Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 46


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 46...


...—---- o0o —----...


Keesokannya, seperempat jam sebelum tiba masa di tengah hari, sebuah sado berhenti di halaman kediaman Juragan Sumiarsih. Tiga sosok segera turun dari atas kendaraan berkuda tersebut, antara lain; Tuan Guus, Roosje, serta Gert. Sementara Ki Praja memilih untuk tetap menunggu.


Hanan dan Juragan Sumiarsih datang menyambut begitu mendengar suara ringkik kuda di luar rumah.


"Selamat datang di rumah kami, Tuan-tuan dan Nona," sapa Hanan seraya membungkukkan badan diikuti oleh ibunya.


Tuan Guus tersenyum-senyum. Apalagi begitu melihat sosok Juragan Sumiarsih yang berdiri —persis— di samping anaknya, Hanan.


"Terima kasih, Anak Muda," balas laki-laki bertubuh tinggi besar tersebut ramah. Tidak seperti biasanya. "Terima kasih juga pada kamu orang, Sumiarsih, atas kesediaan kamu orang untuk menerima saya en ini Roos anak perempuan saya." Dia menunjuk pada sosok Roosje. "Roos … ini Mama dari itu Hanan anak muda."


"Selamat berjumpa, Mama Hanan. Senang sekali ini saya Roos mengenal Mama Hanan," ujar Roosje seraya mengulurkan tangan dan disambut oleh Juragan Sumiarsih, saling berjabat tangan.


"Iya, sama-sama, Nona Roos," balas ibunya Hanan tersebut diiringi senyuman ramah. "Dan ini … Nona dan anak saya Hanan, tentu sebelumnya sudah pernah bertemu, bukan?" Sosok perempuan tua yang masih terlihat cantik itu menunjuk pada Hanan. 


"Ooohh, pasti Hanan pernah bercerita pada Mama orang sewaktu kami orang berdua bertemu untuk pertama kalinya, ya?" Roosje sedikit tersipu dan merasa senang.


Jawab Juragan Sumiarsih, "Benar sekali, Nona. Anak saya memang selalu bercerita tentang siapapun orang yang baru dia kenal dan ditemui. Bukankah begitu anakku?" tanyanya pada Hanan yang senantiasa menunduk, menghindari beradu tatap dengan Roosje. 


Anak muda tersebut langsung menjawab gagap, "Y-ya, itu benar sekali."


Tuan Guus ikut menimpali, "Aahhh, itu bagus sekali." Tidak lepas lelaki ini memandangi wajah Sumiarsih sejak awal tiba tadi. "Jadi kita orang semua tidak perlu saling memperkenalkan diri dan keluarga masing-masing. He-he."


Hanan dan ibunya spontan saling menoleh dan melempar senyum penuh arti.

__ADS_1


'Aahhh … melihatmu di siang ini, kamu orang terlihat masih sama cantiknya seperti dulu, Sumiarsih,' gumam Tuan Guus di dalam hati. 'Dari dulu pula, tidak bisa hilang ini rasa cinta padamu seorang. Hhmmm, apakah sekarang … ini orang perempuan masih juga menolak, jika aku lamar? Ah, terlalu cepat jika sampai langsung menuju maksud itu. Lebih baik, aku dekati terlebih dahulu sampai dia orang menaruh itu rasa percaya. Semoga saja itu orang Juanda, tidak merasa cemburu di dalam kuburnya sana. He-he-he.'


Sejenak alam pikiran Tuan Guus mundur beberapa waktu ke belakang. Khususnya ketika semalam tadi bertandang untuk pertama kalinya dan ditemui langsung oleh Sumiarsih.


"Tuan Guus?" ucap perempuan itu pada awal perjumpaan mereka berdua kembali di ambang pintu.


