Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 29


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 29...


...—---- o0o —----...


Beberapa tahun sebelumnya ….


Kala itu menjelang tengah malam, suasana kediaman keluarga Juragan Juanda tengah dilanda cekam. Hampir semua penghuni larut dalam tangisan, tidak terkecuali Sumiarsih sendiri. Perempuan itu seperti tidak pernah berhenti menangisi suaminya yang sedang menderita sakit parah. Beberapa kali harus berjibaku menampung muntahan darah segar ke dalam sebuah wadah besar.


"Panggilkan Pak Mantri! Panggil Pak Mantri!" seru Sumiarsih panik menunjuk-nunjuk pada beberapa pekerja rumahnya. Mang Dirman yang saat itu kebetulan sedang berada di kamar, langsung bereaksi. "I-iya, Juragan! Saya segera berangkat!" sahutnya seraya buru-buru pergi ke luar.


"Saya ikut, Mang!" ujar Ceu Odah.


"Jangan! Ini sudah larut malam! Euceu bantu-bantu saja di sini!" timpal Mang Dirman. "Saya mau ke rumahnya Pak Mantri dulu. Euceu dengan yang lainnya, tunggu di rumah. Kunci rapat-rapat pintu dan jangan dibuka kalau bukan saya yang datang, ya?"


"I-iya, Mang," jawab Ceu Odah akhirnya. Dia bingung harus berbuat apa. Sementara melihat kondisi Juragan Juanda kian mengkhawatirkan. Lantas menoleh pada sosok Bunga yang juga tampak sedih, terduduk membisu di sudut ruangan lain. "Nèng Bunga …." panggilnya begitu mendekat.


Gadis itu menoleh. "I-iya, Ceu," sahutnya cepat-cepat bangkit.


"Bagaimana dengan uwakmu Ki Sendang Waruk? Apakah ada kabar di mana keberadaannya sekarang?" tanya Ceu Odah. "Sudah lebih dari sepekan ini, belum ada berita apapun tentang uwakmu itu."


Bunga bingung untuk menjawab. Pertanyaan yang sama pun kerap dia terima dari calon mertuanya, Sumiarsih, maupun Mang Dirman. "Saya sendiri belum tahu, Ceu. Padahal sudah menitipkan pesan pada beberapa warga yang ikut berjuang ke pelosok lain. Belum satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan Uwak."


"Gusti Nu Agung … kumaha ieu?" gumam Ceu Odah sedih, lantas menoleh ke arah ambang pintu kamar majikannya yang terbuka dan mendengar tangisan lirih Sumiarsih dari dalam. 


(Ya, Allah … bagaimana ini?)


Pada saat itulah, sekonyong-konyong Ceu Ijah dan Ceu Enok menghampiri mereka berdua dari dalam kamar tadi.


"Nèng Bunga, Ceu Odah, dan Ceu Ijah … bagaimana sekarang atuh?" tanya Ceu Enok. "Kondisi Juragan Laki-laki tèh tiba-tiba jatuh parah begitu, apa mungkin … kita minta bantuan saja dari Nyai Kasambi? Siapa tahu bisa mengobati sakitnya Juragan."


Spontan Ceu Odah, Ceu Ijah, dan Bunga terperanjat. Ketiganya menoleh kaget mendengar ucapan Ceu Enok baru saja.


"Heh, Ceu Enok!" seru Ceu Odah dengan suara memelan. "Hati-hati ya, kalau bicara! Nanti kalau terdengar oleh Juragan Perempuan, bagaimana?" Dia melongok sejenak ke arah dalam kamar majikannya. Memastikan jika perbincangan mereka tersebut tidak sampai terdengar oleh Sumiarsih.


"Eh, memangnya mengapa keurah?" Kembali bertanya Ceu Enok belum memahami. "Apanan saya mah hanya memberi saran."


Ceu Ijah dan Ceu Odah mendelik.


Ceu Odah mendekat, lantas berbisik pada Ceu Enok, "Jangan sebut-sebut nama dukun itu di sini, Enok. Apa kamu tidak sadar, bahwa kejadian ini diduga ada kaitannya dengan … Nyai Kasambi?"


"Apa?! S-saya sama sekali belum tahu, Ceu. Bagaimana mungkin saya bisa sadar? Tahu saja tidak!" ujar Ceu Enok seraya mengusap-usap wajahnya yang basah. Bukan karena keringat, tentunya.


"Ssttt … tapi ini rahasia, ya," bisik Ceu Odah kembali seraya memutar kepala dari Ceu Enok ke Ceu Ijah. "Sakitnya Juragan Laki-laki itu sangat mendadak dan aneh. Sudah berulangkali diobati Pak Mantri, tapi … sekarang malah tambah parah."


Bunga, Ceu Ijah, dan Ceu Enok serempak mengernyit. Antara merasa heran dan penasaran.


