Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 59


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 59...


...—---- o0o —----...


Tidak disangka, tanpa sepengetahuan Sendang Waruk, ternyata Nyai Ayu pernah nekat menemui Sumiarsih dulu. Entah apa yang dibicarakan oleh kedua perempuan itu sesungguhnya. Sosok lelaki tersebut tidak diberitahu secara terperinci.


"Ke mana Juanda suamimu itu, Sum?" tanya Sendang Waruk setelah beberapa lama tidak melihat sosok sahabatnya tersebut. 


Jawab Sumiarsih, "Akang Juanda sedang bersama Tuan Hansen. Aku dengar, mereka berdua sedang mengerjakan proyek pembangunan saluran irigasi perkampungan."


"Oh, begitu?" Sendang Waruk mengerutkan dahi. "Hhmmm."


Setelah itu keduanya pun terdiam hingga lelaki tersebut memutuskan untuk kembali pulang. Pertemuan itu pula yang menjadi perjumpaan terakhir antara Sendang Waruk dan Sumiarsih. Selanjutnya dia pun menghilang bersama kelompok pejuang sampai kemudian tersiar kabar bahwa Juragan Juanda mengalami sakit parah. Sementara niat semula untuk mencari sosok Nyai Ayu pun tidak pernah kesampaian. Perempuan yang dulu pergi dalam keadaan hamil itu benar-benar seperti lenyap ditelan bumi.


"Ki …." panggil satu suara mengentakkan lamunan Ki Sendang Waruk. Dia pun menoleh. "Aki masih ingin di sini? Saya mau pulang, Ki."


Lelaki tua berikat kepala kain batik tersebut menggaruk kepala. Kejadian demi kejadian yang pernah dia alami dulu, rasanya baru saja kemarin berlalu. 


"O, iya … pulanglah dulu. Saya nanti menyusul ke rumahnya Juragan Sumiarsih," kata Ki Sendang Waruk. "Tapi kamu harus ingat-ingat pesanku tadi, usahakan … apa yang menjadi penyebab kematian Juragan Juanda semalam, jangan sampai tersebar luas di lingkungan warga. Cukuplah mereka tahu bahwa Juragan Juanda meninggal secara mendadak."


"Iya, Ki. Saya pasti ingat pesan Ki Èndang itu."


"Kalau sampai tersiar kabar yang tidak menyenangkan, kalian … orang-orang yang pertama kali akan saya cari. Ingat itu," ancam kembali Ki Sendang Waruk menakutkan pada sosok tadi bersama beberapa temannya. 


"I-iya, Ki. Iya," jawab mereka ketakutan seraya saling melempar pandang satu dengan lainnya. "Kami hanya diberi tugas mengurus jenazah Juragan Juanda sampai dikuburkan tadi. Hal-hal lainnya, tentu saja kami tidak tahu."

__ADS_1


Teman-teman lainnya mengiakan dengan kompak.


"Ya, sudah. Ini terimalah, sedikit upah atas tugas yang telah kalian kerjakan," ujar Ki Sendang Waruk seraya membagi-bagikan sekantong uang pada mereka. "Sekarang, lekaslah kalian pulang ke rumah masing-masing."


"B-baik, Ki!" sahut mereka antara merasa senang dan takut. Kemudian buru-buru meninggalkan tempat tersebut sambil memanggul cangkul serta peralatan untuk membuat liang kuburan tadi.


Sorot tajam mata orang tua itu terus mengikuti sosok-sosok yang baru saja meninggalkan area pekuburan dengan langkah tersaruk-saruk ketakutan. Kemudian setelah mereka menghilang dari pandangan, Ki Sendang Waruk membalik badan, menatap onggokan tanah makam sahabatnya, Juanda.


"Maafkan saya, Juanda," gumamnya lirih. "Aku masih tidak menyangka kalau nasibmu akan berakhir setragis ini."


Kemudian melangkah mendekati kuburan. Berjongkok di sampingnya seraya menitikkan air mata. Dia teringat pada pergulatan semalam melawan sahabatnya sendiri dan sisanya masih terasa sakit mendera ulu hati. Ada luka dalam yang dialami.


"He-he-he …." Seseorang mengekeh secara tiba-tiba di sana. Ki Sendang Waruk sampai terperanjat mencari-cari asal suara datang.


Tampak sesosok lelaki tengah berdiri di dekat sebuah pohon sambil tertawa-tawa, memperhatikan dari kejauhan.


'Ki Bajra ….' gumam Ki Sendang Waruk begitu mengenali sosok yang dia lihat tersebut. 'Apa yang dia lakukan di sini?'


Bukan apa-apa. Karena lelaki bernama Ki Bajra ini, setahunya, bukanlah seorang yang berperangai baik. Apalagi mendiang Ki Ranah Welung pernah bercerita, bagaimana kelakuan mantan muridnya itu dia dulu.


"Aki …." ucap Ki Sendang Waruk mengawali pembicaraan. "Apa yang Aki lakukan di sini?" tanyanya tetap waspada.


