Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 48


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 48...


...—---- o0o —----...


Sepeninggal rombongan Tuan Guus dan Nona Roosje, dua sosok yang sedang bersembunyi di balik semak-semak pun keluar. Sebentar mereka memutar kepala ke empat penjuru arah untuk memastikan keamanan, lantas perlahan-lahan bangkit sambil menepuk-nepuk pakaian dari semut-semut yang mengerubungi.


"Huh, kalau saja bukan karena si Jahanam Belanda itu, kita tidak ingin berada di sini sejak pertama kali datang," rutuk salah satu dari dua sosok tersebut menggerutu. Dia tidak lain adalah Ki Sendang Waruk.


"Sudahlah, Wak," timpal seorang lagi yang merupakan Bunga, keponakannya. "Ayo, sekarang kita masuk saja ke rumah Juragan Sumiarsih." Dia menyeka keringat dan menatap ke atas sejenak. "Hari sudah siang dan panas sekali di sini."


Mulut Ki Sendang Waruk bergerak-gerak. Mengomel sendiri tanpa suara, kecuali decak kesal yang sedari tadi dia tahan.


"Lama sekali mereka mengobrol, Nèng," ujar lelaki tua tersebut seraya melangkah, diikuti oleh Bunga di belakangnya. "Entah apa yang mereka bicarakan dan apa pula maksud kedatangan Tuan Guus itu."


Bunga tidak lekas menimpali. Pikiran gadis itu justru teringat pada sosok Nona Roosje tadi. Sedikit terbersit, ada rasa khawatir serta kecemburuan yang tiba-tiba hinggap menyelimuti perasaannya.


"Nèng, mengapa Enèng terdiam?" tanya Ki Sendang Waruk mengejutkan. "Apa yang sedang Enèng pikirkan?" Lanjutnya bertanya begitu memperhatikan raut wajah Bunga yang muram. 


"Ah … tidak, Wak," jawab Bunga, buru-buru mengulas sedikit senyum, tapi hambar. "Tidak ada yang sedang Enèng pikirkan, kok."


Ki Sendang Waruk mendeham beberapa kali tanpa menoleh. Lantas kembali mengajukan pertanyaan, "Enèng memikirkan anak muda itu?"


"Aa Hanan maksud Uwak?" Gadis itu melirik sekejap seraya menipiskan bibir.


Terdengar kekehan kecil dari laki-laki tua tersebut. "Siapa lagi?" ujarnya usai menghentikan tawa. "Pasti Enèng takut, kekasihmu itu bakal terpincut oleh anak perempuan Tuan Guus itu. Iya, 'kan?"


"Ah, Uwak … ada-ada saja," timpal Bunga merasa risi. Tidak menyangka kalau isi kepalanya tersebut ternyata mampu ditebak oleh uwaknya dengan tepat. "Enèng hanya—"


Tukas Ki Sendang Waruk sebelum Bunga menyelesaikan ucapannya, "Uwak juga 'kan pernah muda, Nèng. Tahu sekali bagaimana perasaan dan sikap seorang perempuan. He-he. Sebagaimana dulu pernah Uwak rasakan selagi masih muda."

__ADS_1


Bunga melirik pada lelaki tersebut. Mendadak dia penasaran dan ingin tahu pengalaman uwaknya ketika muda dulu. Tepatnya di dalam masalah kisah percintaan. "Uwak pernah jatuh cinta?" tanyanya kemudian.


Ki Sendang Waruk mengekeh, lantas menjawab, "Tentu saja, Nèng. Setiap insan dewasa, pasti pernah mengalami masa-masa itu. Jatuh cinta."


"Terus … sampai ke jenjang pernikahan, Wak?" tanya kembali gadis itu semakin dibuat penasaran. Sebab setahu dia, uwaknya tersebut belum pernah menikah hingga usianya menua seperti sekarang.


"Tidak …." jawab lelaki tersebut pelan. Seperti tengah merasakan kembali masa-masa pahit yang pernah dia alami di masa silam, secara tiba-tiba. 


"Mengapa, Wak?" Lagi-lagi Bunga bertanya penuh penasaran. "Apakah perempuan yang Uwak cintai itu menerima Uwak? Atau mungkin Uwak ditinggalkan oleh—"


"Kita sudah sampai, Nèng," tukas Ki Sendang Waruk buru-buru memotong kalimat pertanyaan keponakannya. Kentara sekali bahwa laki-laki tersebut sedang tidak ingin membicarakan masalah pribadinya yang telah lama berlalu itu. 'Ah, mengapa juga aku harus kembali mengingat kenangan itu? Bukankah antara aku dan dia sudah lama berpisah dan tidak pernah kembali bertemu? Sudah dua puluh tahunan lebih atau seumuran dengan keponakanku ini, aku dan Nyai Ayu berpisah. Sial, bagaimana rupanya pun sekarang, aku tidak tahu.'


Mereka berdua mulai menjejak lantai panggung berbahan kayu kediaman mendiang Juragan Juanda. Lalu mengucap salam sekali dan menunggu.


Tidak berapa lama, sesosok perempuan muncul membukakan pintu.


"Nèng Bunga! Ki Èndang!" seru sosok tersebut kaget. "Eh, lupa … saya belum menjawab salam, ya? Wa'alaikum salaam."


"Eh, Ceu Odah …." ujar Bunga. "Ibu dan Aa Hanan-nya ada di rumah, 'kan?" tanyanya berbasa-basi supaya disangka baru saja tiba di sana. Padahal sebelumnya mereka berdua bersembunyi sewaktu rombongan Tuan Guus dan Nona Roosje bertamu tadi.


