Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 75


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 75...


...—---- o0o —----...


Di tengah perjalanan menuju pulang, tiba-tiba kuda berhenti mendadak sambil meringkik-ringkik nyaring. Kedua kakinya diangkat tinggi-tinggi, sehingga membuat badan sado bergerak-gerak tidak tentu arah.


"Jalu! Hei! Hihiihhh! Hihiiihhh!" seru Mang Dirman mencoba menenangkan kudanya melalui tarikan tali kekang.


"Astaghfirullah! Ada apa ini, Mang?" tanya Hanan panik seraya berpegangan kuat pada besi penyangga badan sado.


"Tidak tahu, Den!" jawab Mang Dirman masih berusaha mengendalikan amukan si Jali. "Hei, Jalu! Tenanglah! Hihiiihhh! Hihiiihhh!"


Sebentar kemudian kuda tersebut kembali terdiam sambil mengibas-ngibaskan ekornya.


"Alhamdulillah, akhirnya …." gumam Hanan kini merasa lega.


Hampir saja dokter muda tersebut —tadi— melompat turun, agar tidak ikut terombang-ambing oleh pergerakan badan sado yang hampir terjungkir ke belakang.


"Den," panggil Mang Dirman dengan suara pelan.


Hanan yang belum sempat memfokuskan diri dari kejadian baru saja tersebut, menoleh ke arah Mang Dirman di bangku kusir. "Ada apa, Mang?" tanyanya, lantas turut melirik kemana pandangan mata lelaki tua itu tertuju kini. "Astaghfirullaahal'adziim …." desah dokter muda terkejut.


Bagaimana tidak. Saat itu, hanya beberapa meter di depan dari tempat mereka berada kini, tampak sesosok wanita tua tengah berdiri mematung disertai sorot mata yang tajam. Raut wajahnya tampak sekali tidak bersahabat, tertutup sebagian oleh rumbai putih rambutnya, tergerai panjang hingga hampir selutut.


"Tenanglah, Den. Jangan bicara atau mengeluarkan suara apa pun," pinta Mang Dirman dengan suara bergetar. "B-biar urusan ini, saya yang hadapi."


Perlahan, lelaki tua itu mengunci tali kekang kuda ke dalam lubang besi di depan sado, lantas turun dari bangku kusir dengan penuh kehati-hatian.


"Mang, mau ke mana?" tanya Hanan berbisik. Namun Mang Dirman tidak merespons sedikitpun. 'Ya, Allah … ujian apalagi yang sedang Engkau timpakan kepada kami kali ini?' tanya dokter muda tersebut di dalam hati. Matanya menatap lurus ke depan, tepatnya ke arah sosok wanita tua tadi berdiri.


"Mohon maaf, Nyai," ujar Mang Dirman begitu mendekat di depan wanita tua tersebut. Dia tidak lain adalah Nyai Kasambi. "Apa yang bisa kami lakukan hingga Nyai harus berada di sini sesore ini?"


Nyai Kasambi tidak lekas menjawab, tapi menggeram sebentar seraya memperhatikan sosok Hanan di atas sado.

__ADS_1


"Siapakah sebenarnya anak muda itu, Dirman?" tanya wanita tersebut sambil menunjuk. "Untuk kali kedua, aku melihatnya melintas di sekitar wilayah perkampungan Sundawenang ini."


Meng Dirman melirik sejenak untuk memastikan keadaan Hanan, lalu menjawab penuh hormat, "Oh, itu tamunya Tuan Guus, Nyai. Baru saja beliau pulang dari kediaman Tuan terhormat itu."


Nyai Kasambi melirik, menatap wajah Mang Dirman yang tampak memucat. Kemudian berbalik kembali mengarahkan pandangannya pada Hanan.


"Anak muda itu …." ujar Nyai Kasambi dengan suara serak, seraya menyipitkan kelopak mata. "Anak muda itu seperti mengingatkanku pada seseorang. Dia … ya, dia yang sudah lama mati. Hi-hi-hi."


Mang Dirman tidak ingin menimpali. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh wanita tua tersebut. Lantas diam-diam, melirik sosok Nyai Kasambi dan Hanan yang berada agak jauh dari mereka berdua di sana.


Satu hal yang sangat dikhawatirkan oleh kusir kuda keluarga Juragan Sumiarsih itu adalah Nyai Kasambi akan benar-benar mendekati Hanan, lalu memaksa anak muda tersebut berbicara. Sampai kemudian, hal itu pun memang terjadi.


"M-mau ke mana, Nyai?" tanya Mang Dirman begitu melihat Nyai Kasambi mulai melangkah perlahan. Terhuyung-huyung di topang tongkatnya yang digenggam erat di tangan kiri.


Jawab wanita tua tersebut terdengar ketus, "Apa urusanmu mempertanyakan itu, Dirman? Aku ingin lebih mendekat dan melihat anak muda itu di sana!"


Mang Dirman berusaha mencegah dengan cara menghambat laju langkah kaki Nyai Kasambi.


"Sebentar, Nyai," ujar Mang Dirman. "Tamu Tuan Guus itu belum bisa memahami bahasa kita. Percuma saja Nyai menanyainya."


