
...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 38...
...—---- o0o —----...
Ki Panca menatap tamu istimewanya siang itu, Juragan Juanda. Keluh dan desah bimbang sesekali menghiasi mulut Kepala Kampung Sundawenang tersebut sepanjang mendengarkan penuturan sosok lelaki tersebut.
Usai bertutur sedikit tentang pertemuannya tadi dengan Tuan Guus, suami dari perempuan cantik bernama Sumiarsih itu melanjutkan kata. " … Yang saya khawatirkan, ini akan menjadi masalah susulan dari sisa perjalanan kisah kami yang telah lalu dulu, Ki," ujar Juragan Juanda dengan raut wajah murung. "Saya kenal sekali, siapa sesungguhnya Tuan Guus itu. Dia tidak akan pernah berhenti mengejar, apapun yang sudah dia kehendaki, sampai kelak mendapatkannya dengan pasti."
Ki Panca manggut-manggut perlahan. Tatapannya kini beralih ke arah lain, jendela rumah yang memperlihatkan bentangan pemandangan alam kampung. Ujarnya kemudian setelah beberapa saat berpikir, "Saya malah berpikir, apakah pemindahan tugas Tuan Guus ke kampung ini ada kaitannya dengan urusan pribadinya dulu itu, Juragan?"
"Entahlah, saya berharap … tidak begitu adanya, Ki," balas Juragan Juanda lirih. "Tapi … pertemuan saya dengan Tuan Guus tadi itu, jelas bukan merupakan sebuah kebetulan belaka. Saya merasa, dia memang sengaja ingin menemui saya."
Kembali Ki Panca manggut-manggut. Sementara Mang Dirman yang ikut duduk di sana, hanya mendengarkan obrolan mereka berdua. Sedikit demi sedikit orang tua itu menjadi tahu duduk permasalahan yang pernah terjadi pada majikannya dulu.
'Hhmmm, jadi … dulu itu … Tuan Guus dan Juragan Juanda pernah berebut hati Juragan Sumiarsih?' katanya di dalam hati. 'Tapi … mengapa harus berbuntut panjang sampai sekarang? Apakah Tuan Guus menyimpan dendam pribadi pada Juragan Juanda hanya karena gara-gara masalah perempuan?'
Bahkan hingga pulang kembali ke rumah, pertanyaan-pertanyaan inti tentang permasalahan yang tengah dihadapi oleh majikannya tersebut, Mang Hanan tidak menemukan titik terang. Sebagai seorang pekerja —dia sadar— tidak mungkin mempertanyakan lebih jauh. Hal yang paling dilakukan adalah dengan cara diam-diam menguping setiap obrolan Juragan Juanda dengan Juragan Sumiarsih.
__ADS_1
"Sejak awal, Abahku memang tidak menyukai kehadiran Tuan Guus, Yah," tutur Sumiarsih suatu ketika. "Makanya, sebisa mungkin, Abah selalu mewanti-wanti aku agar bisa menghindar setiap kali laki-laki datang maupun mendekat. Abah tidak ingin bermenantukan seorang penjajah." Perempuan itu menghela napas seraya mengingat-ingat masa lalunya yang telah lama terlewat. "Lalu, setelah kedatangan Tuan Guus itu, Abah langsung menemui orang tua Ayah. Entahlah, apa yang saat itu beliau-beliau bicarakan. Tapi … beberapa bulan kemudian, Abah memintaku untuk menerima pernikahan dengan Ayah."
Juanda melirik pada istrinya, kemudian menimpali, "Iya, Bu. Aku juga dulu sempat kaget. Tiba-tiba saja Bapak memberitahukan, kalau aku akan segera menikah. Sementara calon istri yang Bapak maksudkan pun, sama sekali belum pernah aku lihat."
Sumiarsih tersenyum-senyum. "Tapi akhirnya kita saling menyukai 'kan, Yah?" tanyanya manja.
Juanda mengangguk malu. "Iya, Bu. Karena aku gak menyangka, ternyata jodohku itu adalah Kembang Kampung Sirnagalih."
"Ah, Ayaahh …." desah Sumiarsih kembali memanja seraya mencubit lengan suaminya.
Juanda meringis keperihan. Namun jauh di lubuk hatinya, lelaki ini harus mengakui bahwa perjodohannya dengan Sumiarsih dulu, mesti mengorban satu sosok perempuan lain yang lebih dulu berharap padanya. Itu pun tidak pernah dia utarakan, karena berpikir seseorang itu hanyalah bagian dari kisah hidup. Tidak akan ada lagi kelanjutan yang patut diperhitungkan di kemudian hari. Nyatanya, perkiraan tersebut tidaklah sesuai dengan yang dibayangkan. Ada apa? Juragan Juanda pun tidak menyadari masa yang sedang berjalan tersebut.
