Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 49


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 49...


...—---- o0o —----...


Setiba kembali di rumah, Roosje langsung mengajak Tuan Guus berbicara secara empat mata. Ada beberapa hal yang membuat gadis tersebut merasa ingin tahu tentang Juragan Sumiarsih. "Sepertinya Papa sudah lama kenal dengan itu Mama Hanan?" ucapnya seperti tengah menginterogasi ayahnya. "Dari sikap dan pembicaraan Papa selama di itu rumah mereka orang, aku yakin bahwa Papa memang bukan pertama kali bertemu dia orang. Benar 'kan itu, Papa?"


Tuan Guus mendecak. Sepertinya dia tidak ingin anaknya tersebut bertanya-tanya perihal urusan pribadi. Namun sebagai seorang ayah, lelaki itu hafal betul bagaimana karakter Roosje. Maka untuk mengusir rasa penasaran putri semata wayangnya, dia menjawab juga, "Itu orang Sumiarsih cuma kawan lama Papa, Roos. Tidak ada yang lain."


"Teman lama atau memang Papa pernah dekat dengan itu Mama Hanan?" tanya kembali Roosje, merasa tidak puas dengan jawaban ayahnya. "Kalau Papa tidak berterus terang, aku akan mencari tahu sendiri, siapa itu orang Sumiarsih. Papa harus ingat itu!"


"Ja … ja … jaa. Papa sudah tahu itu, Sayang," timpal Tuan Guus lekas menanggapi. "Papa tidak mungkin menyembunyikan apapun dari seorang putri Papa. Termasuk tentang pertanyaanmu itu, Roos. Percayalah, Papa akan jawab."


Laki-laki itu duduk di kursi makan sambil menyulut cerutunya. Berusaha untuk bersikap tenang dan santai. Padahal sebenarnya dia mulai merasa gusar, karena kini Roosje mulai mencari-cari tahu perihal masa lalunya.


"Kalau begitu, ceritakanlah siapa itu orang Sumiarsih, Papa. Apa hubungan Papa dengan itu Mama Hanan dulu?" pinta gadis tersebut seraya ikut duduk berhadap-hadapan dan hanya disekat oleh meja makan. "Aku sudah bersiap untuk mendengar, Papa."


Tuan Guus mengisap terlebih dahulu rokok cerutunya. Lantas mengeluarkan kembali asap putih mengepul melalui lobang hidung dan mulut secara perlahan-lahan.


"Papa dan Sumiarsih hanya sebatas kawan seorang. Itu dulu … sebelum Papa menikahi Eline Mamamu, Roos," tutur Tuan Guus mulai berkisah. "Bapak Sumiarsih adalah seorang pekerja pemerintahan di daerah dan pertama kali Papa kenal dengan itu perempuan, karena bapaknya bekerja di kantor yang sama dengan Papa."


Menurut Tuan Guus, pada awal bertemu dengan Sumiarsih sewaktu perempuan itu mengantarkan makanan siang untuk bapaknya.


Guus dan Sumiarsih semasa muda secara tidak sengaja berjumpa di depan gerbang kantor.


"Hé, stop! Wat is de noodzaak voor jou om naar dit kantoor te komen?" cegah Guus yang saat itu sedang bertugas berjaga-jaga di depan kantor pemerintahan daerah.


(Hei, berhenti! Ada keperluan apa Nona datang ke kantor ini?)

__ADS_1


"Neem me niet kwalijk, meneer. Ik wil de lunch bezorgen bij mijn vader die binnen is," jawab Sumiarsih sedikit ketakutan.


(Maaf, Tuan. Saya mau mengantarkan bekal makan siang untuk ayah saya di dalam.)


"Nona tidak diperbolehkan memasuki kawasan kantor ini, kecuali benar-benar punya kepentingan dengan orang-orang di dalam," ujar Guus kembali dalam bahasa Belanda. "Kalaupun alasannya seperti itu, saya harus memeriksa Nona dan bungkusan makanan yang Nona bawa itu. Biar nanti saya sendiri yang mengantarkannya langsung ke dalam."


Sumiarsih menolak dan memprotes, "Tidak bisa begitu, Tuan. Saya setiap hari datang ke sini dan tidak pernah diperlakukan seperti ini."


Balas Guus muda bersikukuh, "Tetap tidak boleh. Nona harus tetap saya periksa dan dilarang ikut masuk ke dalam. Apapun alasannya."


Gadis itu mendelik galak. "Mengapa peraturannya cepat sekali berubah? Lagipula saya bukan bermaksud apa-apa terhadap Tuan. Salahnya dimana, jika hanya sekadar mengantarkan makanan? Saya bukan pejuang yang seringkali kaum Tuan musuhi."


"Anda menantang saya, Nona?" gertak Guus mulai emosi. "Saya bisa tembak Anda di tempat, tanpa harus punya alasan khusus. Karena Anda berani melawan saya."


"Silakan kalau Tuan menginginkan begitu. Tembak saya sekarang juga!" ujar Sumiarsih balas menantang.


Di saat keduanya bersitegang, salah seorang teman Guus datang menghampiri mereka dan berkata-kata, "Tenanglah, Guus. Ada apa ini?"


"Oh, seperti itu ya, Tuan? Pantas saja. Saya pun kaget, karena sudah terbiasa setiap hari mengantarkan makanan untuk ayah saya," ujar Sumiarsih sambil tersenyum-senyum sendiri dan melirik pada Guus.