"Aahhh, Sumiarsih …." Balik menyapa lelaki Belanda tersebut terkejut, sekaligus merasa senang bisa bertemu wanita pujaannya. "Maaf, aku bertamu malam seperti ini ke rumahmu. Aku … aku … eh, maksudnya … ada sesuatu hal yang ingin aku orang bicarakan dengan keluargamu orang, Sumiarsih." Rona bahagia seketika terpancar dari raut muka Tuan Guus dan tidak lepas memandangi kagum sosok di depannya tersebut.


Sumiarsih sendiri senantiasa menundukkan kepala, terkecuali hanya sesekali menatap mata lelaki itu saat berbicara.


"Mohon maaf sekali, Tuan," ucap perempuan tersebut seraya membungkukkan badan. "Kebetulan, di rumah ini sedang tidak ada anak lelaki saya, Hanan. Jadi saya tidak berani menerima tamu laki-laki siapapun, termasuk … Tuan sendiri. Mohon maafkan saya, Tuan."


"Tapi aku orang hanya ingin berbicara sebentar saja, Sumiarsih. Tidak banyak," balas Tuan Guus sedikit memaksa. "Aku janji, ini tidak akan lama. Atau … sambil menunggu itu anak laki-lakimu orang, hhmm?"


Sumiarsih menggeleng. "Tidak, Tuan. Mohon maaf. Saya tidak bisa," katanya kembali sambil memberikan sembah pemakluman. "Anak saya sedang tidak ada di rumah."


"Ke mana itu anakmu orang, Sumiarsih? Biar aku cari sebentar, supaya kamu orang bisa menerima saya bertamu malam," ucap Tuan Guus bersikukuh.


Sumiarsih berpikir-pikir sejenak. "Saya sendiri tidak tahu kemana perginya anak saya itu, Tuan. Mohon maafkan kami," jawabnya sengaja tidak memberitahukan perihal kepergian Hanan ke rumah Bunga dan Ki Sendang Waruk bersama Mang Dirman.


Kembali Sumiarsih menggeleng-geleng, lantas menjawab, "Tidak, Tuan. Keadaannya sekarang sudah jauh berlainan. Tidak lagi seperti dulu. Saya dan Tuan, sama-sama orang berbeda. Mohon maafkan saya."


"Ah, verdomme!" rutuk Tuan Guus kesal. "Eh, maaf … aku salah bicara. M-maksudku, tidak perlu lagi kamu en aku orang saling membedakan diri. Karena aku orang … masih sama seperti padamu orang dulu, Sumiarsih."


Perempuan itu sedikit terperangah. Jelas sekali apa yang diucapkan oleh lelaki tersebut. Namun berusaha memahami apa yang sebenarnya Tuan Guus maksud baru saja.


'Tidak, ini bukan sesuatu hal yang patut ditanggapi sekarang secara berdua,' gumam Sumiarsih dengan benak penuh tanya. 'Jelas sekali ucapannya bermakna bahwa lelaki ini ternyata masih berharap padaku sebagaimana dulu. Apakah itu yang dia maksud? Apakah itu pula yang dia ingin bicarakan, sampai-sampai bertamu malam-malam seperti ini ke rumahku?'


'Ya, Allah … mengapa tiba-tiba aku jadi merasa takut dengan kedatangan Tuan Guus? Mana Hanan belum pulang juga sampai sewaktu ini,' imbuh perempuan tersebut bergumam sendiri.


Di saat bersamaan, Tuan Guus pun berkata-kata juga di dalam hati. Ucapnya, 'Ah, aku tidak boleh memaksa Sumiarsih untuk menerimaku bertamu ini malam. Seperti dulu, dia malah memilih untuk menikah dengan itu orang si Bangsat Juanda, setelah aku tekan dia perempuan untuk menerima lamaranku seorang. Tidak! Sekarang tidak boleh terulang kembali. Aku harus menunjukkan sikap orang baik-baik, supaya ini orang Sumiarsih merasa tertarik untuk kembali dekat.'

