
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 28...
...—---- o0o —----...
"Assalamu'alaikum …"
Hanan dan Mang Dirman uluk salam begitu tiba di depan kediaman Bunga. Keadaan rumah terlihat sepi dan tidak tampak tanda-tanda ada orang di dalamnya.
"Sepi, Den," ujar Mang Dirman usai berkeliling mengitari area rumah tersebut.
"Ke mana, ya? Tidak mungkin mereka pergi menjelang petang begini," balas Hanan seraya memutar pandangan ke sekitar tempat. Mencari-cari. Siapa tahu dua sosok yang tengah mereka nanti-nanti itu muncul dari arah lain.
"Kita tunggu atau kembali pulang saja, Den?" tanya Mang Dirman seraya pegangi dadanya yang masih terasa sesak.
Hanan menoleh. Dia tidak langsung menjawab, melainkan berpikir-pikir terlebih dahulu untuk beberapa waktu. "Kita tunggu saja, Mang. Kalau saja memang pergi, siapa tahu … sebentar lagi mereka pulang."
Mang Dirman hanya manggut-manggut. Lantas mencari-cari tempat untuk sekadar duduk sambil menarik napas panjang. Seketika rasa sakit itu kembali mendera.
"Uhuk! Uhuk!"
"Mang?"
"Uhuk! Uhuk! Aaahhh …."
"Mang Dirman!'
Hampir saja sosok tua itu jatuh tersungkur jika Hanan tidak cepat-cepat menahannya. Kemudian membantu mendudukkan Mang Dirman di lantai tanah, menyender pada dinding rumah.
"Aahhh …."
Ada darah segar keluar dari mulut Mang Dirman. Termuntahkan bersama dengan batuk tadi.
"Sepertinya Mamang mengalami luka dalam," kata Hanan usai membantu Mang Dirman terduduk. "Luruskan kakinya, Mang. Jangan ditekuk."
"Aahhh … ini hanya luka biasa, Den," ujar sosok tua tersebut kepayahan. "Biasanya juga akan sembuh dengan sendirinya dalam jangka dua atau tiga hari mendatang."
"Apapun alasannya, kondisi Mamang memang sedang mengalami luka dalam," sela Hanan begitu mengkhawatirkan keadaan Mang Dirman. Yang disesalkan, dia sama sekali tidak bisa menolong karena tidak membawa peralatan kedokteran. "Untuk sementara, atur pernapasan dengan baik dan jangan dulu banyak bergerak. Biarkan aliran darah mengalir dengan lancar."
Mang Dirman mendeham.
"Apa yang Mamang rasa sekarang?"
"Hanya nyeri, Den. Sesak napas. Uhuk! Uhuk! Aahhh …."
Hanan membuka kancing baju Mang Dirman di bagian dada. Memeriksanya sebentar sembari mengamati dengan saksama. Tampak seperti ada bekas pukulan keras benda tumpul di sana. "Mamang terkena pukulan?"
"Hanya sedikit, Den," jawab laki-laki tua tersebut seraya meringis sesak. "Saya agak terlambat menahan serangan Ki Praja tadi. Gerakan tangannya lumayan cepat dan sempat mengenai dada saya."
"Itu karena Mamang sudah tua. Tidak lagi selincah dulu," timpal Hanan. "Mamang sebaiknya menghindar saja. Sangat berbahaya sekali jika sampai mengenai salah satu bagian vital seperti dada ini."
Mang Dirman melirik anak majikannya. "Tadinya, saya juga tidak ingin terlibat perkelahian dengan dia. Tapi … uhuk! Uhuk! Uhuukkk … aaaarrgghhh!"
Sosok tua itu memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Ya, Allah … Mamang!" pekik Hanan terkejut luar biasa.
Sebagai seorang dokter, mungkin sudah bukan hal aneh melihat darah seperti itu. Namun yang dikhawatirkan adalah kondisi kesehatan Mang Dirman. Tidak banyak yang bisa dilakukan, terkecuali memegangi pundak laki-laki tua tersebut dan berharap tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
__ADS_1
"Aa!"
Di saat-saat genting itulah, Bunga muncul bersama Ki Sendang Waruk.
"Nèng?" Hanan menoleh.
"Apa yang terjadi, Aa? Ada apa dengan Mang Dirman?" tanya Bunga tergopoh-gopoh menghampiri Hanan dan Mang Dirman. "Ya, Allah …." pekik gadis tersebut panik. "Uwaakkk, tolong Mang Dirman, Wak!"
Ki Sendang Waruk lekas mendekat.
"Menyingkirlah dulu kalian," perintah laki-laki tua tapi masih terlihat gagah tersebut. Dia mengamati tubuh Mang Dirman sejenak. "Sepertinya Mang Dirman terkena pukulan tangan kosong."
