
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 78...
...—---- o0o —----...
Setiba di kediaman keluarga, Hanan dan Mang Dirman lekas mengumpulkan orang-orang yang ada di rumah untuk diberikan arahan. Wajah laki-laki muda tersebut tampak tegang dan gelisah saat berbicara.
"Pokoknya, mulai saat ini kita harus lebih waspada. Terutama di malam hari," kata Hanan seraya menatap ibunya, Juragan Sumiarsih, dan Bunga dengan sorot mata penuh kekhawatiran. "Berjaga-jaga, siapa tahu sosok Nyai Kasambi akan datang sewaktu-waktu ke rumah kita ini, Bu."
Juragan Sumiarsih menarik napas panjang. Tampak sekali jika saat itu dia pun merasakan hal yang sama, risau. Kemudian berkata lirih, "Ada apa dengan Nyai Kasambi? Padahal kita tidak pernah mempunyai masalah apa pun dengan dia selama ini. Mengapa justru sekarang Nyai Kasambi mengincarmu, Nak? Apa ada sesuatu yang telah kamu lakukan, Hanan?"
Laki-laki muda tersebut menggeleng-geleng seraya menjawab, "Tidak, Bu. Bahkan bertemu saja baru dua kali terjadi. Itu pun, kami tidak pernah berbicara satu dengan lainnya." Lantas dia menoleh pada Mang Dirman. "Bukankah begitu, Mang?" tanyanya meminta kepastian, agar sosok sang Ibu percaya.
"I-iya, Juragan," jawab Mang Dirman tergagap, sambil mengusap-usap dada yang masih terasa sesak saat bernapas. "Saya sendiri tidak tahu persis, apa yang menyebabkan Nyai Kasambi begitu penasaran hendak mengetahui Den Dokter secara lebih dekat. Apakah karena …."
Bunga dan Juragan Sumiarsih menunggu-nunggu ucapan Mang Dirman yang terjeda.
"Karena apa, Mang?" tanya ibunya Hanan penasaran, sembari memandangi wajah kusir sado keluarga tersebut, serta anaknya sendiri.
Mang Dirman tidak lekas menjawab, akan tetapi menatap anak majikannya terlebih dahulu beberapa saat.
"Bicarakan saja, Mang. Tidak usah ragu, kalau memang Mamang mempunyai penilaian sendiri," sela Hanan di sela-sela jeda waktu laki-laki tua tersebut terdiam.
Mang Dirman menghaturkan sembah maaf pada Juragan Sumiarsih sebelum melanjutkan ucapannya tadi. "Tadi kami berdua sempat mendengar obrolan Nyai Kasambi dengan Kedasih," ungkap kusir sado tersebut perlahan, sembari melirik pada sosok Hanan. "Sepertinya … sebelum ini, Nyai Kasambi dan Kedasih mempunyai masalah di masa lalu yang belum tertuntaskan dan itu …." Dia tampak ragu untuk berterus terang dan berkali-kali menjedakan ucapan. " … Dan itu berhubungan pula dengan … mohon maaf, Juragan-Aden, … dengan almarhum Juragan Laki-laki semasa hidup beliau dulu."
"Masalah?" Juragan Sumiarsih mengulang kata yang diucapkan oleh Mang Dirman baru saja. "Masalah apalagi itu? Belum cukupkah permasalahan yang pernah kami lewati bersama-sama, dulu? Ah, saya benar-benar tidak mengerti."
"Maafkan saya, Juragan," kata Mang Dirman sambil menghaturkan sembah maaf kembali. "Itu hanya penilaian saya secara pribadi saja. Benar atau keliru, bisa saja terjadi."
"Dan siapa lagi perempuan yang bernama Kedasih itu?" gumam kembali Juragan Sumiarsih berpikir keras.
"Ibu tidak pernah mengenalnya sama sekali?" tanya Hanan mencoba mencari tahu.
Juragan Sumiarsih menggeleng. "Tidak, Nak," jawabnya meyakinkan. "Setahu Ibu … perempuan lain yang ada di masa lalu Ayahmu itu hanya Nyai Ayu."
"Antara Ki Sendang Waruk dengan Tèh Kedasih … maksud Hanan, Bu," ujar Hanan kembali mencoba mengorek ingatan ibunya.
"Tidak," jawab ibunya yakin sekali. "Ibu juga tidak ingat ada perempuan lain bernama itu bagi Ki Sendang Waruk kala itu."
