Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 37


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 37...


...—---- o0o —----...


Sado dipacu dengan cepat. Menyusuri jalanan tanah kering berdebu hingga menyisakan kepulan disepanjang laju. Mang Dirman sendiri enggan bertanya-tanya lebih jauh. Dia hanya menuruti perintah Juragan Juanda untuk segera tiba di rumah secepat mungkin. Bahkan begitu turun di halaman kediaman, laki-laki tua gagah tersebut tidak sempat mengucapkan sepatah katapun. Bergegas menemui Sumiarsih, istrinya.


'Ya, Allah … ada apa ini sebenarnya?' Bertanya-tanya kembali Mang Dirman seraya memperhatikan sosok majikannya yang tampak tergesa-gesa memasuki rumah. 'Apakah ini berkaitan dengan pertemuan Juragan tadi dengan … dengan … ah, siapa tadi namanya? Tuan … Tuan … oohh, Tuan Guus!'


Segera sosok kusir tersebut mengamankan sado di belakang area rumah, sekalian hendak membuat segelas kopi.


"Tidak seperti biasanya Mamang pulang lebih awal?" tanya Ceu Odah begitu laki-laki itu masuk ke dalam dapur. "Dengan Juragan Laki-laki juga, Mang?"


"Iya," jawab Mang Dirman pendek. 


"Bekas bekal makanan tadi mana, Mang?" tanya kembali Ceu Odah terheran-heran melihat Mang Dirman muncul dengan tangan hampa.


Sambil membuat minuman kopi, laki-laki tua tersebut menjawab, "Masih di saung, Ceu. Tadi diberikan untuk para pekerja kebun."


Ceu Odah mengerutkan kening. "Loh, mengapa tidak sekalian dibawa lagi?"


Mang Dirman mendengkus sejenak, lalu menjawab kembali, "Juragan sendiri belum sempat makan. Beliau terburu-buru mengajak saya pulang tadi. Makanya saya jadi tidak sempat membawa bekas peralatannya."


Ceu Ijah dan Ceu Enok yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka, spontan menoleh ke arah Mang Dirman. "Belum sempat makan siang?" tanya salah satu dari keduanya. "Jadi Juragan Laki-laki belum makan, dong?"


Ceu Odah melirik sesaat pada kedua temannya, lantas lanjut bertanya penuh penasaran, "Ada apa sih, sebenarnya, Mang? Juragan tidak suka dengan hasil masakan kami bertiga?"


Mang Dirman tidak lekas menjawab. Dia sibuk mengucek air kopinya hingga beberapa putaran. Lantas berkata setelah sekian saat, "Tidak … bukan karena itu."


"Lalu?" Ceu Odah kian dibuat penasaran.


Tutur Mang Dirman menceritakan kembali apa yang dia saksikan dan dengarkan tadi di perkebunan, " … Namanya Tuan Guus. Dia itu orang yang menggantikan Tuan Hansen."


Ceu Odah, Ceu Ijah, dan Ceu Enok saling berpandangan. Sampai kemudian seorang di antara ketiganya berkata, "Kedengarannya tidak ada yang aneh. Tapi kalau memang itu alasannya, lalu mengapa Juragan Laki-laki harus buru-buru pulang dan … bersikap tidak biasa, seperti kata Mamang baru saja?"


"Entahlah. Itu hanya perasaan saya, kok. Mengenai benar atau tidaknya, saya sendiri belum yakin," timpal Mang Dirman usai menuangkan sedikit isi gelas ke dalam wadah pisin, ditiup-tiup, kemudian diseruput perlahan-lahan dengan penuh kenikmatan.

__ADS_1


Ceu Odah mengetuk-ngetuk bibir dengan jari telunjuk, seperti tengah berpikir dan mengingat-ingat. "Apa mungkin … ini ada kaitannya dengan masalah Juragan Perempuan yang dulu-dulu itu, ya?" ujarnya tidak sadar. 


