Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 70


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 70...


...—---- o0o —----...


Perlahan roda sado itu bergerak berputar-putar, meninggalkan area Balai Kesehatan Desa Kedawung di Kampung Sundawenang bersama sosok lelaki yang sedang disukai. Dengan kedua bola matanya yang biru, Roosje menatap Hanan sejak awal kaki menaiki badan kendaraan berkuda tersebut.


"Hati-hati di jalan, Nona Roos," ucap dokter muda itu seraya memberinya seulas senyum.


'Dank ke wel, Hanan,' balas gadis cantik berkulit putih kontras tersebut di dalam hati. 'Elke dag hou ik meer en meer van je. Ik weet het niet, is dit een tijdelijke liefde of ontstaat het vanzelf?'


(Terima kasih, Hanan. Semakin hari, aku kian menyukaimu. Entahlah, apakah ini hanya cinta sesaat atau memang timbul secara alami?)


Semakin hari, di mata Roosje, sosok Hanan kian terlihat menawan. Dia sudah tidak lagi mau berpaling, terkecuali padanya seorang. Lantas tersenyum-senyum sendiri, kala teringat pada pertemuan pertama mereka di siang itu beberapa bulan yang telah lewat. Dari rasa kagum, kini berubah menjadi kegilaan.


Roosje sudah tidak lagi mau mengingat maupun berkomunikasi dengan Kervyn. Sosok pemuda sebaya yang tahun ini akan segera menyelesaikan masa pendidikannya. Sama-sama seorang dokter sebagaimana Hanan.


Entahlah, akan ke mana kelak perjalanan kisah mereka bermuara. Karena kini, hati salah satu pihak telah berubah secara cepat.


Tiba-tiba Roosje mengingat akan kejadian tadi. Sosok seorang gadis yang diakui sebagai adik oleh Hanan. Benak gadis ini seperti pernah mendengar nama tersebut. Kapan dan dimana tepatnya? Sampai kemudian, dia menoleh cepat ke arah Dasimah.


"Heh, Dasimah!" panggil Roosje mengejutkan sosok yang dimaksud. "Aku ingat sekarang. Bukankah kamu orang pernah berkata, kalau Hanan mempunyai teman perempuan sewaktu kamu orang dan dia orang kecil, heh?"


"I-iya, Nona," jawab Dasimah di sela-sela berdiam diri sejak berangkat pulang tadi.


"Siapa itu teman Hanan yang kamu orang sebut. Bunga-kah?" tanya kembali Roosje usai mengingat-ingat.


Dasimah mengangguk. "B-benar, Nona," jawabnya tertunduk risau. "Bunga memang teman kecil Kang Hanan, dulu."


Roosje mengerutkan kening. "Teman?" gumamnya seketika. "Apakah itu Bunga … perempuan orang yang tadi datang ke Balai Kesehatan, Dasimah?" tanya gadis tersebut lebih jauh.

__ADS_1


Lagi-lagi Dasimah mengangguk pelan.


Lanjut Roosje berpikir, 'Ah, tapi mengapa itu Hanan tadi mengaku itu perempuan orang adik? Mana yang benar?'


"Ki Praja," panggil gadis tersebut —kini— pada sosok kusir tua itu, "setahu saya, itu Hanan anak satu keluarga Sumiarsih, bukan?"


Lelaki renta yang selalu mengenakan pakaian hitam-hitam itu menoleh, lalu menjawab, "Anak tunggal maksud Nona Roos?"


"Ya, benar. Anak tunggal satu," jawab Roosje membenarkan. "Kamu orang pasti tahu itu keluarga Sumiarsih? Kamu orang pernah bekerja di itu keluarga Hanan, bukan?"


Balas Ki Praja sambil mengendalikan tali kekang kuda, "Iya, Nona. Hanan memang satu-satunya anak mereka. Pasangan Juragan Sumiarsih dengan Juragan Juanda. Anak muda itu tidak memiliki saudara lain, adik atau juga kakak. Memangnya mengapa, Nona?"


"Ki Praja kenal juga dengan itu perempuan muda bernama Bunga?" Kian penasaran dan menarik hati, Roosje bertanya-tanya terhadap Ki Praja ketimbang pada Dasimah di hadapannya.


Terdengar kekehan lelaki tua tersebut di depan. "Tentu saja saya kenal, Nona Roos. Bunga itu gadis yatim-piatu yang dijodohkan dengan Hanan sejak mereka masih berusia belia."


"Jodoh?"


"Maksudnya saya … nanti kalau sudah waktunya, Hanan dan Bunga akan dinikahkan, Nona."


Jawab Ki Praja, Kini sudah memahami kemana arah keingintahuan putri tunggal majikannya tersebut, "Ya, benar sekali, Nona Roos. Mereka berdua adalah sepasang kekasih."


Diam-diam Dasimah melirik, memperhatikan raut wajah Roosje yang mendadak berubah kecut begitu mengetahui hubungan lelaki yang dia kagumi itu dengan sosok Bunga, gadis yang baru pertama kali dia lihat tadi.


'Verdomme! Berarti dia orang Hanan sengaja berbohong, mengatakan itu perempuan orang tadi adalah adiknya!' Roosje menggerutu habis. 'Mengapa harus berbohong? Mengapa harus disembunyikan hubungan mereka dariku? Mengapa juga itu orang Hanan tidak mengakui Bunga sebagai kekasih?'


