Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 47


__ADS_3

GAIRAH CINTA NONI BELANDA


Penulis : David Khanz


Bagian 47


—---- o0o —----


Usai duduk berkumpul di ruangan depan dan berbasa-basi seperti biasa, perbincangan selanjutnya disampaikan oleh Tuan Guus kepada Juragan Sumiarsih dan Hanan, terkait kejadian antara Ki Praja dengan Mang Dirman kemarin siang.


"Uummhhh, saya orang pikir itu hanya sebuah kesalahpahaman dan urusan pribadi mereka orang berdua," pungkas lelaki Belanda tersebut di akhir penuturan. "Tapi … saya orang, meminta maaf atas kejadian itu siang kemarin. Kami orang berharap, pihak kalian orang bersedia untuk memaafkan kami kesalahan itu orang Ki Praja."


Hanan dan ibunya sejenak saling berpandangan, lantas melempar senyum pada Tuan Guus dan Nona Roosje. "Jauh sebelum Tuan Guus datang bertamu pun, kami sudah memaklumi dan memaafkan kejadian itu, Tuan-Nona," kata anak muda tersebut, mewakili dari pihak keluarga dan Mang Dirman sendiri. "Kami juga memohon maaf karenanya. Saya dan Ibu saya, sudah membicarakan tentang hal terkait kejadian kemarin siang itu bersama-sama. Hasilnya, yang bersangkutan bisa menerimanya dengan lapang dada. Tapi … kebetulan, saat ini Mang Dirman tidak turut hadir di sini," imbuh kembali putra tunggal mendiang Juragan Juanda itu, "karena beliau sedang menggembalakan kuda kami. Bukannya begitu, Bu?"


Juragan Sumiarsih menjawab singkat, "Betul sekali, Tuan-Nona."


Tuan Guus dan Nona Roosje tersenyum senang mendengar jawaban dari pihak keluarga Juragan Sumiarsih.


"Ah, syukurlah kalau begitu," timpal Tuan Guus masih diiringi tatapan tertentu pada ibunya Hanan tersebut. "Itu yang selalu saya orang kagumi dari kamu orang, Sumiarsih."


"Tapi sekarang, itu Mang Dirman baik-baik saja 'kan, Hanan?" tanya Nona Roosje turut berbicara. Sama halnya dengan Tuan Guus, perempuan ini pun, sejak awal duduk berkumpul di sana, selalu lekat memandangi Hanan. Kekaguman serta deburan rasa cintanya kian terpatri kuat.


"Alhamdulillah, Nona. Mang Dirman sehat. Insyaa Allah," jawab Hanan tidak ingin berterus terang tentang kondisi sebenarnya Mang Dirman. Apalagi terkait semalam, kusir tua keluarganya itu jatuh pingsan. Imbuh anak muda tersebut kemudian, "Tentunya … sebagai salah seorang tenaga kesehatan, saya akan selalu mengurus dan merawat beliau dengan baik."


"Aahhh … saya orang baru ingat itu, Anak Muda!" seru Tuan Guus tiba-tiba usai mendengar ucapan Hanan terakhir baru saja. "Saya sudah tahu dari ini anak saya Roos, kalau kamu orang Hanan … sudah menyelesaikan itu pendidikan kedokteran, heh? Jadi … ini ada kabar bagus juga buat kamu orang Anak Muda, saya pun sudah meminta permohonan kepada pemerintah pusat, supaya kamu orang ditugaskan untuk bertempat kerja di ini wilayah Desa Kedawung."


Hanan dan Juragan Sumiarsih sontak terperangah. "Ah, benarkah itu, Tuan?" tanya lelaki muda tersebut. Padahal, sebelumnya dia pun sudah mengirim surat pengajuan bertugas pada pihak terkait. "Senang sekali kami mendengarnya, Tuan." Dia menoleh ke arah ibunya sebentar, disambut reaksi semringah dari sosok perempuan tersebut.


Jawab Tuan Guus berbangga hati, "Tentu saja, Anak Muda. Mungkin dalam beberapa hari ke depan, kamu orang sudah menerima surat balasan dari pemerintah pusat en saya yakin, itu hasilnya pasti bagus. He-he."

__ADS_1


"Alhamdulillah …." gumam Hanan dan ibunya semakin merasa semringah. Sesenang raut wajah Tuan Guus dan Nona Roosje melihat keduanya. "Terima kasih, Tuan. Kami sangat bahagia. Mudah-mudahan saja, saya benar-benar ditempatkan bertugas di wilayah Desa Kedawung ini."


