
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 19...
...—---- o0o —----...
Jelang siang hari sekitar sebelasan, Roosje mencari-cari Ki Praja hingga ke area kandang kuda, tapi laki-laki tua tersebut tidak kunjung ditemukan di sana. Kemudian menemui Koen yang sedang berjaga di depan gerbang rumah.
"Ki Praja pergi bersama Tuan Guus ke perkebunan di atas, Nona," jawab Koen begitu ditanya.
Roosje mendecak kesal. Kalau ayahnya pergi, pasti dikawal oleh Gert. Jadi tidak ada seorangpun yang bisa dipintai tolong di rumah.
"Nona hendak ke mana sesiang ini?" tanya Koen. "Nanti kalau Tuan Guus pulang dan bertanya, saya tidak bisa menjawab apa."
'Ah, sialan! Kalau aku minta Koen mengawal, lalu siapa yang berjaga di sini?' rutuk Roosje makin kesal. 'Apakah aku mengajak itu Dasimah saja?' tanyanya sendiri seraya bergegas kembali ke dalam rumah, mencari-cari sosok yang dimaksud. "Ah, beruntung sekali, ternyata kamu ada di sini, Dasimah!"
Seorang perempuan muda menoleh saat tengah bekerja di ruang tengah.
"Ada apa, Nona? Apa ada yang bisa saya bantu lakukan?" tanya Dasimah seraya mengelap peluh yang mengucur di wajah.
"Kamu orang hari ini temani saya jalan-jalan ke kampung," jawab Roosje.
Perempuan muda pribumi itu mengerutkan kening. "Naik kuda kembali, Nona?" tanyanya dengan raut seperti menyimpan rasa khawatir. "Apakah itu—"
"Tentu saja tidak, Dasimah. Saya masih takut dengan kuda baru pemberian Papa itu," tukas Roosje diiringi senyum tipis. "Saya ingin melihat-lihat saja, sekaligus kita berkunjung ke perkebunan Papa di atas itu."
Dasimah manggut-manggut. "Ah, baiklah, Nona. Kalau begitu, mohon izin tunggu sebentar, saya harus bersih-bersih diri terlebih dahulu," ujarnya seraya menandaskan sisa pekerjaan dapurnya.
"Tinggalkan saja pekerjaan itu, Dasimah," kata Roosje sedikit memaksa. "Kamu suruh saja itu Ambu Darsih membereskan tugasmu, huh!"
Sejenak, perempuan muda itu tampak bingung.
"Ada apa lagi, Dasimah?"
Jawab Dasimah pelan, "Sebentar lagi siang, Nona. Saya khawatir, Tuan Guus akan pulang lebih awal untuk makan siang. Sementara persiapan belum sepenuhnya ada. Apa mungkin—"
"Apa kamu orang tidak mendengar? Saya perintahkan itu Ambu Darsih untuk melanjutkan pekerjaanmu, Dasimah!"
Buru-buru Dasimah melepaskan pekerjaannya, lantas dengan cekatan bergegas mencari sosok Ambu Darsih di belakang. "Baik, Nona. Mohon izin memanggilnya terlebih dahulu."
"Cepatlah!'
"I-iya, Nona,"
__ADS_1
Tergopoh-gopoh Dasimah memanggil Ambu Darsih ke belakang, hingga kemudian kembali bersama seorang perempuan tua berusir sekitar lima puluh tahunan. "I-iya, Nona Roos. Hampunten, aya naon … eh, ada apa?" tanya sosok tersebut yang ternyata adalah Ambu Darsih dengan logat kental khas Sunda-nya.
(Hampunten, aya naon? : Mohon maaf, ada apa, ya?)
Roosje menatap dalam-dalam sosok tua tersebut. "Ambu Darsih …."
"Muhun, Nona Roos," balas Ambu Darsih seraya menghaturkan sembahnya.
(Muhun : Iya)
Imbuh kembali Roosje, "Saya ingin kamu orang gantikan itu tugas pekerjaan Dasimah, sebab saya mau Dasimah temani saya berkunjung ke kampung-kampung. Kamu mengerti, Ambu?"
"Muhun, Nona Roos, kahartos," jawab Ambu Darsih kembali menghaturkan sembah hormatnya.
(Muhun, Nona Roos, kahartos : Iya, Nona Roos, dimengerti)
"Ah, baiklah. Ini jadi jauh lebih mudah bukan, Dasimah?" tanya putri Tuan Guus tersebut pada Dasimah yang tertunduk takut.
"Iya, Nona Roos."
"Kalau begitu, ayo … kita berangkat sekarang, Dasimah!"
"Baik, Nona Roos."
"Iya, Nèng Imah. Ambu masih sanggup kok, untuk menggantikan tugas Enèng," jawab Ambu Darsih.
"Benar itu, Ambu?" Dasimah agak ragu dan khawatir.
"Sudahlah. Tidak usah pedulikan Ambu di sini, Nèng. Ambu mampu."
"Tapi …."
"Dasimah, Haast je! Volg me nu!" seru Roosje dari ruangan lain.
(Dasimah, cepat! Ikut dengan saya sekarang juga!)
"Tuh, Nona Roos memanggilmu, Nèng," kata Ambu Darsih ketakutan. "Lekas ikuti dia, nanti Enèng Imah akan terkena marah."