Kemudian timbul rasa ketidaksukaannya pada sosok gadis tersebut. Roosje benar-benar tidak ingin lelaki yang dia sukai tersebut dekat dan dimiliki oleh perempuan manapun, terkecuali dia sendiri.


'Hhmmm, sepertinya ini akan menjadi masalah besar untuk Bunga,' membatin Dasimah begitu memperhatikan gerak wajah serta sorot mata Roosje setelah mengetahui kebenaran hubungan antara Hanan dan Bunga tadi. 'Aku tahu sekali, bagaimana karakter seorang Roos selama ini. Jangan-jangan ….'


"Baik, Ki Praja," ujar Roosje tiba-tiba. "Nanti kamu orang, saya ingin berbicara setelah tiba di rumah. Kamu orang, hari ini tidak berencana keluar, bukan?"


"Sepertinya tidak, Nona," jawab Ki Praja dengan riang hati. Sebab, dia merasa ada sedikit peluang untuk mendapatkan upah lebih pada hari itu. Hal apalagi kalau bukan dari menjual informasi pada anak majikannya tersebut.

__ADS_1


Laju kuda berhenti sesaat setelah tiba di depan pintu gerbang kediaman Tuan Guus. Gert dan Koen muncul membukakan, kemudian ketiganya masuk ke dalam.


"Ki Praja, mari kita bicara di belakang saja," ajak Roosje sepertinya tidak sabar untuk segera menggali informasi mengenai Hanan dari lelaki tua tersebut.


"Baik, Nona," jawab Ki Praja.


Sementara itu Dasimah, bergegas menuju kamarnya sendiri yang terletak di belakang area lingkungan rumah dinas Tuan Guus. Berjalan agak timpang serta ringis kecil yang menghiasi wajah, perempuan itu sibuk dengan isi kepalanya sendiri usai mendengarkan percakapan Roosje dengan Ki Praja tadi.


Tiba-tiba langkah Dasimah terhenti. Matanya nanar melihat daun pintu kamarnya aedikit terbuka. Padahal dia yakin sekali, sebelum pergi tadi pagi, semuanya dalam keadaan tertutup rapat.


'Ambu Darsih-kah yang masuk ke dalam kamarku?' bertanya-tanya perempuan tersebut dan timbul keraguan untuk segera masuk memeriksa. 'Tapi … rasanya tidak mungkin. Ambu jarang sekali masuk ke kamarku tanpa izin. Lagipula untuk apa? Jika tidak dirasa penting sekali, beliau tidak akan pernah masuk paksa seperti itu. Atau jangan-jangan Koen yang ….'


"Halo, Dasimah. Sudah pulang kamu orang rupanya," ujar sesosok tubuh tinggi besar terbaring di atas tempat tidur milik perempuan tersebut.


"T-tuan Guus?" pekik Dasimah terkejut luar biasa. Sampai-sampai kedua kakiknya gemetar hebat dan hampir saja menggelosoh ambruk.


Tuan Guus tersenyum tipis seraya menatap lekat pada sosok pekerjanya itu. Dia mulai bangkit dan duduk di tepian ranjang. "Mengapa kamu orang diam saja di sana, Dasimah?" tanyanya membuat Dasimah kian ketakutan. "Datangilah saya. Ke sini. Ada sesuatu yang hendak saya bicarakan dengan kamu orang, Dasimah. He-he-he."


Dasimah menelan ludah. Pahit. Nalurinya berkata, ada sesuatu yang tidak beres pada sosok lelaki tersebut. Tidak biasanya dia berada di dalam kamar seperti itu. Jika bukan karena urusan syahwat, hal apalagi yang bakal diterima pada hari itu?


"I-iya, T-tuan. A-apa yang bisa … s-saya lakukan untuk T-tuan?" tanya Dasimah seraya melangkah perlahan dan suara terpatah-patah.


Tuan Guus tidak lantas menjawab atau melanjutkan ucapan, tapi tangan kekarnya perlahan bergerak ke arah pinggang. Membuka pengunci sabuk celana dan menarik keluar hingga lepas. Seringai buas seketika terpancar dari wajahnya yang tampak bengis saat itu.


Spontan Dasimah terkejut luar biasa. Langkahnya terhenti dan langsung mundur perlahan. "J-jangan, T-tuan … saya mohon, J-jangan!" pintanya mulai ketakutan setengah mati. Dia sudah paham, kelak apa yang akan terjadi kini.


"Verdomme!" umpat Tuan Guus. "Kamu orang harus tahu, Dasimah. Selalu akan ada balasan setimpal bagi orang-orang yang mencoba mengadukan tentang keburukan saya, heh!" Dia bangkit dari duduknya, melangkah mendekati sosok Dasimah yang gemetar hebat. "Apa yang kamu orang ceritakan pada itu dokter muda Hanan, heh? Kamu orang pasti sudah bicara banyak tentang saya, bukan?"


Balas Dasimah ketakutan, "T-tidak, T-tuan. Saya tidak pernah berkata apapun tentang Tuan pada Hanan. Apalagi mengenai luka-luka lebam ini. S-saya bersumpah, Tuan."


Tuan Guus mengekeh sendiri. Kemudian dengan cepat dia menyambar lengan Dasimah dan mencekalnya kuat-kuat.


"A-ampun, T-tuan. A-ampuunnn!" pinta Dasimah lirih dan hampir saja tidak lagi mampu berdiri karena gemetar pada kedua kakinya.

__ADS_1


Kembali lelaki bertubuh tinggi besar tersebut tertawa-tawa sendiri tanpa memperdulikan dengkus ketakutan Dasimah.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2