Serentak Ceu Ijah dan Ceu Enok, juga Mang Dirman, menoleh ke arah sosok perempuan tersebut. "Memangnya ada apa, Ceu?" tanya sosok kusir itu balik bertanya. "Ceu Odah 'kan, satu kampung dengan tempat kelahiran Juragan Perempuan. Sedangkan Juragan Laki-laki, asli orang Kampung Sundawenang. Jadi … sedikit banyaknya, saya juga pernah tahu mengenai beliau di masa mudanya."


"Ah, saya juga sama-sama tidak tahu banyak, Mang," balas Ceu Odah buru-buru mengelak. "Maklumlah, Juragan Perempuan 'kan, anak seorang pembesar di kampung saya dulu. Sedangkan saya, hanya warga biasa saja, Mang."


"Tapi setidaknya Euceu juga pasti tahu walau cuma sedikit-sedikit, dong," ujar Mang Dirman mendesak.


Ceu Odah melirik sesaat pada ketiganya. Tampak agak segan perempuan itu berkisah. Namun karena merasa terlanjur sudah berkata-kata tadi, mau tidak mau dia pun mulai bertutur. Menurutnya, "Kalau tidak salah, dulu Juragan Sumiarsih … pernah mau dilamar oleh seseorang. Laki-laki Belanda. Tapi … beberapa bulan setelah itu, saya dengar … Juragan Perempuan malah memutuskan untuk menikah dengan Juragan Juanda."


"Laki-laki Belanda? Siapa namanya, Ceu?" Kali ini yang bertanya adalah Ceu Ijah. 


Jawab Ceu Odah sambil berpikir keras, "Saya tidak tahu namanya. Rupa orangnya pun sama sekali belum pernah melihat. Karena saya cuma mendengar cerita dari orang-orang saja."


Timpal Ceu Enok tiba-tiba, "Apa mungkin laki-laki Belanda itu yang tadi namanya … namanya … siapa namanya tadi, Mang?" Dia melirik ke arah Mang Dirman.


"Tuan Guus," jawab kusir sado tersebut. 


"Nah, itu! Tuan Agus!" seru Ceu Enok keras 


"Tuan Guus, Ceu. Bukan Tuan Agus," ralat Mang Dirman sembari memanyunkan bibir.


"Iyaa … iya, Mang! Cuma beda satu huruf saja, kok," sungut Ceu Enok langsung cemberut. "Terus … bagaimana kelanjutannya tadi, Ceu?" tanyanya masih penasaran pada Ceu Odah. "Mengapa Juragan Sumiarsih menolak lamaran laki-laki Belanda itu? Memangnya Juragan Juanda lebih tampan, ya? Hi-hi."


Jawab Ceu Odah, "Ya tidak tahu! Kok, tanya saya? Tanya saja sendiri pada Juragan Perempuan!"


"Hi-hi-hi!" Ceu Ijah kembali terkikik-kikik.


Mang Dirman mendelik. "Huss, kalian ini! Kalau bicara perihal laki-laki saja, langsung kalian ha-ha hi-hi seperti itu!"


Bukannya terdiam, ketiga perempuan itu tambah ramai tertawa-tawa.


"Mau bagaimana lagi, Mang, orang Juragan Juanda itu 'kan, memang masih terlihat tampan di usianya sekarang," timpal Ceu Odah usai berhenti tertawa. "Apalagi itu, tuh … Den Hanan yang sekarang ada di Jakarta. Wuih, sanggup membuat hati perempuan sekampung ini berharap siang-malam. Hi-hi."


Raut wajah Mang Dirman makin terlihat keruh.


"Hati-hati ya kalian bertiga," ujar laki-laki tua tersebut mengingatkan. "Den Hanan itu sudah dijodohkan dengan Nèng Bunga. Jadi kalian jaga sikap. Jangan terlihat gatal seperti itu."


"Iyalah paham, Mang," sahut Ceu Enok di sela-sela cekikikan mereka. "Terus … kalau gatalnya pada Mamang sendiri, bagaimana?"

__ADS_1


Balas Mang Dirman galak, "Tidak usah! Saya masih setia pada istri, walaupun sudah lama menduda!"


