
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 21...
...—---- o0o —----...
Mang Dirman menunduk. Dia tidak berani menoleh atau memandangi wajah anak majikannya tersebut. "Maaf, Den. Maafkan saya," ujar laki-laki tua tersebut dengan suara lirih dan tercekat. "Saya hanya tidak ingin, Aden bersedih dengan cerita-cerita tentang almarhum Juragan laki-laki. Cukuplah kejadian itu—"
"Tidak, Mang," tukas Hanan semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh Mang Dirman. "Ini bukan hanya sekali, tapi sudah berkali-kali. Mamang selalu berusaha memotong, mengalihkan, bahkan mencegah orang lain berbicara tentang mendiang Ayah saya."
"Maafkan saya, Den."
Anak muda itu tidak segera naik ke atas sado, tapi berdiri mematung seraya memandangi rumah perempuan tua tadi.
"Orang lain, mungkin hanya mendengar segelintir kabar. Tapi saya yakin, Ibu, Mamang, atau juga Nèng Bunga, jauh lebih mengetahui hal yang sebenarnya," imbuh kembali Hanan. "Saya adalah putra tunggal di keluarga saya, salahkah jika ingin mengetahui kebenaran kabar tentang ayahnya sendiri? Ada apa dengan ini? Mengapa semua orang mendadak ingin menutup-nutupi sesuatu yang memang sudah menjadi hak saya?"
Mang Dirman kembali turun dari sado. Dia segera menghampiri, lantas memeluk Hanan dengan penuh kasih sayang. "Maafkan kami, Den. Tolong jangan menilai kami seburuk itu. Kami sangat menyayangi Aden."
"Kami? Apa maksudnya dengan kata 'kami', Mang?" Dia sama sekali tidak merespons pelukan Mang Dirman tersebut. Membiarkannya seperti sebongkah es batu yang terpatri di bebatuan karang.
Jawab Mang Dirman diiringi sedu sedannya, "Juragan perempuan, Nèng Bunga, saya, dan semua orang yang menyayangi Aden, tidak ingin sampai terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan. Kami khawatir, sesuatu akan terjadi pada Den Hanan, sebagaimana yang pernah dialami oleh almarhum Juragan laki-laki."
Kelopak mata Hanan mulai menganak sungai. Titik-titik bening pun mengalir perlahan menyusuri wajahnya. "Jujurlah, Mang. Katakan, ada apa?"
"Demi Allah, kami tidak akan pernah ridha jika sampai terjadi sesuatu yang buruk terhadap Aden. Saya bersumpah, lebih baik menyerahkan nyawa saya ini demi Aden, daripada Aden sampai tersakiti oleh siapapun!"
"Maanggg …." seru Hanan seraya membalas pelukan sosok tua tersebut lebih erat. "Akan lebih tersiksa lagi bagi saya, kalau Mamang terus-terusan memendam kejujuran itu, Mang. Seumur-umur, saya akan kecewa sekali pada Mamang."
Tiba-tiba Mang Dirman melepaskan pelukannya. "Ya, Allah! A-aden membenci saya?" tanyanya kaget. "J-jangan, Den, jangaannn!" Dia sampai menciumi lengan Hanan beberapa kali karena begitu menyayangi sosok anak muda tersebut. "M-mari … kita mulai bicarakan semuanya. Saya berjanji, akan menjawab apapun yang Aden tanyakan."
"Benarkah itu, Mang?" Hanan merasa senang sekali. Lekas dia mengusap air mata dan bertanya kembali, "K-kapan? Di mana? Ayo, kita bicara lagi lebih banyak."
"Tapi jangan di sini tentunya, Den," pinta Mang Dirman.
"O, iya … tentu! Tentu saja! D-di mana? A-ayo, kita pulang sekarang, Mang!"
"Dengan satu syarat …."
"Syarat apalagi, Mang?"
"Apapun yang akan Aden lakukan terkait cerita-cerita saya nanti, saya harus tahu dan selalu mendampingi Aden."
"Aahhh, hanya itu?"
"Tentu saja. Untuk sementara, hanya itu. Entah untuk waktu mendatang, mungkin bisa bertambah."
Hanan tersenyum semringah. "Baiklah," jawabnya menyanggupi. "Saya akan pastikan itu. Berarti mulai saat ini, Mamang juga tidak boleh jauh-jauh dari saya. Begitu bukan?"
Jawab Mang Dirman membuat Hanan tidak sanggup menahan tawanya, "Tidak termasuk tidur sekamar lagi dengan Aden."
Anak muda itu tergelak sejenak sampai-sampai harus kembali mengusap air matanya.
"B-baik. S-saya setuju!"
__ADS_1
Saking merasa senang hati, dirangkul kembali tubuh tua itu hingga mengalami sesak.
"Sudah, Den. Lepaskan saya. Lepaskan saya!"
