Gairah Cinta Noni Belanda

Gairah Cinta Noni Belanda
Bagian 39


__ADS_3

...GAIRAH CINTA NONI BELANDA ...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 39...


...—---- o0o —----...


Tampak dari kejauhan, sebuah titik api melambai-lambai bergerak mendekati tempat dimana Hanan dan Mang Dirman berada. 


"Seseorang mendekat, Den," gumam sosok kusir sado tersebut seraya bersikap siaga. Terutama hendak melindungi anak majikannya. "Waspada, Den. Siapa tahu ada orang yang hendak berbuat jahat pada—"


"Hanya seorang warga biasa, Mang," tukas Hanan usai mengamati dengan mata menyipit. "Itu nyala obor penerangan."


"Ah, benarkah?" Mang Dirman masih belum meyakini. Mata tuanya terbatas untuk melihat lebih cermat, titik api yang bergerak-gerak tadi. "Tapi …."


Benar saja. Semakin mendekat, tampak seseorang setengah berlari-lari kecil menghampiri Hanan dan Mang Dirman di atas sado. "Aden Dokter …." panggil sosok itu setelah berada persis di samping kuda. "Syukurlah, a-akhirnya saya menemukan Aden Dokter di sini," imbuhnya kembali disertai napas terengah-engah. "Saya tadi ke rumah Juragan Perempuan dan kata Ceu Odah di sana, Aden sedang ke rumahnya Nèng Bunga. Makanya saya buru-buru menyusul dan bertemu di sini."


"Kang Juna?" Hanan meneliti wajah orang itu di bawah bayang-bayang nyala obornya di tangan. "Ada apa, Kang?" tanyanya kemudian setelah yakin bahwa sosok tersebut benarlah sebagaimana yang dia kira tadi. Kemudian segera menuruni sado dan mendekat.


Mang Dirman terenyak heran. Merasa aneh jika anak majikannya tersebut mengenali sosok yang baru saja menghampiri itu. 


Kang Juna, seorang lelaki muda berpakaian lusuh itu, berkata di antara napas kembang kempis, "T-tolonglah saya, Den Dokter. A-anak saya .. a-anak saya demam panas dan dari petang tadi tidak berhenti menangis."


"Ya, Allah!" seru Hanan terkaget-kaget. "Ayo, kita bersama-sama ke rumahmu, Kang," kata anak muda tersebut seraya mengajak Kang Juna menaiki sado. "Tenangkan diri Akang dulu. Perbanyak berdoa. Semoga Gusti Allah melindungi anak Akang itu, ya?"


"I-iya, Den Dokter," balas Kang Juna seraya mematikan nyala obor di tangannya begitu memasuki badan sado. 


"Ayo, Mang Dirman, kita ke rumahnya Kang Juna sekarang juga," titah Hanan pada sosok kusir sado tersebut. 


Sahut Mang Dirman patuh, "Baik, Den!"


Tanpa menunggu perintah kedua, kusir sado itu langsung mengentak tali kekang  dan memacu agak cepat di tengah alam yang sudah menggulita. Gemerincing gènggè yang terpasang di kiri-kanan kepala kuda mengiringi perjalanan mereka saat itu.


Tidak berapa lama, ketiganya tiba di sebuah halaman rumah. Suasana remang menghiasi sekitar hunian tersebut, dari nyala satu buah lampu teplok yang terpasang menempel di tiang penyangga depan. Samar-samar terdengar suara tangisan anak kecil dari dalam. 


"Mari, Den Dokter," ajak Kang Juna seraya turun begitu laju sado berhenti. Hanan mengikuti dari belakang. Memasuki rumah berbentuk panggung dengan bahan-bahan terbuat dari kayu dan anyaman bilik bambu sebagai dinding dan lantai kajang.


Derit pun berbunyi begitu mereka menginjakkan kaki di atas hamparan tepas. Disusul suara Kang Juna memanggil-manggil dari luar, "Nyiii … Nyaiii! Ini Akang datang bersama Aden Dokter!"


Tidak berapa lama, pintu beranda pun terkuak. Tampak sosok perempuan sedang menggendong, menenangkan, seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahunan, meronta-ronta di dalam dekapan.