Jawab sosok tadi yang —memang— merupakan Ceu Odah, perempuan yang hampir setiap kali berbicara selalu memuncratkan air ludah, "Ada, Nèng. Baru saja … uummhhh, menerima tamu penting."


"Tamu penting? Siapa?" tanya Bunga pura-pura tidak tahu sambil melirik uwaknya, Ki Sendang Waruk.


Ceu Odah maju selangkah, hendak menjawab, tapi setengah berbisik. Tentu saja harus memperpendek jarak. Katanya kemudian, "Tuan Guus dengan anaknya, Nona Roos." Bunga menarik sedikit kepalanya ke belakang. "Tadi saya dengar di belakang, mereka berbicara tentang perkebunan Juragan dan pekerjaan Den Hanan juga."


"Perkebunan dan pekerjaan Hanan?" Ki Sendang Waruk mengulang ucapan Ceu Odah. Dia yang kini maju mendekat, seraya menggeser sedikit tubuh Bunga agar agak lebih menjauh. "Maksudnya apa itu? Euceu dengar semua pembicaraan mereka?"


Ceu Odah hendak kembali menjawab, tapi tiba-tiba sosok Juragan Sumiarsih muncul dari dalam bersama Hanan. "Ki Èndang? Nèng Bunga? Ya, Allah … mengapa tidak langsung masuk, Ki?"


"Aki? Nèng?" Hanan ikut menyapa dan langsung menyalami orang tua tersebut. "Ayo, masuk … masuk. Ini Ceu Odah juga, mengapa tidak langsung dipersilakan masuk? Malah mengobrol di pintu, ah!"


Ceu Odah membungkuk-bungkuk. Antara merasa malu dan bersalah. "Maaf, Juragan-Den," katanya pada Juragan Sumiarsih dan Hanan. "Saya sampai lupa. Soalnya diajak mengobrol sebentar. He-he."

__ADS_1


"Ya, sudah. Euceu kembali saja ke dapur. Biar Aki dan Enèng masuk dulu," timpal Juragan Sumiarsih seraya mengajak Ki Sendang Waruk dan Bunga masuk ke dalam rumah. "Aduh, mengapa harus repot-repot? Ki Èndang dan Nèng Bunga jalan kaki ke sini? Padahal 'kan bisa minta Mang Dirman untuk menjemput ke sana."


Ki Sendang Waruk dan Bunga tersenyum-senyum dan langsung duduk begitu dipersilakan. 


"Tidak apa-apa," balas lelaki tua itu kemudian. "Sengaja kami jalan kaki, sambil melihat-lihat pemandangan kampung. Kebetulan, saya 'kan sudah lama, jarang pulang ke sini. Sekalian, mengetahui perkembangan kampung kita ini."


Hanan memandangi kekasihnya, Bunga. Wajah gadis itu tampak kelelahan dan bersimbah keringat. "Aki Èndang dan Enèng tentu haus, 'kan? Sebentar ya, saya ambilkan dulu minum ke belakang."


"Jangan, Aa!" cegah Bunga. "Biar aku saja sendiri yang mengambilkan."


"Tidak apa-apa, Nèng," timpal Hanan. "Enèng 'kan capek."


"Sudah, Aa. Tidak perlu. Biar Enèng sendiri yang mengambilkan ke dapur," balas Bunga kembali. Lalu, usai meminta izin pada Juragan Sumiarsih, gadis itu bergegas ke arah ruangan belakang. Bukan tanpa maksud, disamping hendak mengambilkan air minum untuk uwaknya, dia juga ingin melanjutkan percakapan tadi dengan Ceu Odah.


Beberapa saat kemudian, Hanan kembali mengawali pembicaraan di ruangan tersebut. "Bagaimana kabar Uwak semalam? Semua dalam kondisi aman 'kan, Wak?" tanyanya berbasa-basi. 


Ki Sendang Waruk mendesah sejenak. "Justru itu, Nak," ucapnya lirih, "Uwak datang ke sini sekarang, bermaksud hendak menitipkan Nèng Bunga di rumah ini. Maksudnya, biarlah untuk sementara waktu … Nèng Bunga tinggal bersama Nak Hanan dan Ibu."


"Loh, memangnya ada apa, Ki?" tanya Juragan Sumiarsih terheran-heran. Apalagi memperhatikan raut wajah lelaki tersebut tampak begitu sedih, bermuram durja. "Sejak awal sih, saya memang menghendaki Nèng Bunga tinggal di sini seperti biasa. Tapi karena permintaan Aki semalam, saya dan Hanan hanya bisa menerima."


Lagi-lagi Ki Sendang Waruk mendesah. Kegundahan hati kentara sekali terlihat setiap kali dia berkata-kata. Tuturnya kemudian usai menarik napas panjang, "Semalam … kami menerima sebuah teror."


"Teror? Astaghfirullah! Teror apa, Ki?" tanya Hanan terkejut luar biasa. "Seseorang datang ke rumah Aki semalam?"


Mata orang tua itu menatap pada Hanan dan Juragan Sumiarsih secara bergantian. Jawabnya perlahan, "Bukan seorang, tapi sesosok …."


"Maksud Ki Èndang?" Kini giliran Juragan Sumiarsih yang terheran-heran.


Jawab Ki Sendang Waruk kembali, "Makhluk kiriman atau jelmaan."


"Astaghfirullahal'adziim!" seru anak dan ibu tersebut terkaget-kaget.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2