Balas kembali Tuan Guus meyakinkan, "Ja … wel, kita orang memang butuh tenaga kesehatan di sini, 'kan?" ucapnya disertai senyuman ramah. "Sebab, saya orang pikir itu hal yang paling penting. Saya orang juga melihat, itu petugas kesehatan yang ada sekarang, sudah tua. Itulah maka saya orang langsung meminta itu pada pemerintah pusat, begitu tahu kamu orang anak muda seorang dokter, heh."


"Iya, Tuan, iya. Terima kasih atas perhatian dari Tuan Guus," kata Hanan kembali seraya manggut-manggut senang.


Untuk mencuri perhatian, Roosje pun kembali ikut memberikan masukan. Ungkapnya pada sosok ayahnya tersebut, "Lalu, bagaimana kalau besok Hanan sudah bisa turut bertugas, Papa? Sambil menunggu surat balasan dari itu pemerintah pusat. Apakah itu boleh?"


Lelaki Belanda itu terperangah. Tidak menyangka akan mendapat respons seperti itu dari anaknya. "Aahhh, sebuah gagasan yang bagus sekali, Roos. Papa suka dengan itu kamu orang punya. Wat een goed idee!' puji Tuan Guus.


(Ide yang bagus!)


"Ummhh, tapi Tuan … apa tidak lebih baik menunggu surat penugasan terlebih dahulu. Setidaknya, itu akan mengikuti aturan yang semestinya," ucap Hanan agak keberatan. 


Lagi-lagi Tuan Guus berusaha menonjolkan kewenangannya agar bisa terlihat baik di mata keluarga Juragan Sumiarsih tersebut. Timpalnya dengan cepat, "Tentang perkara itu, kamu orang jangan khawatir, Anak Muda." Dia melirik sesaat pada ibunya Hanan. "Saya orang yang akan menanggung itu tanggung jawab. Hal apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Guus Van Der Kruk, heh? Saya orang pasti akan bisa bantu. Ha-ha. Bukankah begitu, Sumiarsih?"


Raut wajah perempuan itu tampak kaget. Dia melirik terlebih dahulu pada Hanan, anaknya, lalu menjawab perlahan tanpa berkenan membalas tatapan Tuan Guus. "Semua keputusan, saya serahkan pada anak saya, Tuan," katanya perlahan. "Saya percaya, apapun yang Hanan kelak lakukan, pasti untuk kebaikan bersama. Iya 'kan, Nak?"


"Insyaa Allah, Nak. Ibu akan selalu mendoakanmu," balas Juragan Sumiarsih lembut.


Tuan Guus tersenyum-senyum sendiri melihat sikap kedua sosok di depannya tersebut. Dia semakin yakin bahwa perempuan yang selalu dia harapkan itu, akan semakin mempercayainya. Kemudian secara perlahan, bakal membuka hati seperti dulu.


'Hhmmm, tinggal beberapa langkah lagi, aku orang pasti akan mendapatkan kembali cintamu, Sumiarsih,' gumam ayahnya Roosje semakin mempercayai diri. 'Lihat saja, seorang Guus Van Der Kruk tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Termasuk kamu orang tentunya. He-he-he.'


Percakapan mereka selanjutnya pun mulai beralih pada tawaran kerjasama usaha perkebunan milik keluarga Juragan Sumiarsih. Terutama untuk lahan yang sudah lama terbengkalai sejak kematian Juragan Juanda beberapa tahun silam.


Untuk masalah yang satu itu, baik Hanan maupun ibunya, belum bisa memutuskan dengan cepat. Mereka harus berembuk terlebih dahulu dengan beberapa pihak. Apalagi di tengah musim kemarau yang tengah melanda seperti itu. Perkara utamanya adalah tentu saja faktor pengairan yang tengah dikuasai oleh Tuan Guus sendiri.


"Uummhhh, saya orang tahu," ujar lelaki Belanda berpostur tinggi besar tersebut, menanggapi kebimbangan yang dirasakan oleh pihak keluarga Juragan Sumiarsih. "Irigasi itu memang diperuntukkan bagi warga setempat, tapi hanya bersifat bantuan. Bukan pemberian. Itu artinya, saya orang yang diberi wewenang di wilayah ini, berhak juga memberlakukan aturannya tersendiri, yaitu mengatur," katanya mencoba mengungkapkan pendapat. "Sementara sumber aliran air yang ada pun, sedikit. Jadi dalam ini hal, saya ingin mendahulukan untuk kebutuhan lahan pemerintah. Sisanya, kalau tersedia, juga untuk warga sekitar."