"Den Hanan?" seru perempuan itu begitu mengenali anak muda yang datang bersama Kang Juna, suaminya. "Ada apa Aden datang malam-malam ke rumah kami, Den?" tanyanya terheran-heran.


Jawab Kang Juna, "Loh, ini Den Dokter, Nyi, yang akan mengobati anak kita."


Perempuan itu beralih menatap suaminya, lalu bertanya kembali, "Dokter? Bukankah tadi aku minta Akang untuk mencarikan obat pada Nyai Kasambi? Mengapa justru minta bantuan pada Den Hanan?"


Hanan agak terperanjat mendengar ucapan istri Kang Juna baru saja.


"S-sabar, Nyi, sabar," ujar laki-laki muda itu menenangkan istrinya. "Aku hanya menjalankan anjuran dari  Ki Panca. Kata beliau, kalau kita mengalami sakit, sebaiknya berobat pada Aden Dokter ini. Bukan malah meminta ramuan dari Nyai Kasambi, Nyi."


"Den Hanan seorang dokter?" tanya istri Kang Juna tersebut terperanjat. "S-saya baru tahu, Den. Hampunten."


Hanan tersenyum ramah. "Tidak apa-apa, Tètèh," katanya memaklumi. "Mohon maaf, boleh saya periksa terlebih dahulu kondisi anaknya, Tèh-Kang?" 


Sahut Kang Juna dengan cepat, "Oh, tentu saja, Den Dokter. Mari masuk dulu ke dalam."


Kemudian mereka pun segera memasuki rumah panggung sederhana itu. Hanya terdiri dari sebuah ruangan utama dan satu kamar dengan penutup kain menjuntai hingga ke bawah sebagai pengganti daun pintu.


Hanan mulai memeriksa kondisi anak Kang Juna yang dibaringkan di atas hamparan sebuah kasur keras di ruangan tersebut. Masih tersedu sedan dan tidak mau berhenti menangis. Diraba kening, pipi, serta bagian leher, terasa agak panas. Kemudian lanjut mengusap-usap perut.


Tung! Tung! Tung!

__ADS_1


Terdengar bunyi permukaan perut yang di ketuk-ketuk menggunakan jari telunjuk.


"Bagaimana, Den?" tanya Kang Juna ingin memastikan kondisi anaknya. "Sakit apa yang diderita oleh anak saya ini, Den?"


Timpal istrinya lirih, "Iya, Den. Kami sangat khawatir sekali. Tidak biasanya anak ini menangis tidak ada henti-hentinya. Mungkin karena tadi petang, sempat saya bawa keluar sebentar."


"Iya, Den," balas kembali Kang Juna. "Apakah mungkin terkena gangguan makhluk halus, ya? Kebetulan saat dibawa keluar tadi itu, berkenaan dengan waktu sanèkala."


Hanan hanya tersenyum dan manggut-manggut. Jawabnya perlahan, "Kita doakan saja, semoga itu tidak terjadi ya, Kang-Tèh." Kemudian mengamati sosok anak kecil tersebut. "Kebetulan, saya tidak sedang membawa peralatan medis dan obat-obatan. Jadi untuk sementara, kita gunakan saja dulu ramuan tradisional, ya?"


Kang Juna dan istrinya saling melempar tatapan heran. Jauh-jauh pergi belajar menjadi seorang dokter, nyatanya untuk mengobati penyakit saja sama halnya dengan yang dilakukan oleh Nyai Kasambi, yaitu menggunakan ramuan jampi-jampi, pikir keduanya. Kalau begitu, apa bedanya dokter dengan dukun?


"Akang dan Tètèh punya sedikit persediaan bawang merah dan minyak kelapa?" tanya Hanan kemudian.


"A-ada, Den," jawab istri Kang Juna. "Aden mau masak?" tanya perempuan itu polos.


Hampir saja Hanan tergelak geli, tapi buru-buru ditahan. "Ah, bukan itu maksudnya. Saya hanya mau membalur badan anak Akang-Tètèh dengan ramuan bawang merah dan minyak kelapa."


"Ada, Den. Sebentar saya ambilkan," ujar istri Kang Juna seraya bergegas ke dapur. Sebentar kemudian kembali dengan bahan-bahan yang dipinta tadi. "Ini, Den."


"Ada wadah atau tempat kecil untuk menghaluskan bawang ini tidak, Tèh?" tanya Hanan kembali.


