru-buru meminta pada gadis tersebut.
“Tapi Mang, Aa Hanan―”
“Cepat naik, Néng!”
Bunga bergegas naik kembali ke atas sado. Hatinya diliputi rasa was-was yang teramat besar. Dia sangat mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya.
Di saat-saat itulah, terdengar teriakan seseorang dari kejauhan. “Hei, siapa kalian? Jangan kabur!”
“Den Hanan!”
...BERSAMBUNG...
Keterangan kata :
Mah : imbuhan yang bermakna ‘sih’, ‘ini’, atau juga ‘itu’.
Geulis : cantik
Heureuy : bercanda
Waé : terus (sesuatu yang ditambah atau diulang-ulang)
Gusti Nu Agung : Tuhan Yang Mahakuasa
Saung : gubuk
Wétan : timur
Tilar dunia : meninggal dunia
__ADS_1