__ADS_1
Lantas kedua ibu dan anak tersebut melirik pada Bunga dan langsung dibalas gelengan kepala oleh gadis cantik itu. "Apalagi Bunga, Bu-Aa," jawabnya polos. "Bunga 'kan belum lahir. Sama seperti halnya Aa Hanan."
"Hhmmm, iya juga, sih," timpal Juragan Sumiarsih pasrah. "Apalagi menurutmu tadi, sosok Kedasih itu masih begitu muda. Tidaklah mungkin, jika perempuan yang pernah dekat dengan Ki Sendang Waruk dulu itu, masih seperti sekarang ini. Minimal … yaaa, mungkin seumuran saya ini."
"Lantas, perkara Ajian Pengikat Jiwa yang Hanan dengar dari—" Belum usai Hanan berbicara, ibunya langsung memotong ucapan.
"Apa? Ajian Pengikat Jiwa?" tukas Juragan Sumiarsih seraya menoleh pada anaknya. "Tunggu … sepertinya Ibu pernah mendengar ilmu itu dan hanya dimiliki oleh seseorang yang bernama … ah, sulit sekali mengingat-ingat." Perempuan tua tersebut memijat-mijat kening, lalu menoleh pada calon menantunya. "Nèng, apakah ada kabar dari Uwakmu itu? Kapan Ki Waruk kembali pulang?"
Bunga menggeleng. "Tidak tahu, Bu. Uwak tidak pernah menjanjikan apa pun," jawabnya lirih.
'Ah, sulit sekali menemukan laki-laki yang satu itu di kala dibutuhkan,' ujar Juragan Sumiarsih di dalam hati. 'Entah di mana dia sekarang. Seharusnya, pada saat-saat seperti sekarang ini, dia bertahan dulu untuk berada dekat-dekat dengan kami.'
Mang Dirman menyela di saat semuanya terdiam, sibuk dengan isi kepala masing-masing, "Terus, bagaimana langkah kita selanjutnya, Juragan-Den Hanan? Nyai Kasambi sudah jelas-jelas mulai mendekati Den Hanan untuk—"
Tukas Juragan Sumiarsih, "Sebentar dulu, Mang. Saya masih memikirkan tentang sosok Kedasih tadi." Mang Dirman terdiam. Kemudian ibunya Hanan kembali melanjutkan ucapan baru saja, "Tadi Hanan bilang, sosok Kedasih itu masih muda. Mungkin seumuran …." Perempuan itu menoleh pada ketiga sosok pekerja perempuannya yang sejak awal hanya menjadi pihak pendengar setia. " … Seumuran Ceu Ijah, mungkin?"
"Mungkin. Ya, bisa jadi," balas Hanan sembari mengangguk-angguk.
Lanjut Juragan Sumiarsih berkata, "Masih relatif muda. Tapi dia membicarakan masa lalu mereka berdua dengan Nyai Kasambi? Apa itu sesuatu yang masuk akal? Uummhhh, maksud Ibu ini … apakah benar, sosok Kedasih yang kamu lihat itu benar-benar masih muda, Hanan?"
"Kalau dilihat dari fisik dan wajahnya sih, jelas masih muda, Bu. Apakah itu …." Mata Hanan tiba-tiba membelalak besar. "Masyaa Allah!"
"Ada apa, Nak?" tanya Juragan Sumiarsih terperanjat. "Apa kamu mengingat sesuatu?"
"Ya, benar," timpal Mang Dirman mengiakan. "Saya juga mendengar itu, Den! Mereka menyebut-nyebut nama Eyang Guru. Tapi … Eyang Guru siapa yang mereka maksudkan itu."
Cetrek!
Hanan menjentikkan kembali jemarinya. "Nah, betul 'kan apa yang saya kira itu, Mang?" katanya berimbuh. "Mereka berdua, tampaknya … pernah berguru pada orang yang sama. Seguru-seilmu, menurut istilah orang-orang. Bisa jadi … Tèh Kedasih itu yang telah berhasil mendapatkan ilmu Ajian Penguat Jiwa tadi dari gurunya. Sedangkan tentang sosok Nyai Kasambi sendiri … saya dengar-dengar tadi, sepertinya dia mempunyai sedikit masalah, baik terhadap Kedasih maupun orang yang bernama Eyang Guru itu."
"Ah, saya jadi pusing sendiri memikirkannya, Den," ucap Mang Dirman mengeluh, seraya mengurut kening.