Prak!


Ujung batang tongkat tersebut mengenai betis lelaki tua itu. Hasilnya, dia langsung tercelat ke belakang, terjatuh dalam keadaan terduduk.


"Aahhh!" erang Mang Dirman kesakitan seraya mengusap-usap bokong. Kemudian mencoba bangkit di antara kedua pijakan kakinya yang gemetar hebat. "N-nyai … t-tunggu saya, Nyai!"


Wanita tersebut mengindahkan. Dia tidak peduli dan terus saja lanjut mengayunkan kaki hendak mendekati Hanan.


"Hi-hi-hi," cekikik Nyai Kasambi begitu berhenti tepat di samping roda sado. Menatap dengan saksama paras Hanan yang tampak berusaha tenang. "Gurat-gurat di wajahmu itu … mirip sekali dengan seorang lelaki yang dulu telah membuatku kecewa, Anak Muda. Hi-hi-hi."


"Nyai! Tunggu, Nyai! Jangan ganggu tamu Tuan …. aaahhh!" pekik Mang Dirman tidak sampai menuntaskan kalimat dan langsung terhempas kembali oleh entakkan angin kuat yang dikibaskan oleh Nyai Kasambi melalui gerakan jemari tuanya. Sepintas seperti sebuah sapuan tidak bertenaga, tapi hasilnya sungguh luar biasa.


"Masih saja kau tidak mau mendengarkanku, Dirman!" sentak Nyai Kasambi menggidikkan. "Apa perlu kubuat kau lumpuh untuk selama-lamanya?"


"Jangaannn!" teriak Hanan tanpa sadar seraya melompat turun dari atas badan sado. "Jangan Mak Nyai sakiti Mang Dirman. Bertanyalah kalau memang Mak Nyai hendak bertanya pada saya "


"Den Hanan!" panggil Mang Dirman terkejut. "Astaghfirullah …." Dia sangat menyayangkan, mengapa anak muda itu tidak memenuhi pesannya tadi.

__ADS_1


"Hi-hi-hi!" Tiba-tiba Nyai Kasambi tertawa-tawa sambil menatap lekat sosok Hanan. "Benar-benar mirip sekali. Hi-hi-hi!"


Mang Dirman terhuyung-huyung hendak berjalan mendekat. "Jangan lakukan apa pun terhadap dia, Nyai! Saya mohon!"


"Dasar laki-laki tidak tahu diuntung!" gerutu Nyai Kasambi sembari bersiap-siap melancarkan serangan jauh unfuk yang ketiga kalinya.


"Jangan!" seru Hanan, spontan menjatuhkan diri dengan kedua lutut menghujam tanah, untuk menahan gerak ujung tongkat wanita tua tersebut. "Lakukan saja pada saya, Mak Nyai," pinta dokter muda itu mengiba.


Tidak diduga, ternyata Nyai Kasambi berkenan mendengarkan ucapan Hanan baru saja. Dia menangguhkan serangannya terhadap Mang Dirman. Lantas tersenyum-senyum sendiri begitu melihat wajah anak muda tersebut, begitu dekat sekarang.


"Ah, suaramu juga, Anak Muda," kata Nyai Kasambi melanjutkan ucapannya tadi. "Nyaris antara kau dan dia di masa muda lalu, tidak ada perbedaan." Kali ini jemari tangan wanita tua itu menyentuh-nyentuh dagu Hanan, terus menggerakkan kepala anak muda tersebut ke samping kiri dan kanan. "Punya hubungan apa antara kau dengan—"


"Hei, tunggu!" teriak seseorang secara tiba-tiba, muncul dari rerimbunan daun-daun pohon di atas mereka bertiga.


Nyai Kasambi terperanjat. Begitu pula dengan Hanan dan Mang Dirman.


Tidak berapa lama, sesosok manusia melompat turun dari ketinggian pepohonan tadi, disertai gerakan berputar-putar di udara sebelum tiba dengan dua pijakan kaki begitu mendarat.


"Hup … hiiaaa!"


Jleb!


Kedua kakinya mendarat dengan mulus di atas permukaan tanah. Lantas bangkit dengan cepat dan menunjuk-nunjuk sosok Nyai Kasambi.


"Hei, orang tua! Tidak malukah kamu, Kasambi? Sudah tua pun, kamu masih saja mencari-cari lelaki muda di sini!" sentak sosok baru tersebut seraya mendecak sebal.


"Kau?" Nyai Kasambi menyipitkan kedua kelopak mata. "Kau lagi …."


Sosok yang merupakan seorang perempuan tersebut menyeringai kecut. "He-he-he, ternyata kamu masih mengingatku, Kasambi! Baguslah, dengan begitu, berarti saya tidak perlu lagi berlelah-lelah diri memperkenalkan nama padamu."


Nyai Kasambi tersurut mundur.


"Kang Hanan, segera menjauh dari wanita tua bangka itu!" teriak sosok baru perempuan tersebut mengingatkan Hanan.


Namun bukannya menurut, dokter muda itu malah tercekat memandangi. Gumamnya tanpa sadar, "Tèh Kedasih …."


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2