"Atuuhhh … siapa yang mau menggoda Mamang? Hi-hi-hi!" kata Ceu Ijah mencandai.


"Kalian ini …." rutuk Mang Dirman seraya meninggalkan ruangan dapur. Membawa sisa minuman kopi tadi dan lebih memilih untuk duduk-duduk di atas balai di luar. Namun pikirannya masih tertuju pada obrolan Juragan Juanda dengan Tuan Guus Van Der Kruk di perkebunan sebelumnya.


Sebagai orang yang baru bergabung dengan keluarga Juragan Juanda usai menikahi Juragan Sumiarsih dulu, tidak banyak hal yang dia ketahui mengenai masa lalu sosok kedua majikannya tersebut. Namun kejadian di perkebunan tadi, setidaknya meninggalkan jejak penasaran tersendiri di dalam hatinya. Apakah sebenarnya yang sedang terjadi.


Setahu Mang Dirman, Juragan Juanda hanya memiliki hubungan baik dengan Tuan Hansen. Bahkan karena urusan lahan perkebunan yang dimiliki oleh majikannya itu, Tuan Hansen sengaja membangun sebuah bendungan irigasi untuk membantu mengairi area pesawahan warga sekitar. Tidak seperti sosok penguasa Belanda lainnya, Tuan Hansen begitu dekat dengan penduduk pribumi ketimbang menjadi kepanjangan tangan pemerintah penjajah. Mungkinkah karena alasan itu pula, tugas sosok yang satu itu tidak bertahan lama? Tidak sampai tiga tahun, kini harus berganti dengan kemunculan Tuan Guus.


'Tuan Guus?' pikir Mang Dirman sembari duduk-duduk mencari angin segar di luar belakang ruangan dapur. 'Apakah laki-laki Belanda yang dimaksud oleh Ceu Odah tadi, ya? Jika ini hanya sebatas masa lalu di waktu muda dulu, mengapa Juragan Juanda tampak seperti tengah mengkhawatirkan Juragan Sumiarsih?' Dia mengetuk-ngetuk kepala, tanda sedang berpikir keras. 'Dari suara obrolan mereka berdua (Juragan Juanda dan Tuan Guus) tadi, aku merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres. Mungkin saja sebuah masalah yang belum tuntas atau tertuntaskan?'


Sedang asyik masyuk menduga-duga, tiba-tiba muncul Juragan Juanda menghampiri. "Mang, antar saya ke rumah Ki Panca sekarang, ya?"


Mang Dirman menoleh kaget. "I-iya, Juragan!" jawabnya terperanjat, seraya memperhatikan raut wajah majikannya yang terlihat kusut. "Tapi saya belum sholat Dzuhur, Juragan."


"Ya, sudah. Segeralah tunaikan sholat dulu. Setelah itu, kita berangkat sesegera mungkin ke sana," ujar Juragan Juanda datar.


"B-baik, Juragan," timpal sosok kusir sado tersebut, lekas-lekas memburu air wudhu di belakang rumah. 


Juragan Juanda sendiri langsung masuk kembali dengan wajah datar. Bahkan tidak sampai menoleh ke arah ketiga pekerja perempuan di dalam dapur yang melongo memperhatikan sikap majikan mereka.


"Ssttt … Juragan Laki-laki sedang marah sepertinya," bisik Ceu Enok pada kedua temannya.


Balas Ceu Ijah dengan cepat, "Hus, mana pernah Juragan Laki-laki marah-marah tidak jelas? Selama ini dia orangnya baik dan ramah, kok."


"Tahu nih, Ceu Enok," timpal Ceu Odah. "Sembarangan saja kalau bicara. Awas, nanti bisa jadi fitnah, loh."


Ceu Ijah yang duduk persis di samping Ceu Odah, langsung beringsut menjauh sambil mengelap wajah. Terkena cipratan air ludah. 'Ih, bau ….' kata perempuan tersebut begitu mendekatkan telapak tangan ke hidung.


...BERSAMBUNG...


Keterangan Kata :



Atuh : Lagipula.


__ADS_1


__ADS_2