Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 18


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 18...


...—---- o0o —----...


"Ada apa, Mang?" tanya Hanan turut berdiri dan melihat-lihat arah yang sedang diawasi oleh Mang Dirman.


Jawab orang tua tersebut, "Entahlah, Den. Sepertinya ada orang yang bersembunyi di balik pohon itu." Dia menunjuk ke arah rimbunan pohon di depannya. Tidak seberapa jauh, tapi jika dibuat untuk bersembunyi dan menguping pembicaraan mereka, masih bisa didengar.


"Ah, mungkin hanya hewan liar, Mang," ucap Hanan mengira-ngira.


"Mudah-mudahan saja begitu, Den," balas Mang Dirman dengan hati masih was-was. "Aden tunggu di sini, saya akan memeriksa ke sana."


"Jangan, Mang!" cegah Hanan buru-buru mencekal lengan orang tua itu. "Ini berbahaya, karena sudah malam dan gelap. Sebaiknya kita masuk ke dalam rumah. Biar besok pagi kita periksa kembali tempat itu."


"Sebentar saja, Den. Saya penasaran."


"Jangan! Besok saja!"


"Tapi, Den …."


Hanan menarik lengan Mang Dirman agar segera memasuki rumah. "Kita tidak tahu apa yang ada di depan sana. Bagaimana jika seandainya itu adalah orang yang bermaksud jahat. Ayo, lekas masuk!" katanya kembali memaksa. Kemudian cepat-cepat menutup pintu dan mengunci rapat. Memasang balok kayu yang melintang sebagai penahan daun pintu.


"Den …."


"Ada apa lagi, Mang?" Hanan menoleh ke arah Mang Dirman yang masih berdiri terpaku di dekat pintu. "Ayo, cepat tidur. Besok kita lanjutkan kembali obrolan kita, sambil mengantar saya keliling kampung."


"I-iya, saya tahu, Den. T-tapi …."


"Tapi apalagi, Mang?" Hanan menatapnya heran. "Besok Mamang mau 'kan mengantar saya?"


"Tentu saja, Den," jawab Mang Dirman terlihat bingung. "T-tapi … kamar saya ada di belakang luar sana."


Hanan mendecak.


"Untuk malam ini, Mamang tidur di kamar saya saja."


"Haahhh?!"


"Mengapa kaget seperti itu?"


"Saya tidur dengan Aden?" Mata laki-laki tua itu sampai membelalak besar. Terkejut luar biasa. "J-jangan, Den. Biar saya—"


"Waktu saya kecil, Mamang sudah terbiasa menemani saya tidur. Di kamar yang sama pula," kata Hanan seraya mendekat dan menarik lengan Mang Dirman agar mengikutinya ke kamar tidur. "Ayolah, Mang. Tidak usah segan-segan. Saya yang sekarang, masih sama seperti saya yang dulu."


"I-iya, Den, tapi kondisinya sekarang sudah beda," timpal Mang Dirman ragu. "Aden sudah bukan anak-anak lagi."


Hanan menghentikan langkah. Kembali menatap orang tua tersebut, lanjut berkata, "Anggap saja saya masih seorang Hanan yang masih ingusan, Mang. Hanan yang sudah Mamang anggap layaknya anak Mamang sendiri. Masih ingat tidak? Dulu Mamang pernah berucap itu sebelum saya tidur. Ingat, 'kan?"


"S-saya ingat itu, Den," jawab Mang Dirman diiringi senyuman tatkala teringat masa-masa yang dimaksud. "Ya, Allah … rasanya baru kemarin hal itu kami jalani."

__ADS_1


"Ayo, kita tidur."


Kreekkk!


Suara derit pintu mengejutkan mereka berdua. Spontan Hanan dan Mang Dirman menoleh ke arah asal suara berbunyi. Datang dari kamar milik ….


"Ibu?" seru Hanan.


"Oh, Juragan rupanya," gumam Mang Dirman seraya mundur ke belakang Hanan.


Sumiarsih keluar dari kamarnya. Dia menatap kedua laki-laki tersebut dengan mata sayu dan terlihat masih mengantuk. "Ibu terbangun karena mendengar suara teriakan seseorang," ucap sosok perempuan berusia empat puluh tahun, tapi masih cantik itu. "Apakah tadi itu Mang Dirman?"


Hanan menoleh ke belakang sejenak, kemudian balik menatap ibunya. "Betul, Ibu. Tadi itu memang Mang Dirman," jawabnya perlahan.


"Oohhh, ada apa?" tanya Sumiarsih penasaran.


"Tidak ada apa-apa, Bu. Mungkin Mang Dirman mengira ada binatang di luar sana. Maka dari itu, spontan berteriak," jawab Hanan berusaha ingin membuat ibunya tenang. "Bukannya begitu, Mang?" tanya anak muda itu seraya mencolek lengan Mang Dirman secara diam-diam.


"I-iya, Den-Juragan," jawab orang tua tersebut masih tertunduk.


"Oohhh, hhmmm," deham Sumiarsih pelan, tapi sorot matanya memerhatikan sikap Mang Dirman. "O, iya … Ibu lupa mengingatkanmu, Nak."


"Mengingatkan apa, Bu?"


Sumiarsih melirik sejenak ke arah ruang dapur. "Tidak baik berlama-lama berada di luar menjelang malam, apalagi di belakang sana. Sebaiknya kalau mau mengobrol dengan Mang Dirman, pilih di dalam saja. Di ruang keluarga atau di kamarmu sendiri, Nak."


