
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 7...
...------- o0o -------...
Perlahan-lahan laju sado melambat begitu memasuki halaman sebuah rumah yang cukup besar dan tampak megah. Diikuti suara ringkik kuda, seakan-akan memberitahukan kepada para penghuni di dalam bahwa sosok yang mereka nanti-nantikan sejak tadi, kini sudah tiba di sana.
Tidak berapa lama, muncul beberapa perempuan dari dalam rumah, berhamburan disertai senyum semringah, datang menyambut berseri-seri.
“Hanan ….” panggil sosok tua yang tidak lain adalah Sumiarsih, ibu kandung Hanan sendiri.
Anak muda itu langsung menoleh dan bergegas turun dari atas sado. “Ibuuu ….” Tergesa-gesa dia berjalan dan memburu peluk wanita yang selama ini dirindukannya. “Assalamu’alaikum, Ibu,” sapa Hanan seraya menciumi kedua pipi Sumiarsih dengan penuh kasih. Tidak lupa memberi salam takzim di telapak dan punggung tangan ibunya.
“Wa’alaikumussalaam, Hanan anakku,” balas Sumiarsih tidak kuasa menahan genangan air mata kerinduan terhadap sosok putra semata wayangnya tersebut. “Lama sekali kamu tiba, Nak. Ibu sangat mengkhawatirkanmu.”
Hanan tersenyum dan dengan lembut mengusap lelehan air mata yang menyusuri pipi tua ibunya. “Ada sesuatu yang Hanan hadapi sewaktu di perjalanan tadi, Bu. Nanti akan Hanan ceritakan pada Ibu,” jawab anak muda tersebut seraya kembali memeluk Sumiarsih. “Bagaimana kabar Ibu selama Hanan tinggal pergi, Bu?”
“Alhamdulillah, Nak. Ibu baik-baik saja,” jawab wanita tua itu lemah lembut. “Ada banyak orang-orang baik yang selalu menemani Ibu selama kamu tinggal di Jakarta, Nak.”
Sumiarsih menunjukkan sosok-sosok yang ikut berdiri —menyambut kedatangan Hanan— di belakangnya. Ada Odah, Enok, Ijah, dan tidak ketinggalan pula seorang perempuan muda nan cantik, Bunga.
“Eh, ada Eneng juga ….” ucap Hanan berpura-pura baru menyadari keberadaan Bunga di sana. Padahal sejak awal menginjakkan kaki di beranda rumah, mata anak muda tersebut tidak lekang perhatiannya dari sosok satu tersebut.
Balas Bunga disertai senyuman manis dan malu-malu bercampur rindu, “Muhun, Aa.” Dia menunduk seraya mengangkat kedua telapak tangan yang direkatkan di depan dada dan menurunkan sedikit tubuhnya. “Assalaamu’alaikum … sampurasun … Wilujeng sumping deui di kampung halaman ini, Aa Hanan.”
Balas Hanan sambil mengikuti gerakan Bunga baru saja, “Wa’alaikumussalaam … rampes, Neng. Hatur nuhun.”
Beberapa saat keduanya saling bertatapan —tanpa sadar diperhatikan dengan saksama oleh sosok-sosok yang berada di sana— seakan-akan ingin sekali menumpahkan rasa rindu yang sekian lama mereka pendam.
Bisik-bisik kecil dan deham dari Odah, Ijah, serta Enok, seketika menyadarkan kedua insan muda tersebut. Kemudian Hanan dan Bunga segera menyudahinya disertai senyum malu.
“O, iya … hampir saja saya lupa,” ujar Hanan segera mengalihkan perhatiannya pada ketiga sosok yang berdiri di belakang Sumiarsih dan Bunga. “Ada Ceu Odah, Ceu Enok, dan juga Ceu Ijah di sini. Assalaamu’alaikum semua. Mohon maaf, ya. Duh, sampai tidak engeuh sayanya. Hampunten pisan. He-he-he.”
“Ah, Den Hanan ini … saya kira, Aden sudah melupakan kami, Den,” ucap Enok merasa senang sekali jika anak majikannya tersebut ternyata masih mengenali mereka.
“Maklumlah, Ceu, ‘kan Den Hanan harus mengingat-ingat dulu siapa kita,” timpal Ijah seraya tersenyum-senyum sendiri, menatap paras Hanan yang tampak begitu tampan dan gagah.
Odah turut bersuara, “Betul, Euceu-Euceu. Apalagi ada Neng Bunga di sini. Ya, pastinya … apalah arti kita-kita ini bagi Den Hanan. Iya ‘kan, Den?”
Ijah yang berdiri persis di samping Odah, mencolek pinggang perempuan itu diiringi sorot mata melotot. “Ih, kalau bicara itu harus tahu situasi atuh, Ceu! Jangan asal padu heuay saja.”
“Tahu ini Ceu Odah,” imbuh Ijah menggerutu.
Hanan tersenyum dikulum. Dia merasa lucu melihat ketiga sosok perempuan yang sudah lama mengabdikan hidup di rumah keluarganya tersebut.
