Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 50


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 50...


...—---- o0o —----...


Beberapa bulan setelah mendengar Sumiarsih menikah dengan Juanda, Guus Van Der Kruk memutuskan untuk pulang kembali ke negeri asalnya, Belanda. Di sana, dia mengenal seorang perempuan lain bernama Eline. Kepada sosok inilah, pelarian cinta lelaki bertubuh tinggi besar tersebut dilabuhkan. Tidak sampai memakan waktu lama, keduanya pun mengucapkan sumpah dan janji setia di altar gereja.


Bukan tanpa alasan, Guus memilih Eline sebagai calon istrinya. Karena perempuan tersebut adalah anak seorang petinggi negeri yang memiliki kekuasaan di sana. Ayah Eline merupakan jenderal militer kerajaan Belanda berpangkat tinggi. Maka tidaklah heran jika karir Guus pun mengalami peningkatan yang cukup pesat.


Sambil menunggu saat-saat yang tepat, diam-diam Guus Van Der Kruk mencari-cari kabar tentang Sumiarsih bersama suaminya, Juanda. Disamping itu, berita tambahan yang didapat adalah bahwa juragan tanah Kampung Sundawenang tersebut, memiliki hubungan kedekatan dengan seorang pejabat wilayah setempat, bernama Hansen. Maka, sambil menyusun stategi tertentu, Guus mengajak Eline untuk berpindah tempat tinggal di negeri jajahan kolonial, yakni Indonesia. Tentu saja semuanya diatur sedemikian rupa atas pengaruh dan jasa sang mertua.


Tiga tahun lamanya atau sewaktu Roosje masih berusia belia, tiba-tiba tersiar kabar bahwa Eline ditemukan mati mengenaskan di pinggiran sebuah hutan. Semua dugaan dan bukti mengarah pada sekelompok orang, termasuk dua di antara mereka adalah ayahnya Sumiarsih dan Hanan sendiri. Mereka berdua diadili, dijebloskan ke dalam penjara, dan kabar terakhir yang diterima pihak keluarga dalam keadaan meninggal dunia.


"Ayahnya Sumiarsih dan Hanan diduga telah membocorkan data rahasia negara kepada para pemberontak (pejuang - Pen) dan membantu pergerakan mereka (kaum pejuang). Hal tersebut sempat dipergoki oleh seorang istri pejabat penting negeri bernama Eline. Kemudian mereka membunuh perempuan itu dan membuang mayatnya di sebuah pinggiran hutan." Begitu kabar yang tersiar di tengah-tengah masyarakat sekitar. Namun tidak pernah disebutkan, siapa nama suami dari korban yang dibunuh tersebut pada saat itu.


Satu hal yang luput dari perhatian sebagian pihak, termasuk dari keluarga Sumiarsih dan Juanda sendiri bahwa ada seseorang yang berdiri kuat di balik rangkaian kisah-kisah licik tersebut, yakni tidak lain adalah lelaki bernama Guus Van Der Kruk.


Dendam kesumat yang dimiliki oleh Guus tidak berhenti sampai di sana. Beberapa tahun kemudian, lelaki berpostur tubuh tinggi besar tersebut mulai mengincar sosok Sumiarsih sendiri. Dengan pengaruh dan kekuatan dari sang mertua, Guus berhasil memutasi Hansen dari kedudukannya di Desa Kedawung. Kemudian setelahnya, barulah dia sendiri yang menggantikan dengan memilih Kampung Sirnagalih sebagai rumah dinas sehari-hari. Tidak lain adalah untuk memudahkan mematai-matai keluarga Juragan Juanda.

__ADS_1


Sejak berkuasa di sana itulah, sedikit demi sedikit, Tuan Guus memperdaya usaha suami dari sang mantan kekasih, Sumiarsih.


Lamunan Tuan Guus seketika buyar saat putri semata wayangnya, Roosje, datang membawakan secangkir teh tawar ke hadapannya.


"Minum dulu, Pa," ujar Roosje mengagetkan. "Sebentar lagi makan siang sudah akan disiapkan," imbuhnya kembali seraya duduk di kursi semula. Berhadapan-hadapan dengan ayahnya untuk melanjutkan obrolan mereka yang sempat terjeda.


"Ah, kamu orang, Roos. Mengejutkan Papa saja," seloroh lelaki tersebut diiringi senyuman lembut sambil menatap wajah sang anak. "Papa sedang asyik mengenang masa-masa lalu Papa dulu dengan Mamamu orang."


Roosje balas tersenyum lembut, lantas menimpali, "Aku pikir, Papa mungkin sedang membayangi kisah cinta Papa dengan itu Mama Hanan. He-he."


Sengaja gadis tersebut menjebak ayahnya dengan kalimat terakhir baru saja dan ternyata itu membuahkan hasil.


