Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 24


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 24...


...—---- o0o —----...


"Papa!" teriak Roosje dari kejauhan, begitu sosok lelaki yang sudah dikenalinya terlihat samar-samar. Sedang mengawasi para pekerja di perkebunan di bawah rindang sebuah pohon besar.


Tuan Guus yang didampingi Gert, spontan menoleh. Keduanya terkejut. Bukan karena melihat kedatangan Roosje, tapi kehadiran gadis tersebut ditemani oleh seorang lelaki lain.


"Tuan …." ucap Gert seraya menyipitkan mata. "Sepertinya itu orang laki-laki yang mengantar Nona Roos beberapa hari lalu."


"Saya tahu," balas Tuan Guus langsung berubah riak wajahnya. "Mengapa Roos bersama itu orang datang ke ini tempat?"


"Sepertinya memang sengaja itu orang membuat janji dengan Nona Roos untuk datang ke sini, Tuan," kata Gert menduga-duga.


Tuan Guus melirik tidak senang. "Heh, darimana kamu orang tahu itu, Gert?"


"Maafkan saya, Tuan. Itu hanya sepintas ini punya pemikiran." Gert lekas memberi salam hormat dan menunduk dalam-dalam.


"Huh, sialan!" rutuk Tuan Guus.


"Maafkan saya, Tuan."


Tidak berapa lama, Roosje sudah tiba di tempat dimana Tuan Guus dan Gert tengah beristirahat. Senyum mengembang langsung terpancar dari gadis tersebut begitu mendekat.


"Papa! Akhirnya aku menemukanmu di sini, Papa!" seru Roosje girang.


"Ada apa kamu mencari-cari Papa, Roos?" tanya Tuan Guus seraya memerhatikan sosok Hanan di belakang anaknya. "En kamu orang … bagaimana bisa bersama-sama Roos datang ke ini tempat?"


"Aku yang mengajak, Papa," jawab Roosje. "Tadi bertemu di jalan dan aku meminta Hanan mengantar menemui Papa."


"Hanan?" Alis Tuan Guus bertaut. "O, iya … Papa ingat sekarang. Kamu orang anaknya itu perempuan yang bernama Sumiarsih, bukan?"


"Benar sekali, Tuan. Beliau ibu saya," jawab Hanan sembari hendak menyalami, tapi Tuan Guus tidak lantas menanggapi.

__ADS_1


'Hhmmm, pantas saja ini orang muda sangat mirip dengan itu laki-laki sialan, si Juanda,' ucap Tuan Guus di dalam hati. 'Tapi mengapa Roos harus mengajak ini anak muda ke punya perkebunanku?'


"Papa ….'


"Ada apa, Roos?"


Gadis itu tidak segera menjawab. Matanya melirik ke arah Gert dengan raut wajah kecut. Tuan Guus paham apa yang dimaksud oleh anaknya tersebut. "Gert, kamu orang lihat-lihatlah itu para pekerja yang ada di sebelah utara. Pastikan mereka tidak sedang bermalas-malasan di sana."


"Siap laksanakan, Tuan!" seru Gert seraya memberi hormat, lantas bergegas memuju tempat yang diperintahkan.


"Gert sudah pergi, Roos, lalu bagaimana dengan ini orang muda?" Tatapan Tuan Guus terasa menusuk-nusuk. "Kamu orang juga menunggu saya perintahkan pergi, huh?"


"Jangan, Papa!" cegah Roosje dengan cepat. "Aku yang mengajak Hanan untuk bicara dengan Papa."


"Bicara dengan Papa?" Tuan Guus menunjuk diri sendiri. Bingung. Terlebih lagi bagi Hanan. "Apa maksudnya, Nona Roos? Bukankah tadi Nona sendiri yang mengajak saya untuk menemui Tuan Guus?" tanya Hanan terheran-heran.


Roosje justru tersenyum. Membuat Tuan Guus dan Hanan makin bertanya-tanya aneh. "Papa …." tutur gadis tersebut, "Hanan ini seorang dokter, Papa. Mungkin Papa bisa bantu Hanan supaya bisa bertugas di wilayah sekitar sini. Yaaa, seperti yang Papa bilang tentang Kervyn juga."


"Nona …." gumam Hanan jadi serba salah tingkah.


Sementara Tuan Guus sendiri malah tampak bingung dengan apa yang dibicarakan oleh anaknya tersebut. "Itu sama sekali bukan kewenangan Papa untuk bisa—"


"Ini lain, Roos. Papa ini—"


"Ayolah, Papa. Ini daerah kekurangan tenaga medis. Bukan begitu, Hanan?" tanya Roos tiba-tiba.