"Cowèt?" Lagi-lagi Kang Juna dan istrinya terheran-heran.


Jawab Hanan, "Ya, semacam itu. Kalau ada, berikut mutu-nya, ya?"


"Haaahhh?" Pasangan suami-istri itu terkejut. "Aden mau membuat ramuan sambal?"


"Oh, tidak. Bukan itu," jawab kembali Hanan, kali ini sampai tersenyum-senyum sendiri. "Maksudnya untuk menghaluskan bawang merah ini. Tapi pastikan, cowèt dan mutu-nya sudah dicuci bersih, ya? Jangan ada bekas sambalnya."


Kali ini Kang Juna yang tampil membantu mengambilkan. "Biar aku saja yang membawakan, Nyi," ujar lelaki muda tersebut, mencegah istrinya yang hendak beranjak. 


"Iya, Kang," sahut perempuan itu. Dia lantas menenangkan tangisan anaknya. "Sebenarnya, sakit apa anak kami ini, Den? Apakah terkena gangguan makhluk halus?"


"Hanya masuk angin? Bukan karena adanya gangguan makhluk halus, Den?" tanya Kang Juna melongo heran.


"Seperti saya bilang tadi, mudah-mudahan saja tidak, Kang," jawab Hanan tenang. Dia mulai mencampurkan hasil tumbukan bawang merah tadi dengan sedikit tetesan minyak kelapa. "Baringkan kembali anaknya, Tèh," pintanya pada istri Kang Juna. Lantas segera membaluri ramuan tadi ke bagian perut, begitu anak kecil tersebut terbaring meronta-ronta, sambil melakukan pijatan-pijatan kecil di beberapa titik badannya. "Ada baiknya juga, perbanyak membacakan ayat-ayat suci Al Qur'an untuk mencegah jika memang menurut kita ada gangguan dari makhluk sebangsa jin itu ya, Kang-Tèh."


Pasangan suami-istri tersebut memperhatikan pengobatan yang dilakukan oleh Hanan, sambil melafalkan beberapa kalimat suci. 


Sesudah melakukan pembaluran dan pijatan tadi, Hanan memegang kedua kaki anak tersebut dan berlanjut menggerak-gerakkan ke depan-belakang dalam posisi tungkai menekuk pada lutut.


Brot! Pret! Tot!


Beberapa kali anak kecil itu mengeluarkan bunyi kentut begitu kakinya ditekan perlahan-lahan menghimpit area perut. Hal tersebut, sontak membuat Kang Juna dan istrinya tergelak-gelak. Diikuti suara tangisan yang mulai mereda dari anak mereka.


"Alhamdulillah, akhirnya anak kita berhenti menangis, Kang," ujar istri Kang Juna pada suaminya dengan hati lega.


Hanan menyodorkan wadah ramuan tadi ke hadapan perempuan tersebut. "Ini … sisanya, balurkan ke bagian punggung dan dadanya, Tèh," pinta anak muda itu seusai melakukan pengobatan. 


"B-baik, Den," sahut istri Kang Juna tersebut dengan wajah semringah. 


Setelah itu Hanan meminta izin untuk membasuh tangan dan langsung diantar oleh Kang Juna ke belakang rumah. Sebuah pancuran kecil untuk mencuci dan mandi, berdindingkan karung plastik bekas sebagai penutup ruangan.


"Saya menghaturkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada Aden Dokter," kata Kang Juna selepas mereka kembali ke tepas depan rumah. "T-tapi … saya tidak punya uang untuk—"


"Ah, lupakan itu, Kang," tukas Hanan seraya menepuk bahu lelaki tersebut. "Jangan sungkan-sungkan untuk datang ke rumah ya, kalau Akang atau warga lainnya membutuhkan bantuan pengobatan nanti. Insyaa Allah, kalau saya sudah diizinkan pemerintah pusat nanti, saya juga akan bertugas di balai kesehatan desa. Datang ke sana ya, Kang?"


Kang Juna mengangguk-angguk. "I-iya, Den Dokter. Insyaa Allah, pasti saya dan keluarga saya akan pergi berobat ke sana. Bukan lagi meminta bantuan pada Nyai Kasambi."