__ADS_1


Setelah beberapa saat saling terdiam, akhirnya Tuan Guus terpaksa mengurungkan niat untuk melanjutkan kunjungannya malam itu ke rumah Sumiarsih. Namun dia berjanji, keesokan harinya akan kembali bertamu selagi ada Hanan, sesuai dengan permintaan pihak pemilik rumah.


"Baiklah kalau begitu, Sumiarsih," kata Tuan Guus menjelang pamit pulang, "aku orang sangat menghormati dan menghargai keberatan kamu orang. Besok, aku meminta izin untuk datang bertamu kembali ke sini. Bolehkah?"


Dengan perasaan masih ragu, Sumiarsih terpaksa mengangguk, menyetujui. "I-iya, Tuan. Itu pun kalau anak laki-laki saya ada di rumah," balasnya bimbang.


"Ya, sudah. Katakan itu pada anak kamu orang, aku besok akan kembali bertamu ke sini dan berharap sekali dia juga ada. Karena … maksud pembicaraanku pun ada punya untuk kepentingan dia orang."


Sumiarsih mengerutkan kening. "Maksud Tuan … ada hal yang ingin Tuan bicarakan juga dengan Hanan anak saya?" tanyanya bingung.


Tuan Guus mengiakan. "Benar sekali, Sumiarsih," jawabnya diiringi senyuman ramah.


"Kalau saya boleh tahu, mengenai apakah itu, Tuan?" tanya Sumiarsih menjadi penasaran.


Lelaki bertubuh tinggi besar tersebut tersenyum. "Ah, besok akan aku orang bicarakan langsung pada kamu en dia orang. Pokoknya, percayalah … maksud kedatanganku seorang ini adalah baik, Sumiarsih. Kamu orang tentunya sudah tahu 'kan, seorang Guus Van Der Kruk tidak pernah main-main dengan itu sebuah janji. He-he," ucap Tuan Guus penuh percaya diri dan tanpa sadar telah menonjolkan sisi keangkuhannya.


Diam-diam Sumiarsih malah tersenyum kecut di balik wajahnya yang tertunduk dalam-dalam.


Usai berpamitan, lelaki Belanda itu pun segera pulang kembali ke rumahnya, meninggalkan sosok Sumiarsih yang masih berdiri terpaku di ambang pintu memandangi Tuan Guus hingga lenyap di balik kegelapan.


'Hhmmm, masih terlihat cantik sekali itu perempuan Sumiarsih,' gumam Tuan Guus sesaat setelah meninggalkan halaman rumah Sumiarsih. 'Mengapa aku masih belum bisa menahan rasa cinta ini? Mengapa pula aku mesti berlama-lama menunggu sampai si Keparat Juanda itu mati terlebih dahulu? Bukankah jika kulakukan sejak awal, semua hasilnya akan jauh lebih sempurna? Huh! Sekarang … ada anak muda itu dan justru sepertinya anakku Roos menyukainya. Verdomme!'


Mengingat hal itu semalam, lelaki Belanda itu jadi tersenyum-senyum sendiri.


Kemudian setelah berbasa-basi beberapa saat, rombongan Tuan Guus pun dipersilakan masuk ke dalam rumah oleh Hanan dan Juragan Sumiarsih. Tidak lupa langsung dijamu dan dihantarkan oleh Ceu Odah, Ceu Ijah, dan Ceu Enok.


Namun di saat bersamaan, dua sosok manusia diam-diam bersembunyi di balik rimbunan semak belukar. Tidak jauh dari kediaman Juragan Sumiarsih tersebut.


"Celaka! Ada Tuan Guus dan pengawalnya, datang ke rumah Sumiarsih. Kita harus segera bersembunyi dan menunggu sampai mereka semua pergi dari sana!"


"Benar. Ada Nona Roos juga. Ya, Allah! Bagaimana ini? Apa yang akan mereka lakukan dan perbincangkan di dalam sana?"

__ADS_1


Kedua sosok itu tidak mau mengambil risiko. Lebih memilih untuk menunggu hingga semua tamu tidak diharapkan itu pergi. Entah sampai berapa lama.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2