Hanan gelagapan. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendapat situasi membingungkan semacam itu. "Uummhhh, mohon maaf, Tuan Guus dan Nona Roos, tapi saya sendiri sudah mengirimkan surat permohonan tugas pada pemerintah pusat dan itu tinggal menunggu waktu."


"Nah, apapun itu!" timpal Roos mengagetkan. "Papa punya itu koneksi banyak orang-orang pusat, berarti Papa bisa bantu Hanan juga, bukan?"


'Ah, sialan ini Roos,' gerutu Tuan Guus. 'Mengapa memaksa aku untuk bisa membantu secara langsung di depan ini anak muda langsung? Mengapa pula dia membela-bela juga ini orang untuk bekerja di wilayah terdekat. Apakah Roos menyukai ini orang Hanan? Ah, tidak mungkin. Bagaimana dengan Kervyn nanti?"


"Aahhh, mengenai itu hal, Papa tidak bisa memberi janji, Roos," kata Tuan Guus mencoba menolak permintaan Roosje secara halus. "Papa sendiri belum mendapat panggilan tugas dari pusat."


"Tapi walau begitu, Papa tetap bisa bantu Hanan, bukan?" desak Roosje bersikukuh. "Ayolah, Pa. Berjanjilah pada Roos. Aku tahu Papa memang bisa. Iya 'kan, Papa? Iya, 'kan?" cecar anak gadisnya berulang-ulang hingga Tuan Guus kelimpungan dan menjawab, "Iya, iya, iya! Papa akan bantu! Sudah? Cukup?"


Spontan Roosje berseru girang sehingga menyebabkan Gert dan beberapa pekerja perkebunan serentak menoleh.

__ADS_1


"Aahhh, terima kasih sekali, Papa," ujar Roosje. "Aku tahu, Papa memang seorang Papa yang baik. Roos sangat mencintai Papa."


"Papa juga, Sayang," balas Tuan Guus. "Wel, kamu senang sekarang?"


"Tentu saja, Papa," jawab Roosje berbunga-bunga. "En bagaimana denganmu orang, Hanan? Kamu orang suka dengan kabar ini?"


Hanan yang memilih banyak terdiam hanya mengangguk kecil. Tatapan mata Tuan Guus dari awal kedatangan mereka, tampak sekali kurang bersahabat.


Setelah mengobrol sebentar, akhirnya Roosje berpamitan pada ayahnya. "Mengapa tidak bersama-sama saja, Roos? Sebentar lagi, Papa juga akan pulang."


"Ah, terima kasih, Papa. Aku lebih suka pulang lebih awal diantar Hanan," jawab Roosje. "Bukankah begitu, Hanan?"


"A-aahhh … i-iya, i-iya … Nona," sahut Hanan gelagapan. "Mungkin … eh, he-he."


Sorot mata Tuan Guus semakin menajam. Hingga mereka berdua pamit untuk pulang kembali. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba terdengar teriakan Dasimah. "Tuaannn! Nonaaa! Den Hanaaannn!" Sosok itu berlari-lari menapaki jalan kecil dan sempat beberapa kali jatuh-bangun.


"Nèng Imah?" gumam Hanan.


"Dasimah! Ada apa dengan dia?" Bertanya-tanya Roosje keheranan. "Apa mungkin dia orang dikejar binatang hutan sini?"


Setelah Dasimah mendekat, perempuan itu berkata disertai napas terengah-engah. "Nona Roos … Den Hanan … i-itu … i-itu …." Dia menunjuk arah asal tadi berlari.


"Ada apa, Dasimah? Katakan dengan jelas!" seru Roosje ikut panik.


"Iya, Nèng. Ada apa?" Hanan ikut bertanya. "Ceritalah."


Tuan Guus ikut mengerubungi dan bertanya sama seperti halnya Hanan serta Roosje.


Dasimah pun berkata, "I-itu … Ki Praja dan Mang Dirman … mereka sedang … berkelahi di atas sana!"


"Apa?!" Ketiga orang itu serempak melongo.


"Ya, Allah … Mang Dirman," gumam Hanan terkejut dan tanpa aba-aba langsung berlari meninggalkan Tuan Guus dan Roosje.


"Papa, bagaimana ini?" Roosje ikut panik.


"Kamu orang tunggu di sini, Roos. Papa akan menyusul ke atas untuk melihat-lihat keadaan Ki Praja!" kata Tuan Guus. Lantas memanggil Gert dari kejauhan. "Gert! Ikut saya sekarang!" teriak Tuan Guus memanggil anak buahnya tersebut.

__ADS_1


"Siap, Tuan!" sahut Gert nyaring dari kejauhan.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2