__ADS_1


"Masalahnya bukan hanya itu, Tuan," kata Hanan berusaha menjelaskan. "Sejak Ayah saya tiada, tidak ada lagi yang bisa mengurus lahan perkebunan kami. Hampir semua pekerja memilih untuk berhenti, karena kami sudah tidak lagi mampu memberi mereka upah yang layak." Sejenak, dia menoleh pada ibunya yang tidak banyak ikut angkat bicara selama pertemuan mereka tersebut. "Makanya untuk sementara, kami hanya fokus untuk mengurus sisa lahan yang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup kami."


Tuan Guus pun menawarkan kerjasama yang lain, yaitu sebagian dari pekerja di perkebunannya akan diperbantukan untuk membuka kembali lahan milik Juragan Sumiarsih yang tidak terurus tadi. Tentu saja disertai dengan hitungan-hitungan dan aturan-aturan tersendiri alias tidak percuma semata. " … Bagaimana, Anak muda? Kamu orang bersedia menerima rencana ini?" tanya lelaki tersebut di akhir penjelasannya.


"Terima kasih atas tawarannya, Tuan," jawab Hanan diiringi sembah maafnya. "Tapi seperti yang telah kami sampaikan tadi, mohon maaf, sekali lagi … kami akan mempertimbangkannya terlebih dahulu."


"Ah, mengapa harus dipikir-pikir lagi, Anak Muda? Ini sebuah tawaran yang bagus dan saya orang memberikan ini bantuan pun tidak secara sembarangan," balas Tuan Guus. "Tidak semua orang bisa mendapatkannya, terkecuali karena saya memandang keluarga itu orang Juanda dulu semasa hidup."


Roosje ingin menahan ayahnya untuk tidak mendesak, tapi berbicara langsung di depan Hanan dan Juragan Sumiarsih, tentulah bukan cara yang baik. Dia tidak ingin merendahkan kehormatan Tuan Guus begitu saja, akan tetapi tetap ingin pula menyadarkan. Maka secara halus, gadis itu mengusap lengan lelaki itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. 


Tuan Guus menoleh sejenak dan memandang anak gadisnya tersebut tersenyum-senyum.


"Ah, sepertinya kami orang harus segera pulang," ujarnya kemudian usai memaknai sikap Roosje baru saja. "Masih ada tugas lain yang harus saya orang selesaikan segera."


Hanan dan Juragan Sumiarsih mengangguk. Keduanya lekas bangkit mengikuti Tuan Guus dan Roosje yang yang hendak keluar rumah. 


"Senang sekali berjumpa denganmu orang kembali, Sumiarsih," ucap lelaki tersebut sebelum melangkah meninggalkan beranda panggung rumah Juragan Sumiarsih. 


Sama halnya dengan Roosje ketika berpamitan pada Hanan, "Saya harap, perjumpaan kita akan terus berlanjut, Hanan."


Anak dan ibu itu membalas dengan senyuman ramah dan berkata, "Terima kasih atas kunjungan Tuan dan Nona ke rumah kami. Juga atas bantuan yang telah diberikan."


Kemudian dikawal oleh Gert yang sejak awal datang hanya berdiri berjaga-jaga di depan rumah, Tuan Guus dan Roosje pun segera menaiki sado mereka. Sementara Ki Praja sendiri tidak pernah turun dari kendaraan berkuda tersebut.


Diam-diam laki-laki tua pengendali sado tersebut menyeringai kecut, memandangi Juragan Sumiarsih dari kejauhan. 'Gila … masih tetap cantik saja perempuan itu,' katanya bergumam. 'Pantas saja si Dirman masih betah tinggal dan menjadi jongos di keluarga ini. Pasti dia pun masih berharap mendapatkan janda itu. Ha-ha-ha!'


Sementara Juragan Sumiarsih justru tidak ingin sekalipun melihat kehadiran sosok Ki Praja sejak awal dia datang. Selalu menunduk atau mengalihkan pandangan ke arah lain, asalkan bukan pada laki-laki tersebut.


Ada apa ini sebenarnya? Sepertinya kedua sosok manusia berlainan jenis tersebut sama-sama saling memendam rahasia tersendiri. 

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2