
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 14...
...—---- o0o —----...
Malam belum begitu larut. Waktu pun baru menunjukkan angka sepuluh malam. Namun dingin sudah terasa menusuk-nusuk pori kulit. Dengan mengenakan gaun tidur yang serba memanjang dan berwarna putih, Roosje menyelinap keluar rumah. Melihat-lihat sebentar keadaan di depan, untuk memastikan ada seseorang yang berada di sana. Hingga kemudian, nyaris gadis itu tersurut mundur begitu sesosok laki-laki putih kemerahan datang mendekat.
"Ah, kau Gert!" seru Roosje terperanjat. "Saya pikir siapa yang muncul."
Lelaki itu memberi hormat dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Welterusten, Mevrouw Roos," sapanya usai mendekat. "Apa yang Nona lakukan malam-malam seperti ini? Ada sesuatu yang bisa saya bantu, Nona?"
"Ah, kebetulan sekali kalau begitu, Gert," ujar Roosje seperti kejatuhan durian. "Ummhh … apa kau melihat Ki Praja?"
"Mungkin ada di belakang, Nona. Biasanya di waktu-waktu seperti ini, Ki Praja sedang mengurus kuda."
"Oh, kalau begitu, tolong antarkan saya ke belakang, Gert."
"Baik, Nona," jawab pengawal pribadi Tuan Guus itu tanpa membantah maupun bertanya-tanya lebih lanjut. Dia mempersilakan Roosje untuk berjalan terlebih dahulu, lantas mengikuti dari belakang sambil mengawasi suasana sekitar.
Tidak berapa lama, keduanya tiba di area istal. Benar saja, tampak dari kejauhan, sesosok tua sedang berada di sana.
"Oh, Nona Roos dan Tuan Gert," ucap Ki Praja begitu menyadari ada orang yang datang mendekat. "Selamat malam, Nona-Tuan."
"Selamat malam, Aki," balas Roosje sembari tersenyum cantik. Dia menoleh ke belakang, dan berkata pada pengawalnya. "Kau boleh kembali bertugas di depan, Gert. Biarkan saya dan Aki di sini."
Gert tampak ragu untuk meninggalkan Roosje berdua-duaan di sana dengan tukang mengurus kuda tersebut. "Uummhh … bagaimana nanti kalau Tuan Guus tahu en mencari-cari Nona?"
Roosje tersenyum. "Katakan saja, saya ada di sini bersama Aki Praja, Gert. En kau sendiri yang mesti datang, bukan Papa yang menjemput. Kau mengerti?"
"Tentu saja, Nona Roos," jawab Gert patuh. "Kalau begitu, saya minta izin kembali berjaga-jaga di depan rumah, Nona."
Roosje mengangguk.
Kemudian laki-laki bertubuh tinggi tegap itu memberi hormat dan bergegas kembali ke tempat semula dia bertugas.
"Ah, Aki …." ucap Roosje sembari mencari-cari tempat yang layak untuk duduk di sana. "Saya ingin sekali berbicara dengan Aki."
Laki-laki tua itu memberikan tempat yang tepat untuk alas duduk putri majikannya. "Apa yang ingin Nona bicarakan dengan saya? Apakah ada sesuatu yang teramat penting, sampai-sampai Nona datang ke tempat kotor dan bau seperti ini? Mengenai kuda yang masih liar itukah?"
Roosje tersenyum begitu menempati tempat untuk duduk yang disiapkan Ki Praja. "Banyak dan panjang sekali Aki bertanya-tanya. Sedangkan saya duduk saja masih sedang berusaha," ucapnya bermaksud berkelakar. Disambut kekeh sosok tua tersebut seraya mengambil sikap berdiri, tidak seberapa jauh dari tempat gadis itu berada. "Duduklah, Ki. Tidak perlu berdiri seperti itu. Saya ingin berbincang-bincang panjang dengan Aki malam ini."
__ADS_1
Aki Praja tampak ragu. Namun dari ucapan Roosje, dia menduga ada sesuatu penting yang akan disampaikan atau dipertanyakan putri semata wayang Tuan Guus tersebut. Maka, laki-laki tua itupun mengambil tempat sendiri yang lebih rendah dari alas duduk anak majikannya.
"Apa yang hendak Nona Roos sampaikan?" tanya Ki Praja sambil bersila.
Roosje menarik napas sejenak, kemudian mulai berucap kembali. "Ini mengenai laki-laki muda yang mengantar saya sehari lalu," ucapnya seraya mengingat-ingat kejadian yang dimaksud.
"Siapa anak muda yang Nona maksud?" tanya Ki Praja bingung.
"Namanya Hanan."
"Hanan?"
"Hananta Adiswara. Kalau tidak salah, itu nama panjangnya," jawab Roosje usai mengingat-ingat.
"Hananta Adiswara? Sebentar … rasanya saya tahu, tapi …."
"Ibunya bernama … Sum … Sum … Sumarni, Sumarsih, atau—"
"Sumiarsih maksud Nona?" terka Ki Praja.
"Aahhh, benar sekali," timpal Roosje sambil menjentikkan jemarinya. "Sumiarsih. Itu namanya. Papa menyebut nama itu waktu Hanan menjawab pertanyaan Papa. Sumiarsih … Aki kenal dengan nama-nama tadi?"
Ki Praja mengangguk. "Tentu saja, Nona. Siapa yang tidak mengenal Sumiarsih. Dia adalah janda dari mendiang Juanda, juragan tanah yang tersohor sewaktu dia masih hidup."
"Khusus tentang anaknya itu, setahu saya … dia sudah lama pergi ke Jakarta untuk meniti ilmu," ucap Ki Praja belum mengetahui persis sosok yang dia maksud.