"Ah, kamu orang bisa saja, Roos," tepis Tuan Guus sambil menggeser cangkir teh tadi lebih mendekat. "Mana mungkin Papa masih berharap pada itu orang perempuan yang telah mencampakkan Papa dulu. Hati dan cinta Papa ini, hanya teruntuk Eline seorang. Mamamu," imbuh kembali lelaki tersebut tanpa sadar.


Tuan Guus mendelik. "Papa katakan juga itu Sumiarsih hanya seorang teman-kawan saja, Roos. Tidak ada itu yang namanya cinta-cinta. Ha-ha-ha!" Dia tertawa-tawa sendiri bercampur raut masam. "Maka dari itu, sudah selayaknya seorang kawan saling tolong itu orang. Benar 'kan, Roos?" tanya lelaki itu usai berhenti mengakak.


Roosje menyahut lirih, "Benar sekali, Papa. Aku sangat senang, Papa sudah melakukan hal yang sangat bagus."


Gadis itu menatap bias mata ayahnya. Merasa masih ada sesuatu yang mengganjal dan belum terpecahkan di balik suara tawa tadi. 'Mungkinkah Papa masih mengharapkan itu hati Mama Hanan? Sorot mata Papa selama bertemu Sumiarsih tadi, seperti tidak mau lepas dan menyisakan perasaan cinta sejak dulu.'


"Ada satu lagi yang ingin Roos tanyakan pada Papa," imbuh Roosje kembali beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Tanya Tuan Guus, "Apa itu, Roos? Kamu orang ingin mengetahui apa lagi soal masa lalu Papa ini, heh?"


Roosje menggeleng. "Bukan itu, Pa," timpalnya, "tapi mengenai Hanan."


Lelaki baya tersebut mengangkat alis. "Hanan? Ada apa dengan itu anak muda?" Dia mulai berpikir bahwa putrinya tersebut memang menaruh hati pada anak lelaki mantan kekasihnya itu. "Untuk hal itu, kamu meminta ikut ke sana tadi, Roos?"


Sekali lagi Roosje menggelengkan kepala. "Tidak sepenuhnya begitu, Papa," balasnya seraya menghindari tatapan mata ayahnya. "Ini mengenai permohonan penugasan Hanan di Desa Kedawung sebagai tenaga kesehatan."


"Lalu, apa yang menjadi masalahmu, Roos sayang?" tanya Tuan Guus menyelidik. "Bukankah itu bagus? Itu anak muda, anak seorang terpandang di kampung ini. Dengan begitu, akan banyak warga yang datang berobat kelak. Tidak seperti itu mantri tua yang sering kepayahan waktu bekerja. Kehadiran itu orang Hanan, menurut Papa, jelas sangat diperlukan oleh warga setempat, heh."


Roosje mengangguk-angguk, lantas berkata, "Benar sekali, Papa. Tapi bagaimana dengan itu rencana Papa meminta Kervyn nanti bertugas di tempat sama juga, Papa?"


Tuan Guus mengerutkan kening. Sambil berpikir-pikir, lelaki tua tersebut berungkap, "Malah itu lebih bagus, bukan? Ada dua anak muda bertugas melayani warga dan Papa berharap, Kervyn nanti akan semakin dekat dengan ini Roosje anak Papa. He-he-he. Kamu orang pasti sering rindu juga itu Kervyn, 'kan?"


"Ya, aku turut senang sekali, Papa," ucap Roosje dengan anggukkan perlahan. Namun bias matanya seperti menyimpan rasa bimbang dan untuk hal yang satu itu, dia tidak ingin ayahnya tahu.


Jauh di lubuk hatinya, gadis tersebut memang kerap merindukan Kervyn. Anak muda yang dia kenal sebagai sosok terdekat sewaktu masih tinggal di Den Haag. Namun sejak mengenal Hanan, tiba-tiba saja, justru lelaki terakhir inilah yang kerap dirindukan.


'Bagaimana seandainya Papa tahu, bahwa aku pun menyukai Hanan, anaknya Sumiarsih. Sedangkan Mama Hanan itu adalah seseorang yang pernah dekat dengan Papa,' bisiknya di dalam hati. 'Dari sikap Papa sendiri tadi, aku merasa Papa memang masih mencintai itu Mama Hanan. Terus, bagaimana ini nanti, kalau Kervyn benar-benar datang bersama-sama tinggal di sini? Apa aku harus terus berpura-pura mencintai Kervyn? Sementara hatiku sekarang sudah tercuri oleh kehadiran Hanan.'


Apakah Roosje akan menyerah dengan keraguannya sendiri? Tidak. Dia selalu berusaha yakin bahwa apapun yang diinginkan, akan menjadi kenyataan. Termasuk harus memiliki Hanan sekalipun.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2