Hanan melepaskan pelukan. "Kita pulang sekarang, Mang?" tanyanya antusias dan langsung diangguki sosok tua tersebut.
Maka keduanya pun segera naik ke atas sado. Meninggal tempat tersebut dengan hati riang. Sementara sesosok lain di balik tirai jendela rumah di tempat tadi, turut merasakan kebahagiaan akan hadirnya sosok yang selama ini kerap dirindukan.
'Ya, Allah … semoga Den Hanan bisa mengembalikan kembali kedamaian kampung ini seperti dulu ….' katanya lirih di dalam hati. 'Sebagaimana yang dilakukan oleh Juragan Juanda dan Tuan Hansen. Aamiin yaa rabbal'aalamiin.'
Baru beberapa ratus meter sado melaju, di tengah perjalanan kedua laki-laki tadi terpaksa berhenti kembali. Seorang perempuan muda melambai-lambaikan tangan.
"Hai, Hanan! Berhentilah!"
Mang Dirman menarik tali kekang dan kuda pun menghentikan langkah. "Nona Roos, Den," bisik lelaki tua tersebut dengan aura wajah seperti tidak menyukai akan pertemuan mereka tersebut. 'Ah, apa yang dilakukan Noni Belanda itu? Mengapa dia ada di daerah sini?' gumamnya bertanya-tanya.
"Aku akan turun sebentar, Mang," ujar Hanan, lantas segera menuruni sado dan menghampiri sosok perempuan yang memang adalah Roosje bersama Dasimah.
"Selamat siang, Nona Roos," sapa lelaki muda tersebut begitu mendekat.
"Aaahhh, selamat siang juga, Hanan," balas Roosje diiringi senyum semringah dan mata berbinar-binar. "Wel, senang sekali saya bisa bertemu kamu orang di sini, Hanan. Ternyata kamu orang masih ingat dengan saya."
"Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal Nona Roos di kampung ini," ujar Hanan, kemudian matanya melirik sejenak pada sosok di samping Roosje. " … Dan ini …."
"O, iya … ini Dasimah. Orang pekerja di rumah saya," kata Roosje memperkenalkan sosok perempuan yang menemaninya berkeliling kampung tersebut.
"Dasimah? Nèng Imah maksudnya?" Hanan menatapi Dasimah seakan masih ragu.
Dasimah mengangguk pelan sambil menunduk. Sesekali dia melirik pada Hanan.
Dasimah kembali mengangguk, tapi belum berani bersuara karena belum mendapatkan izin dari Roosje.
"Masyaa Allah, sudah lama sekali kita tidak bertemu, Nèng," ungkap kembali Hanan terkagum-kagum melihat sosok teman sepermainannya dulu, kini bertemu dalam keadaan sudah sama-sama dewasa. "Bagaimana kabar Emak dan Bapak? Saya tiba-tiba teringat pada mereka yang dulu—"
"Kalian berdua sudah saling mengenal rupanya," tukas Roosje disertai raut wajah kecut saat melihat Hanan berbicara dengan Dasimah.
Laki-laki itu mengangguk. "Ya, benar sekali, Nona Roos. Kami adalah teman sepermainan. Dulu … kedua orang tua Nèng Imah—"
"Aahhh, tentunya sudah banyak sekali kenangan yang kalian orang berdua punya, huh?" Lagi-lagi Roosje memotong ucapan Hanan. Jelas sekali, putri Tuan Guus ini merasa tidak nyaman dengan percakapan sosok lelaki tersebut dengan pembantunya. "Zo, saya juga merasa senang sekali, ternyata kalian orang berdua pernah berteman dulu."
"Iya, Nona Roos," balas Hanan tidak henti-hentinya memandangi Dasimah yang senantiasa tertunduk dalam-dalam.
"Terus, kamu orang dari mana, Hanan?" tanya Roosje berusaha mengalihkan pandangan mata lelaki tersebut pada Dasimah.
"Saya baru pulang silaturahim dari—"
"Silaturahim? Wat betekent het?" Alis Roosje bertaut.
(Apa artinya itu?)
"Oh, maksud saya … tadi berkunjung ke rumahnya Kepala Kedusunan," jawab Hanan seraya membungkuk sedikit dan menunjuk ke arah yang dimaksud menggunakan jari jempol.
"Aki Panca?"
"Benar sekali. Tentunya Nona Roos pun sudah mengenal beliau, bukan?"
__ADS_1
Jawab Roosje, "Ja, precies." Mata birunya tidak lepas memandangi wajah Hanan penuh kekaguman. "Apa yang kamu orang lakukan dengan Ki Panca, Hanan?"
(Ya, tentu saja.)
Hanan menoleh terlebih dahulu ke arah Mang Dirman yang berdiri di samping sado. Lalu menjawab, "Ah, hanya bertamu biasa, Nona, sambil silaturahim antar sesama warga lama Kampung Sundawenang ini."