Hanan tersenyum kecil. "Alhamdulillah, syukurlah. Saya turut merasa senang sekali mendengarnya, Kang."


Tiba-tiba lengan anak muda itu dicekal Kang Juna. Hanan menoleh dan memperhatikan raut wajah lelaki tersebut. "Saya memohon maaf atas kejadian tempo hari itu, Den," katanya lirih. "Saya terpaksa melakukannya, karena sudah bingung sekali kemana harus mencari makanan untuk menghidupi anak-istri saya."

__ADS_1


Hanan tersadar apa yang dimaksud oleh Kang Juna. Dia langsung teringat pada peristiwa beberapa hari sebelumnya, saat pertama kali mengunjungi area perkebunan milik Juragan Juanda, bersama Mang Dirman dan Bunga (baca pada bagian ke-11). Saat itu dia melihat ada sesosok orang yang sedang memetik bahan-bahan makanan di sana.


"Ambil dan bawalah seperlunya untuk keluarga Akang di rumah, ya?" kata Hanan pada waktu itu, usai memergoki Kang Juna. "Insyaa Allah, saya ikhlas dan mengizinkan Akang untuk mengambilnya. Tapi tenang saja, apa yang telah Akang lakukan ini, akan selalu saya rahasiakan. Bahkan dari Mang Dirman serta Bunga di belakang sana itu." Anak muda itu menunjuk ke arah dimana Mang Dirman dan Bunga sedang menungguinya di atas sado.


Hanan membalas memegangi lengan lelaki muda tersebut. Kemudian lanjut berkata, "Sudahlah, Kang. Yang telah berlalu, biarkanlah berlalu. Yang terpenting sekarang adalah … anak dan keluarga Akang selalu dalam keadaan sehat wal'afiat serta berada di dalam lindungan Allah Subhanahu Wata'ala. Itu yang senantiasa kita harapkan, bukan?"


Kang Juna mengangguk dan tiba-tiba dia merangkul Hanan dengan erat, diiringi isak tangis yang memilukan. 


"Maafkan saya, Den. Maafkan saya," desahnya lirih. "Aden begitu baik pada saya, seperti halnya yang sering kami terima dari mendiang Juragan Laki-laki dulu semasa beliau masih ada."


"I-iya, saya paham itu. Sudahlah, j-jangan menangis seperti ini, ah. He-he," kata Hanan sambil menepuk-nepuk punggung lelaki tersebut. 


Imbuh kembali Kang Juna di antara isaknya, "Saya menyesal telah mengecewakan Juragan Laki-laki dulu, dengan meminta keluar dari pekerjaan saya. Terus … saya berpindah bekerja di perkebunannya Tuan Guus. Saya tahu, Juragan Laki-laki pasti kecewa pada saya. Akibatnya, saya dan pekerja lainnya diperlukan semena-mena selama bekerja pada Tuan Guus."


Hanan tercekat. Lekas dia melepaskan rangkulan lelaki tersebut dan bertanya, "Semena-mena bagaimana maksud Akang Juna ini? Apakah Tuan Guus mempekerjakan Akang dengan tidak baik?"


Dengan wajah tertunduk, Kang Juna menjawab perlahan-lahan, "Dulu, saya dipaksa berhenti bekerja di perkebunan Juragan Laki-laki oleh Tuan Guus dan dipinta untuk berpindah bekerja di perkebunan milik Meneer Belanda itu. Saya diancam, jika sampai berani menolak. Bahkan … beberapa kali tidak menerima upah selama bekerja di sana. Makanya, saya terpaksa … mencuri bahan makanan di perkebunan milik Aden Dokter beberapa hari lalu dan itu bukan kali pertama saya lakukan, Den."


"Astaghfirullah …." seru Hanan terkejut.


...BERSAMBUNG...


Keterangan Kata :




Gènggè : Bel/lonceng berbentuk bulat yang bisa mengeluarkan bebunyian sewaktu digerakkan.




Hampunten : Mohon maaf.




Tètèh : Kakak (sapaan untuk perempuan yang dituakan atau dianggap lebih tua usianya dari penyapa).




Sanèkala : Masa menjelang tiba waktu Maghrib. 




Cowèt : Cobek.




Mutu : Alat untuk menumbuk di dalam cobek. Ah



__ADS_1


__ADS_2