“Tidaklah begitu adanya,” kata laki-laki tersebut masih disertai ulasan senyumnya. “Bagi saya pribadi, Ceu Odah, Ceu Ijah, dan Ceu Enok ini adalah orang-orang yang sangat berjasa. Kami sekeluarga banyak berutang budi pada Euceu-euceu ini. Sudah membantu merawat saya sejak kecil dan juga membantu Ibu saya selama ditinggal ke Jakarta.”
“Aaaahh … Aden ini,” timpal Odah dengan sikap agak manja. “Justru kami-kami inilah yang seharusnya berterima kasih pada keluarga Juragan dan Aden. Karena selama itu pula, kehidupan kami jadi terbantu dengan bekerja di sini.” Dia menoleh pada kedua temannya. “Iya tidak, Ceu Ijah-Ceu Enok?”
“Iya, betul,” jawab Enok.
Lain hal dengan Ijah, dia malah sibuk menggerutu sambil mengelap-elap pipi sendiri. “Iya sih, iya … tapi muka saya jangan dikasih hujan lokal terus dong, Ceu Odah,” kata Ijah sambil beringsut menjauhi sosok Odah. Sebentar kemudian dia menyeringai jijik begitu mendekatkan tangan bekas menyeka tadi pada lobang hidungnya.
Semua yang ada di sana spontan tertawa-tawa melihat perilaku ketiga pembantu rumah tangga keluarga Sumiarsih tersebut. Tidak terkecuali Mang Dirman yang baru saja membawakan koper-koper milik Hanan.
“Astaghfirullah, hampir saja saya lupa,” seru Hanan begitu melihat Mang Dirman menaruh koper miliknya. “Untuk Ceu Odah, Ceu Ijah, dan Ceu Enok … saya membawa oleh-oleh khas dari Jakarta.”
__ADS_1
“O, iya?”
“Ah, masa sih, Den?”
“Waahhh, Alhamdulillah ….”
“Tapi nanti saja di dalam, ya?” ucap Hanan begitu mendapat isyarat dari ibunya, Sumiarsih. “Kita berkumpul di dalam rumah dan sepertinya … Ibu sudah memasak sesuatu yang istimewa hari ini. Benar ‘kan, Bu?”
Sumiarsih mengangguk. “Istirahatlah dulu, Nak. Kamu pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh dari Jakarta,” kata wanita tua tersebut. “Ibu memang sudah mempersiapkan makanan kesukaanmu. Ayo, kita masuk.”
“Baik, Bu,” jawab Hanan.
Sumiarsih bergegas masuk ke dalam rumah, diikuti oleh ketiga pembantu rumah tangganya.
“Jangan diangkut semua, Mang,” cegah Hanan pada Mang Dirman. “Biar sebagian saya yang bawa ke dalam.”
“Tidak usah, Den. Saya sanggup bawa semuanya, kok,” balas Mang Dirman bersikukuh. Namun dari gurat urat yang menonjol di lengan tuanya, tidak bisa menampikkan bahwa dia cukup kepayahan untuk mengangkat semua secara sekaligus.
“Sudahlah. Mamang bawa saja yang agak ringan itu. Biar koper yang besar dan berat itu, saya yang bawa ke dalam nanti.”
Mang Dirman akhirnya menyerah. Setelah mengangguk dan membungkukkan badan, lelaki tua itu bergegas membawakan sebagian koper ke dalam rumah. Tinggal kini Hanan dan Bunga berdua yang berada di sana.
“Tenang saja, Neng,” kata Hanan sebelum mereka mengikuti langkah Mang Dirman tadi. “Aku juga membawakan sesuatu yang khusus untuk Eneng.”
“Apa itu, A?” tanya Bunga penasaran.
“Rahasia, dong. Masa dikasih tahu sekarang? Nanti namanya bukan lagi kejutan atuh? He-he-he.”
“Dih, Aa mah,” rengek Bunga manja. Tampak sekali binar-binar kerinduan itu masih begitu jelas mengendap di hati gadis tersebut. Sekian tahun berpisah dan hanya bisa berbicara melalui sepucuk surat. Itu pun hanya beberapa kali dalam sebulan.
“Kita masuk dulu yuk, Neng,” ajak Hanan kemudian.
“Aku juga tadi bantu-bantu menyiapkan makanan kesukaan Aa.”
“Rahasia, dong. Masa dikasih tahu sekarang? Nanti namanya bukan lagi kejutan atuh, Aa? He-he-he,” jawab Bunga sengaja menirukan kalimat ucapan Hanan sebelumnya.
“Ha-ha. Eneng bisa saja.”
...BERSAMBUNG...
Keterangan :
Eneng \= Adik (panggilan kepada perempuan Sunda)
Muhun \= Iya
Aa \= Abang/Kakak (panggilan kepada laki-laki Sunda)
__ADS_1
Sampurasun \= Sapaan khas orang Sunda
Wilujeng sumping deui \= Selamat datang kembali
Rampes \= Sama-sama (jawaban dari kalimat sapaan ‘sampurasun’ tadi)
Hatur nuhun \= Terima kasih
Engeuh \= Sadar/Menyadari
Hampunten pisan \= Mohon maaf sekali
Ceu/Euceu \= Kakak (panggilan kepada perempuan Sunda yang dituakan)
Atuh \= dong (imbuhan)
Padu heuay \= Asal bicara
Mah \= Sih (imbuhan)
__ADS_1