"Loh, memangnya mengapa, Bu?" Hanan mulai keheranan.


Mang Dirman terperanjat.


"Astaghfirullah … maafkan saya, Juragan," jawabnya sembari menghaturkan maaf. "S-saya benar-benar khilaf tentang wejangan dari Juragan itu. Maafkan saya, Juragan. Sekali lagi saya mohon maaf."


"Hhmmm," deham Sumiarsih seraya menggelengkan kepala. "Mamang mah sering lupa kalau tidak diingatkan."


"Maafkan saya, Juragan," timpal Mang Dirman kembali sampai terbungkuk-bungkuk menghaturkan permohonan maaf.


"Wejangan?" Hanan makin merasa bingung. "Wejangan tentang apa ini? Hanan benar-benar tidak mengerti. Ibu menyembunyikan sesuatu dari Hanan, Bu?"


"Tidak, Nak. Tidak ada apa-apa," jawab Sumiarsih mendadak bersikap seperti merasa salah tingkah. "Ah, Ibu ingin melanjutkan tidur kembali, Nak. Ibu mengantuk."


"Iya, Bu."


"Kalian berdua juga harus lekas tidur. Jangan mengobrol sampai larut malam."


"Iya, Bu."


Pikir Hanan seketika, 'Ini semakin aneh saja. Sepertinya Ibu pun banyak menyembunyikan sesuatu dariku. Jelas sekali, ucapan Ibu tadi mengenai wejangan dan mewanti-wanti, rasanya bermakna bahwa pernah terjadi sesuatu di sini … di rumah ini … atau di sekitar kediaman kami.'


"Den …."


'Bahkan seorang Mang Dirman pun seperti enggan bercerita yang sesungguhnya padaku. Apakah memang Ibu melarang Mang Dirman berkata yang sebenarnya? Sikap Mang Dirman terkesan tengah menutup-nutupi dan sering mengalihkan arah pembicaraan di antara obrolan kami tadi.'


"Den …."

__ADS_1


'Tidak hanya terhadap Mang Dirman,' pikir Hanan kian lama menerka-nerka, 'Bunga juga begitu. Tiap kali ditanya dan berbicara seputar pertanyaan-pertanyaan yang ada, dia jarang mau berkata banyak.'


"Den Hanan … eh, Den Dokter," panggil Mang Dirman di belakang Hanan. "Kata Juragan juga tadi, Aden disuruh lekas tidur, Den. Ini sudah hampir tiba waktu tengah malam."


Sesaat anak muda itu malah berdiri menatap Mang Dirman. Dipandanginya dengan saksama sosok yang tengah tertunduk tersebut.


"Mungkin saya tidak akan banyak lagi bertanya-tanya, kalau saja tidak banyak pula mendengar kalimat-kalimat percakapan antara Mamang dan Ibu baru saja," ucap Hanan begitu mendalam. "Saya tidak akan pernah memaksa Mamang untuk berterus terang, tapi masih ada cara lain yang bisa saya tempuh, Mang."


"M-maafkan saya, Den. S-saya—"


"Terima kasih Mamang sudah berusaha menjaga dan melindungi keluarga ini, tapi sebagai anak, rasanya saya sendiri mempunyai hak untuk memberikan kenyamanan teruntuk Ibu dan yang lainnya di rumah ini."


"Den …."


"Mamang paham 'kan apa yang saya maksud?"


"Iya, Aden. Saya mengerti sekali. Mohon maaf sekali, Den."


Hanan menarik napas panjang. "Ya, sudahlah. Lain waktu, mungkin bisa kita lanjutkan kembali obrolan tadi ya, Mang?" katanya sekadar mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa membeku. "Saya perhatikan, Mamang juga sudah mulai terkantuk-kantuk."


Mang Dirman mengangkat wajah.


"Saya bukan terkantuk-kantuk, Den. Hanya tidak sopan saja menatap Aden sambil berdiri dan bicara seperti ini."


"Hi-hi-hi."


Hanan terkikik-kikik.


"Maaf, Mang. Yang terakhir baru saja, itu … saya hanya bergurau belaka. Hi-hi."


"Ah, Aden bisa saja," ucap Mang Dirman kembali terlihat ceria. "Saya sampai takut dibicarai Aden seserius ini."


"Pamali, Mang. Masa orang yang lebih tua dari saya, dimarahi? Kualat nanti saya. Hi-hi."


Terdengar seruan dari dalam kamar Sumiarsih. "Naakkk, tidurlah. Hari sudah larut malam ini!"


"Iya, Bu!" sahut Hanan cepat-cepat menjawab. "Hanan baru mau masuk ke kamar, Bu!"


"Tuh, apa kata saya juga. Juragan langsung mengingatkan Aden," ujar Mang Dirman.


"Ya, sudah. Ayo, kita tidur, Mang," sambut Hanan secepatnya. "Besok siang ba'da sholat Dzuhur, kita keliling kampung. Sekalian, saya juga ingin bersilaturahim ke rumahnya Kepala Kedusunan."


"Insyaa Allah, Den. Saya siap mengantar kemanapun Aden hendak bepergian."


"Kemanapun?"


"Ya, Den. Kemanapun."


"Termasuk ke area perkebunan kemarin?"


Kali ini Mang Dirman tidak lekas menjawab. Seketika raut wajah tua tersebut berubah muram. Seperti memendam rasa khawatir yang teramat besar. Apalagi setelah bertemu dengan sosok Nyai Kasambi sebelumnya di sana.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2