"Oh, begitu?" Roosje manggut-manggut. "Lalu sekarang, waar ga je naar toe?"
(Hendak ke mana kamu?)
"Kami hendak pulang ke rumah, Nona," jawab Hanan seraya kembali melirik pada Mang Dirman. "Kebetulan hari sudah siang—"
"Aahhh, mengapa harus terburu-buru, Hanan," tukas Roosje. Lagi-lagi tidak memberikan kesempatan untuk laki-laki tersebut menuntaskan ucapannya. "Setidaknya, kamu orang pasti masih punya banyak waktu untuk berkeliling-keliling kampung ini. Apalagi, saya dan Dasimah pun baru saja keluar berjalan-jalan. Bukankah begitu, Dasimah?" tanyanya seraya menoleh ke samping dan langsung diangguki oleh Dasimah tanpa berani mengangkat wajah. "Aahhh, kamu orang lihat sendiri 'kan, apa menurut Dasimah jawab?"
"Uummm, maksud Nona …." Hanan mulai menduga kalau perempuan Belanda itu sedang berusaha memintanya bantuan. Mungkin berupa tumpangan atau ….
"Bisa kamu orang antar saya jalan-jalan kembali, Hanan?" tanya Roosje akhirnya, sekaligus membenarkan apa yang disangkakan oleh Hanan baru saja. "En kaki saya masih agak sedikit terasa sakit sehabis jatuh dari kuda kemarin," katanya kembali memberikan alasan.
"Uummhhh, bagaimana ya? Soalnya kami—"
"Kamu orang pasti tidak akan keberatan membantu saya minta tolong 'kan, Hanan?" tanya Roosje kian memaksa.
Hanan menoleh pada Mang Dirman. Tentu saja sosok tua itu tidak bisa memberikan respons atau reaksi apapun, karena sorot mata Roosje langsung menajaminya.
"Baiklah, Nona," ujar Hanan akhirnya dan menyangka bahwa Roosje hanya meminta untuk diantar pulang seperti sebelumnya. "Kalau begitu, mari ikut bersama kami."
"Aaahhh, kamu orang baik sekali, Hanan," puji Roosje merasa sangat senang sekali, karena usahanya membuahkan hasil. "Saya pikir, kamu orang memang baik hati, Hanan. Itu sudah terlihat dari cara kamu orang bicara."
"Terima kasih, Nona Roos," balas Hanan sembari mempersilakan Roosje dan Dasimah menaiki sado. Mang Dirman sendiri sudah terlebih dahulu bersiap-siap di atas bangku kusir dengan raut wajah datar.
Saat hendak naik dan berniat duduk di sebelah Mang Dirman, Roosje buru-buru berseru. Meminta Hanan untuk ikut duduk bersama mereka di belakang.
"Biar saya bersama Mang Dirman saja, Nona. Tidak sopan rasanya kalau saya—"
"Duduklah di sini, Hanan," pinta Roosje memaksa. "Akan tidak lebih sopan jika kamu orang membelakangi kami berdua. Benarkah apa yang saya ucap ini, Dasimah?"
Dasimah kembali mengiakan. "Betul sekali, Nona Roos," jawabnya seraya melirik pada sosok Hanan yang tengah kebingungan.
"Nah, kamu orang dengar sendiri apa yang dijawab oleh ini orang Dasimah, bukan?" timpal Roosje merasa senang dengan jawaban dari pembantunya tersebut.
Hanan menatap Mang Dirman seperti hendak meminta bantuan untuk memutuskan pilihan dan lagi-lagi reaksi yang diberikan oleh orang tua itu pun senada dengan jawaban yang diucapkan oleh Dasimah tadi.
"Turuti saja, Den," ujar Mang Dirman pelan dan disertai raut wajah serupa seperti sebelumnya. Datar. "Biar saya yang memegang kendali kuda."
Mau tidak mau, Hanan pun akhirnya mengalah. Dia menuruti permintaan Roosje dan duduk berhadap-hadapan dengan kedua perempuan tersebut.
'Ah, rupawan sekali laki-laki ini,' gumam Roosje di dalam hati. 'Sebaik sikap yang miliki. Pada akhirnya, hari ini aku bisa kembali bertemu dan bertatap muka langsung dengan Hanan.'
Sementara Dasimah sendiri masih tetap bersikap seperti tadi, diam dan menunduk jika tidak ditanya oleh anak majikannya, Roosje.
"Kita langsung menuju rumah Nona Roos, Mang," kata Hanan begitu roda sado mulai bergerak.
"Ah, tidak," tukas Roosje buru-buru bersuara. "Tolong antar saya ke perkebunan Papa terlebih dahulu, nanti setelah itu … barulah antar pulang ke rumah."
Mang Dirman terkejut. Sampai-sampai dia menoleh sejenak menatap Hanan lekat.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...