
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 72...
...—---- o0o —----...
"Nèèènnggg … Nèng Bunga!" panggil Hanan mencari-cari sosok Bunga usai meninggalkan percakapan mereka di belakang dapur tadi. "Enèng di mana? Ayolah, kita bicara dulu. Aku belum selesai bicara, loh!"
Langkah laki-laki muda itu terhenti, tepat di ruang depan rumah. Ternyata kekasihnya tersebut tengah duduk sendiri di kursi panjang disertai raut wajah murung.
"Nèng, aku minta maaf ya, Nèng," ujar Hanan kembali seraya ikut duduk berhadapan. "Aku paham apa yang Enèng pikirkan itu, tapi tidak dengan harus membatalkan penugasanku di wilayah ini, 'kan?"
Bunga memalingkan muka, enggan beradu tatap dengan mata lelaki itu.
Setelah menarik napas dan mendengkus, Hanan kembali berimbuh, "Aku tidak ada perasaan apapun terhadap Nona Roos, Nèng. Bagiku, dia tidak lebih dari seorang teman. Seseorang yang aku kenal. Selain itu, tidak ada apa-apa lagi. Enèng percaya 'kan padaku?"
Bunga masih terdiam membisu.
"Maksud aku menganggapmu 'adik' sewaktu di depan Nona Roos tadi, hanya tidak ingin kalau sampai … dia berbuat hal yang tidak kita inginkan bersama-sama. Aku khawatir, Nona Roos akan berbuat nekat terhadapmu, Nèng. Makanya, aku tidak memperkenalkanmu sebagai calon istriku. Begitu, Nèng," ungkap Hanan berusaha menjelaskan. "Enèng paham 'kan maksudku?"
Kali ini gadis itu menoleh. Namun masih dengan raut wajah cemberut. "Tapi dengan sikap Aa seperti itu, berarti Aa memberi harapan tertenru pada si Roos," ujarnya bersikukuh dilanda cemburu.
"Iya … iya. Aku akui, aku salah, Nèng. Maafkan aku, ya?" kata Hanan akhirnya mengalah. "Aku janji, untuk ke depannya, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku akan menjaga jarak dengan Nona Roos."
Bunga melirik kembali, lantas lanjut berujar, "Mengapa tidak kita percepat saja rencana pernikahan kita, Aa? Dengan begitu, aku yakin, si Roos tidak akan mau mendekati Aa lagi. Dia akan sadar diri dan langsung menjauh dari Aa."
Hanan tersenyum tipis. "Enèng pikir begitu, ya?" tanya lelaki tersebut. 'Nyatanya … masih banyak pasangan perumah tangga yang berselingkuh atau orang yang berusaha memecah keutuhan sebuah keluarga karena atas dasar cinta, Nèng.'
"Iyalah!" jawab Bunga semakin tidak dapat menyembunyikan deraan rasa cemburunya. "Lagipula, mengapa Aa tidak meminta dia untuk tidak datang ke sana, sih? Kalau memang tidak ada kepentingan, buat apa jauh-jauh berkunjung ke Balai Kesehatan?"
__ADS_1
"Yang kemarin 'kan, memang ingin memastikan aku bertugas di sana, Nèng. Terus yang tadi pagi, karena mengantar Nèng Imah berobat. Lagipula, aku memang sengaja meminta Nèng Imah untuk datang ke Balai Kesehatan, kemarin siang. Tapi tidak menyangka, ternyata … diantar oleh Nona Roos."
Tanya kembali Bunga, "Terus, besok si Roos mau datang lagi ke sana? Begitu seterusnya?"
Hanan ragu untuk menjawab. Jujur khawatir disalahkan, berbohong hanya akan menambah permasalahan. Karena tadi siang itu, Roos meminta untuk ….
"Dia ingin datang membantu-bantu tugas di sana, Nèng," jawab Hanan akhirnya.
Mata gadis itu langsung membulat besar.
"Tuh, 'kan? Apa yang aku duga juga, Aa!" ujar Bunga kembali mengobar rasa cemburunya. "Dia itu tidak akan berhenti, sampai Aa benar-benar dibuat jatuh hati pada si Roos itu!"
"Kamu pikir aku akan jatuh cinta pada Nona Roos? 'Kan, aku sudah mempunyai tambatan hati sendiri, yaitu Enèng Bunga sendiri," balas Hanan bermaksud mencandai kekasihnya tersebut.
"Tapi apa Aa bisa menjamin diri kalau Aa tidak akan tergoda oleh dia, Aa?" tanya Bunga sengit.
Hanan menjawab penuh keyakinan, "Insyaa Allah, Nèng. Aku sudah menemukan apa yang aku cari dan butuhkan untuk masa depanku. Semuanya ada pada diri Enèng Bunga seorang. Calon istri Aa Hanan yang cantik, solehah, dan satu-satunya perempuan yang Aa Hanan cintai."