"Di kampung ini …." imbuh Ceu Odah berkata, "hanya ada satu orang yang bisa melakukan hal keji seperti itu. Siapa lagi kalau bukan …."


"Ya, Allah … Ayaahhh!"


Tiba-tiba terdengar seruan keras dari dalam kamar. Disusul seperti gelegak suara Juragan Juanda muntah-muntah kembali.


"Ooeekkk!"


"Juragaaannn!" teriak ketiga sosok pembantu itu bersama dengan Bunga. Lantas serentak berlarian kembali memasuki kamar.


"Cepat! Ambilkan wadah baru!" seru Sumiarsih panik dan bajunya ikut memerah dengan percikan muntahan dari suaminya. Sementara di tangan masih memegang wadah kecil yang penuh dengan darah segar. "Ambilkan wadah baru! Cepaattt!"


"I-iya, Juragan!" timpal ketiga sosok pembantu tadi, setelah beberapa saat termangu ngeri dengan apa yang terjadi pada Juragan Juanda.

__ADS_1


"Biar saya saja!"


"Saya saja, Ceu Enok!"


"Ih, minggir kalian berdua! Saya yang ambilkan!" ujar Ceu Ijah seraya menarik kedua rekannya yang berebutan hendak keluar kamar. 


"Ibuuu …." Bunga mendekati Sumiarsih. Dia membantu mengambilkan sehelai kain baru untuk menyeka percikan darah di baju calon mertuanya tersebut. Gadis ini sendiri bingung, harus berbuat apa. "Sini biar Enèng bersihkan baju Ibu," katanya sambil menangis sedih melihat kondisi Juragan Juanda.


Tidak berapa lama, Ceu Ijah sudah kembali membawakan wadah baru. Lantas membantu memindahkan wadah lama yang hampir penuh dengan genangan darah sebelumnya.


"Tolong, ambilkan juga air hangat untuk minum," pinta Sumiarsih usai membantu suaminya merebahkan diri.


"Kali ini, biar saya yang lakukan," ujar Ceu Enok menahan Ceu Odah yang sama-sama hendak beranjak. 


"Ya, sudah. Cepatlah, Ceu," timpal Ceu Odah mengurungkan diri.


Beberapa saat, suasana pun kembali hening. Hanya sesekali terdengar isak tangis dari Sumiarsih dan Bunga, duduk di sisi ranjang dengan isi pikiran mereka masing-masing.


"Belum ada kabar juga tentang uwakmu, Nèng?" tanya Sumiarsih kemudian, memecah kesunyian.


Jawab Bunga lirih, "Belum, Bu." Dia mengusap derai air mata sejenak. "Entah ada di daerah mana Uwak berjuang saat ini, Bu."


Sumiarsih menoleh, memandangi pilu wajah suaminya yang terengah-engah bernapas. Sesekali mengerang seperti tengah menahan rasa sakit di bagian dada. "Ibu sendiri bingung, Nèng. Berulangkali Ayah meminta pada Ibu untuk memanggilkan uwakmu itu. Tapi … di sisi lain, Ayah juga minta hal ini jangan sampai Hanan tahu."


"Mengapa, Bu?" tanya Bunga bingung. "Baru besok, Enèng mau berkirim kabar untuk Aa Hanan di Jakarta."


"Jangan dulu, Nèng," pinta Sumiarsih melarang. Lantas melirik pada kedua sosok pembantunya; Ceu Ijah dan Ceu Odah. "Kalian berdua juga. Tolong, apapun yang terjadi di sini, jangan pernah bercerita apapun pada anak kami, Hanan."


"Baik, Bu," jawab keduanya seraya mengangguk.


Sumiarsih kembali menoleh, menatap sedih akan kondisi suaminya. "Ayah tidak ingin, pendidikan Hanan jadi terganggu karena situasi kita sekarang ini. Ayah ingin, Hanan tetap tenang menjalani masa-masa pendidikannya sampai selesai nanti." 


"Aahhh … aahhh …." Juragan Juanda mengerang.


Juragan Juanda mengangguk pelan.


"Sebentar, ya?" ujar Sumiarsih kembali. Kemudian menoleh pada Ceu Odah dan Ceu Ijah. "Ceu Enok mana? Air minum hangatnya belum siap juga?"


Ceu Ijah menyikut lengan Ceu Odah, lantas menggerakkan alis ke atas disertai bibir meruncing. Maksudnya menanyakan keberadaan Ceu Enok yang lama belum kembali ke kamar.


Tiba-tiba ….


"Enoookkk!"


"Astaghfirullahal'adziim …." Semua yang ada di dalam kamar sontak terperanjat, kaget.


"Ya, Allah … Ceu Odah," gumam Bunga dengan jantung berdetak kencang.


"Heh, ssttt … jangan teriak," bisik Ceu Ijah memperingatkan Ceu Odah. "Maksud saya … lihat ke dapur. Susul Ceu Enok. Bukan teriak memanggil seperti itu." Dia melirik ke arah Sumiarsih yang terlihat tengah mengusap-usap dada, kaget.