Sosok itu kembali mengekeh, gila. Kemudian perlahan-lahan mulai melangkah untuk mendekat. 


"Mengapa Waruk Adik seperguruan? Dunia ini luas dan siapa pun berhak berpijak dimanapun juga, bukan? Termasuk saya tentunya, ya?" katanya berbalik tanya. Terdengar begitu pongah seraya menyipitkan mata, menatap Ki Sendang Waruk. "Tampaknya kamu terkejut sekali melihat kemunculan saya di sini, Waruk. Jangan takut, Adik seperguruan," imbuhnya kembali, "saya datang hanya untuk memastikan, kalau orang yang pernah menjadi sahabatmu itu, benar-benar telah dikuburkan dengan layak."


Ki Sendang Waruk terkesiap. Dia membaui aroma ketidakberesan pada ucapan Ki Bajra tersebut.


"Maksud Aki … Juanda?" tanya Ki Sendang Waruk.

__ADS_1


Ki Bajra mengekeh. "Siapa lagi? Nama almarhum sahabatmu itu memang bernama Juanda, bukan?"


Kali ini giliran Ki Sendang Waruk yang menyipitkan kelopak mata. "Tunggu! Darimana Aki tahu kalau Juanda itu pernah menjadi sahabat saya?"


Bukan apa-apa Ki Sendang Waruk bertanya demikian, karena Ki Bajra bukanlah warga kampung sekitar. Lagipula, awal mengenalnya pun di tempat yang cukup jauh dari lokasi pertemuan mereka terdahulu. Lantas sekarang, muncul di Kampung Sundawenang secara tiba-tiba. Bukankah sebuah keanehan? Belum lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mendadak datang mencecar satu per satu.


Jawab Ki Bajra menjelaskan, "Saya hanya tahu sekilas tentang kalian berdua. Tidak banyak dan tidak lebih." Dia kembali mengulas senyum kambing yang begitu menyebalkan. "Terus, tujuan utama saya sampai datang ke sini pun, sebenarnya hanya ingin menemuimu, Warik."


'Ingin menemuiku? Ada kepentingan apa manusia culas satu ini sampai jauh-jauh mencariku?' Benak Ki Sendang Waruk berpikir keras. 'Apakah ini ada kaitannya dengan pembantaian sekelompok pengkhianat negeri di beberapa bulan yang lalu itu?'


Ki Sendang Waruk tetap berusaha menjaga jarak aman dengan sosok tersebut. "Apa yang bisa saya bantu untuk Aki sekarang?" tanya kemudian, walaupun sejujurnya merasa enggan untuk  bercakap-cakap.


Ki Bajra bergeming kini, seraya menatap langit bumi Sundawenang yang tampak mulai terang benderang.


"Beberapa bulan ke belakang, saya berniat untuk menemui guru saya, Ki Ranah Welung. Tentu kamu mengenal nama itu 'kan, Warik?" tanyanya tanpa menoleh, tapi disertai mengekeh pelan. "Dia itu bekas guru saya dulu. Tapi ketika saya tiba ke kediaman Guru, keadaannya sudah jauh berbeda. Gubuknya kosong, hancur, dan saya menemukan sebuah kuburan yang tidak seberapa jauh di sana."


'Tentu saja aku sendiri yang menguburkan Aki Guru waktu itu, Bajra,' timpal Ki Sendang Waruk di dalam hati. Lantas menatap Ki Bajra dengan sorot mata penuh kecurigaan.


"Setahu saya, kamulah orang terakhir yang tinggal bersama Ki Ranah Welung di sana," ucap Ki Bajra kini beralih menatap laki-laki tua berikat kepala kain batik tersebut. "Karena pada saat kamu hampir mati dulu, Ki Ranah Welung pasti membawamu ke tempat tinggalnya untuk diobati, bukan?"


Jawab Ki Sendang Waruk, "Ya, benar. Saya memang ikut tinggal bersama beliau di sana. Lalu apa yang menjadi permasalahannya, Ki?"


Usai terdiam beberapa saat, Ki Bajra pun berkata kembali, "Saya tidak menemukan bekas guru saya itu di sana, Warik. Terus, kuburan siapakah yang ada di sana itu? Kamu pasti tahu itu."


"Itu kuburan Aki Guru, Ki," jawab Ki Sendang Waruk dengan benak diliputi berbagai bunyi pertanyaan. "Saya sendiri yang menguburkan jasad Aki Guru Ranah Welung. Ada apa Ki Bajra bertanya seperti itu?"


Tiba-tiba mata tua Ki Bajra melotot besar. 


"Apa? Guru sudah mati? Ya, Tuhan! Mengapa tidak seorangpun yang memberitahukan kabar itu?"

__ADS_1


'Hhmmm, aku membaui aroma dusta di balik kalimat-kalimatnya yang terucap dari manusia pencundang ini.'


BERSAMBUNG


__ADS_2