Yang ditatap malah memasang muka kesal dan menyangka kalau perempuan itu tengah memperbincangkan dirinya.


"Kalau begitu, silakan Nona masuk saja. Sebentar lagi sudah masuk waktu istirahat kerja. Nanti ayah Nona terlambat makan siang," ujar sosok tadi mengizinkan Sumiarsih.


"Terima kasih, Tuan," kata gadis cantik tersebut langsung bergegas melewati gerbang penjagaan. Sesaat kembali dia melirik pada Guus dengan tatapan mengejek.


Guus bersungut-sungut. Ungkapnya dalam bahasa Belanda setelah Sumiarsih menjauh, "Verdomme! Apa yang perempuan itu katakan tadi? Pasti dia telah mengata-ngatai saya, bukan?"


Temannya mencandai dengan jawaban, "Dia sepertinya tertarik padamu, Guus. Katanya tadi, kamu ini terlihat galak tapi tampan rupawan."


"Apa?" Guus mendelik, tapi wajahnya berubah memerah dan panas secara tiba-tiba. "Oh, betulkah itu tadi, Kawan?"

__ADS_1


Temannya tambah bersemangat untuk menggoda. "Cobalah sapa. Setiap hari kerja kantor, dia selalu mengantarkan makanan untuk ayahnya di sini."


"Siapa nama perempuan itu tadi?" tanya Guus jadi penasaran.


"Sumiarsih, Guus. Aku biasa menyapanya dengan sebutan Nona Sumi."


Sejak pertemuan pertama mereka hari itu, Guus semakin rajin menunggu kemunculan Sumiarsih menjelang waktu istirahat kerja kantor. Lantas mereka berdua pun bercakap-cakap begitu gadis tersebut hendak pulang, usai mengantarkan makanan.


Semakin hari, kedua insan ini kian bertambah akrab. Tidak sekali, Guus menawarkan diri untuk mengantar pulang Sumiarsih di kala senggang dan sekaligus ingin mengetahui tempat kediamannya.


Lama-lama keakraban Guus dan Sumiarsih diketahui oleh kedua orangtua gadis tersebut. Hingga menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi pihak sang ayah.


"Ayah memang berharap kamu untuk segera menikah, Sumi, tapi bukan dengan golongan laki-laki dari negeri penjajah itu!" ujar Ayah Sumiarsih menjelaskan keberatannya. "Apapun alasannya, Ayah dan Ibu, tidak akan pernah mengizinkan dan merestui kamu, dengan memilih calon jodoh kamu pada si Guus itu! Tidak! Demi Allah, kami tidak akan pernah Ridha!"


Rupanya, secara diam-diam Sumiarsih pun telah jatuh cinta pada Guus. Mereka berdua pernah berencana untuk kabur ke negeri tempat lelaki bule tersebut berasal. Namun sebagai anak baik, gadis itu keburu menyadari kekhilafannya. Lekas dia menghindar dan memutuskan jalinan kedekatan mereka.


Sumiarsih tidak lagi pernah mengantarkan makanan dan mulai sulit untuk ditemui.


Guus Van Der Kruk, seorang prajurit muda yang memiliki segudang ambisi, tidak pernah mau menyerah dengan keadaan tersebut. Berulangkali dengan sikap layaknya seorang pejantan sejati, dia mendatangi kediaman keluarga Sumiarsih dan mengajukan diri hendak melamar pujaan hati.


Awalnya pihak ayah gadis itu menolak karena Sumiarsih masih belum akan dinikahkan karena faktor usia yang masih belia. Hingga terakhir mendapat kabar, kekasih pujaan sudah dipinang oleh lelaki lain. Dialah yang bernama Juanda. Anak seorang saudagar di kampung sebelah yang memiliki kekayaan tanah meruah.


Guus muda tidak bisa menerima. Dia merasa dikhianati dan disakiti. Rasa cinta yang sudah terlanjur mendalam pada Sumiarsih, tidak bisa dialihkan begitu saja. Ingin membalas dendam, tapi tidak kuasa menzalimi sang kekasih pujaan. Akhirnya hanya bisa pasrah dan melabuhkan hati pada perempuan lain, setelah sang mantan kekasih resmi dihalalkan oleh Juanda.


Guus muda meminta izin pulang ke negeri asal untuk mempersunting gadis pujaan lain dalam keadaan hati terkoyak dalam-dalam.


"Gadis yang Papa nikahi itu adalah Eline. Mamamu Roos …." ungkap Tuan Guus di pengujung kisahnya.


"Pasti Papa sangat mencintai Mama, 'kan?" tanya Roosje terharu biru usai menyimak penuturan kisah kasih ayahnya tersebut.


"Tentu saja, Roos. Papa sangat mencintai Eline," jawab Tuan Guus. Namun di dalam hati, lelaki itu berimbuh, 'Tapi tidak sebesar rasa cinta Papa pada Sumiarsih seorang. Sampai-sampai, Papa harus melenyapkan Mama kamu, Roos, untuk selama-lamanya. Karena Papa tidak bisa membohongi diri, kalau setiap kali Papa melihat Eline, Papa merasa dia adalah Sumiarsih yang paling Papa benci seumur hidup ini ….'

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2