Ucap Hanan membantu menjawabkan, "Ya, benar sekali, Wak. Tadi Mang Dirman terlibat pertarungan dengan Ki Praja."
"Pertarungan? Ada apa ini sebenarnya? Mengapa Mang Dirman sampai berkelahi dengan Ki Praja?" cecar Bunga terheran-heran dan penasaran.
"Ki Praja?" Ki Sendang Waruk turut bertanya. "Ki Praja tukang kudanya Meneer Belanda itu?"
Hanan bingung harus menjawab pertanyaan dari siapa terlebih dahulu. Akhirnya hanya manggut-manggut belaka tanpa menjawab sepatah katapun.
"Hhmmm," deham Ki Sendang Waruk usai memeriksa kondisi tubuh Mang Dirman. "Hanya terkena pukulan biasa dan menggunakan tenaga luar," imbuhnya kembali, tampak terlihat tenang tidak sebagaimana Hanan maupun Bunga.
"Maksudnya bagaimana, Wak? Mang Dirman terluka dalam yang cukup seri—" ucap Hanan penasaran dengan kata-kata Sendang Waruk yang terlihat santai.
Tukas laki-laki tua berambut panjang hingga sebahu dan berikat kepala batik itu kemudian, "Tenanglah, Nak Dokter. Biar saya coba tangani sebentar."
Hanan terdiam. Dia memperhatikan dengan saksama apa yang dilakukan oleh Ki Sendang Waruk terhadap Mang Dirman.
Mula-mula Ki Sendang Waruk membantu menggeser duduk Mang Dirman agar tidak menyandar di dinding rumah. Lantas dia mengambil posisi duduk bersila di belakangnya, menarik napas disertai ayunan kedua tangan di depan dada, memejamkan mata untuk berkonsentrasi, dan tiba-tiba ….
"Hups!"
Plak!
"Tahan napas, Mang!" seru Ki Sendang Waruk memberi perintah dan langsung dituruti oleh Mang Dirman.
"Hups!"
Mang Dirman merasa bagian dalam dadanya mulai bergolak. Mula-mula hangat, tapi sekejap kemudian berubah panas secara perlahan-lahan, hingga akhirnya ….
"Aaahhh … ooeeekk!"
Tiba-tiba Mang Dirman memuntahkan darah segar kembali. Cukup banyak dibandingkan sebelumnya.
"Ooeekkk! Aaahhh …."
Melihat itu, Hanan bermaksud mendekat, tapi keburu ditahan Bunga. "Tahan, Aa! Biarkan Uwak mengobati Mang Dirman!"
"Tapi Mang Dirman muntah dar—"
"Percayakan saja semuanya pada Uwak, Aa!" ujar Bunga kembali. "Aku yakin, Uwak bisa mengatasi luka-luka Mang Dirman itu."
Hanan pasrah. Dia hanya bisa memperhatikan cara pengobatan yang dilakukan oleh Ki Sendang Waruk terhadap Mang Dirman yang —menurutnya— terasa cukup janggal. Bagi seorang tenaga kesehatan sepertinya, hal tersebut sangat tidak masuk akal dan cukup membahayakan.
"Atur napas sekarang, Mang," ujar Ki Sendang Waruk seraya melakukan gerakan guratan menyilang di punggung Mang Dirman. Lantas menahan napas sejenak, diakhiri dengan melakukan penotokan di beberapa titik bagian tubuh kusir keluarga Sumiarsih tersebut. "Tarik napas lewat hidung… buang dengan mulut, tarik napas … buang, tarik napas … buang."
Mang Dirman melakukan titah Ki Sendang Waruk.
"Hhuuuppp … aaahhh! Hhuuuppp … Aaahhh!"
Kemudian dia memejam mata sejenak.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya sekarang, Mang?" tanya Ki Sendang Waruk menyudahi upaya pengobatannya. Jawab Mang Dirman, "Jauh lebih baik, Ki. Alhamdulillah."
"Alhamdulillah … syukurlah."
Hanan lantas mendekat. "Mamang sudah merasa baik sekarang?" tanyanya merasa takjub dengan cara pengobatan oleh kakak kandung dari pihak ayahnya Bunga tadi.
"Alhamdulillah, Den," jawab Mang Dirman seraya tersenyum lega. "Rasa sesak dan sakit ini, jauh berkurang sekarang."
"Mungkin akan lebih cepat pulih satu sampai dua hari mendatang," timpal Ki Sendang Waruk sambil menatap Mang Dirman dan Hanan. "Perbanyak saja istirahat."
Hanan menoleh dan berkata, "Terima kasih, Wak. Terima kasih."