"O-oh, i-iya ya? M-maaf … lupa saya," balas Ceu Odah dengan suara senada. Melirik-lirik sebentar pada Sumiarsih dan Bunga, lantas menggeser kakinya perlahan-lahan ke arah pintu kamar. "S-saya permisi … mau menyusul Ceu Enok."


"Huuuhhh," desah Ceu Ijah membuang napas lega. Sedari tadi dia harus bertahan agar tidak menghirup bau mulut Ceu Odah yang berbisik-bisik. 


Berbarengan dengan itu, tiba-tiba terdengar ringkik kuda dari arah depan rumah.


"Mungkin itu Mang Dirman bersama Pak Mantri," kata Sumiarsih pada Ceu Ijah.


"Baik, Juragan. Saya yang bukakan pintu. Permisi …." ucap Ceu Ijah. Tanpa harus diperintah, dia sudah paham akan tugasnya. Maka segera bergegas menuju pintu depan rumah untuk menyambut kedatangan orang yang sedang mereka tunggu-tunggu.


"Assalamu'alaikum," ucap Mang Dirman begitu pintu dibukakan. 


"Wa'alaikum salam," balas Ceu Ijah. Dia melihat Mang Dirman datang bukan bersama orang yang ditunggu-tunggu sejak tadi —Pak Mantri—, tapi dengan sesosok laki-laki tua berambut sebahu dengan ikat kepala bercorak batik. "Aki?"

__ADS_1


Dia hanya melirik sekilas, dingin, lantas mengikuti langkah Mang Dirman menuju kamar Juragan Juanda dan Juragan Sumiarsih.


"Uwak!" seru Bunga begitu kedua sosok laki-laki itu muncul di ambang pintu kamar.


Sumiarsih turut menoleh dan berseru kaget, "Ki Waruk? Ya, Allah … Aki!"


Sosok laki-laki tua berikat kepala kain batik itu memang tidak lain adalah Ki Sendang Waruk, kakak kandung dari pihak bapaknya Bunga. Dia bergegas masuk ke dalam kamar. Disambut suka cita oleh keponakan dan istri dari sahabatnya, Sumiarsih.


"Alhamdulillah … akhirnya Uwak datang juga," kata Bunga seraya mengulurkan tangan, bersalaman dan menciumnya takzim. "Kami menunggu-nunggu kedatangan Uwak dari beberapa hari lalu."


Balas Ki Sendang Waruk usai memeluk keponakannya, "Iya, Nèng. Maafkan Uwak, ya? Uwak baru mendapat kabar dari seseorang tadi pagi. Uwak langsung berangkat pulang, tapi … beberapa kali harus memutar jalan, karena di beberapa tempat dijaga ketat oleh pasukan Belanda."


"Ya, Allah! Tapi syukurlah, Uwak selamat juga tiba di kampung ini," timpal Bunga, lalu menunjuk sosok Juragan Juanda yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur. "Juragan, Wak. Juragan sakit parna."


"Astaghfirullahal'adziim, Juanda," gumam Ki Sendang Waruk seraya mendekat ke sisi ranjang. Sumiarsih bangkit, memberikan tempat untuk sosok lelaki tua tersebut. "Apa yang terjadi padamu, Juanda? Ya, Allah … mengapa bisa sampai seperti ini?"


"Aaahhh … aahhh …." Juragan Juanda mengerang. Tampak sekali dia ingin berbicara, tapi tiada daya dan upaya lagi yang tersisa untuk dapat mengeluarkan sepatah katapun.


"Beberapa hari sebelumnya, berulangkali Ayah meminta saya, supaya dapat memanggilkan Aki, tapi …." Sumiarsih terisak pilu, "sampai tadi siang … kondisi Ayah benar-benar semakin memburuk, Ki. Bahkan …."


"Muntah darah seperti ini?" tanya Ki Sendang Waruk sambil melihat-lihat percikan darah di baju Juragan Juanda dan Sumiarsih.


"Sebelumnya hanya mengeluh sakit biasa. Sesak napas. Bahkan sudah beberapakali ditangani oleh Pak Mantri, tapi …."


"Ya, Allah … Juanda," desah Ki Sendang Waruk lirih. "Siapa yang melakukan ini padamu, Kawan? Entah kesalahan apa yang pernah kamu perbuat, sampai ada seseorang yang tega berbuat sekeji ini padamu?"


Seisi kamar saling berpandangan satu dengan lainnya. 


...BERSAMBUNG...


Keterangan Kata :




Atuh : imbuhan yang bisa bermakna 'dong'.




Keurah : begitu.




Apanan : bukannya atau 'kan.




Mah : imbuhan yang bisa bermakna ini atau itu.




Parna : parah.


__ADS_1



__ADS_2