"I-iya, Ambu," timpal Dasimah langsung gagap. "S-saya pergi dulu."
"Iya, Nèng. Hati-hati di jalan."
Dasimah bergegas meninggalkan sosok Ambu Darsih di ruangan dapur. Tergopoh-gopoh berjalan menghampiri Roosje yang sudah bersiap-siap di ruangan depan. "Mengapa lama sekali kamu orang, Dasimah?" tanya gadis tersebut dengan tidak sabar.
Dasimah menghaturkan sembahnya, lantas menjawab, "Maafkan saya, Nona Roos. Saya baru saja menitipkan terlebih dahulu pekerjaan dapur pada Ambu Darsih. Sekali lagi, mohon maaf."
__ADS_1
"Huh!" deham Roosje angkuh. "Ayo, kita pergi sekarang," imbuhnya berkata seraya melangkah ke luar rumah.
"Berdua saja, Nona?" tanya Dasimah karena tidak melihat ada sosok lain selain mereka berdua berjalan ke arah gerbang pagar saat itu.
Tanpa menoleh, Roosje menjawab, "Ja, saya dan kamu seorang, Dasimah. Ki Praja pergi bersama Papa ditemani Gert. Kita berjalan kaki saja masuk ke pelosok kampung-kampung itu. Kamu orang sanggup, Dasimah?"
"I-iya, Nona Roos. Tentu saja."
"Mooi zo," ujar putri Tuan Guus Van Der Kruk tersebut seraya tersenyum takzim. Di depan gerbang, dia pun berpesan pada Koen. "Nanti kalau Papa pulang en tanya, saya pergi bersama Dasimah ke kampung, Koen."
Laki-laki bule berambut kemerahan itu bertanya, "Apa yang akan Nona Roos lakukan ke kampung? Itu berbahaya sekali. Bagaimana jika para kaum pemberontak menemukan Nona di sana?"
Roosje tersenyum tipis. Ujarnya, "Kamu orang tenang saja, Koen. Mereka hanya memusuhi Papa, bukan saya. Lagipula, warga kampung pun sudah mengenal, siapa seorang Roosje bagi mereka, huh?"
Koen menggaruki kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung harus berkata, karena jika melarang pun akan berakibat sama. Roosje dikenal sebagai sosok perempuan keras kepala. Di mata warga kampung, Roosje kerap membantu-bantu kebutuhan mereka. Terkadang berupa bahan makanan, tidak sedikit pula uang.
"Hati-hati di jalan, Nona," kata Koen akhirnya membiarkan gadis itu meninggalkan rumah. "Hati-hati juga untukmu, Dasimah," ucap kembali laki-laki tersebut pada Dasimah diiringi senyuman penuh arti.
"Iya, Meneer," balas Dasimah. Sejenak keduanya saling melempar tatap mata dan senyuman di belakang pandangan Roosje.
"Ehem! Ehem!"
Roosje mendeham dua kali. Buru-buru Dasimah sadar diri dan berjalan mendampingi dengan wajah tertunduk.
"Sudah lama kalian berdua punya hubungan?" tanya Roosje tiba-tiba dan cukup mengejutkan.
Dasimah menjawab terpatah-patah, "Ah, t-tidak, Nona. Kami sama sekali tidak ada hubungan apa-apa."
Gadis bule itu tersenyum kecut. "Kamu orang pikir saya tidak tahu, huh?" katanya kembali seraya melangkah perlahan tanpa menoleh sedikitpun. "Kamu orang dan Koen sering-sering bertemu di luar. Padahal kalian berdua sama-sama selalu berada di rumah."
Detak jantung Dasimah mendadak berdegup kencang. "Tidak, Nona. Tuan Koen hanya mengantar saya berbelanja ke pasar, itu pun selalu bersama Ki Praja. Selain itu, juga mengantar makanan untuk Tuan Guus ke perkebunan. Tidak ada yang lain."
"Ah, terserah apalah kamu orang mau bicara, Dasimah," timpal Roosje masih disertai senyuman senada. "Tapi jangan sampai Papa tahu apa yang kalian orang berdua punya hubungan."
Dasimah mengangguk-angguk. Dia melirik sejenak pada sosok di sampingnya yang bertubuh lebih tinggi dan ramping. Mengenakan setelan berwarna putih-putih berbahan bagus dan lembut. Sementara dirinya sendiri, hanya berkebaya kusam dipadu balutan kain kebat biasa. Terlilit ketat dari pinggang hingga sebatas pertengahan betis.
"Kami memang tidak mempunyai hubungan apapun, Nona. Saya hanya mengenal Meneer Koen di rumah saja," ungkap Dasimah menjelaskan. "Itupun karena sering mengantar ke pasar dan perkebunan."
"Oohhh …." Roosje menoleh, memperhatikan raut wajah Dasimah yang berjalan menunduk. "Saya tidak peduli, apapun yang kalian orang berdua punyai. Selama itu suka dan suka, het is van jullie beiden."
(Terserah kalian saja)
Dasimah belum mau menanggapi. Dia memilih untuk berdiam diri. Namun jauh di hatinya, perempuan itu bergumam, 'Sebenarnya … ada, tapi aku tidak mau terlalu terbuka pada Nona Roos. Bahaya. Ini akan menimbulkan masalah besar di keluarga besar Tuan Guus kelak.'
...BERSAMBUNG...
__ADS_1