Laki-laki tua berikat kepala kain batik itu tersenyum lebar. "Sisanya … kamu yang tangani ya, Nak," ujarnya langsung diangguki oleh Hanan. "Tentu saja, Wak. Hanan akan merawat Mang Dirman sepenuh hati," balas anak muda tersebut seraya menghaturkan sembah hormat.
"Baguslah. He-he-he."
"Sebaiknya kita masuk saja ke dalam, Wak," sela Bunga tiba-tiba. "Hari sudah mulai gelap. Sebentar lagi masuk waktu Maghrib."
Timpal kembali Ki Sendang Waruk seraya bangkit, "O, iya … kalian berdua jangan dulu pulang. Kita sholat Maghrib dulu berjamaah di sini. Sekalian … ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada kamu, Nak Hanan."
Hanan yang tengah membantu Mang Dirman bangkit, menoleh ke arah Ki Sendang Waruk, lalu beralih pada sosok Bunga.
"Baik, Wak," jawab anak muda tersebut.
"Dan kamu Bunga …." ujar Ki Sendang Waruk pada keponakannya, "siapkan jamuan makan malam untuk tamu-tamu kita ini. Di belakang, masih ada sisa ubi batang yang Uwak ambil dari kebun belakang tadi sore."
"Baik, Wak," sahut Bunga langsung bergegas masuk ke dalam rumah.
"Ah, tidak perlu repot-repot, Wak. Kami datang ke sini juga tadinya bermaksud untuk menjemput Nèng Bunga," kata Hanan.
"Iya, Uwak tahu," balas Ki Sendang Waruk. "Setidaknya sambil mengobrol nanti dan makan ubi rebus, jadi tidak merasa terlalu direpotkan, kok."
"He-he-he, terima kasih, Wak."
"Tapi maaf, hanya sebatas ubi rebus. Mungkin tidak selezat makanan di rumahmu, Nak."
"Ah, tidak juga, Wak. Kami pun sama-sama makan seadanya juga, kok," balas Hanan. "Maklum, sekarang … hasil perkebunan tidaklah sebanyak dulu. Malah makin hari makin berkurang. Apalagi dengan adanya musim kemarau seperti sekarang ini."
"Hhmmm," deham Ki Sendang Waruk. "Tepatnya … mungkin setelah kematian mendiang ayahmu, Nak. Juragan Juanda."
"Hanan belum tahu persis, Wak," ujar anak muda tersebut seraya menunduk dalam-dalam. "Ada banyak hal yang belum Hanan ketahui semenjak ditinggal ke Jakarta beberapa tahun sebelumnya. Tentang kematian Ayah, perkebunan terbengkalai, sampai masalah Mang Dirman dengan Ki Praja tadi."
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Mang Dirman terbatuk-batuk sembari melirik ke arah Ki Sendang Waruk.
Laki-laki tua berikat kain batik di kepala itu tersenyum tipis. Ujarnya kemudian, "Pasti Mang Dirman belum bersedia menceritakan semuanya, 'kan?"
"S-saya … s-saya … uhuk! Uhuk!"
"Masuklah ke dalam," ajak Ki Sendang Waruk begitu terdengar suara bedug dari kejauhan. "Waktunya sholat Maghrib."
"Baik, Wak."
"Iya, Ki. Uhuk! Uhuk!"
Ki Sendang Waruk menepuk-nepuk bahu Mang Dirman. "Tenanglah, Mang. Saya tidak terlibat perjanjian apapun dengan keluarga mendiang Juragan Juanda. Jadi, jika saya bercerita tentang semuanya, tidak akan mengingkari apapun sebagaimana yang telah Mamang emban selama ini, 'kan? He-he."
"Aahhh, terserah Aki saja," balas Mang Dirman sembari menuruti ajakan Ki Sendang Waruk untuk memasuki rumah, diikuti oleh Hanan seraya memegangi tubuhnya dari belakang. "Den Hanan memang berhak mengetahui semua tentang keluarganya, Ki. Apalagi Den Hanan ini laki-laki, satu-satunya anak keluarga Juragan Juanda dan Juragan Sumiarasih. Tentunya memiliki tanggungjawab besar untuk menjaga Juragan Perempuan, ibunya Den Hanan."
"Saya paham, Mang," timpal Ki Sendang Waruk. "Karena hal itu pula, begitu mendengar Nak Hanan sudah pulang dari Jakarta, saya langsung menyempatkan diri untuk kembali ke kampung ini. Sekalian, menjenguk anak-anak saya, Bunga dan Hanan." Mata laki-laki tua itu mengedip pada Hanan.
Anak muda itu tersipu-sipu.
__ADS_1
Kemudian mereka pun bergegas ke belakang rumah, dimana tersedia sebuah pancuran yang berasal dari parit kecil dengan aliran air yang sama. Cukuplah untuk sekadar mengambil air wudhu untuk mereka berempat.
...BERSAMBUNG...