Mang Dirman yang kebetulan berada di luar dapur, turut mendengarkan obrolan suami-istri tersebut secara diam-diam. Kebetulan percakapan keduanya dilakukan usai makan malam.
" … Sejak itulah, perlahan-lahan kehadiran Tuan Guus di kampung ini membawa banyak berpengaruh bagi Ayahanda Aden," pungkas Mang Dirman di akhir penuturannya. "Usaha perkebunan mendiang Juragan Laki-laki, sering mengalami kerugian. Serangan hama, gagal panen, dan bahkan … sebagian dari para pekerja, satu per satu mengajukan berhenti bekerja pada Juragan, Den."
Hanan menoleh heran. Lantas bertanya, "Berhenti karena alasan apa, Mang? Apa Ayah waktu itu tidak dapat membayar upah para pekerja?"
Sosok tua laki-laki itu menggeleng. "Tidak, Den," jawabnya lesu. "Juragan tidak pernah melalaikan kewajiban beliau dalam memberi upah pekerja. Selalu tepat waktu dan sesuai jumlahnya dengan perjanjian serta kesepakatan bersama."
"Lantas, mengapa mereka tiba-tiba saja berhenti bekerja di perkebunan Ayah, Mang?" tanya kembali Hanan penasaran. Dia sampai berpindah duduk ke samping Mang Dirman di depan bangku kusir. "Apakah itu masih ada kaitannya juga dengan … Tuan Guus?" Nada suaranya sengaja diperkecil saat menyebutkan nama terakhir baru saja.
__ADS_1
Laki-laki tua yang bekerja pada keluarga Juragan Juanda sejak awal Hanan mulai dikandung badan tersebut, mengangguk pelan-pelan. Ucapnya menyusul kemudian, "Entahlah, Den. Ayahnya Aden juga tidak pernah terdengar berucap menduga-duga tentang itu, walaupun kenyataan yang ada … banyak dari para pekerja yang meminta berhenti itu, malah kedapatan berpindah kerja di perkebunan Tuan Guus."
Hanan mengerutkan kening. "Terus … Ayah pernah menanyai mereka? Apa alasannya, misalkan?" tanya anak muda tersebut mendesak.
Mang Dirman melirik sejenak. Dia menatap raut wajah putra semata wayang majikannya dalam-dalam. "Mereka tampaknya tidak berani berterus-terang, Den. Saat ditanyai Juragan, tidak satupun ada yang mengakui kenyataan. Padahal, upah yang diterima dari pekerjaan mereka di perkebunan Tuan Guus, jauh lebih rendah dari upah yang pernah diterima dari Juragan … Ayahanda Aden." Laki-laki tua itu menatap ke atas, kegelapan langit di jelang malam. "Saya pikir, mungkinkah mereka ditekan atau diancam oleh Tuan Guus? Hal itu ternyata sepemikiran dengan apa yang Juragan Laki-laki duga-duga."
"Terus apa yang Ayah lakukan saat itu, Mang?" Hanan semakin penasaran. Rasanya tidak sabar sekali untuk segera mengetahui keseluruhannya.
"Juragan tidak bisa berbuat banyak, Den. Toh, mereka pindah bekerja juga atas permintaan mereka sendiri. Tanpa ada suruhan maupun paksaan. Jadi dalam itu, Juragan tidak bisa menyalahkan pihak manapun. Termasuk … kecilnya pengupahan yang diberikan oleh Tuan Guus pada mereka," ucap Mang Dirman dengan nada tertekan. Seperti kembali merasakan kekalutan hati sebagaimana yang pernah dialami pada waktu tersebut. "Tapi … ada satu hal yang menjadi pertanyaan kami saat itu, Den?"
"Apa itu, Mang?" tanya Hanan seraya mengerutkan kening.
"Sebuah keanehan …." jawab Mang Dirman pelan.
"Keanehan?" Kali ini kelopak mata Hanan turut menyipit kecil. "Keanehan apalagi yang Mamang maksud itu? Bicaralah yang jelas, Mang. Jangan setengah-setengah begitu!"
Bukannya menjawab, laki-laki tua tersebut malah menatap ke satu arah dengan mata membesar. "D-deenn …." panggil Mang Dirman tergagap-gagap.
"Ada apa, Mang?" tanya Hanan.
Mang Dirman menunjuk ke depan. Ke arah sebuah titik menyala di dalam kegelapan.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...