"Mengapa kita jadi memikirkan perihal mereka berdua, Nak? Bukankah fokus kita hanya pada masalah Nyai Kasambi terhadapmu?" Juragan Sumiarsih ikut kembali angkat bicara. "Nyai Kasambi melihatmu … seperti dia teringat pada masa lalunya sendiri. Sekarang pertanyaannya adalah … masa lalu apa? Seperti yang Mang Dirman tadi katakan, apakah berhubungan dengan masa lalu ayahmu itu?"
"Terus menurut Ibu, siapakah sosok masa lalu Ayah selain perempuan yang bernama Nyai Ayu itu, Bu?" Hanan balik bertanya dan membuat ibunya tidak bisa menjawab langsung.
"Itulah masalahnya, Nak," balas Juragan Sumiarsih bingung. "Ibu tidak pernah tahu persis dan tidak pernah pula membicarakan masa lalu kami masing-masing."
"Berarti satu-satunya orang yang kita harapkan mengetahui hal tadi itu, hanya Ki Sendang Waruk?" tanyanya kemudian.
Hampir semua yang ada di sana mengangguk-angguk. Membenarkan apa yang dipertanyakan oleh Hanan baru saja.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Kepala Kampung kita, Den?" Tiba-tiba Mang Dirman memecah kesunyian.
"Ki Panca maksud Mamang?" tanya Hanan meyakinkan.
"Siapa lagi?" balas sosok kusir kuda tersebut seraya mengangkat kedua bahu. "Mungkin saja beliau juga mengetahui banyak tentang asal usul warga Kampung Sundawenang ini. Daripada kita menunggu-nunggu kedatangan Ki Sendang Waruk yang belum pasti kepulangannya. Benar, 'kan?"
"Kalian berdua akan datang ke sana malam-malam begini?" Juragan Sumiarsih menatap Hanan dan Mang Dirman lekat.
Jawab Hanan, "Ya, kalau memang perlu, mengapa harus …."
Trak!
Ucapan laki-laki muda tersebut sontak terhenti, begitu mendengar ada suara gemeretak menghantam dinding kayu rumah.
"Astaghfirullah! Suara apa itu?" tanya Hanan terkejut dan serempak semua mata mengarah pada suara tadi berasal. Kemudian dia menoleh pada Mang Dirman. "Mang … ssttt," bisik dokter muda tersebut. "Kita lihat ke belakang."
Buru-buru Juragan Sumiarsih mencegah dengan suara serupa, "Heh, jangan! Bahaya! Di luar sangat gelap!"
"Tapi …."
"Pokoknya, jangan!" tahan kembali Juragan Sumiarsih bersikeras. "Ibu takut, itu orang yang berniat jahat terhadap kita. Lebih baik jangan keluar. Tetap berada di dalam rumah dan pastikan semua pintu serta jendela sudah dalam keadaan dikunci!"
Jawab Ceu Odah serta kedua temannya serempak, "Sudah aman, Juragan. Tadi kami bertiga yang menguncinya."
"Ah, syukurlah …." desah perempuan tua tersebut sembari mengusap dada. "Mengapa semakin kini, semuanya menjadi serba genting seperti ini? Entah cobaan apalagi yang sedang kita jalani sekarang … yaa, Allah."
Akhirnya, mereka sepakat untuk tidak keluar dari rumah pada malam itu. Menunggu hingga keesokan hari, sepulang dari bertugas di Balai Kesehatan, Hanan dan Mang Dirman berencana akan mengunjungi kediaman Ki Panca, Kepala Kampung Sundawenang.
Namun apa mau dikata. Rencana tinggal rencana. Pagi-pagi sebelum keduanya berangkat, seseorang mengabarkan bahwa Ki Panca sudah meninggal dunia.
"Pagi tadi, tetangganya menemukan Ki Panca tergeletak dalam kondisi sudah tidak bernyawa di rumahnya, Den Dokter," ungkap seorang warga yang datang memberi kabar.
"Astaghfirullahal'adziim! Innalillahi wainnailaihi raaji'uun …." ucap Hanan dan Mang Dirman hampir bersamaan. "Bagaimana ceritanya kematian Ki Panca bisa mendadak seperti itu, Pak?"
Jawab warga tadi, "Saya sendiri tidak tahu pasti, Den Dokter. Tapi … seseorang telah membunuh Ki Panca."
"D-dibunuh?" Hanan semakin terkejut dibuatnya.
"Ya, Den," jawab kembali warga tersebut. "T-tubuh Ki Panca … berlumuran darah."
"Astaghfirullah!"
__ADS_1
...BERSAMBUNG...