
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 25...
...—---- o0o —----...
"Maaanggg!" teriak Hanan begitu tiba di tempat semula. Yaitu dimana Mang Dirman dan Ki Praja terlibat pertarungan sengit tadi. "A-apa ini semua? A-apa yang terjadi?"
Tampak Mang Dirman dan Ki Praja sedang terengah-engah, berdiri setengah kaki dengan salah satu lutut menopang tanah. Mereka berdua berada dalam jarak tidak terlalu dekat, tapi masing-masing wajah seperti meringis kesakitan.
"Godverdomme!" rutuk Tuan Guus saat tiba di tempat kejadian. Dia melihat-lihat kondisi kedua laki-laki tua itu sambil menggerutu. "Apa yang kalian orang berdua lakukan, hah?" tanyanya geram. Kemudian mengacungkan sebuah pistol tepat mengarah pada Mang Dirman. "Kamu orang sudah berani melukai ini orang pekerja saya, heh!"
(Sialan!)
"Tahan, Tuan! Jangan tembak!" seru Hanan buru-buru menghalangi tubuh Mang Dirman. "Kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin! Saya mohon, Tuan!"
"Heh, kamu orang muda mau jadi pahlawan di sini?" tanya kembali Tuan Guus mengalihkan moncong pistolnya tepat ke arah Hanan. "Kamu orang mau mati juga, hah?"
"Sabar, Tuan," ucap Hanan berusaha menenangkan. "Jangan tembak kami. Saya mohon."
Dor!
Sebuah peluru melesat cepat, tapi sengaja diarahkan ke dekat kaki dimana Hanan berpijak.
"Papa! Niet schieten, Papa!" teriak Roosje yang baru tiba di tempat tersebut bersama Gert dan Dasimah. "Hentikan!"
(Jangan tembak, Papa!)
Tuan Guus menoleh ke arah anaknya. Tersenyum picik, tapi masih dengan posisi pistol masih mengarah pada Hanan dan Mang Dirman. Spontan Gert pun turut menodongkan senjata laras panjang ke arah yang sama.
"Kamu urus itu Ki Praja, Gert," ujar Tuan Guus dingin. "Biar itu dua orang saya yang tangani."
"Siap, Tuan!" jawab Gert patuh dan langsung menghampiri sosok Ki Praja. Membantunya berdiri dalam kondisi mulut bersimbah darah serta berdiri sempoyongan. "Kamu orang bisa berjalanlah?" tanyanya seraya memerhatikan luka-luka di tubuh tua tersebut.
"Bisa, Tuan. T-tapi … aahhh, dada saya rasanya sesak sekali," keluh Ki Praja sembari meringis dan meludah merah ke tanah. "Tolong bawa saya ke tempat sado sana."
"Baik, Ki. Saya bantu," ujar Gert.
Mereka berdua pun terseok-seok melangkah perlahan ke arah sado milik Tuan Guus berada.
"Papa, turunkan senjatanya, Papa," pinta Roosje sembari mendekati ayahnya. "Tolong, jangan Papa lukai siapapun. Aku tidak ingin Papa mengotori tangan dengan hal semacam ini." Perlahan-lahan gadis itu menggapai genggaman pistol Tuan Guus dan membantu menurunkannya. "Dit is veel beter, Papa. Met dank."
__ADS_1
(Ini jauh lebih baik. Terima kasih, Papa)
Tuan Guus mendengkus kesal. Dia segera menyarungkan kembali pistolnya dan menoleh ke arah Ki Praja serta Gert yang sudah berada di atas sado. "Kita pulang sekarang juga, Roos," ajak lelaki tinggi besar tersebut tanpa sedikitpun menatap pada Hanan dan Mang Dirman.
"Baik, Papa. Tapi …." Roosje tidak meneruskan ucapan karena ayahnya berlalu begitu saja dari sana. Sejenak dia merasa bingung. Kemudian memutuskan untuk menghampiri Hanan dan Mang Dirman. "Uummhhh, maafkan atas apa yang terjadi ini, Hanan. Saya tidak tahu yang sebenarnya. Tapi … saya rasa, kamu orang—"
"Kami tidak apa-apa, Nona," tukas Hanan. Dia mencekal bahu Mang Dirman agar tetap bisa berdiri tegak. "Tapi, kami harus lekas pulang. Kondisi Mang Dirman rasanya harus segera mendapatkan pemeriksaan."
"Tapi Hanan …."
"Permisi, Nona. Kami pamit pulang. Terima kasih atas bantuan yang telah Nona Roos berikan pada kami tadi," ucap Hanan kembali, tegas.
"Hanan? Ah …."
Roosje tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa menatap Hanan, membantu Mang Dirman menaiki sado. Kemudian pergi secepatnya dari tempat tersebut.
'Verdomme!' rutuk gadis itu kesal.
Di satu sisi merasa marah atas sikap ayahnya tadi, Tuan Guus. Di sisi lain, dia tidak ingin meninggalkan jejak buruk atas usahanya untuk menarik perhatian lelaki muda tersebut sebelumnya.