"Dia sudah kembali pulang sehari lalu, Ki. Seorang Dokter pula."
"Sudah pulang? Seorang Dokter? Aahh, cepat sekali waktu berlalu. Rasanya, baru kemarin saya dan Juanda melepas anak itu pergi" Ki Praja tampak terkejut. "Kalau tidak salah, usianya pasti sebanding dengan Nona Roos."
"Mungkin saja. Bisa jadi seusia juga dengan Kervyn."
"Kervyn? O, iya … tunangan Nona Roos itu, bukan?" terka Ki Praja seraya melempar senyum.
Roosje tersipu malu. "Lanjutkan saja ucapan Aki tadi. Saya ingin mendengar lebih jauh tentang Hanan … eh, maksud saya … keluarga Hanan." Cepat-cepat gadis itu meralat kalimatnya. Pura-pura melihat-lihat ke arah lain untuk menghindari tatapan mata tua Ki Praja.
"He-he-he." Sosok tua itu mengekeh dan Roosje tidak berminat untuk mempertanyakannya. Khawatir akan turut pula membahas perubahan warna kulit pipi gadis tersebut. "Nona ingin mengetahui tentang Sumiarsih atau Hanan-nya sendiri?"
"Teruskan cerita Aki tadi."
"Oh, baiklah. Uummhhh … sampai mana tadi saya bicara, ya? Ah, lupa." Ki Praja mengetuk-ngetuk kepala.
"Hanan diantar Aki pergi ke Jakarta," kata Roosje. "Dari ucapan Aki tadi, sepertinya Aki juga sangat mengenal mantan suaminya Sumiarsih tadi? Benarkah itu, Ki?"
__ADS_1
Ki Praja mengangkat kepala. Menatap langit-langit istal yang tampak hitam. Seperti tengah mengambil rekaman kisah lama yang sudah jarang diingat-ingat.
"Ya, benar sekali, Nona," jawab laki-laki tua tersebut. "Dulu sebelum berpindah kembali bekerja pada ayah Nona, Tuan Guus, saya pernah bekerja di rumahnya Juragan Juanda. Sedikit banyaknya saya tahu bagaimana keluarga itu."
"Oh, saya malah baru tahu tentang itu, Ki," ungap Roosje terperangah. "Aki pernah pula bekerja dengan itu orang Juanda."
"Ya, hanya sementara waktu. Tidak begitu lama, Nona."
"Sementara? Apa itu maksudmu, Aki?" Roosje mulai penasaran.
Cecar pertanyaan gadis itu, membuat Ki Praja tampak kebingungan. Dia seperti baru menyadari, ada sesuatu yang keliru dilakukan.
"Aahhh .. uummhhh … p-panjang sekali kisahnya, Nona. T-tapi yang jelas, saya lebih suka bekerja di sini. Maka dari itu, saya pun memutuskan untuk kembali dengan Tuan Guus," jawab Ki Praja berusaha mengalihkan arah pembicaraan.
"Oh, begitukah?" Gadis itu sedikit terpengaruh langkah yang dilakukan oleh Ki Praja. "Lalu mengenai Hanan itu sendiri, apa saja yang Aki ketahui tentang itu laki-laki?"
Ki Praja menarik napas lega. Sejenak dia melirik pada Roosje, lantas bersiap-siap kembali berungkap. 'Hhmmm, berkali-kali Nona Roos bertanya-tanya tentang anak muda itu? Apakah hal itu berarti gadis ini menyukai dia?' tanyanya di dalam hati. 'Ini sesuatu yang tidak baik bagi Tuan Guus. Khawatir suatu saat kelak, akan menimbulkan masalah baru lagi sebagaimana yang pernah terjadi seperti dulu.'
"Saya belum mengetahui banyak tentang Hanan, Nona. Mohon maafkan saya," jawab Ki Praja. "Tapi kalau Nona benar-benar menginginkannya, saya bersedia mencari kabar baru perihal anak muda itu secepatnya."
"Hhmmm, saya akan tunggu itu dengan senang hati, Ki," timpal Roosje diiringi senyuman semringah. En … apakah itu—"
Di saat itu, tiba-tiba muncul sosok Gert. Tergopoh-gopoh mendekat ke dalam istal. "Maafkan saya, Nona. Tuan Guus mencari-cari Nona Roos di rumah," ucapnya usai memberi hormat terlebih dahulu.
'Ah, syukurlah … beruntung sekali si Gert datang,' gumam Ki Praja. 'Jadi aku tidak perlu lagi banyak bercerita tentang keluarga sialan itu!'
"Saya harus segera kembali, Ki," ucap Roosje seraya bersiap-siap pergi. "Tapi ingat, saya akan menagih janji Aki yang baru saja Aki ucapkan."
"I-iya, t-tentu saja, Nona. Saya akan mulai berusaha," tandas laki-laki tua itu usai ikut berdiri dan memberi salam hormat.
"Baik. Terima kasih atas perbincangan ini, Ki. Selamat malam."
"Selamat malam juga, Nona Roos."
Kemudian Roosje bergegas meninggalkan area istal. Dikawal ketat oleh Gert berjalan tegap di belakang gadis tersebut.
Ki Praja mengelus dada. Lega. Namun dia menyesali akan sesuatu hal yang tidak semestinya dia ungkapkan di dalam perbincangan mereka tadi.
"Jangan sekali-kali kau memberi janji pada putri saya, Ki."
Laki-laki tua itu terperanjat. Lekas dia menoleh ke arah asal suara dari seseorang yang datang secara tiba-tiba.
"Astaga!" seru Ki Praja begitu melihat siapa sosok yang baru saja mendekat. "Tuan?!"
__ADS_1
...BERSAMBUNG...