"Iiihhh!" timpal Bunga merasa sebal, disertai perubahan warna kulit di wajahnya, bersemu merah merona. "Aa mah bisa sajaaa!" imbuhnya merengek manja.
"Insyaa Allah, Nèng. Kalau nanti penugasan dan status kepegawaianku sudah resmi, aku akan lekas menjadikanmu …."
Ucapan lelaki muda berparas menawan itu sontak terhenti dan menoleh ke arah jendela luar, begitu mendengar derap kaki kuda terdengar mendekati halaman rumah.
Hanan dan Bunga saling berpandangan. Disusul kemunculan Juragan Sumiarsih bersama ketiga pekerja perempuannya, turut muncul dari ruangan belakang, ingin mengetahui siapa yang datang sesore itu.
"Nona Roos datang, Den," ujar Mang Dirman yang tiba-tiba muncul dari arah beranda depan rumah.
"Nona Roos?" gumam Hanan dan langsung menoleh pada Bunga serta ibunya, Juragan Sumiarsih. "Ada kepentingan apa dia datang kembali ke sini?"
Mengetahui sosok yang datang itu adalah Roosje, spontan wajah Bunga yang semula berseri-seri, berubah total menjadi cemberut. Kemudian menoleh pada calon ibu mertuanya, seakan ingin mengadu.
__ADS_1
Hanan bergegas keluar untuk menyambut, diikuti oleh Bunga serta Juragan Sumiarsih sendiri.
"Ah, Nona Roos!" sapa Hanan hangat. "Aku pikir siapa yang datang sesore ini. Ternyata kamu. He-he."
Bunga mendelik kaget mendengar Hanan sudah menggunakan kata 'aku-kamu' terhadap putri tunggal Tuan Guus tersebut.
Roosje menghampiri seraya menebar senyum kepada semua yang ada di sana. Tidak terkecuali, sikap manis terhadap Hanan seorang.
"Ah, selamat sore, Hanan," balas Roosje hangat, berlanjut pada Juragan Sumiarsih memberikan salam jauh. "Mohon maaf kalau kedatanganku ke sini mengganggumu, Hanan."
Balas Hanan tidak kalah ramah, "Tidak apa-apa, Nona. Ayo, silakan masuk."
Sejenak gadis Belanda itu menatap sosok Bunga dan terheran-heran sendiri melihatnya. Dalam benak Roosje, mengapa Bunga turut ada di rumah Hanan?
"Ah, terima kasih, Hanan," timpal Roosje kemudian. "Aku tidak akan berlama-lama di sini, Hanan. Karena kedatanganku adalah untuk menemui kamu orang."
"Menemuiku?" tanya Hanan mengulang pertanyaan gadis berkulit putih tersebut. "Apa ada sesuatu yang bisa aku bantu, Nona Roos?"
Sekali lagi, mata Roosje melirik sesaat pada sosok Bunga, lantas menjawab dengan nada suara sedikit memanja, "Tentu saja, Hanan. Karena aku memang sedang butuh kehadiran kamu seorang." Seulas senyum sengaja dia lempar pada kekasih lelaki yang ada di hadapannya kini.
Sesaat, Hanan seperti serba salah dalam bersikap. Apalagi begitu menoleh pada Bunga, wajah gadis itu semakin membiaskan rasa cemburunya seperti tadi.
"Aaahh … eh, s-sebaiknya kita bicara di dalam saja, Nona. Tidak baik mengobrol dalam keadaan berdiri seperti ini. Menurut adab kami, ini tidak sopan. He-he," ujar Hanan kembali meminta Roosje untuk segera masuk ke dalam rumah. "Ayo, masuklah."
Roosje tetap menolak sambil melirik-lirik kecut pada sosok Bunga. Ujarnya manja, "Aahhh … tidak, Hanan. Terima kasih. Seperti yang aku katakan tadi, aku hanya ingin menemui kamu orang."
"U-untuk apa, Nona?" tanya Hanan merasa tidak enak diri dengan sikap Roosje tersebut.
Gadis Belanda itu kini menatap wajah Hanan dengan pandangan saksama. Seakan-akan tengah memperlihatkan, betapa dia teramat mengagumi ketampanan paras yang dimiliki oleh lelaki tersebut.
"Kamu orang ditunggu untuk datang ke rumah sekarang juga, Hanan," jawab Roosje disertai senyuman manis. "Bersediakah kamu orang memenuhi permintaanku ini, Hanan?"
__ADS_1
Napas Bunga mulai tampak kembang-kempis. Dia masih berusaha menahan diri untuk tidak ikut angkat bicara, walaupun sebenarnya sangat tidak menyukai sikap Roosje terhadap kekasihnya tersebut. Sementara Juragan Sumiarsih sendiri hanya bisa terdiam, turut menyimak untuk mengetahui maksud kedatangan anak gadis Tuan Guus itu.
...BERSAMBUNG...