"Nona Roos, Tuan Guus memanggil-manggil Nona." Dasimah mengingat anak majikannya yang masih termenung di tempat. Sementara Tuan Guus bersama Gert dan Ki Praja sudah menunggui di atas sado.
"Roos, laten we nu naar huis gaan!" teriak Tuan Guus dari kejauhan.
"Ja, Papa!" sahut Roosje. "Dasimah, ayo kita pulang."
(Ya, Papa!)
"Baik, Nona," balas Dasimah seraya membungkukkan badan dan mempersilakan Roosje berjalan terlebih dahulu.
Sambil berjalan, putri Tuan Guus itu berkata, "Nanti malam, saya ingin berbicara dengan kamu orang, Dasima."
"Baik, Nona Roos."
"Ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan pada kamu orang."
"Akan saya jawab sesuai dengan apa yang saya ketahui, Nona."
"Ah, baguslah. Saya harap, kamu juga mengetahui banyak tentang apa yang ingin saya tanyakan."
"Mengenai apa, Nona?"
Roosje melirik sesaat sembari tersenyum simpul. "Kamu orang pikir siapa lagi yang ingin saya tahu itu, huh?"
__ADS_1
"Siapa lagi? Siapa … siapa … siapa, ya?" Dasimah berpikir sejenak. "Ooohhh … maksud Nona … tentang Den Hanan?"
Roosje kembali tersenyum-senyum sendiri. Itu tidak lepas dari pandangan Dasimah yang berjalan persis di samping anak majikannya.
'Hhmmm, sepertinya Nona Roos juga menaruh perhatian yang sama pada Kang Hanan. Sialan! Ini jelas akan menjadi hal yang teramat rumit. Mengingat dia termasuk perempuan yang selalu menginginkan apapun yang dia inginkan,' kata Dasimah. 'Apa itu masih belum cukup? Setahuku, selama ini dia sudah memiliki kekasih di negeri asalnya sendiri. Uummhhh, Kervyn … ya, Kervyn. Calon dokter sebagaimana Kang Hanan.'
Usai memberikan instruksi pada salah seorang mandor perkebunan, Tuan Guus segera meninggalkan tempat tersebut bersama-sama Roosje, Gert, dan Dasimah. Sementara Ki Praja, walaupun dalam kondisi terluka, terpaksa harus tetap menjadi juru kemudi sado alias kusir.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi, Papa?" tanya Roosje di sela-sela perjalanan mereka menuju rumah. "Ada apa antara Aki Praja dengan itu orang tua yang bernama … nama …."
"Mang Dirman, Nona," ucap Dasimah membantu mengingatkan Roosje.
"Iya, itu … Mang Dirman."
Gert melirik pada Dasimah dan diam-diam mereka berdua saling melempar senyum.
"Jangan dulu bahas itu di sini, Roos," pinta Tuan Guus usai memandangi sosok Ki Praja yang duduk di bangku kusir. "Kita nanti bicarakan saja di rumah."
"Mengapa, Papa?"
"Ah, kamu ini, Roos," ujar Tuan Guus kesal. "Selalu saja memaksa untuk tahu semua yang ingin kamu tanyakan. Tidak bisakah menunggu sampai situasi sedikit tenang dan mereda?"
Gadis cantik bermata biru itu merangkul ayahnya dari samping. "Karena aku tidak ingin berlama-lama berpikir dan bertanya-tanya, Papa. Jika memang ada kesempatan untuk tahu saat ini juga, mengapa tidak bertanya pada waktu bersamaan. Bukahkah begitu, Papa sayang?"
Tuan Guus terkekeh sesaat. "Kamu orang ini mirip sekali dengan sikap Mamamu, Eline. Dia pun sering membuat Papa harus mengetahui banyak agar Eline tidak lagi banyak bertanya."
"Karena aku anak Papa-Mama."
"He-he. Ya … ya … yaaa," sahut Tuan Guus seraya manggut-manggut. "Terus, kalau saja kamu orang tidak mengajak itu Hanan ke sini, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi, Roos."
"Aku bosan di rumah, Papa," timpal Roosje. "Maka dari itu, aku ingin berkeliling kampung. Tapi tidak ada orang mengantarku pergi. Dasimah seorang yang bisa menemani. Lalu, di tengah perjalanan, aku bertemu itu orang Hanan. Selebihnya tidak pernah menyangka akan ada kejadian tadi. Itupun bukan dia, tapi Aki Praja dengan … Mang Dirman, bukan?"
"Ya, sudahlah. Nanti kita lanjut bicara-bicara lagi di rumah," kata Tuan Guus lekas mendiamkan putrinya. "Lagipula, ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan dengan kamu orang, Roos."
"Tentang apa, Papa?"
Sambil tersenyum, Tuan Guus menjawab, "Tentang kamu orang dengan Kervyn, Roos."
"Aaahhh …."
Seketika raut wajah Roosje berubah begitu mendengar ucapan ayahnya. Hal tersebut tidak lepas dari pandangan Dasimah.
'Hhmmm ….'
__ADS_1
...BERSAMBUNG...